Wednesday, November 30, 2011

Netlog, Terus Atau Stop?

Aku lupa tahun berapa aku mulai jadi member Netlog ini. Berawal dari undangan seorang teman tak dikenal via email yang mengajak aku join Netlog ini. Karena sifatku yang suka penasaran dan selalu ingin tahu, disamping juga untuk menghargai yang mengundang aku, jadilah aku join. Prinsipku: seseorang yang mengundang itu pastilah ada bayangan tentang aku dalam pikirannya. Jadi apa salahnya aku terima undangan ini. Alhasil aku jadi member Netlog. Ternyata walaupun berbahasa Indonesia  Netlog ini cukup rumit. Jadi ada beberapa point yang aku bisa ikuti ya aku ikuti. Tapi selebihnya? Amboooi......nyerah deh.

Aku sudah baca sejarah Netlog melalui browsing di paman Google. Tapi sekarang aku jadi bingung nih, apa mau diterusin atau aku stop aja ya keanggotaan di Netlog ini. Sebabnya? Aku jarang sekali online di Netlog. Setelah sekian lama, baru hari ini aku online di Netlog ini. Itupun karena via email ada beberapa teman yang aku kenal online, tapi diantaranya ada yang udah pernah kopdar. Pergilah aku jalan-jalan ke netlog, hahahahaha.....karena udah lama aku lupa passwordku. Reset lagiiii......... Aku liat di daftar teman koq masih 3 orang seperti tahun lalu, hehehehe............ternyata aku belum meng-konfirmasi permintaan pertemanan teman-teman yang aku jelalskan diatas. Mungkin mereka sudah lama minta jadi temanku, cuma aku yang gak pernah nyambangi netlog-ku. Hari ini, siapapun yang minta jadi teman aku sudah aku konfirmasi. Terima kasih buat teman-teman online-ku yang baik hati. (kecuali Marchi Diandra yang sudah berubah status jadi teman offline, thanks Chacha)..

Mengenai judul diatas: Netlog, Terus Atau Stop? Pasti para pembaca artikelku ini (kalaupun ada) akan kembali mengajukan pertanyaan untukku: "Ya itu terserah anda, mau terus atau mau stop -- karena gak ada yang dirugikan koq" hahahaha...............jawaban ku? Teruuuusss...........walaupun jarang disambangi. Alasan utama: Pertemanan yang semakin meluas akan bikin hidup ini lebih gimanaaaa...........gitu.



Sunday, November 27, 2011

911 -- Sembilan plus Satu plus Satu = Sebelas

Karena ada yang menyelamatkan aku dari keadaan darurat (lagi kekeringan ide....), jadi gak ada salahnya aku beri judul postinganku ini dengan 911 (baca: nine+one+one)  Itu lho di Amrik kalo dalam keadaan darurat kan yang ditelpon 911. aku ambil versi INA aja 9+1+1=11 (Sebelas)


Tadi sore aku bikin status di Warung Blogger yang mengatakan bahwa aku nih lagi kekeringan ide. Pakdhe Cholik memberi komentar atas statusku tsb. katanya kekeringan ide itu karena (1) Kurang peka terhadap keadaan sekeliling and (2) Kurang biasa melakukan penggambaran terhadap apa yang sudah diamati. Wah, bak cemeti menyentuh diri nih. Kritik pakdhe sangat membangun. Makasih pakdhe. Aku mulai klak-klik  -- eh ternyata, jari jemariku membawa aku kerumahnya mbak KettyHusnia.http://getoekgoreng.blogspot.com/ Mbak yang manis teramat manis ini mencantumkan namaku dalam daftar "Undangan", hihihi....tentang "Diriku Dalam 11 Hal", padahal itu udah sejak tanggal 21 November lho. Terima kasih ya mbak Ketty sudah melepaskan bunda dari rasa kekeringan ide.

Ini dia 11 hal tentang diriku:


1. suka warna merah dan kuning.

2. suka makanan yang serba keju, bahkan ngemil keju pun dilakonin.
3. paling suka window shopping sama anak-anak, apalagi kalo ditraktir sama mereka, hehehe..
4. jago bikin lasagna (di keluarga lho ).
5. suka ber-ojek-ria kalau pergi kemana-mana -- menghemat waktu walaupun gak menghemat kocek.
6. suka tanaman Sansevieria dan membiakkannya.
7 .paling  gak bisa diam kalo ada yang minta bantuan/pertolongan tapi gak bisa bantu. Pasti ikut pusing.
8. masih suka ber-hip-hop-ria sama cucu-cucu
9. .paling gak tahan kalau lihat coklat, pasti aku lahap.
10.hobi makan ampyang kacang dan kacang kulit sangrai.
11.lagi kranjingan belajar nulis.dengan ikutan kontes/lomba menulis.



Nah, itulah sebelas hal tentang diriku yang utama. Giliran aku mau minta  sebelas facebookers atau bloggers untuk menuliskan sebelas hal tentang diri mereka juga. Biar adil, gitu lho. Ini dia:

1. Marchia Diandra
2. Mariatul Kibtiah
3. Hanila Husen
4. Anazkia
5. Citro Mduro
6. Kang Sofyan
7. Hani Rohani Syawaliah
8.Ari Tunsa
9.Djangan Pakies
10.Enny Law
11.Hardi Vison

Note: Buat rekan-rekan onlineku jangan merasa kesel ya apalagi marah nih sama bunda karena diberi PR sambung rantai, hehehehe...... Dengan cara inilah semoga silaturakhim kita melalui online bertambah erat, kecuali untuk Marchia Diandra dan Hanila Husen: mudah-an kopdar kita kapan-kapan bisa diatur lebih afdhol dan lebih lama ya. Insya Allah..

Wednesday, November 23, 2011

Belajar Untuk Menulis.

Wah, ternyata belajar untuk menulis bikin aku jadi addicted nih. Sampe lupa kalo sejak tanggal 19 Nopember aku gak nge-blog. Aku jadi kayak punya tugas kantoran lho! Serius, belajar untuk menulis ini bikin aku rajin baca buku apa aja. Terus aku juga banyak terima tagging dari temen-temen facebook yang mengundang ikutan nulis baik itu Audisi ataupun lomba/kontes menulis.

Belajar untuk menulis memang asyik lho. Jadi keranjingan baca, hehehehehe.....walaupun tadinya juga suka baca tapi gak  getol -getol amat kayak sekarang nih. Kenapa aku bilang kayak punya tugas kantoran? Gini: dalam benak sebelum diistirahat olehNya untuk tidur nyenyak udah kebayang besok selesai tugas monitor keberangkatan cucu ke sekolah aku harus ini, aku harus itu, dlsb, dlsb. Wuiiihhh..... hidup ini koq ya jadi tambah semangat walaupun sebenarnya semangatku sudah hilang bersama hilangnya Sang Fatamorgana, hahahahaha.............tapi Allah selalu bersamaku. Memberiku kekuatan. Dengan cara apa? Ya mungkin inilah cara yang Allah berikan. Melalui "belajar untuk menulis".

Aku sekarang semakin menancapkan prinsip: Let's by gone be by gone, asalkan jangan minum baygon, huahuahua...............kalau ini yang terjadi kan berabe, bisa-bisa Komandan Warung Blogger and members kehilangan bundaaaaaaaaaaaaa..

Belajar Untuk Menulis terus, sampai bosen.

Saturday, November 19, 2011

Cinta Sejati Sampai Mati


Beranjak dari celotehan kumpul bareng anak-anak perempuanku kemaren, aku dapat bahan yang bisa aku jadikan postingan hari ini. Ceritanya aku ingin berbagi betapa indahnya kebersamaan yang terbina dengan seringnya berkumpul dengan anak-anak yang sudah dho mandiri and mapan hidupnya. Ngobrol ngalor ngidul, ketawa-ketiwi bareng,layaknya tiga sahabat yang sedang berkumpul.  Akhirnya sampai pada sebuah SMS yang diterima salah satu anakku dari sepupunya tentang Cinta Sejati Sampai Mati tsb.

Begini: SMS berisi cerita kehidupan sepasang kakek nenek yang sudah berusia diatas 80-an. Mungkin karena si kakek ini kurang OR alias olah raga jadi badan dan pikirannya sudah lemah dan hampir pikun tapi si kakek tetap ingat pada isteri tercintanya dan selalu memanggil isterinya dengan sebutan: jeng, sayang, honey, lovy, darling, cinta dan sejenisnya yang sangat bikin telinga sang isteri jadi ber-gerak-gerak dan pipinya merah merona. Ya, masih juga ada cinta sejati sampai mati dihati si nenek ini. Masih ada gelora cinta antara mereka berdua. Subhaanallah.

Ada yang kagum pada si kakek dan bertanya iseng: "Kek, koq segitu mesranya sama si nenek ya. Kakek begitu menyintai nenek sehingga panggilan mesra selalu saja terlontar dari bibir kakek. Wah, jarang lho bisa menemukan suami seperti kakek yang penuh kasih sayang sampai tua begini", sang penanya penasaran.

Si kakek dengan santai dan agak ter-batuk-batuk menjawab: "Iya, abis panggilan apa lagi ya, lha wong saya udah lupa je nama isteri saya. Nanti kalo saya salah manggil namanya, malah dia tersinggung". hahahahahahaaaa......ternyata............oh ternyata..........ada alasan tertentu buat Cinta Sejati Sampai Mati-nya si kakek ini . Alamaaaa.........

Cheer up buddies!

Friday, November 18, 2011

Tabu Belajar Di Saat Tua.

Pagi ini aku membereskan tas-kerja yang sudah amburadul isinya. Jangan salah! Di usia renta ini aku masih memiliki tas kerja lho! Apa isinya? Buku-buku yang aku perlukan untuk menunjang aktivitasku sehari-hari baik, online maupun offline.. Oops, kembali ke aktivitasku pagi ini  --  lembar demi lembar aku sortir mana yang masih aku perlukan dan mana yang sudah harus diantar ke trash, hehehehe...(keren ya pake istilah trash -- persis  kayak perlakuanku  ke postingan yang gak jadi  aku publish, pasti dengan setia aku antar postingan itu ke "trash").  Kembali kepada judul artikel Tabu Belajar Di Saat Tua..  Ini sangat erat hubungannya dengan aktivitas yang aku lakukan hampir setiap hari, beberapa jam duduk di depan komputer -- atau aktivitas lain yang aku suka -- memelihara tanaman Sansevieria, membaca buku atau bermain dengan cucuku yang energik sambil mendengarkan musik.

Tuesday, November 15, 2011

Test Kecepatan Mengetik? Siapa Takut?

Pagi ini aku jalan-jalan ke blognya pakdhe Cholik. Biasalah mau liat-liat kali-kali aja ada Kontes atau Lomba Menulis, hehehehe.....soalnya lagi keranjingan nulis nih. Setelah platat-plotot mata ini tertuju pada daftar arsipnya pakdhe: Test Kecepatan Mengetik. Naaaa...ini dia! Boleh juga aku coba jari-jemariku disini. Aku klik-lah tanpa ragu dan krotok-krotok-krotok key- pad komputerku diantemi pake jari-jemariku (moso pake sandal jepit!)  tanpa ampun. Hasilnya? Lumayanlah buat orang yang udah gak muda lagi (baca: udah tuwir!). Mau liat hasilnya? Nih dia::


Kecepatan Mengetik: 68 WPM


Keystrokes : 370


Correct Words: 67 (aku gak mudheng apa artinya!)


Wrong words: 3


You reached 339 points, so you achieved position 7052 of 66908 on the ranking list.


Terima kasih Ya Allah, ternyata jari-jemari anugerahMu ini masih Kau beri kekuatan. Alhamdulillah.

Saturday, November 12, 2011

Pesan Buat Para Blogger Pemula..

Hari ini banyak sekali pelajaran yang aku dapat dari membuka komputer dan klak-klik di internet.
Aku jadi sok-sok-an ingin memberikan pesan kepada para blogger newbie alias para blogger baru agar tidak patah semangat untuk mengisi postingan di blog mereka masing-masing.  Tak peduli topiknya tentang apa. Yang penting nge-blog. Seperti kata Bang Aswi yang menyarankan kalau mau nulis, ya tulis aja, jangan pedulikan apa kata orang nanti tentang tulisan kita.  Langkah yang baik untuk ditempuh adalah mengikuti kontes menulis untuk melatih kita menulis.

Kenapa aku utarakan semua hal diatas? Karena, karena, karena aku aja yang udah ngenet dari Maret 2009, termasuk ngeblog dan nge-fesbuk belum punya prestasi apa-apa. Tapi tetap aja jalan terus. Ever Onward No Retret, gitu istilah dalam olah raga, hehehehe....

Thursday, November 10, 2011

Dear Pahlawanku - Buat Mama Yang Ada Disana.

Mamaku tercinta,



Bagiku kau adalah Pahlawanku.
Ketika aku menengok salah seorang karibku yang meninggal beberapa hari yang lalu, aku menyempatkan diri untuk duduk bersimpuh didekat jenazahnya yang telah terbungkus rapih.  Yang kulihat hanya wajahnya yang seakan tersenyum dan sedang tidur nyenyak. Ketika membaca ayat-ayat suci tanpa bisa kutahan air mata ini terurai dengan derasnya. Suaraku tersendat karena tangis, betapapun dengan kuat untuk tidak menangis. Aku tidak bisa. Ketika pemakaman, alangkah banyak taburan bunga diatas makamnya.  Suatu yang pasti tidak terjadi pada saat pemakamanmu, mama. Situasi dalam kemelut perang. Aku masih terlalu kecil untuk bisa menyusulmu. Suatu hal yang mustahil pada saat seperti itu aku bisa menyambang pemakamanmu.Apalagi menaburkan bunga yang berlimpah diatas makammu. Air mataku tak bisa kutahan mulai dari saat pemakaman karibku itu hingga usai. Aku membayangkan situasi saat kau dimakamkan. Pasti dalam keadaan serba darutat.  Serba ter-gesa-gesa. Alangkah sedih hatiku kalau mengingat ini. Bahkan ketika saatnya aku dewasa tiada seorangpun kerabat yang bisa menunjukkan makammu. Bagiku kau sedang dalam perjalanan yang jauh dan bepergian ke suatu tempat yang aku tidak tahu kapan kau akan kembali. Bisaku hanya berdoa buatmu, mama. Suatu saat pasti kita akan dipertemukan jua olehNya.

Mamaku sayang, mengapa aku ceritakan semua ini kepada mama? Ini adalah curhatku melalui sepucuk surat Buat Mama Yang Ada Disana.  Aku tahu ini memang agak aneh. Aku mengirimkan surat buat mama yang sudah lama sekali meninggalkan aku. Sekalipun usiaku terlalu kecil untuk mengerti arti sebuah kemerdekaan. Namun menurut cerita nenek kepergian mama adalah untuk menyusul ketiga kakakku yang hidup bersama papa. Kau mempunyai jiwa patriot, ma. Ketika mama tahu melalui siaran radio dan menyebutkan nama papa yang memang terkenal sebagai seorang wartawan, kau tidak bisa menerimanya. Keadaan mereka yang hidup berkecukupan di dalam asrama musuh Republik kita membuat hatimu sakit. Sementara aku dan nenek hidup dalam serba kekurangan, bahkan kami dalam kemiskinan. Aku rela mengais-ngais beras yang berhamburan di bawah truk-truk pengangkut beras. Kemudian dengan rajin dan teliti nenek akan memilah milih kerikil yang ikut serta terkais oleh sapu lidiku. Dengan telaten dan penuh kesabaran nenek akan menampi dan memisahkan beras dari kotoran pasir. Hampir setiap hari aku dan kakakku pergi menyongsong truk-truk yang bermuatan beras Tapi aku tidak pernah menyesal menjalani semuanya.  Karena aku tahu mamaku sedang berjuang melawan penjajah dengan caramu sendiri. Kau tidak rela membiarkan anak-anakmu dan suaminya mengecap kenikmatan dari si penjajah Republik ini. Lebih baik hidup dalam kekurangan dari pada hidup dalam kecukupan dibawah kungkungan musuh Republik. Itu prinsipmu, mama. Jiwa patriotmu menggebu dalam dirimu.

Mama, hatiku selalu bahagia, karena memiliki seorang mama yang memiliki jiwa patriot. Kau adalah pahlawanku. Kau adalah pahlawan tanpa tanda jasa, mama. Kami tahu perjuanganmu, walau mereka tidak. Dalam hati kami kau adalah tetap seorang pahlawan. Lai tidak rela membiarkan orang-orang tercinta mengabdi kepada musuh Republik. Kau berontak dan memaksa pergi untuk mencari mereka dalam keadaan kemelut peperangan. Kau tetap nekad dan mengarungi pelayaran untuk menjemput anak-anakmu. Kau tidak peduli lagi akan risiko apa pun yang akan menghadangmu. Tekadmu memicu semangatmu.  Aku sangat tahu dari cerita nenek bahwa mama sangat, sangat dan sangat membenci musuh Republik. Ya, aku ingat sekarang setelah aku berada di usia renta, bahwa ketika itu Belanda dan sekutunya sedang berusaha keras merebut kembali kemerdekaan yang diproklamirkan oleh Soekarno Hatta. Mereka memaksa menduduki Republik ini. Dengan cara yang keji dan menjijikkan. Musuh Republik berusaha menguasai wilayah dengan memaksa penduduk untuk berkumpul disatu tempat kemudian membrondongnya seakan mereka itu adalah setumpuk kertas-kertas bekas yang tidak ada gunanya dan menguburnya hanya dalam satu kubangan.Terkutuklah mereka.

Tapi apa daya mamaku sayang, sebelum tugasmu terlaksana perjalananmu terhalang oleh peraturan dari Pemerintah bahwa wanita tidak diizinkan untuk bepergian. Keadaan darurat. Begitu alasannya. Kaupun sangat kecewa. Kau memendam kemarahan, entah kepada siapa harus kau lampiaskan. Tapi aku bangga mendengar bahwa kau penuh amarah. Kau penuh kejengkelan. Keinginanmu yang kuat untuk mencari dan menjemput orang-orang tersayangmu gagal karena keadaan. Akhirnya kau pun jatuh sakit. Kau mengalami stress berat hingga penyakit pening kepala saja  mampu merenggut nyawamu, mamaku sayang. Begitu sayang Allah padamu, kau tidak diberi penyakit yang menggerogotimu ber-bulan-bulan. Kau menghadapNya dengan tenang. Penuh kepasrahan. Kau telah berusaha, namun Allah jua yang bisa menentukan mana yang terbaik untukmu, mamaku tercinta. .

Mama, kau telah meninggalkan kesan yang mendalam bahwa hidup dibawah Republik Indonesia adalah lebih terhormat daripada hidup bergelimang makanan yang mewah tapi dalam lingkungan musuh-musuh yang sedang berusaha merebut kembali kemerdekaan yang kita miliki.

Mamaku sayang, tahukan kau bahwa kini kemerdekaan kita merdeka sekian puluh tahun? Kita telah terbebas dari musuh-musuh Republik.  Kita sudah berada diambang kemakmuran, walaupun masih semu, mama. Tapi aku bangga hidup sebagai seorang warga negara Republik Indonesia yang sangat aku cintai ini.

Mama, itulah curhatku yang hanya Allah yang bisa menyampaikannya kepadamu, betapa aku sangat kecewa tidak bisa melantunkan ayat-ayat suci didekat jenazahmu dan menaburkan bunga-bunga dan air mawar di pusaramu. Namun setiap sholat aku berusaha untuk tidak lupa membacakan do'a untukmu.

Sembah sujud anakmu yang
selalu rindu belaimu,


yati


“Postingan ini diikutsertakan dalam Kontes Dear Pahlawanku yang diselenggarakan oleh Lozz, Iyha dan Puteri


Sponsored by :



Friday, November 04, 2011

Pengalaman Pertama: Sekali Mendayung Dua-Tiga Pulau Terlampaui.

Ketika aku baca artikel tentang lomba menulis Pengalaman Pertama ini, aku sempat bingung juga nih karena aku mengalami beberapa pengalaman pertama yang masing-masing meninggalkan kesan yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Karena itu judul postingan yang aku ikutkan di lomba menulisnya mbak Una ya: Pengalaman Pertama: Sekali Mendayung Dua-Tiga Pulau Terlampaui.

Pengalaman Pertama yang berkesan (1) adalah: ketika aku masih bekerja di Unicef, berdarmawisata ke peternakan milik Pak Soeharto tahun 1990-an beliau masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia ke-2 dan memerintah untuk kurun waktu 32 tahun).  Letak peternakan di daerah yang luas bernama Tapos, Jawa Barat. Perjalanan menuju kesana memang penuh dengan pemandangan yang asri dan menyejukkan mata melihat hijaunya sawah-sawah yang terhampar.  Kami mendapat sambutan yang hangat dari Pak Soeharto. Setelah beristirahat sejenak, beliau sendiri yang memandu kami untuk berkeliling melihat peternakan milik beliau. Suasana benar-benar informal (tidak resmi), beliau dengan berkemeja batik, tanpa pengawal khusus. Dengan senyum yang selalu tersungging dibibirnya dengan sabar beliau menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Keramah-tamahannya terlihat amat mengesankan. Apapun kisah-kisah yang mengiringi kehidupannya selama menjabat sebagai Presiden R.I. hingga masa lengsernya dengan penuh legowo pada tahun 1998. Sebagai manusia biasa beliau adalah orang yang sangat perhatian dan ramah tamah. Ketika pertemuan usai maka tak ayal lagi kamipun bersalaman dengan beliau. Inilah merupakan pengalaman pertama-ku bersalaman dengan orang nomor satu di Republik Indonesia, hehehehehe...... Bangga lagiii.....

Lihatlah, sebagai individu beliau adalah seorang yang penuh perhatian dan ramah. Jabat erat tangannya menggambarkan pribadinya yang kuat. Bangga donk aku bisa berjabat tangan dengan
Orang Nomor Satu R.I. pada saat itu.


Pengalaman Pertama yang berkesan (2) ketika aku ikutan lomba mengetik  tahunnya lupa, hehehehe... -- yang jelas aku masih muda ting-ting --  Aku menggondol Juara 2, sedangkan Juara I dihembat sang Wartawan entah dari Harian apa. Peristiwa ini sangat berkesan karena banyaknya partisipasi dari pegawai ataupun umum yang kecepatan mengetiknya juga yahud-yahud tuh. Gimana gak berkesan lha wong aku mampu menyisihkan sekian banyak peserta dan mencuat sebagai Juara 2 boowww..... 
Terima hadiah niyyyee... Juara I yang pake kemeja merah dibelakangku,
 Juara 3 kakak kandungku sendiri, hehehe...
Jadi gak enak sama kakakku waktu itu.

Pengalaman Pertama yang berkesan (3) adalah ketika aku memenangkan sebuah interview untuk berangkat ke Luar Negeri, tepatnya Hanoi (Vietnam) pada tahun 1983. Rasa haru bercampur bahagia tentunya. Gak terbayang aku akan bisa naik pesawat terbang. Selama ini keinginan itu hanya menggantung dalam mimpi belaka. Dan kini (tahun 1983) aku akan menerobos awan bersama si Rajawali bermesin itu. Aku mendapat tugas di negara yang masih semerawut karena perang belum usai. Segalanya serba sembunyi-sembunyi, baik untuk berbelanja atau untuk berbicara dengan penduduk pribumi. Satu sama lain saling curiga mencurigai. Huuuhhh......rasanya gak aman banget. Tapi aku kan jelek-jelek gini di sana termasuk expatritate, hehehehe.....jadi fasilitas yang kudapat serba aduhai sejauh itu menyangkut makan dan minum (ada Duty Free Shop khusus untuk expat) serta perlengkapan di apartemen. oke semua. Cuma aliran listrik yang byar-pet melulu, jadi susah air (untuk mandi dlsb). Genset gak tersedia. Apa akal? Bathtub aku jadikan reservoir (bak penampung air). Aku isi air sampe luber. Nah ketika lampu mati dengan santai aku bisa mandi gebyar-gebyur. Oops Apartemen gelap? No problem -- Emergency Lantern  -- Fluorescence dengan Watt besar  -- tersedia di tiap ruangan, jadi gak usah takut kegelapan ketika mandi,  hehehehe..... 

Yang lebih mengesankan lagi adalah, aku berkesempatan berkunjung ke makam Ho Chi Minh yang terkenal dengan sebutan Paman Ho. Makamnya dijaga ketat. Disana terbaring jasad Paman Ho  dengan pakaian kebesarannya--ia seperti sedang tidur nyenyak. Pengambilan foto di makam Paman Ho is prohibited (tidak diperkenankan). 
Narcis dulu aaahh sebelum ikutan antri untuk masuk Aula Makam  Ho Chi Minh.

Kemudian aku masih berkesempatan mengunjungi Unicef Bangkok. Katanya ada floating market disini  -- akupun tidak melewatkan kesempatan ini, berjalan-jalan ditemani staff Unicef Bangkok yang ramah.

Teman yang baik hati setia menemani aku menikmati liburan pendek sebelum tanjap gas ke Hanoi.

Menuju ke floating market. Alone but not lonely.

 Sebelum aku dipantek di Hanoi aku masih diberi kesempatan untuk mengunjungi Unicef Manila (Phipilippines). Baik di Unicef Bangkok ataupun di Unicef Manila aku merasa seperti seorang Senior padahal aku staff biasa-biasa saja, hahahahahaha........... Asyik juga. Kapan lagi?. Yang pasti bukan kapanlagi.com
Kapan lagi berdiri disamping Boss kayak gini, hehehe.... (Boss-ku di Jakarta yang
pindah ke Unicef Manila).


Semua pengalaman pertama terjadi secara beruntun tanpa bisa kuduga sebelumnya. Allah Maha Tahu isi hati umatNya. DiberiNya aku kesempatan untuk menjalani serba pertama dalam pengalaman  ketika aku masih berjaya dalam dinas.  Apabila Allah menghendaki, apa pun bisa terjadi dan kesempatan itu pasti akan datang atas kehendakNya, kapanpun. Amin, YRA.

Photobucket

Tulisan ini diikut-sertakan dalam My First Give-away-nya Mbak Una: Pengalaman Pertama.