Monday, October 17, 2011

Betapa Mulia Hatinya..

Mungkin apa yang aku ceritakan ini akan menimbulkan pro dan kontra diantara pembaca blog-ku. Tapi aku tak peduli karena semua yang terjadi adalah aku anggap sebagai anugerah dari Allah SWT. Betapa tidak! Sejak pernikahanku puluhan tahun yang lalu aku tidak pernah merasakan getar-getar indah di dada ini. Pernikahanku dengan suamiku sekian puluh tahun yang lalu adalah hanya karena amanat dari mendiang ayahku -- yang saat itu -- sedang dalam keadaan sakit payah. Kebetulan aku mengetahui bahwa pria ini yang akhirnya menjadi ayah dari anak-anakku ketika itu (katanya) sudah lama tertarik padaku bahwa ia mencintaiku dan ber-angan-angan untuk menjadikan aku sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya kelak.  Dan keinginannya terkabul. |Akupun menjadi wanita yang paling cantik sejagat dimatanya. Amin. Seiring berjalannya waktu ternyata aku teramat sangat menyayanginya. 


Tahun demi tahun kasih sayang timbul dalam hatiku Perasaan sayang yang tak terhingga padanya. Tapi tidak pernah ada getar-getar indah yang memanasi dada ini. Namun begitu, hidup terus berjalan tanpa kendala apapun dan tetap terjalin keharmonisan antara kami, apalagi setelah lahir anak-anakku.  Kami membesarkannya bersama dengan penuh kasih sayang. 


Hingga akhirnya dia pergi lebih dahulu memenuhi panggilanNya dalam usia 63 tahun, tiada juga ada getar-getar cinta itu menyelinap dalam dadaku.  Ternyata dari awal aku tidak pernah mencintainya. Aku hanya menyayanginya karena dia mencintaiku dan mau memenuhi amanat ayahku pada saat beliau sekarat. Aku bersyukur karena semua hal ini telah berlalu.  Aku mengangkat kedua belah tanganku dengan wajah tengadah karena aku telah memenuhi keinginan ayahku. Soal cinta bagiku tak menjadi masalah. Hidup kami rukun walaupun terkadang diselingi dengan pertengkaran-pertengkaran kecil. Keharmonisan dihadapan anak-anakku tetap terjaga.


Empat tahun yang lalu ketika usiaku memasuki  usia 68 tahun sesuatu telah merubah kehidupanku. Sesuatu telah membakar semangatku.  Seseorang muncul dalam kehidupanku. Mungkin disebabkan aku tak pernah merasakan jatuh cinta yang sebenarnya; mungkin juga aku selama ini terlalu tenggelam dalam kesibukan yang aku tanggulangi seorang diri; atau mungkin juga aku memerlukan perhatian dari figur laki-laki setelah sekian puluh tahun aku kehilangan figur seperti ini. Aku jatuh cinta pada sosok yang penuh pesona dan wibawa ini. Dan yang membuat aku bahagia adalah dia pun mencintai aku. Ya, Allah -- kenapa hal ini harus terjadi kala usia rentaku memapahku. Ya, Allah -- Kau Maha Tahu -- apa sebenarnya yang Kau berikan ini apakah sebuah anugerahMu untuk menyemangati hidupku atau sebuah ujianMu yang kau sediakan untukku. Kenapa harus dia? Dan kenapa pula hatinya Kau biarkan mencintaiku? Kami dari dua generasi yang berbeda. Aku ingin segera mengakhirinya namun hubungan yang manis ini tetap berjalan hingga memasuki tahun ke-empat. Baik dia ataupun aku tidak ingin kehilangan komunikasi satu hari pun. Aku tahu dan teramat tahu bahwa kami tidak mungkin bersatu. Aku selalu berdo'a dalam setiap sholatku untuk diberikan jalan keluar dari teka-teki yang tiada akan terjawab oleh kami. Dan Allah menjabah do'aku. Awal Oktober tahun ini dia berikan suatu kejutan yang pada mulanya benar-benar mematahkan s'mangatku. Dia mengirimkan photo bersama soulmate-nya. Dia katakan terus terang bahwa selama dua tahun terakhir dia telah membina kembali hubungannya dengan soulmate-nya. Sekalipun tidak ada kecocokan tapi dia menginginkan keturunan di usianya yang hampir kepala tiga. Memang sangat masuk akal. Selama ini dia terdiam semata-mata untuk menjaga perasaanku. Ya, Allah, apakah aku harus sakit hati dan marah karena tindakannya membohongi aku selama itu? Sementara dia acapkali memberikan kejutan berupa hadiah atau bahkan a surprise visit. Bukankah ini berarti dia tidak pernah mau menyakiti hatiku. Betapa mulia hatinya. Aku berusaha untuk ikhlas melepasnya. Melepas seorang yang telah menimbulkan getar-getar hangat dan indah yang membara di hatiku. Melepas seorang yang telah mempunyai tempat khusus dalam dada ini. Dan melepas seorang yang telah memberiku semangat menggebu, cerah ceria yang tiada tara dan seseorang, dimana aku telah benar-benar menemukan shoulder to cry on. Namun dia bukan  dilahirkan untukku. Aku harus ikhlas. Aku harus rela. Betapapun dia akan tetap menempati celah yang paling dalam jauh dilubuk hatiku sampai ajal menjemputku. Akan terukir dalam pigura sebuah kenangan yang paling indah dalam hatiku. Setiap aku melihat namanya akan menyimpulkan seulas senyum di bibirku. Ketika aku memandang fotonya masih akan terasa getar-getar indah itu. Allah Maha Tahu dengan segala langkahNya. Ternyata Allah Maha Adil untuk tidak memilih usia seseorang untuk dilimpahi dengan perasaan cinta. Love is beautiful, love is a miracle but love is pain too. I love Allah so much for the rest of my life.


Hikmah yang bisa diambil dari kisahku ini: a.l. bahwa sebuah  pernikahan tidak harus diawali dengan sebuah cinta.  Bermodalkan kasih sayang dan pengertian pun akan lebih kental melekat dalam sebuah ikatan perkawinan hingga akan melahirkan anak-anak yang sehat penuh pengertian dan kasih-sayang pula;  Sedangkan cinta sejati bisa datang kapan saja tanpa bisa kita duga, di usia berapapun;  Cinta sejati anugerah dari Allah SWT akan tetap hidup dan menjadikan hidup yang diberikan olehNya menjadi semakin berarti. Allah Maha Segalanya.


Selamat Ulang Tahun buat RAZAN ya, semoga tambah sayang sama pama&kak Farhan.


Buat FARHAN jaga kesehatan ya untuk merayakan ultah di bulan Desember. Gak lama lagi kan? 





Kisah ini diikut-sertakan dalam "Bingkisan Dari Kami" di blog mbak ketty husnia.



2 comments:

  1. Wow...kisah yg 'ajaib' Bun... tapi memang ya, cinta tidak harus memiliki, kan? ;)

    ReplyDelete
  2. Orin yang manis, betul sekali cinta itu apalagi cinta sejati tidak harus memiliki. Makasih kunjungannya, sayang.

    ReplyDelete