Tuesday, January 28, 2014

Surat Terbuka Untukmu, MFF

Dear  Admin. dan jajarannya di Monday Flash Fiction,

Surat terbuka untukmu,MFF ini sengaja aku buat pada saat aku bisa meninggalkan anakku di RS bersama salah seorang keponakanku. Aku harus pulang mengambil sesuatu untuk anakku. Kesempatan yang tidak akan aku sia-siakan tentunya untuk menarikan jemariku di atas toets keyboard kesayanganku, sekalipun jadul, it's okelah, yang penting kesempatan emas ini akan aku gunakan. Ada pepatah yang mengatakan "Sambil Menyelan Minum |Air," kan? Insya Allah, hari ini surat surat terbuka untuk para pengelola, pengajar, pengarah gaya (hahaha...) akan aku kirimkan untukmu.

Aku sebenarnya malu menjadi membermu, wahai MFF, karena aku tidak pernah menggunakan secara rutin waktuku untuk setia mengunjungimu. Padahal aku menjadi seorang yang percaya diri untuk menulis flash fiction juga karena perkenalanku denganmu. Aku sadar, kalau saja aku secara teratur mengunjungimu, kemudian meng-klik topik yang bertebaran tentang apa dan bagaimana sebaiknya menulis flash fiction, pastinya aku sudah lebih pintar menulis kertimbang saat ini. Aku menepuk dada sendiri lho, karena sudah banyak Flash Fiction yang aku buat. Mungkin, bila sikon memungkinkan, akan aku jadikan kumpulan FF solo. Surat Terbuka Untukmu, MFF kutulis sebagai cara menyampaikan terima kasihku padamu. Aku menjadi sadar, banyak kekuranganku dalam menulis naskah untuk apapun, terutama FF, tetapi setelah aku berkecimpung di duniamu,MFF, aku menjadi percaya diri dan berhasil mengikuti tantanganmu.

Konyolnya, baru hari ini aku tahu ada pula acara yang kau sediakan, yaitu diskusi karya. Yang satu ini selalu saja aku lewatkan. Sebenarnya bukan aku lewatkan, namun terlewat, karena sulitnya aku menyediakan waktu untukmu.

Berkatmu, MFF aku sudah bisa menulis "pun" dengan benar. Sebelumnya, aku selalu menulis seperti ini: ada pun, saya pun. Ternyata yang benar adalah: adapun, sayapun. Kemudian kau beri aku pengetahuan lain, bagaimana seharusnya menulis paragraf baru dan lain sebagainya. Aku tidak bisa menuliskan semua di sini, karena banyak agenda bagus yang kau sediakan, namun jarang sekali aku datangi. Maafkan aku, MFF.

Kelebihanmu adalah memberikan pengetahuan, secara tidak langsung kepada para MFF-er, karena tidak pernah ada Kursus Online, hehe... Pro-aktif memberlah yang sangat menentukan untuk menjadi MFF-er handal. Dan aku masih jauh dari itu.

Kekuranganmu, hehe..(lagi), jangan marah ya, karena ini adalah pendapatku pribadi, kau jarang sekali me-remake tulisanku, hiks, hiks.. Tapi aku puas, karena bersamamu, kudapat pengetahuan yang selama ini tidak pernah aku tahu -- ternyata, walaupun tertatih-tatih, aku bisa menulis FF.

Aku tidak menemukan adanya kekuranganmu yang lain, karena Admin MFF adalah singgasananya para penulis muda yang handal, smart and brilliant. Aku tidak akan menyebutkan satu persatu nama penulis itu, namun mereka berada di dalam Admin MFF. Aku ingin seperti mereka. Bisa dan mampu memberikan masukan-masukan demi pertumbuhan MFF ini. Who knows? dan suatu saat nanti aku bisa membuat kejutan sebuah FF yang akan bertengger, misalnya, di tangga yang terkenal dengan judul FF Terpilih Minggu ini.

Akupun suka sekali MFF mengadakan sebuah ajang yang disebut MFF Idol. Wah, senengnya ketika aku bisa berpartisipasi di ajang ini. Bnyak pengalaman yang bisa aku peroleh. Walaupun akhirnya aku, terlempar jauh dari arena, tak mengapa, yang penting sensasinya pernah aku rasakan. Semoga akan ada lagi ajang MFF Idol yang kedua, hehehe...atau sudah ada dan aku tidak "ngeh" ya.
Aku tutup Surat Terbuka Untukmu, MFF dengan ucapan, maju terus, pantang mundur. Jadikan grup kita mampu menelorkan penulis FF yang oke punya.


Big hugs for all of you,

Bunda Yati Rachmat

Saturday, January 25, 2014

25 JANUARI





“Tanggal 25 Januari jam 09.00 aku minta kau sisihkan waktu untukku. Kita harus menghadiri acara penting. Aku tidak mau mereka tahu ada keretakan diantara kita.” Suara suamiku tegas menyentuh telingaku.

“Harus? Bagaimana kalau aku tidak bisa.  Bukan tidak mau. Seorang karibku, Sinta, akan datang dari Jepara. Dia tidak kenal Jakarta dan tidak punya siapa-siapa, kecuali aku. Urusan Sinta lebih penting, ketimbang urusan acara gelar doktor,  kerabatmu, Mas! Ini adalah masa depan Sinta. Panggilan kerja hari ini, 25 Januari, dari sebuah perusahaan besar yang sudah lama jadi incarannya.  Aku harus menemaninya. Ma’af, Mas, aku tidak bisa ikut.” tandasku. 

Namun kebimbangan singgah dalam pikiranku. Sorot mata itu, kenapa begitu lembut, tidak seperti ketegasan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Aku tidak mampu menduga ada apa di balik sorot lembut mata hitamnya.  

Setahun sudah, hubungan kami memang kurang harmonis. Diam-diam aku jatuh hati pada  pemuda yang lebih muda.  Tapi ini aku lakukan untuk balas dendam. Suamiku menghianatiku. Ia bermain api dengan seorang gadis belia. Bahkan ia mengatakan mencintai gadis itu setengah mati. Sakitnya hati ini. Ternyata aku cemburu.

Permainan terlanjur berlanjut.  Hubunganpun semakin memanas. Saling menyapa seperlunya. Tidak ada lagi kehangatan. Tak ada lagi saling gelitik yang pernah kami lakukan. Semua sirna. Hampa.

“Jadi, kau tetap pada pendirianmu?”

Aku mengangguk. Suamiku berlalu. Aneh. Aku merindukan kecup ringan di bibirku yang tak pernah lagi ia lakukan..


Deru mobil semakin menjauh.  

***

Telpon genggamku bergetar.

"Bu Anto? Bapak di Rumah Sakit Husada, kamar jenazah."

Lunglai tubuh ini, namun aku harus bergegas ke rumah sakit.

Tubuh suamiku terbujur penuh bercak darah. 25 Januari kelabu, kecelakaan tunggal telah merenggut nyawanya.

Kupeluk tubuhnya.Kubisikkan kata mesra ”I love you so much, lovy. No matter what.”  Kukecup kening dan bibirnya.

Bulu  kudukku berdiri. Andaikan aku pergi bersamanya, siapa yang akan menjaga kedua anakku?

Terima kasih, ya Allah, ini adalah sebuah blessing in disguisse.




Note: 300 Words, tanpa judul.

Tuesday, January 21, 2014

Agar Pikun Dini Tidak Cepat Menyapa.




Judul postingan Agar Pikun Dini Tidak Cepat Menyapa ini terinspirasi dari tulisan pakde Cholik tertanggal 9 Juli 2013 tentang  Manfa’at Ngeblog untuk Mencegah Pikun Dini."  Aku memilih topik ini semata karena sesuai dengan kondisiku di usia 75, mudah memberikan tanggapan. Awalnya memang aku ngeblog untuk iseng, mencari income tambahan.  Kemudian aku dapatkan beberapa titik, memang ngeblog bermanfaat untuk mencegah pikun dini. Tanggapanku tentang judul postingan pakde Cholik, berikut ini:
  • Sejak aku tidak berpenghasilan, semua kebutuhanku ditunjang oleh anak-anakku, terutama oleh anakku yang bungsu. Lho koq? Iya, karena si bungsu inilah yang paling berada diantara ketiga anakku yang lain.  Koq aku jadi benalu, ya?  Duduk manis tanpa penghasilan. Aku mulai berpikir untuk terjun ke dunia online, karena banyak info yang aku dapat, bahwa  income juga bisa kita raih dari aktifitas online. Selang beberapa waktu, ternyata usahaku di bisnis online tidak berhasil dengan memuaskan. Mindset yang kumiliki tidak mumpuni. Dari segi materi aku tidak mendapat kepuasan memang, namun ada sesuatu yang terjadi pada diriku. Karena seringnya ngeblog -- menulis untuk diikutsertakan pada Kontes di Bisnis Online, ternyata menjadi obat mujarab buat penyakitku – Sang Pelupa. Dulu aku seringkali lupa dimana meletakkan suatu barang. Sekarang tidak lagi. Walaupun lupa, namun sepersekian detik aku pasti mampu mengingatnya.  

  • Alhamdulillah, karena ngeblog, sifat pelupa-ku jadi berkurang. Tapi ada lagi yang lebih penting,  ngeblog menjaga kondisi pikiran agar pikun dini tidak cepat menyapa. Caranya tentu saja dengan melatih otak untuk selalu  gencar member perintah kepada  pikiran dan jari jemari untuk menulis.  Tanpa kita perintah, otak akan tetap  membatu dan membisu seribu kata, hehe... Tidak peduli pada situasi, apakah kita sedang sedih, happy atau penuh semangat.  Tugas kita, berilah perintah kepada otak. Dengan begitu otakpun akan memberi perintah sehingga kita terbakar semangat untuk ngeblog.

  • So, agar pikun tidak cepat menyapa, sebaiknya lakukan saranku diatas, manfa'atkan ngeblog untuk menghindari pikun dini.


 Tulisan ini diikutsertakan di GiveAway 2 Hari

Sunday, January 19, 2014

Percayalah, Irit Itu Bukan Pelit.

Sebetulnya bukan karena aku kehabisan ide. GA yang diadakan oleh Kaka Akin sangat menggoda aku untuk ikutan. Memang banyak segi-segi positif dalam hidup ini yang bisa dijadikan ajang untuk mulai berlaku "irit". Jangan salah baca lho, bukan pelit. Salah satu subjek yang akan aku bahas adalah postingan yang pernah aku muat dalam blog ini. Karena pemilik blog Try2BCool mengizinkan postingan yang sudah dimuat untuk diikut-sertakan dalam GA, dengan catatan, setelah diolah kembali. Beberapa blogger yang pernah mampir ke rumah mayaku, pasti sudah membaca judul postinganku yang ini:
Percayalah, Irit itu Bukan Pelit. Mau contoh-contohnya? Yuk, simak pengalaman bunda dibawah ini:

  • Nah, kesempatanku untuk mengikut-sertakan postingan ini sebagai salah satu cara yang paling afdhol untuk bersikap irit tapi bukan pelit. Aku punya alasan yang kuat untuk memberikan kesan dan pesan melalui tube pasta gigi ini. Kenapa? Karena keseharian kita tanpa menu makanan, it's oke-lah, tapi keseharian kita tanpa pasta gigi? Alamaa..apa jadinya hidup ini. Apakah kita akan kembali ke jaman Nabi Besar Muhammad SAW yang menggunakan siwak? Mana mungkin? Iya, gak sih? Percayalah, Irit Itu Bukan Pelit. Jadi, lakukanlah -- apabila pasta gigi tinggal sedikit, jangan diplintir (twisted), tapi gulunglah dari bawah (roll it up). Hasilnya pasti mengherankan, karena pasta gigi yang tersisa ternyata bisa dimanfaatkan untuk menggosok gigi, paling tidak, sebanyak 10 x -- berarti masih bisa digunakan untuk 5 hari.


Ini Tube yang di plintir (twisted) -- pemborosan

Ini Tube yang digulung dari baah (rolled-up)  -- penghematan
  • Berikut,  tips tentang makanan. Percayalah, Irit Itu Bukan Pelit -- aku selalu mempraktekkan teori ini di rumah bersama anak-anakku. Bahkan aku mendapat sebutan dari mereka : "Si Jago Daur Ulang."  Karena makanan yang tidak habis hari ini, akan aku simpan dalam freezer. Bagi kami, yang berdarah Sumatera Barat ada istilah "Angek-angek," yaitu beberapa makanan yang masih tersisa dikumpulkan, kemudian diolah menjadi hidangan baru yang disebut angek-angek-- rasanya seperti rendang, hhhmmm..yummy. Hidangan baru ini campuran dari olahan daging, sayur nangka, sayur kacang panjang dan lain sebagainya.

  • Nasi yang masih layak makan, tapi sudah dua hari dalam magic-jar, terkadang memiliki bau yang sudah kurang sedap. Mau dibuang? Mubazir donk? Mau dimakan, tidak akan menimbulkan selera. Jadi? Ya, dijadikan bubur aja deh. Nasi dijerang kemudian diberi santan, gula merah, daun pandan. Masak hingga butiran nasi menyatu dan bau harum daun pandan menyentuh hidung. Agar lebih menarik, sisihkan sedikit sebelum diberi gula merah. Jadilah hidangan baru, anak cucu pasti berebut tuh melahapnya.
Sumber Gb. kitabmasakan.com

  • Bisa juga bubur tanpa gula, sulap menjadi bubur ayam. Asyik, kan? Daripada beli bubur ayam untuk satu keluarga @ Rp. 8,000/porsi beli di tukang bubur Gerobak Dorong, apalagi kalau rame-rame pergi ke reto dan pean bubur ayam, bi..  kebayang kan kocek yang bakal terkura.., hehe..Pengeluaran irit dengan olahan bubur ayam ala bunda yati rachmat. Ayo deh, jangan guilty feeling gitu ah! Irit Itu Bukan Pelit. Jadi ada baiknya kita mencoba menerapkannya dalam hidup kita.

  • Last but not least, sabun mandi yang tinggal sedikit dan sulit  untuk digenggam, jangan dibuang, tapi satukan dengan yang baru. Caranya? Basahi kedua jenis sabun itu, satukan dengan ditekan agak kuat (dengan mengepal-ngepalnya), biarkan kering. Ini yang biasa aku lakukan. Tak peduli sabun itu dari merek yang berlainan, semakin berwarna, semakin manis kelihatannya, hehe....Begitu yang namanya irit, tapi Percayalah, Irit itu Bukan Pelit, yeeee...

Jadi bagi mereka yang belum mencobanya, yuk dicoba. Monggo.





Saturday, January 18, 2014

Geliat KEB di Mataku.

Sebagai pembuka postingan ini, aku ucapkan: untuk KEB yang berulang tahun hari ini, 18 Januari 2014 - "Selamat ber-ulang tahun. Semoga kiprah dan geliat Kumpulan Emak2 Blogger, semakin berkibar di-tahun-tahun mendatang. Aamiin."

Tidak berkelebihan kiranya kalau aku katakan, bahwa sebagai member KEB, aku juga dilahirkan pada bulan dan tahun yang sama dengan KEB, hehe.. Semula aku sangat keberatan ketika seorang blogger mengundangku (kalau tidak salah Mak Ila Rizky Nidiana. Maaf kalau aku salah.) untuk join KEB. Aku sangat ragu, aku berpikir seribu kali (wah, banyak amat mikirnya!!) Aku ini kan bukan emak-emak lagi, aku ini udah jadi seorang nenek. Apa mungkin diperbolehkan gabung.?