Saturday, February 22, 2014

Sayangi Dirimu

Tanggal 30 November 2013, alhamdulillah anakku lelaki diizinkan pulang, dalam arti masih harus  menggunakan kursi roda, walaupun kedua kakinya tidak diserang stroke, tapi semata untuk menjaga kestabilan syaraf otaknya. Beberapa advis dokter syarafpun harus dipatuhi, demi tidak terjadinya pendarahan pada syaraf otak, yang, menurut dokter masih ada calon syaraf yang bakal pecah. Dan ini diupayakan dengan obat-obatan/vitamin dan dengan mematuhi nasehat dokter.  Sayangi dirimu, begitu kata dokter.

Begitulah, setelah kontrol ke dokter syaraf pada tanggal 6 Desember, melakukan scanning ulang, anakku diperbolehkan untuk mulai meninggalkan kursi roda.

Khasiat Buah Naga.

Foto dokumen pribadi.
Khasiat Buah Naga ini begitu saja muncul untuk dijadikan topik postingan kali ini. Kenapa? Karena selama aku lek-lek-an di rumah sakit menjaga anakku yang dirawat, buah inilah yang membuatku memiliki stamina yang okpu a.k.a. oke punya, hehehe..

Bisa dibayangkan kelelahan yang luar biasa karena harus tidur tidak teratur, bahkan harus terjaga selama 24 jam. Menjaga anak yang dirawat siang dan malam. Terkadang badan ini terasa sumeng, tapi perasaan itu tak perrnah aku hiraukan ketika melihat tubuh anakku diinfus, dipasangi kateter dan alat pernapasan. Rasanya tidak ada perasaan lain selain ingin tetap segar menjaganya. Padahal di rumah sakit itu pelayanan nursing sangat memuaskan. Keluarga pasien tidak direpotkan, cukup menekan bel, maka seketika suster akan muncul dan membantu. Kehadiraan keluarga hanya menjaga, just in case, ada hal yang perlu dikonsultasikan.

Wednesday, February 19, 2014

Bagai Hujan di Teriknya Panas.


Jum'at, 15 Nopember 2013 kami (aku dan anak lelakiku) masih asyik bermain game ZUMA hingga pukul 02.00. (16 Nopember 2013).  Kami juga asyik dengan ber-narsis ria dengan kamera laptop. Kami begitu gembira, anakku membuat rekaman lagu-lagu Rolling Stone yang menjadi favorit-nya: "You Can't Always Get What You Want," walau dengan suaranya yang terdengar sangat sumbang. Pokoknya, bagi anakku, dia nyanyi. Titik.

Sejak lama, anakku memang memiliki temperamen yang  tinggi, tidak bisa mengontrol diri, emosinya mudah meledak karena hal-hal sepele. Aku merencanakan, keesokan harinya Sabtu, 16 Nopember, untuk berkunjung ke salah satu tempat pengobatan alternatif. Biasanya anakku bangun ketika waktu subuh tiba, tapi hari itu pintu kamarnya tetap tertutup. Aku biarkan, karena akupun berpikir, dia pasti lelah. Namun hingga pukul 07.30 tidak juga kunjung dibuka pintu kamarnya, aku mencoba untuk membukanya. Ternyata tidak dikunci. Apa yang aku dapati disana? Anakku terbaring, dengan tertelengkup, badan lemah, air liurnya keluar deras dari mulutnya, lengan kirinya tidak dapat digerakkan. Aku panik, padahal aku hanya sendiri di rumah. Apa akal? Aku panggil dua orang ojeckers untuk mengangkatnya dan membaringkannya di tempat tidur. Aku bergegas mencari pertolongan pertama ke Klinik 24-jam terdekat. Alhamdulillah, Dokter berkenan untuk datang ke rumahku. Setelah diberi vitamin, aku pun bergegas ke Puskesmas di wilayah tempat tinggalku untuk mendapatkan surat rujukan ke RSUD TangSel.

Tuesday, February 18, 2014

Apalah Arti Sebuah Kata.

Source: depositphotos.com
Terkadang manusia meremehkan arti sebuah kata dan mereka selalu berdalih Apalah Arti Sebuah Kata. Padahal, dari kata atau kata-kata ini bisa menimbulkan beragam kejadian, baik itu kejadian yang buruk, menyebalkan, menyenangkan, dan bahkan yang memberi kebahagiaan yang hakiki.

Dulu, ketika  bekerja di sebuah perusahaan internasional, aku selalu mengingat nasehat seorang teman, yang hingga saat ini masih kuingat kata-katanya yang berbunyi:

 "Watch your tongue when talking to somebody. Word can kill you. Word can bring you to a happiness." 

Tentu kalimat ini sangat luas artinya, bisa jadi sebuah nasehat, mungkin juga sebuah anjuran, atau mungkin sebuah peringatan. Beliau acapkali berkata tentang beragam karakter yang dimiliki oleh setiap insan Allah, tidak terkecuali aku, tentunya. Dia berpesan wanti-wanti bila berkata-kata dengan seseorang, apalagi seorang wanita.

Kata-kata itu selalu bergayut dalam ingatanku sebagai sebuah peringatan. Sebuah kenyataan telah membuktikan (bukan survey membuktikan, hehe...).


Ceritanya begini:

Di perusahaan itu ada seorang Coffee Girl, sebut saja namanya, Delilah -- gadis manis dari suku Jawa. Gadis ini dalam bertutur kata selalu menjaga setiap kata yang ia keluarkan, agar terdengar sangat manis, sopan dan menyenangkan. Senyumpun tak lepas dari bibirnya kala menyuguhkan minuman. Pokok-e setiap pegawai menantikan kehadiran Delilah dengan senyumnya yang sumringah, setiap pagi. dengan trolley berisi beragam minuman hangat., kopi pahit, kopi manis, kopi susu, teh pahit or teh manis.

Ketika Delilah salah menyuguhkan secangkir minuman pagi di meja salah seorang staff, yuk, kita sebut saja Mr. A. -- seorang expatriate, Delilah meletakkan secangkir kopi, instead of a cup of tea.

 "Minuman saya bukan kopi, kan? Bawakan cepat secangkir teh manis untuk saya!"

Bagi sebagian orang tentu saja kalimat diatas tidak berarti apa-apa, bukan sebuah kekesalan atau kemarahan. Apalagi kata-kata itu diucapkan oleh seorang bule Australia yang  bahasa Indonesia-nya masih patah-patah. Tetapi ketika untaian kata itu menyentuh telinga Delilah, rasanya bumi ini berguncang, dada Delilah bergemuruh, tangannya gemetar. Ia merasa telah melakukan sebuah kesalahan yang teramat besar. Tidak termaafkan. Delilah berlalu dengan muka pucat. Dan apa yang terjadi hari berikutnya? Delilah tidak lagi muncul di kantor. Sebagai gantinya secarik kertas dalam amplop terletak di meja Kepala HRD. Bunyinya, singkat sekali:

"Saya mohon diizinkan untuk berhenti, karena tidak tahan dengan kata-kata kasar Mr. A."

Coba perhatikan, dalam kalimat yang diucapkan oleh Mr. A, terkandung suatu arti yang sangat dalam di telinga Delilah, yaitu bahwa ia telah melakukan kesalahan fatal. Apalah Arti Sebuah Kata di sini tidak lagi memiliki arti. Kata, teramat penting. Kata, merupakan kunci keberhasilan sebuah komunikasi. . Kata yang diucapkan oleh Mr. A, disertai intonasi yang menyentuh daun telinga Delilah yang penuh dengan kelembutan tidak bisa di tolerir oleh Delilah.  Bahkan, karena tata-krama yang melekat dalam jiwa Delilah, untuk minta berhenti saja, ia menggunakan kata: "Saya mohon diizinkan....."

Jangan pernah menyepelekan meluncurnya sebuah kata melalui lidah anda. Dan jangan terhipnotis oleh Apalah Arti Sebuah Kata. Karena kata yang terucap bisa menimbulkan beragam kesimpulan, terletak di mana kita mengucapkannya, atau dengan siapa kita berhadapan. Jadi berhati-hatilah dengan kata-kata anda..

Coba perhatikan lagi ketika anda dalam keadaan marah, maka kata-kata yang meluncur dari mulut anda akan bergemeletuk seperti bunyi pop-corn dalam oven. Namun lancarnya kata-kata anda dalam kemarahan, belum tentu tidak menimbulkan penyesalan. Perasaan yang disebut guilty feeling akan menyangkut di relung hati anda yang paling dalam. Terlepas dari anda bersalah atau tidak. Jadi: "Jangan suka marah-marah, ya! Disamping rasa yang aku sebutkan itu, energi pun akan terkuras, apalagi kalau anda mengidap penyakit jantung, akibatnya fatal, heuy, heuy..serem euy!"


Catatan: Postingan yang aku buat ketika  bingung topik apa yang akan aku tuliskan. Dan inilah jadinya, sebuah kata yang  tidak boleh dianggap enteng dalam mengucapkannya. Hati-hati dengan pengertian Apalah Arti Sebuah Kata.