No Harm To Say No For Your Good Sake

ODOPPEB18, Hari ke-8 (120218)


Tema: Apa yang kamu tolak untuk campaign posting di blog , IG dan semua akun sosmed? Alasannya kenapa? Bagaimana cara menolaknya.




No Harm To Say No For Your Good Sake -- wah, wah, wah...sulit juga menjawab pertanyaan dalam tema yang beruntun seperti senapan berpeluru yang ditembakkan nih, hehehe....Tapi kan memang harus dijawab. Kalau tak dijawab maka akan kosonglah laman ini. Otakku berpikir sejenak tentang apa yang akan aku tulis dengan sejujur-jujurnya. Kalau yang dimaksud dengan pengertian "campaign" di sini adalah "job-review/paid review" yang harus aku muat di blog -- "memang pernah"  dua kali malah. Tapi apabila "campaign" memiliki arti yang sebenarnya, yaitu, iklan di IG dan Sosial Media lainnya, juga harus aku jawab sejujurnya: "Belum pernah!"


Belum pernah? Koq bisa? Sudah nyemplung di dunia online dari tahun 2009 belum pernah bergelut dengan aktivitas campaign di Instagram dan semua akun sosial media? Iya, serius. Aku berkata jujur lho.  Masalahnya aku masih terlalu awam untuk berkecimpung didalamnya mengikuti trend zaman now. Sebenarnya keinginan itu sudah berakar sedikit dalam hati, namun aku belum berani terjun ke dalamnya -- khawatir nanti akan mengecewakan pemberi job.

Aku selalu ketinggalan berita untuk mengikuti workshop yang diadakan oleh para blogger andal atau oleh para Client yang memperkenalkan beberapa Nara Sumber dengan ilmu dan skill yang berbeda. Topik Workshop yang harus diketahui dan sebaiknya diikuti oleh para blogger dari grup mana pun. Tentu saja dengan batasan seats. First come first serve. Kalau tidak ketinggalan berita, maka jarak tempuh ke tempat acara sangat jauh, sehingga terlewatlah kesempatanku untuk menimba ilmu.

Tahuka Anda?  Betapa aku iri ketika ada undangan untuk menjadi Buzzer suatu produk dan aku tak dapat mengikutinya? Rasanya gregetan dan KZL tak mampu aku berpartisipasi. Ini juga sebabnya aku terpacu dan mudah-mudahan keingin-tahuanku tetap menyemangati diri hingga suatu saat aku mampu mengikutinya. (berkaitan dengan the most urgent Resolution 2018)

Mengenai penolakan yang aku katakan sudah aku alami dua kali, begini ceritanya. Seperti judul postingan ini No Harm To Say No For Your Good Sake, tak ada salahnya mengatakan tidak demi kebaikan. Bukankah begitu. Kita tidak boleh merugikan orang lain dan kita sendiri pun tidak ingin dirugikan. Yuk, lanjut.

(1) Kejadiannya kira-kira sudah beberapa tahun berlalu. Ketika itu aku dapat email yang isinya memuji tampilan blogku (?) -- tertarik untuk mengadakan kerja-sama, menanyakan apakah blog-ku bisa menerima artikel untuk dimuat dengan minimum 700 kata -- dua backlinks -- berapa rate-ku per artikel? Aku pun jujur mengatakan tolong kirimkan dulu detailnya, mengenai rate bisa menyusul. Dikirimkanlah naskah artikel tentang bahayanya penyakit bla-bla-bla. Setelah aku baca koq susunan kalimatnya janggal, kurang nyaman dibaca.

Bagaimana mungkin aku tidak mengeditnya nanti sebelum aku muat di blog-ku. Bisa membahayakan reputasi blogku donk... wkwkwk...

Wah, jangan-jangan ini terjemahan dari bahasa Inggris. Mulailah aku googling. Judul artikel aku terjemahkan dulu ke bahasa Inggris. Ternyata, oh, ternyata...benar sekali feelingku bekerja dengan cermat, hehe.. artikel itu memang terjemahan dari artikel yang baru saja aku baca dari blog berbahasa Inggris. Lalu, what should I do then. Jelas aku harus mencari jalan yang paling manis untuk menolaknya. Caranya? Aku katakan "Mas, apakah ini terjemahan dari bahasa Inggris? Kalau ya, bolehkah saya dikirimi sumbernya agar saya bisa menyelaraskan terjemahannya agar sejalan dengan isi aslinya. Namun, aku tunggu dan tunggu, emailku tak pernah lagi dibalasnya.  Okedeh, bye, bye...Bro.

(2) My second "no" -- aku diminta membuat postingan dengan tema yang ia berikan, berbau politik. Aku balas dengan sebulat hati -- "Maaf, saya tidak capable untuk membuat artikel dengan tema yang Mas berikan. Pengalaman blogging saya masih dangkal. Khawatir kalau nanti artikelnya kurang memuaskan.  Saya ingin sekali melanjutkan kerja-sama ini, namun bolehkan dikirimkan untuk saya tema yang bernuansa selain politik?" -- Setali tiga uang -- sama saja dengan calon klien gagal yang pertama,   emailku tak mendapat balasan.  Itulah my second bye bye.

Sampai sekarang keduanya tak pernah lagi menghubungiku. Tak apa. Yang penting aku sudah berani mengatakan tidak untuk hal yang akan menjadi sesuatu yang tidak nyaman buatku ketika menuliskannya.  Kehilangan dua klien tak mengapa, toh aku masih banyak punya teman-teman dari grup blogger yang acapkali memberikan kesempatan blog-ku menghasilkan doku, hehe... Alhamdulillah.

Bukanlah lembaran uang yang aku pedulikan tapi kenyamanan hati ketika menorehkan artikel di blog-ku. Swear bukan lebay bukan sombong, tapi sebuah kenyataan yang bisa membuat hati lega dan nyaman, itulah pilihanku.

So, No harm to say no for your good sake.



Comments

  1. Wah, iya banget ya, Bun. untuk politik memang harus lebih hati-hati menyelaraskan dengan image bloggernya. Dan untuk poin pertama, thanks for sharing karena kita-kita pastilah dapet job content placement disamping nulis sendiri. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kunjungan Murni ke blog bunda. Betul sekali, karena apa yang mereka baca di blog kita adalah juga mencerminkan pemilik blog. Iya, kan.

      Delete
  2. wah... dunia politik juga masuk ke dunia perbloggingan ya bunda. Harus lebih berhati-hati. Terima kasih Bun, sharingnya.

    ReplyDelete
  3. Waah dunia politik mah ngeri ya Bun, aku pun sama ga pernah mau membahas tema itu.

    ReplyDelete
  4. eh iya bund, aku juga nolak untuk campaign politik. dulu aku pernah kecolongan sama sebuah agensi yg sering nawarin buzzing di twitter. kan di akun tersebut aku lupa setting harus melalui persetujuan dulu. lah ternyata akunku dikasih campaign politik, huhuhuhu. langsung ta delete deh

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ada Apa Dengan Panggilan Bunda?

Eratnya Ikatan Kekeluargaan Itu

Khasiat Serai Merah