Thursday, February 28, 2013

Badai Pasti Berlalu

Sebuah sinopsis tentang sebuah naskah karyaku untuk memeriahkan 1st anniversary WB-Twitter aku sajikan dibawah ini:

Kisah yang aku beri judul BADAN PASTI BERLALU adalah berlandaskan cerita non-fiksi yang aku gubah menjadi sebuah fiksi. Mengisahkan tentang pertentangan bathin seorang tua yang sangat menyenangi aktifitas dunia online, namun sejauh itu tidak pernah ada apresiasi dari keluarga. Apresiasi justru datang dari rekan-rekan blogger yang terjalin dalam Warung Blooger. Setelah dengan kegigihan beliau mempertahankan prinsipnya untuk tetap ber-aktifitas online, dan memperlihatkan hasil-hasil positif dalam blog berupa postingan-postingan, blarulah anak-anak mencukung. Bahkan memberikan fasilitas yang sangat membuar aku bahagia.

Semoga saja kisahku ini bisa menginspirasi para orang tua yang enggan beraktifitas online. Karena beraktifitas online sangat dibutuhkan oleh segumpal benak yang ada dalam tengkorak kita. Suburkanlah otak tersebut dengan beraktifitas.


WB Anniversary

Tuesday, February 26, 2013

The Old and The New Photos.

Untuk ikut memeriahkan kontesnya ibu Fauzan, Mama Olive dan Papanya Cynthia-Agas bertema  Potret Laki-Laki dan Dunia Anak, berikut ini (setelah ngobrak-ngabrik foto-foto lama dan langsung bunda scan foto-foto itu), hehehehe....berikut ini adalah hasilnya. Sengaja bunda beri judul postingan ini The Old and New Photos. Bukan mau keren-kerenan pake bahasa Inggris lho, , tapi biar seru aja. Gituuu.... Gak tanggung-tanggung nih bunda akan memuat foto ke-empat cucu, permata hati bunda.


The Old Photos -- Sejak muda.........
Anakku yang tertua memang menyukai anak-anak, baik itu keponakan-keponakannya atau anak tetangga. Tidak heran kalau binar dimatanya akan langsung memancarkan bahagia kala memeluk si kecil atau duduk bersama sang keponakan.

Keempat foto lama dibawah ini diambil menggunakan Camera handphone Nokia-3230. Bunda menyebutnya sebagai handphone jadul, karena bunda memilikinya cukup lama.

Bahagianya Laki-laki ini berfoto bersama keponakan pertamanya, Garda,  walaupun si kecil nampaknya kurang nyaman dalam dukungan sang Om,  hehehe..... Maklum baru pertama kali punya keponakan.

Ketika Garda berusia 2 tahun sudah semakin akrab dengan Om-nya. Lihat senyum keduanya.



Si Om yang sayang keponakan. Ini adalah keponakan yang kedua, Raka,  berarti cucu bunda yang kedua. Kebersamaan yang menggemaskan siapa pun yang melihat foto ini, terutama keluarga, hehehehe.....
Betapa si Om sebagai Potret Laki-laki dan Dunia Anak yang sayang anak-anak. Narsis abiiiis bersama anak tetangga.

The New Photos:

Cucuku yang ketiga, Ghazi, sedang menangis karena tidak dibangunkan ntuk sholat subuh -- sedang dibujuk oleh papa Heri.  Foto yang bunda terima pagi ini., menggunakan camera handphone BlackBerry dikirim oleh anakku via BBM.


Cucuku yang bontot, Ayman ber-narsis-ria bersama  Om dari Demak ketika si Om sedang berlibur ke Jakarta, diambil menggunakan Camera handphone N-70,  lucu ya mimik mereka.

Lengkaplah sudah ke-empat cucu bunda ikut berperan dalam Potret Laki-laki dan Dunia Anak, hehehehe.....


The Old and The New Photos ini bunda kirimkan untuk Ibu Fauzan, Mama Olive, Papanya Cintya-Aga.

Thursday, February 21, 2013

BeraniCerita #1 TERINDAH.

"Gila! Bener-bener gila!" Irwan setengah berteriak. Narto memandang karibnya dengan antusias.

"Kenapa lo? Gila? Siapa yang gila?"

Keadaan yang gila!. Udahlah jangan banyak nanya.. Gw lagi pusing!"

Narto tersenyum, didekatinya Irwan. Narto sangat tahu isi hati karibnya ini. Cintanya pada Nindia tidak bisa di-tawar-tawar. Kalau disamakan dengan harga barang, sudah "fixed price."

"Lo pasti mendesak Nindia lagi, kan? Ngaku aja deh!"

Irwan tertunduk karena pertanyaan Narto.

"Aku mencintainya, To. Cinta mati. Serasa aku gak bisa hidup tanpa dia."

"Aduh, melankolis banget sih lo, Wan. Kan Nindia udah nyuruh lo cari pasangan yang lain. Yang serasi ama umur lo. So, apa lagi sekarang masalahnya?"

"Masalahnya, gw cinta banget ama Nindia. Gw tahu usianya 15 tahun diatas gw. Tapi gw gak peduli. Gua lamar dia. Ee..dia tolak, dia gak percaya. Dia bilang gw cuman mau eksperimen. Gila, kan?"

Narto memandang Irwan penuh pengertian. Narto tahu hubungan antara Irwan dan Nindia sudah berjalan hampir lima tahun, tapi tidak ada kejelasan dari Nindia akan dibawa kemana hubungan mereka. Sementara Irwan mengharapkan Nindia mau menikah dengan dirinya. Usia bagi Irwan bukan masalah.

"Di Luar Negeri juga banyak pasangan yang umurnya beda jauh. Bahkan ada yang cowoknya umur 30, ceweknya udah pantes jadi neneknya. Mereka happy-happy aja tuh ampe 30 tahun usia pernikahan mereka!" begitu selalu kilah Irwan kalau dinasihati soal hubungan asmaranya dengan Nindia.

"Wan, apa lo gak mikir lebih jauh kalo Nindia itu janda beranak dua?"

"Gw udah bilang, gw gak peduli!. Kalo gw bilang cinta Nindia ya gw juga cinta anak-anaknya donk. Lo gimana sih, To? Saran Nindia nyuruh gw pacaran udah gw lakuin. Dua kali malah, tapi dua-duanya gagal total. Dipikiran gw yang ada cuman Nindia. Gak ada yang nyamain dia pokoknya. Manis budinya, halus tutur katanya, romantisnya. Sifatnya yang sabar. Beeuuh! Semua yang aku butuhkan, ada pada Nindia. Titik!"

Irwan berdiri. Wajahnya kusut. Ia mencoba  untuk tenang. Dibenamkannya seluruh jari-jarinya kedalam rambutnya yang hitam legam.

"Oh, Tuhan, mengapa Kau pertemukan aku dengan dia kalau kami tidak Kau izinkan bersatu. Ini tidak adil!" rintih Irwan dalam bathin. Keputus-asaan sudah memenuhi seluruh relung hatinya. Lunglai seluruh sendi-sendi tubuhnya.

Getar telepon genggam dalam sakunya membuat Irwan terkejut. SMS dari pengirim yang tidak  ia kenal.

"Kalau nak Irwan serius, kami tunggu kedatanganmu di alamat ini. Salam, orang-tua Nindia..."



"Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan



Monday, February 18, 2013

"PromptChallenge Quiz: Cinta, Oh Cinta."

"Kenapa Rim akhir-akhir ini kelihatannya murung, ya?"  

 Net bingung memikirkan prilaku teman sekamarnya ini. Pertanyaan itu tetap bergayut dibenaknya.  Net harus menunggu saat yang baik, agar persahabatannya dengan Rim tidak retak karena keingin-tahuan Net belaka.

Net bertekad: "Aku harus menanyakan hal ini kepadanya. Kenapa mukanya pucat. Kenapa bokongnya melebar. Dan kenapa ia suka sekali memakai baju longgar."

Net akhirnya memutuskan untuk segera mencari tahu.  Net tidak mau membiarkan puyeng tujuh keliling memikirkan Rim tetap bercokol  dikepalanya.

"Ini harus tuntas. Cepat atau lambat!.

Lama Net menunggu Rim. Tapi yang ditunggu belum juga memperlihatkan batang hidungnya.

"Huuuh...kemana sih nih si Rim. Udah malam begini belum juga pulang." 

Net menggerutu, entah ditujukan pada siapa. Ada rasa khawatir dihati Net. Juga rasa takut. Dua kamar disebelah kamarnya, sudah satu minggu kosong. Darmi dan Karsih, sang penghuni  pulang kampung, dikawinkan oleh orang-tua mereka.

"Pasti Darmi dan Karsih gak balik lagi. Kenapa sih harus mau dikawinkan tanpa cinta?" bisik Net

Tiba-tiba dari kamar kosong disebelah kamarnya, Net mendengar suara orang merintih.
Rintihan yang diikuti dengan suara seperti sebuah isakan tangis yang tertahan.


Net merinding. "Pasti ada orang di kamar ini," pikir Net, sambil mendekatkan telinganya ke bilik bambu..

"Ya, Allah. Ampuni aku. Tolong aku ya Allah."  desah suara yang Net kenal.


Tanpa ragu Net mendorong pintu itu dengan mudah. Apa yang dilihatnya kemudian membuat Net terkejut  bukan  kepalang.

Net mundur dan berlari keluar kamar. Tapi pikiran cerdasnya memutuskan.  

"Aku harus beritahu Mbah Mis! Apapun risikonya!"

"Whatever will be, will be! bisik Net. Sepotong kalimat  yang acapkali Net dengar dari majikannya.  

"Mbah..........mbah Mis! Tolong kesini, cepetan!"

Si Mbah Mis datang setengah berlari menuju kamar. Net sedang berjongkok disamping Rim yang memandang kosong ke mata Net.  Mbah Mis pun ikut berjongkok. Mata mbah Mis bertumpu pada seonggok bungkusan kecil. Penuh darah.


 "Inna lillah! Bayi? Bayi apa? Kapan lahirnya koq tiba-tiba sudah ada jenazahnya?
Kapan Rim hamil?" Mbah Mis memberondong Net dengan pertanyaan-pertanaan yang tiba-tiba menberondong kepalanya.
 
Ingin rasanya Net membekap mulut  Mbah Mis, janda 50an bercucu tiga yang cinta mati sama Kardi, hansip wilayah sekitar.yang ganteng.

"Innanillahi wainailaihi rojiuun, ngono lho Mbah Mis. Koq bayi apa? Bayi siapa, gitu!"

Suara Net sedikit kesal. Dalam kekesalannya Net pun memiliki tanya yang sama dengan Mbah Mis: 

"Kapan Rim hamil?"

Mata Mbah Mis ber-putar keliling ruangan yang pengap itu. Ada angkin (pengikat pinggang) yang panjangAda botol anggur Cap Orang Tua.

Kini mata Mbah Mis  memancarkan sorot amarah. Dipandangnya Rim yang lemah terkulai. Disapunya wajah Net yang penuh khawatir. Tangan Net membelai wajah dan rambut Rim yang bersimbah keringat. Tangan Mbah Mis  mengepal. Ditinjunya telapak tangannya sendiri.

"Iblis setengah manusia! Manusia jadi-jadian! Awas kalo ketemu tak babat lehermu!"
 Mbah Mis terus nyerocos.

"Ini pasti perbuatan si Kardi! Dia lebih memilih si Rim ketimbang aku!  Dasar cewek gatel  Dia rebut calon suamiku. Aku benci si Rim. Karena dia Kardi-ku pergi dariku! Mas Kardiiii...."  

 Mbah Mis  berteriak, tertawa, berlari meninggalkan kamar seperti tidak terjadi apa-apa. Suara tawa Mbah Mis seakan masih berada di kamar itu.




 
493 Words.

Thursday, February 14, 2013

Catatan yang Tercecer

Gb.Google - sqr27.blogspot.com



Selembar catatan yang tercecer kutemukan ketika asyik membongkar dan mengobrak-abrik  file foto-foto untuk diikutsertakan dalam sebuah Giveaway. Langsung mata ini tertarik untuk membacanya dan ternyata isinya, lumayan berguna buat kuamankan dalam postingan. Sederhana dan mungkin tidak ada gunanya bagi orang lain, namun bagiku tetap saja memiliki arti yang khusus  -- untuk mengisi blog dengan postingan, hehehehe...... Coba disimak buat pembaca yang kebetulan singgah ke rumah online-ku.


Inilah isi Catatan yang Tercecer itu :

Right Brain Builder -- Melatih Otak Kanan.

  1. Berpakaian dengan mata tertutup;
  2. Mengemudi untuk bekerja melalui rute yang berbeda;
  3. Menggerakkan mouse ke sisi "lain" dari key-board;
  4. Menggambar angka 8 (delapan) diangkasa (sambil berbaring telentang dengan tangan kiri;
  5. Membuka pintu dengan tangan kiri;
  6. Menggosok gigi pagi hari dengan tangan kiri.
 Karena Catatan yang Tercecer dan berisi sekelumit cara-cara "Melatih Otak Kanan", aku jadi tertarik untuk lebih banyak mengetahui tentang fungsi otak kanan dan otak kiri. Jalan satu-satunya dengan "googling" tentu saja.

Setelah ber-googling-ria ternyata banyak blog yang memiliki postingan tentang hal yang aku cari dan ingin aku ketahui itu. Pilihanku satu saja yang akan aku muat link-nya disini. Selebihnya rekan blogger yang mampir ke blogku boleh bebas memilih meng-klik  link di google yang mana aja,  hehehehe...... kepuasan ada pada diri anda. Yeeeee....

Selamat membaca.






Wednesday, February 13, 2013

Narsisis - Artistik : Photogenic-kah Aku?

 Kebiasaan bunda kalo lagi  ada kesempatan online pasti jari-jari bunda rajin menyusuri link-link. Siapa tau ada lomba/kontes menulis atau GA. Searching teruuus.....ampe bunda temuin nih, ternyata Una, tanpa setahu bunda, lagi ngadain GA -- emang musti lapor bunda, pikir Una, hehehehe... Dan temanya menarik banget Narsisis - Artistik. Yeee.....Una kan tau tuh bunda paling seneng ber-narsis-ria, dimana aja, kapan aja (yang penting bukan iklan Coca Cola). Coba aja liat tuh foto-foto bunda di efbi paling buanyaaak foto sendiri. Dilihat dan dipandang koq cantik dan manis juga ya bunda kalo difoto. Timbul sebuah tanya jauh dilubuk hati (cieeee.....) "Photogenic-kah aku?". Bagi bunda istilah narsis baru bunda kenal setelah bunda berkecimpung di fesbuk dan blogger tuh. Artinya gak serius-serius amat sih seperti arti sebenarnya yang digambarkan Una. Narsis, bagi bunda adalah gila berfoto, banci foto atau paling seneng kalau berfoto/difoto. Trus artistik-nya dimana ya? Please judge through my photos, Una.

Diawali dengan foto yang ini, karena gak ngajak cucu jadi ya bunda aja yang narsis deh.

Gak bisa ilang tuh narsis-nya.


Karena hobi bunda yang banci foto ini, bunda pikir kenapa gak ikutan aja di GA-nya Una. Soal menang atau kalah sih urusan belakangan-lah. Yang penting buat seru-serua-an aja dan meramaikan GA-nya Una. Untung-untung nasib baik berpihak kepada bunda............ya menang. Kalo gak juga gpp koq. Udah ikutan dan pamer foto, hahahahaha......udah seneng tuh. Nah yuk mulai scroll deh foto-foto narsis bunda. Ada juga sih yang menurut bunda artistik, hehehehehe..........(air laut kan asin sendiri toh??!!)


Yang ini adalah foto yang diambil dibawah air. Ini hanya pura-pura doang. Bunda paling takut liat air laut yang bergelombang, pun bunda gak bisa b'renang. T'rus koq bisa ya bikin foto seperti ini. Nah, disitulah artistiknya, hehehehehe.....
Gelembung baju warna merah membuat bunda seolah tenggelam  dalam air berwarna merah....(Pulau Tidung Jan '13)

Kalo yang ini sambil ber-narsis-ria juga memperagakan sesuatu yang artistik banget, yaitu nails painting. Keren lho karena baru  ngalamin sekali seumur hidup tuh dilukis pada kuku-kuku jari tangan.

Si Akang dari Anyer teh ngerjain ke-10 kuku-kuku jari hanya dalam waktu 15 menit. (Anyer, Juli 2011)


Gimana kalo yang dibawah ini? Si bunda narsis banget dengan tunik batiknya, trus yang artistik mah itu lho Pohon Kamboja-nya. Sebetulnya batang kamboja raksasa. Huntingnya aja bunda hampir sebulan tuh. Koq lama banget yak? Iya karena mondar mandir alias wara-wiri bargaining harganya sampe akhirnya bisa cocok sama isi kocek anak bunda. Bawanya kerumah anak bunda aja pake crane lho, pengerjaan sampe bisa berdiri tegak di halaman anak bunda tuh membutuhkan waktu 3 (baca: tiga) jam dan tenaga manusia sebanyak enam orang. T'rus nunggu sampe stek-stek pohon kamboja melekat, tumbuh dengan subur dan dan berbunga harus nunggu satu tahun setengah. Sekarang telah membuat indahnya mata memandang.

Lihatlah dan pandanglah! Artistiknya Batang Kamboja dan Narsisnya si bunda, hehehehe....

Lanjuut...........liat yang dibawah ini, apa gak narsis tuh si bunda, naek sepeda terakhir aja tahun 1983 tapi masih pengen ber-narsis-ria diatas sepeda tandem tuh. Ya, modalnya tinggal gowes doank, hehehehe....

Look at me, Una. Sangking narsis-nya gak mau kalah sama anaknya, huahuahua.... (Tanjung Lesung, Juli 2012)
Una pasti udah capek nih, yaudah diakhiri disini aja deh ya. Ini persembahan foto narsis bunda untuk ikutan GA-nya Una "Narsisis--Artistik".

Me and my daugher, Tanjung Lesung, Juli '12)
Eeeeiiitttts............tunggu dulu.  Ada satu lagi yang gak bisa bunda lupain, foto bersama Group KEB  yang memberikan bunda apresiasi luar biasa dengan founder-nya Mira Sahid. Ini fotonya. (satu aja deh ya). Walaupun fotonya satu tetep aja narsis.

Narsis abiiis bersama yang muda-muda, serasa muda juga, hehehehe...... Artistiknya dimana ya? Artistik karena beragam pakaian yang dipakai kali ya? Gimana Una?

Untuk menjawab pertanyaan: Photogenic-kah Aku pastinya yang pernah KOPDARAN ma bunda tuh yang bisa menjawab.

Postingan ini di-ikut-sertakan di Narsisis-Artistik Giveaway.

Tuesday, February 12, 2013

Parenting itu Penting.

Gb.Google: kids.baristanet.com

Pada hari Sabtu, tanggal 9 Pebruari 2013 di sekolah cucuku yaitu Sekolah Alam Tanah Tingal diadakan sebuah acara Open School  --  Undangan untuk para Ortu dan Umum. Aku datang mewakili
anakku yang kebetulan tidak bisa hadir karena harus menghadiri sebuah rapat NGO
 (Non Govermental Organization) di salah satu Departemen.



 Dengan senang hati aku pun datang sebagai wakil anakku. Anak-anak didik Sekolah Tanah Tingal unjuk keboleh, antara lain: pencak silat, tari-tarian, nyanyi dan atraksi flying fox. Disamping berbagai acara  tersebut juga diadakan Seminar tentang Parenting. 

"Parenting itu Penting," begitu kata salah seorang guru. 

"Karena itu bapak/ibu wali murid dan para undangan diharapkan untuk hadir."



Friday, February 08, 2013

Nasihat Wanita Hebat dalam Hidupku.

Temu kangen Unicef 2012
Tahun 1967 -- Ketika sebuah perusahaan dinyatakan pailit, maka siapa pun yang menjadi pegawainya pasti kecewa, sedih dan bingung. Uang pesangon yang diterima dan tidak seberapa jumlahnya itu tidak bisa menghibur mereka (termasuk aku yang masih single ting ting) untuk bergembira dan merasa puas. Yang penting tentunya adalah sebuah status. Ya, status sebagai pegawai yang akan tetap menerima secara rutin uang bulanan. Status yang menghindarkan mereka dan aku dari sebutan "penganggur." 


Tuesday, February 05, 2013

PROMPT #3 : T E L A T.

"Gawat!"

Aku melirik jam di tangan, sudah lewat 3 menit! kupercepat lariku, walaupun tahu bahwa itu hanyalah sia-sia.

Aku sudah telat!

"Tidak apa-apa." kataku menenangkan hati.

Aku mulai memasuki ruangan dan mengetuk pintu. Seketika semua mata di dalam ruangan ini melihat kearahku.
“Mentang-mentang anak emas, bisa-bisanya dia datang telat lagi!” Aku dengar dengan jelas Sindi menggerutu sambil melirikku bibir agak mencibir.
Aku berusaha santai melenggang seseksi dan sesantai mungkin kearah tempat duduk di deretan paling depan. Seperti biasa aku pasti menyilangkan kaki agar betisku yang indah bebas mengintip dari balik rok-midi belah pinggir yang tersingkap. Caraku yang bikin sirik mahasiswi cantik lainnya.
“Duduk tuh yang sopan dikit kek, Ras!” Wiwiek yang duduk disebelahku mengingatkan.
“Lo liat tuh mata jelalatan Mr. Henrico!” bisiknya lagi.
“Bodo amat! Emang gue pikirin? Suka-suka gue donk mau duduk gimana kek. Masalah buat lo?” jawabku. Jutek. Wiwiek terdiam. Mungkin Wiwiek heran dengan sikapku yang tidak biasanya.
“Brak, brak, brak…….” Terdengar pria gagah yang duduk di kursi dosen di depan kelas menggebrak meja.
“Kalian semua, termasuk kamu yang datang telat!” suara pria gagah itu agak menggelegar sambil menunjuk kearahku. Aku sudah bisa menduga apa yang akan ia jelaskan.
“Coba aja kalo berani dia mengubah permintaanku.” Aku berbisik buat diriku sendiri. Pandangan kutembakkan ke mata biru milik dosen itu.
“Saya tambahkan waktu untuk menyelesaikan ujian ini tiga puluh menit. Saya ulangi: tiga puluh menit”
Suara pria gagah yang tak lain adalah Mr. Henrico. Kedua tangannya sibuk membetulkan letak dasi yang melilit di leher kemejanya. Tidak ada yang salah dengan letak dasi itu, namun ia seperti orang yang baru lepas dari sebuah himpitan. Himpitan yang membuatnya merasa lega.
“Yes! Thank you Mr. Henrico.” Serentak suara mahasiswa/mahasiswi membahana di ruangan yang dingin itu.
Henrico tersenyum. Aku mencuri-curi pandang kearahnya sambil mengulum senyum penuh arti.


Seminggu kemudian pengumuman hasil ujian pun sudah ada ditangan Mr. Henrico. Sambil membuka daftar lembaran ia berkata:
"Akan saya bacakan yang lulus saja."
“Aneh!” bisik salah seorang siswa.
“Koq pengumuman hasil ujian dibacain sama dia sih? Kan biasanya hasil ujian itu ditempel di Papan Pengumuman. Ada-ada aja nih dosen. Mentang-mentang ganteng, bikin peraturan sendiri. Unik banget!” 
 Kini suara itu bukan lagi berbisik, tapi bisa didengar oleh hampir semua mahasiswa/mahasiswi yang sedang dag-dig-dug menunggu hasil dibacakan.
“Atau tidak usah saya bacakan daftar pengumuman ini ya?” suara Henrico dengan nada menggoda.
“Huuuu……kenapa Mr. Henrico?” cetus seorang siswa dari belakang kelas dengan suara lantang.
“Karena……….karena…….kalian semua lulus dengan sangat memuaskan!”
Ruangan berubah menjadi seperti arena dansa. Mahasiswa/mahasiswi saling berpegangan tangan, berputar-putar. Saling peluk dan cipika cipiki pun tak luput menjadi pemandangan yang khusus ketika itu.
Tepuk tangan Mr.Henrico seolah menghipnotis mereka. Semua diam. Menunggu.

“Tapi hanya ada satu orang yang berhak menyandang sebuah titel istimewa.”
 Suara Henrico semakin lantang. Tangannya melambai kearah gadis yang kemudian melenggang dengan gemulai dan yang berjalan dengan seksi kearahnya. Itu aku. Henrico memeluk punggungku dengan erat tanpa sungkan dihadapan semua teman-temanku.
“Laras akan menyandang titel paling bergengsi satu minggu lagi. Dan kalian semua aku minta untuk hadir di Hotel Mahakam, Kebayoran Baru…… “
Siswa/siswi saling berpandangan penuh tanda tanya.
“Laras akan menyandang titel sebagai Nyonya Henrico……..”

 Mengucapkan kalimat itu Henrico pasti merasakan ada pagutan erat sebuah lengan di pinggangnya. Aku melingkarkan lenganku dipinggangnya dengan penuh perasaan bangga. Tak lepas mataku  memandangnya dengan binar yang dia sendiri yang bisa mengartikannya.
“Lhoooo………koq kita semua telat sih taunya kalo mereka punya hubungan? Alamaaaa………” cetus seluruh siswa.

558 Words.