Sunday, October 28, 2012

Gulai Kambing ala Bunda YR.

Gb. facebook.com



Sebelum bikin postingan tentang Gulai Kambing ala Bunda YR, terlebih dahulu bunda ucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha. Mohon maaf lahir dan bathin -- gakpapa kan biarpun ada diantara kita yang belum berpredikat Haji atau Hajjah, hehehehehe........ yang penting kita ambil hikmah dari Idul Qurban ini.

Seperti biasa seminggu dua atau tiga kali bunda pulang ke alamat bunda di Pamulang (biasanya on the week-end), karena week-end kan mamanya cucu bunda libur jadi gantian bundanya yang libur. Maksud kepulangan bunda ke rumah asal (hehehehe....) adalah untuk menengok pot-pot tanaman kesayangan bunda yang bikin kangen. Dari rumah cucu bunda di Ciputatmenuju Pamulang untuk menghindari macet bunda naik ojek. Ojecker juga banyak banget, tapi paling gak bisa "selap-selip kesana-kemari", pokoknya asyiklah kalo bepergian untuk mengejar waktu dan gak terlalu pusing dengan kemacetan, ya satu-satu pilihan adalah ber-ojek-ria.

Begitu sampai di tujuan -- baru juga turun dari Ojek, bunda dipanggil-panggil sama Pak eRTe....wah ada apa nih? Jangan-jangan anak bunda yang cowok bikin ulah lagi nih! Dengan perasaan was-was bunda nunggu bentar -- eh, ternyata pak eRTe ini membawa  dua kantong plastik warna pink. Muka beliau tersenyum terus beliau bekata: "Alhamdulillah, kebetulan bunda dateng nih -- ada jatah buat bunda -- mau kambing atau sapi?" (maksudnya pastilah mau daging kambing atau daging sapi douwnxz...). Langsung bunda jawab: "Kambing aja!"
"Bener?"
"Serius!", jawab bunda mantab.
Sambil menerima sekantong plastik daging kambing, otak bunda berkomentar: "Wah, dikasih PR sama pak eRTe nih!". Otak bunda muter (dikit) mau dimasak apa nih daging kambing.

Alhasil buka tempat bumbu dapur, ambil segala bumbu: bawang merah, bawang putih, laos, jahe, kunyit, cabe merah dan cabe rawit (di blender ampe halus). Trus daun salam, daun kunyit, sereh, kapolaga (10 butir), peka (itu lho rempah yang berbentuk bintang), daun jeruk, cengkeh 5 butir, ketumbar digongseng dulu trus dihaluskan. Semua bumbu bunda tumis --sreng-sreng-sreeeng......masukkan daging kambing (pastinya udah dicuci bersih banget) yang masih nempel di tulangnya (iga kambing, betis kambing yang masih ada sumsumnya) -- kurang lebih 1.5 kg. tuh! Sesudah meresap bumbunya, masukkan air yang banyak karena harus digodok sampe daging kambing lepas dari tulang -- pasti donk dagingnya empuk banget -- nenek yang ompong juga bisa mengunyahnya, hehehehehe......

Sebagai juri bunda minta anak bunda yang cowok suruh nyoba. "Hhhmmmmmm....mama....yahud nih, jago juga masak juga!"
"Eee....baru tau ya kalo mama pinter masak?" (muji diri gpp ya?)
Namanya memang "gulai" kambing tapi gulai kambing ala bunda YR ini benar-benar TANPA santan lho. Rasanya? Selangit dan baunya sudah berlang-lang tetangga deh!. Hehehehehe...........

Mau nyicipi gulai kambing ala Bunda YR? Monggooooooooo............ Sayangnya bunda gak bikin foto gulai kambing ala bunda YR itu, karena gak kepikir buat postingan, jadi minjem aja dari paman Google. Yang pasti gulai kambing ala bunda YR lebih merah karena cabenya buanyaak banget.

Sunday, October 21, 2012

Cucuku Belajar Ikut Berbagi.

Sholat berjama'ah sebelum berangkat.
Bagiku tak ada lagi yang bisa aku ceritakan tentang anak. Kenapa? Karena anak-anakku sudah dewasa semua dan  mandiri serta memiliki  anak-anak yang sehat & ganteng -- berarti aku sudah punya cucu nih. Jadi sekarang yang akan aku ceritakan tentang cucuku aja deh. (gak mau kalah sama ibu-ibu muda yang pada cerita tentang anak di blog masing-masing, hehehehehe..........).

Begini: Pada saat cucuku berusia 4 tahun sudah masuk Play Group, kemudian usia 5 tahun langsung ke TK-A. Oops, lupa aku cerita kalo cucuku ini laki-laki, ganteng, berkulit putih. Sampai ia masuk TK-B sifat pemalunya tetap bertahan. Ia gak mau bergabung dengan teman-teman, maunya ditungguin, walaupun di dalam kelas. Bila ada acara untuk naik panggung ia akan berontak dan menolak kemudian menangis. Ketika latihan ia oke2 aja tuh, karena ia suka banget menari. Bertahan enam bulan di TK-B kami pindahkan ia ke Sekolah Alam. Baru beberapa bulan bersekolah di Sekolah Alam ini, suatu kejutan ia berikan untuk mama dan bundanya. Ia begitu antusias, begitu menikmati bergaul dengan teman-teman barunya di alam bebas. Wajahnya berseri dan binar matanya memperlihatkan bahwa ia happy. Kelas di Sekolah Alam ini berupa sebuah rumah panggung. Ia kelihatan mudah bergaul dan tidak suka menangis seperti halnya disekolah lama.
Lihat gantengnya cucuku. Tapi kenapa ia sudah mengucap Allahu Akbar sementara teman lainnya belum? hehehe...

Perkembangan demi perkembangan yang menyenangkan telah menumbuhkan kepercayaan kami bahwa Sekolah Alam ini amat tepat baginya.

Bulan Agustus, Sekolah Alam ini mengadakan semacam kunjungan ke rumah yatim piatu. Semua murid diwajibkan membawa makanan dan melebihkan 1 porsi untuk berbagi. Sebelum berangkat menuju Rumah Yatim Piatu berbagai aktifitas dilakukan seperti bernyanyi, tebak teka-teki, sholat Ashar (karena acara dimulai satu jam sebelum waktu Ashar. Seluruh siswa/siswi TK berjalan dengan barbaris tertib menuju rumah Yatim Piatu. Acara dibuka dengan pengajian bersama. Mereka tertib dan mereka sangat menyatu dengan anak-anak yatim piatu di Yayasan tersebut.
Perjalanan menuju Yayasan. Bunda dan Mama ikut mengawal (cucuku dengan tas ransel merah.(

Kami berasa beruntung telah memilih Sekolah Alam yang bernama Tanah Tingal ini untuk tempat cucuku menimba ilmu pada usia dini.

Sebuah kenangan tidak ada yang terlambat untuk ditulis, begitu dengan aktifitas cucuku yang memang dilaksanakan pada bulan Agustus 2012. 




Thursday, October 11, 2012

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran.



Source Gb.Hidayatullah.com



Setiap kali ada peristiwa tawuran antar pelajar hatiku miris dan sangat prihatin dengan tingkah polah dan arogansi pelajar-pelajar yang sedang mencari jati diri. Lebih miris lagi kejadian tawuran antar warga yang banyak membawa korban baik, nyawa, harta maupun rumah tempat mereka bernaung ataupun kendaraan beroda dua atau empat yang mereka hancur lelburkan di luapan api yang melalap semuanya. Semua ini pastilah di picu oleh meluapnya api emosi yang ber-kobar-kobar tersulut baik oleh sakit hati, dendam ataupun ketidak puasan untuk suatu keadaan.

Untuk kedua jenis tawuran yang aku sebutkan diatas, baik tawuran antar pelajar, maupun tawuran antar warga, antar desa atau apa pun namanya -- semuanya diakibatkan oleh tidak adanya komunikasi yang terbina dengan baik dan kurangnya kepeka-an tentang kaidah beragama, sehingga kesalahan sedikit dan perasaan tersinggung, dengan mudahnya akan memicu tawuran yang berakibat fatal dan merugikan bagi semua fihak. So Cara Mencegah Dan Menggulangi Tawuran menurutku adalah sebagai berikut. Maaf ini pendapat pribadi: ya, hehehehehe....

Tawuran antar warga (Source Gb.: fotmatnews. com)


1. Untuk Para Orang Tua.
Orang tua yang berasal dari keluarga kaya atau "super:" kaya hendaknya tidak terlalu menonjolkan kekayaannya melalui anak di sekolah  dengan memperlengkapi si anak dengan peralatan canggih (Iphone, Ipad dan sejenisnya).  Kedengarannya memang hal ini sangat "sepele" sekali, namun akan berdampak sangat besar terhadap anak. Anak tidak akan berusaha berkonsentrasi pada pelajaran -- berarti melecehkan ibu/bapak guru, apalagi apabila si anak tahu bahwa orang-tua mereka adalah "penyumbang" terbesar di sekolah tersebut.  Para orang-tua dari kelompok ini biasanya jarang sekali berkomunikasi dengan bapak/ibu guru untuk mengetahui keadaan anak-anak mereka, misalnya bila ada undangan rapat POM -- mereka terlalu arogan, merasa bahwa dengan uang, mereka bisa membayar guru dan anak-anak mereka adalah tanggujawab guru. Titik.

2. Untuk Para Guru.
Hendaknya memegang prinsip "keadilan" bagi seluruh murid, tanpa memandang siapa orang-tua mereka.  Adakan pertemuan antar sekolah yang satu level (SMP, SMA, baik Swasta maupun Negeri) untuk mengadakan silaturakhim serta membahas kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi serta sekaligus mencari solusinya. Kesulitan yang dihadapi oleh setiap sekolah untuk setiap level dan untuk sekolah yang berlainan lokasi biasanya berlainan. Para guru berusaha untuk solid dan harus menemukan cara untuk bertindak lebih bijak dalam menghadapi kenakalan anak-anak di sekolah -- tidak menghukum mereka dengan semena-mena, karena hal ini setitik demi setitik akan memicu kebencian, sehingga murid tidak mau dan tidak peduli untuk menjaga cintra baik  sekolah.

3. Untuk Pelajar.
Bentuklah suatu komunitas antar pelajar, misalnya dalam arena futsal, melukis, seni musik atau apa pun itu, pokoknya yang memberikan energi positif  bagi perkembangan diri. Biasanya mereka yang memiliki satu warna kehidupan dalam hobby akan merasa memiliki satu jiwa dan saling menghargai.satu sama lain. Hindarilah untuk secara beramai-ramai "mengejek/menghina" pihak lain, walaupun itu "hanya sebuah gurauan". Karena gurauan yang menyakiti hati akan memicu perkelahian. Jangan menghabiskan waktu dengan bergerombol tanpa tujuan yang pasti -- inipun akan mencuatkan suatu suasana panas -- akhirnya akan terjadi perkelahian yang tidak diinginkan. Hargailah pelajar dari sekolah yang berbeda, apakah mereka berasal dari Sekolah berbasiskan agama (agama apa saja), atau mereka yang memang khusus bersekolah di Pesantren.

4. Untuk Masyarakat.
Mulailah untuk menggalang kesatuan dan persatuan antar desa. Tingkatkan komunikasi dari atas kebawah, maksudnya dari jajaran pejabat lebih tinggi kepada jajaran masyarakat lebih rendah. Kenapa? Karena pendekatan tidak akan terjadi apabila pejabat teras, katakanlah, tidak mengulurkan tangan terlebih dahulu kepada pihak bawah (bawahan). Sebagai contoh: tidak ada "orang kecil" yang mengulurkan tangan lebih dahulu untuk berjabat-tangan dengan "orang gede-an".  Dalam arti yang lebih luas lagi pemuka masyarakat, dimana pun harus bersedia melihat kebawah, sehingga akan terbetik kabar tentang apa pun yang terjadi di lingkungan wilayah yang menjadi wewenangnya. Bila ini mulai digalakkan, dipastikan tidak akan sulit untuk "mencapai" atau pun "memulihkan" bahkan "menghindarkan" kerusuhan, apa pun bentuknya. Semoga saja!

5. Last but not least: Masukkan SENAM YOGA dalam mata pelajaran.
Aku tidak akan membahas tentang apakah Yoga itu agama atau bukan. Yang aku tahu Yoga adalah senam olah tubuh yang sangat berpengaruh kepada kejernihan hati dan jiwa. Walaupun Yoga ini memang mempergunakan istilah-istilah berbahasa India dan seirama dengan agama Budha, namun Yoga sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama. Dalam Yoga diajarkan bagi pengikutnya untuk memfokuskan diri dan mengenali diri.  Ketika kita memejamkan mata dan fokus pada diri, maka akan terbayang seluruh tubuh kita seutuhnya adalah ciptaaan Allah SWT. Kita harus menyayangi diri -- milik kita -- dan anugerah Allah SWT. Dengan tarikan nafas dalam-dalam yang teratur  kemudian  membuangnya dengan perlahan-lahan, akan memberikan dampak lega pada perasaan  dan terciptanya kesegaran jiwa.



Source Gb.: seruni.com
Berkonsentrasi dan fokus untuk mengenal diri sendiri, menyayangi diri dan mengingat
kebesaran Allah Subhaanallahuwata'ala.



Bila kita mencintai diri kita, maka bukan hal yang mustahil kita pun akan mencintai orang lain -- dalam arti luas -- menghargai, menyayangi, dan keinginan untuk menjaga keutuhan pertemanan. Emosi yang diakibatkan oleh senam Yoga ini mempuyai pengaruh yang luar biasa -- Emosi akan terkendali dengan hebat, kesabaran pun akan menjadi bagian dari kehidupan slehari-hari.

Masukkan Senam Yoga sebagai salah satu mata pelajaran, misalnya seminggu 2 kali pertemuan. Libatkan seluruh individu dari sekolah bersangkutan, termasuk bapak/ibu guru dan Kepala Sekolah atau bahkan tukang kebun dan penjaga sekolah pun ikut serta dalam kegiatan Senam Yoga. Pakaian untuk senam Yoga tidak seperti pakaian renang atau aerobic -- biasanya mengenakan celana training plus kaos oblong, tanpa sepatu lho! Pakaian Senam Yoga cukup sopan dan tidak mengundang mata nakal, qiqiqiqiqiiii....

Source Gb.: health.geoklik.com

Kegiatan ini akan membuat mereka percaya diri, meningkatkan kesabaran, meredam emosi. Otot-otot akan menjadi lentur sejalan dengan kecintaan terhadap diri yang pasti akan diikuti dengan kecintaan terhadap diri orang lain yang sama-sama ciptaan Allah SWT.

Apabila sudah merasakan nikmatnya melakukan Senam Yoga, mereka yang hobby ke diskotik pun akan dengan "rela" meninggalkan hobby-nya dan lebih memilih untuk melakukan kegiatan Senam Yoga.. Believe it or not!

Bagaimana kira-kira menurut pembaca and "the judge" tentang postingan Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran ide-ku ini? Paling tidak menorehkan opini untuk meng-update Blog-ku  aja deh, hehehehehe.....

 Indonesia Bersatu


Artikel ini diikut-sertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu: 






Friday, October 05, 2012

Let By Gone Be By Gone


 

Ada masanya kita harus melupakan masa lalu, namun tidak seharusnya masa lalu, betapapun pahitnya kita hapus hingga pupus dari ingatan kita. Kenapa? Karena keberadaan kita sekarang ini juga karena masa lalu.
Nah, untuk mengikuti 1st giveaway Bunda Lahfy di blognya Lovely Little Garden ini yang berjudul FROM ZERO TO HERO. aku akan menyusuri liku-liku kehidupan masa lalu yang tidak bisa kulupakan, just like that -- karena disana ada kasih sayang, kecintaan, kekerasan hati, tanggung-jawab dan kesetiaan.


Kalaupun aku memberi judul untuk postingan ini Let By Gone Be By Gone, aku akan tetap selalu menyimpan bagian yang manisnya, sedangkan yang pahitnya biarlah akan aku jadikan sebagai sebuah tonggak untuk melalui jalan-jalan terjal yang akan aku lalui. Dan kenangan pahit ini telah benar-benar membimbingku ke jalan yang seperti sekarang aku alami, sebuah berkah untuk menghadapi kehidupan, bagaimana pun sulitnya dengan rasa syukur tanpa suatu pemberontakan terhadap Illahi.

Pengalaman pahitku di masa lalu kalau aku ingat sekarang akan menjadi pecut bagiku agar aku tidak menjadikan anak-anakku seperti aku. Kuliahku terputus karena ketiadaan biaya. Pernikahanku pun dilandasi oleh sebuah bakti kepada orang tua. Bakti yang tulus. Walaupun pernikahan ku tanpa cinta, ternyata bakti kepada orang tua yang tulus dan ikhlas telah membawa keberkahan bagi kami. Suamiku amat mencintai aku. Syukur alhamdulillah. Kami memulai perjalanan rumah tangga dari tidak punya apa-apa. Exactly we started from ZERO. Why? Karena suami ketika itu "sedang" tidak punya pekerjaan. Sedangkan aku? Penghasilan yang teramat kecil bekerja di sebuah perusahaan yang letaknya jauh dari tempat  tinggal kami, alhasil penghasilan hanya bisa menutup uang transport saja.

Kehidupan bergulir begitu cepat. Aku harus mengambil langkah yang positif demi kelanggengan kehidupan rumah tangga kami. Benih-benih cinta yang berbaur dengan rasa hormat dan sayang pun satu persatu lahir ke dunia. Untunglah suamiku tidak berkebaratan merawat anak-anak, sementara aku bekerja. Berangkat meninggalkan rumah setelah subuh dan kembali ketika jam sudah menunjukkan pukul 20.00 baru aku sampai dirumah. Dalam perjalanan pulang aku selalu menyempatkan diri untuk berbelanja kebutuhan pangan untuk keesokan hari disebuah pasar tradisionil yang buka 24 jam. Aku harus berhemat, memiliki anak tiga orang waktu itu hanya dengan pembantu rumah tangga seorang saja. Semua karena ketiadaan biaya. Kelelahan yang menderaku setiap malam sepulangnya dari pekerjaan, seketika lenyap setelah melihat anak-anak yang telah tertidur lelap. Subhaanallah mereka sehat, manis-manis dan ganteng seperti papanya, hehehehehe....


Keadaan ini harus berubah, begitu pikirku saat itu. Mulailah aku "hunting" pekerjaan lain yang bisa lebih menjamin kehidupan rumah tangga kami.. Dan berkat pengetahuan bahasa Inggrisku yang pas-pas-an aku berhasil diterima bekerja disebuah perusaha non-komersiel, yaitu sebuah Organisasi Internasional di Jakarta. Ekonomi rumah tanggaku membaik, namun ancaman lain datang. Seberapapun aku berupaya menjadikan suamiku untuk tidak  merasa  rendah diri karena gajiku yang lumayan, tetap saja egoisnya muncul dan memancing pertengkaran yang semula kecil menjadi meletup-letup seperti petasan banting. Aku yakinkan padanya bahwa suatu saat pun ia akan memiliki pekerjaan yang bergaji bagus.  Dalam keadaan seperti sekarang ini, ketika kehidupan rumah tangga masih timpang, biarkanlah aku yang menanggungnya, termasuk biaya sekolah anak-anakku. Aku tidak akan membiarkannya memiliki perasaan minder karena ia dalam keadaan masih tidak berrpenghasilan.  Aku berusaha mencarikan dia pekerjaan dengan secara tidak langsung. Aku berhasil mencari pekerjaan  untuk suamiku. Ia berhasil bekerja di sebuah perusahaan konveksi pakaian. Untuk menunjang kelanjutan pekerjaan, aku berusaha mencarikan order untuk perusahaan konveksi tersebut. Usahaku berhasil. Tender pun dimenangkan.. Pesanan pakaian seragam sebanyak ratusan stel diraih. . Aku sarankan suamiku mengambil atau mengajak beberapa teman untuk bergabung, agar pekerjaan selesai tepat waktu.

Begitulah kepercayaan diri mulai terlihat pada dirinya. Aku bangga dan aku semakin sayang padanya, walaupun tidak mencintainya, bagaimana pun  ia adalah ayah anak-anakku. Usahaku untuk mencari jalan agar kepercayaan dirinya muncul pun sedikit demi sedikit berhasili. Ia mulai penuh semangat dan dari binar matanya  terpancar kasih sayang untukku dan anak-anak. Alhamdulillah I have become a hero in him, even though I have to start from zero.

Suamiku meninggal 2003 meninggalkan 4 orang anak-anakku yang masih membutuhkan biaya sekolah dan kuliah. I still have to fight for a living. Dan syukur alhamdulillah aku bisa melalui jalan-jalan terjal yang kusebutkan diatas tadi.  Sekarang anak-anakku telah hidup mapan, men-support kehidupanku di masa yang renta ini. Aku bahagia secara bathin karena anak-anak mencintai aku apa adanya hingga kini, sejak tahun 1991 aku tidak berpenghasilan. I love them so much..... and to s.o. out there I love you too. 

Let by gone be by gone...................but the sweet memories are still there.



 Tulisan ini diikut-sertakan pada  Lovely Little Garden's First Giveaway



Hari Kemenangan yang Dinantikan.


 

Bagi setiap umat Nabi Muhammad SAW menjalankan ibadah puasa adalah suatu hal yang menimbulkan kebanggaan tersendiri. Dengan menapaki hari demi hari berpuasa akhirnya kita akan sampai pada hari yang penuh barokah.,  Hari Kemenangan yang Dinantikan, Hari Raya Idul Fitri.

Hari Raya Idul Fitri tahun ini (H-1433) adalah hari yang sangat spesial buatku.  Betapa tidak! Anak-anakku tidak mengizinkan aku untuk ber-lelah-lelah membuat kue menyambut Hari Raya Idul Fitri. -- aku bebas dari membuat kue-kue lebaran. Tugasku telah dialihkan kepada anakku yang perempuan, yeeeeeee.....senangnya gak harus bertempur dengan bahan-bahan kue dan harus merasakan panasnya uap dari oven, hehehehehe. Anakku yang kedua (perempuan) mendapat limpahan tugas untuk membuat berbagai macam kue kering. Walaupun resep asli aku yang mengajarkan, tapi kenyataannya kue buatan anakku ini jauh lebih bervariasi. Berawal dari dua macam kue kering yang kuajarkan (nastar dan kastengel), maka ditangan anakku bisa dibuat variasi yang menyejukkan mata memandang dan memanjakan lidah karena lezatnya.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa mereka larang yaitu kebiasaanku untuk memasak lauk-pauk untuk teman makan ketupat (ketupat biasanya kami pesan)  dalam jumlah yang lumayan besar --  seperti opor ayam, semur daging, sambal-goreng-ati dan rendang. Semua masakan ini harus aku yang memasaknya sendiri supaya lezatnya dan khas bunda yati-nya gak hilang! Dooooooo........ Apalagi sudah rutin setiap Lebaran aku mengantar makanan ke tetangga-tetangga terdekat rumahku, jadi kelezatan masakan...............harus mantaaaaap-lah

Biasanya dihari pertama Lebaran kami semua berkumpul di rumah kakakku laki-laki.  Rumahnya yang kecil tidak menjadikan alasan bagi kami untuk tidak berkumpul di rumahnya. Halaman yang luas bisa kami manfaatkan. Namun Hari Raya Idul Fitri tahun ini, hal itu tidak lagi kami alami, karena kakakku telah meninggalkan kami semua untuk selamanya.  Hari Raya pertama tanpa kakakku diantara kami. Hari Raya yang  mengingatkan kami semua pada sosok kakak/paman/kakek yang suka humor.

Dibalik itu aku senang sekali dan Insya Allah rasa senang ini akan terus berlanjut selama aku masih ada.  Lebaran tahun ini aku mendapat  berkah untuk tempat berkumpulnya keluarga besar, baik anak cucu menantuku, maupun anak cucu dari sepupuku yang paling dekat denganku. Kini akulah keluarga tertua yang tinggal di Jakarta. Walaupun Lebaran tahun ini salah satu anakku tidak bisa berkumpul, namun keponakan-keponakan dan para cucu yang bejibun itu telah memberikan kebahagiaan tersendiri.

Tak ada kebahagiaan lain, selain melihat anak cucu menantu berkumpul dan bersilaturakhim dengan sanak saudara. Aku masih bisa menjadi obor bagi anak-anakku untuk mengenal rumpun keluarga. Ada juga kegembiraan lain lho -- selain aku memberikan "angpauw" berupa uang untuk para cucu -- pastinya yang berumur 10 ke bawah donk  -- aku juga menerima "salam tempel" ketika para keponakan pamit pulang. Jadilah aku "jutawan" di Hari Kemenangan yang Dinantikan itu, qiqiqiqiqiiiiiiiiiii.....


Keluarga adik-adikku..


Catatan: Sayang sekali keluarga besar lain dalam bentuk video tidak dapat aku unggah, hiks, hiks.


Postingan ini diikut-sertakan dalam Kontes Kenangan  bersama bunda Sumiyati Sapriasih