Khayalku Menjadi Seorang Perempuan yang sempurna [BAG.III-selesai]


 
Source: otodidak.blogspot.com


Tanggal duapuluh tujuh bulan Pebruari tahun seribu sembilan ratus enampuluh sembilan, lahirlah bayi mungil kami. Bayi laki-laki pada malam Hari Raya Idhul Adha melalui kelahiran normal di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, Jalan Budi Kemuliaan, Jakarta Pusat, dengan berat 2,8 kg dan panjang 52 sentimeter. Kelak ia akan menjadi seorang pemain volley atau basket karena tingginya, ” kataku berbisik sambil menyerahkannya ke tangan suamiku. Ia menggendongnya dengan senyum lebar.  Mengangkatnya tinggi hingga kepala mungil itu menyentuh bibir suamiku. Dibacakan ayat-ayat suci Al Qur’an di kedua belah telinga bayi kami silih berganti.


Tiga hari aku berbaring di rumah sakit dengan sebuah cradle di samping tempat tidurku. Tak puas-puas aku memandangnya. Hidungnya mancung seperti hidung suamiku, ayahnya. Rambutnya lebat dan hitam diberikan oleh Allah yang Maha Pengasih. 

Selang 12 jam setelah aku melahirkan, mata ini terasa berat sekali tapi kenapa kedua belah buah dadaku terasa berdenyut dan agak sakit. Terasa keras.  Ada apa ini? Aku coba memencet bel yang ada di bagian atas tempat tidurku. Seorang perawat datang dan menanyakan apa yang bisa ia bantu.

“Suster, kedua belah payudara saya terasa keras dan sakit.”  

Alih-alih menjawab pertanyaanku, Suster berlalu sambil tersenyum. Ia kembali dengan menggendong bayiku.

“Coba, yuk, saya bantu ibu untuk menyusukan bayi mungil ibu” ujarnya ramah.

Tapi rupanya bayiku kesulitan untuk menemukan puting susuku. Ya, ampun, ternyata payudaraku hanya sedikit menonjolkan putingnya. Suster cepat menangkap gurat kecewa di wajahku.

"Gak apa-apa, bu. Banyak para ibu yang keadaannya seperti ibu. Puting susunya kecil." hiburnya

Setelah beberapa lama aku coba sesuai petunjuk Suster, aku berhasil menyusukan bayiku pertama kalinya.  Tapi bayi ini terlihat sangat aktif, kepalanya terus bergerak mencari-cari walaupun puting susuku telah berada dalam mulutnya yang mungil dan lucu.

Aku masih ingat betapa mesranya posisiku bersama bayiku ketika pertama kali ia menyusu.  Ibu jari dan telunjukku aku gunakan untuk menahan payudaraku agar bayiku tetap bisa mengisapnya dengan nyaman.

Ya, Allah, Kau beri aku kesempatan untuk menjadi perempuan yang sempurna. Air Susu anugerahMu telah memancar dengan baik. Anakku  merasakan pertama kali menghisapnya. Seperti itu pulalah pastinya ketika aku bayi, merasakan air susu ibuku. Isapan yang membuat hati ini bahagia tak terperikan. Siklus itu akan selalu kembali dan berputar: ibuku, aku, dan kemudian anak-anakku yang perempuan kelak. Subhaanallah.

Lagi, selintas aku mengingat kata-kata Suster ketika pertama kali aku melahirkan. Kenangan ini tak pernah aku lupakan:

“Tunggu, ya, Bu,” Suster itu berkata lebih ramah lagi. Ia berlalu dan kembali dengan sebuah kotak.
“Ini alat untuk memompa air susu ibu, puting susu Ibu sulit dihisap karena datar, Bu” katanya sambil mengeluarkan pompa yang dimaksud. Suster yang baik itu mengajarkanku cara memakainya. Ternyata, Alhamdulillah, air susuku keluar dengan lancar. 

“Ibu teruskan memompanya, ya, supaya Ibu terbiasa melakukannya. Dengan demikian juga akan memicu munculnya puting susu  ibu. Ibu tidak boleh menyerah, harus dengan sabar berusaha agar bayi ibu  mengisap air susu ibu.   Saya akan kembali,” suara Suster itu begitu lembut.  

Mengingatnya aku jadi tersenyum sendiri.

*****************

 Note: Hikmah yang bisa diambil dari ceritaku di atas:

Ibu melahirkanmu dengan menyabung nyawa -- napas berkejaran -- peluh bercucuran
Hargai dan sayangilah ibumu ketika telah renta dan papa
biasakan dirimu untuk mendengarnya mengulang-ulang perkataan
usah kau kesal dan perlihatkan perubahan raut wajahmu karena itu tanda kerentaannya
jangan pula kau sodorkan tanganmu dengan kasar ketika menyeka makanannya yang tertumpah
karena itu tanda motoriknya sudah tidak lagi bekerja dengan sempurna
Hargai dan sayangilah ibumu ketika telah renta dan papa
karena kau pun akan berada di sana
dan ingat satu hal yang pastinya kau berusaha melupakannya
di setiap  langkahmu dan kesuksesan yang kau raih terselip do'a ibumu
yang dijabah oleh Allah Swt. Aamiin


SELESAI

Comments

  1. Duh, jd terbayang lagi momen2 aku habis melahirkan, beneran deh ya bunda, rasanya ituuu, hidup udah sempurna

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Noe, bener banget. Plooong perasaan tuh ya. Gak berasa lagi and udah lupa sakitnya, mulesnya. Pokok-e buahagiaaa banget. Makasih kunjungannya, Noe.

      Delete
  2. Aku jadi inget 6 bulan lalu bunda haru, sedih, senang bercampur terlebih lagi saat menyusui rasanya memang bahagia y bunda :) kenangan banget ini

    ReplyDelete
  3. Menjadi ibu dan menyusui benar-benar ,oment indah yang membuat saya pun berpikir menjadi smepurna, Bunda Yati telah mendeskripsikannya dengan sangat indah

    ReplyDelete
  4. Kalau saya jadi putra Bunda dan membaca tulisan ini, pasti akan sangat terharu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Chi, gak ada satupun anak bunda yang suka ngeblog, karena itu seringkali bunda sharalinknya ke Facebook mereka, hehe...tak satu jalan ke Roma, kan? Makasih kunjungan Chi ke sini.

      Delete
  5. aku baca ini jadi inget mamaku, inget pas ngelahirin kemarin huhuhu... bener-bener ya seorang ibu itu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seorang ibu harus penuh pengorbanan, mbak Handdriati. Karena itu kita sebagai ibu harus pandai-pandai mengontrol lisan kita, karena bukan hal yang mustahil suatu saat anak itu berkata kasar dan menyakiti hati ibu (ketika mereka sudah dewasa). Jagalah lisan kita. Karena ucapan kita sebagai ibu adalah do'a. Terima kasih mbak handdriati sudah berkunjung.

      Delete
  6. Aih, pertama kali menyusui memang momen yang sangat berharga ya bun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu adalah saat-saat yang paling membahagiakan, apalagi kalau ASI kita memancar dengan deras ketika menyusui, hehe...

      Delete
  7. Bunda aku salut sekali, itu kejadian 1969 tapi bunda masih ingat secara detail peristiwa demi peristiwa nya.. ih ngefans lah sama bunda hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rizka, bagi siapa pun segala peristiwa manis dan mengesankan pasti akan terus bergelayut dalam ingatan seseorang. Terima kasih kunjungan Rizka.

      Delete
  8. Bundaaa, jadi teringat saat anak lahir pertama kali ya bun. Rasa sakit dan capek abis melahirkan jadi lenyap seketika dan diganti dengan kebahagiaan ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, Alida. Ketika itu seperti ada yang menggolosor hangat dan rasa sakit itu seketika tak ada lagi, kan, bahkan dengan suara penuh antusias: "Dokter, anak saya gimana? Lengkap Dok....? Itu dia sensasinya melahirkan. Terima kasih kunjungan Alida ke blog bunda.

      Delete
  9. Duuuh, aku jadi keingetan mamaku. Ihiks... aku rasanya jadi anak gak tahu diri. Mau nelpon mama ah. Aku kangeeen jadinya. :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nia, udah nelpon mama, belum? Jangan suka merasa seperti itu donk, ah! Kan kesibukan terkadang menghadang kita untuk bersilaturakhim dengan mama. Rasa kangen bisa tinggal menggenggam hape koq, hehe... atau WA trus tanya deh: "Mama lagi ngapain?" Itu udah pertanyaan yang paling bikin hati gimanaaa...gitu. Come on, do it.

      Delete
  10. baca cerita bunda ini jadi teringat saat-saat saya melahirkan anak pertamaku hampir 7 tahun lalu. Rasanya kejadian itu baru terjadi kemarin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk diulang lagi mbak untuk momen bersejarah ini buat anak kedua hehe

      Delete
  11. Masya Allah Bunda masih ingat dengan detail padahal itu kejadian sudah 1969.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya donk, Rani, sayang...bahkan nama dokter, wajah dokter yang ganteng pun masih ada dalam ingatan bunda. Dokter sudah almarhum, sudah lama sekali.

      Delete
  12. Duh Bunda...saya
    terharu membaca paragraf terakhir..karena saat ini sedang merawat ibu yg sudah renta.. Semoga Allah selalu memberi kemudahan bagiku dalam membahagiakan ibu.. Aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sehat2 selalu ya Bunda.. BTW, hari kelahiran puteranya beda sehari dg saya..hehe..

      Delete
    2. Mechta, rawatlah beliau dengan sepenuh kasih, karena di sanalah surga yang Allah sediakan untukmu. (bunda koq jadi berkaca-kaca nih mata bunda dan leher bunda serasa tercekik, pengen nangis. Akankah ada nanti anak yang merawat bunda seperti Mechta? Nobody knows. Only God knows. Bunda hanya berpasrah diri saja dan mohon diberi kesehatan. Karena sesayang-sayangnya anak, ketika kita renta, hanya Allah yang menjaga hatinya agar tidak berubah terhadap ortu ketika sudah tak berdaya. Semoga ibu Mechta selalu mendapat berkah dai Allah dan cepat pulith ya. Aamiin.

      Delete
  13. Itu lah Bunda, ketika udah jadi ibu, seorang perempuan baru memahami perjuangan ibu yang melahirkan kuta dulu seperti apa. Speechless baca artikelnya, makasiih udah diingatkan ya Bunda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu sayang, kenapa menuliskannya di postingan karena terinspirasi oleh kejadian-kejadian yang bunda lihat dengan mata kepala sendiri banyak anak-anak ketika dewasa, berhasil dan sukses mereka jadi bossy. Alhamdulillah ketiga anak perempuan bunda masih diberi Allah keteguhan iman untuk menjaga dan merawat bunda. Itulah yang membuat bunda selalu keliatan young at heart, kan? hehe...


      Delete
  14. Jadi inget pas lahiran anak pertama. Rasanya nano-nano

    ReplyDelete
  15. anak memang karunia luar biasa ya Bunda...aku juga menikmati sekali masa-masa menanti buah hai untuk pertama kalinya

    ReplyDelete
  16. Ah Bunda, saya jadi teringat lagi momen pertama menyusui si kecil dulu. Momen terindah setelah melahirkannya ke dunia :)

    ReplyDelete
  17. Jadi ibu itu terus berjuang ya mulai dari hamil, melahirkan sampai pasca melahirkan harus berusaha ASInya keluar

    ReplyDelete
  18. Momen awal menyusui itu emang seru dan indah. Kalau sekarang diingat bisa jadi cerita tapi pas dulu anak pertama emang bikin nangis huhuh...

    ReplyDelete
  19. Ya Allah bu, aku jadi ingat almarhumah Ibu saya, Alfatihah buat beliau. Teringat ketika sedang masuk usia renta, kadang dengan sibuknya saya juga mengurus anak-anak saya ada rasa tidak perduli saya, tidak sengaja tapi mungkin beliau peka. Semoga almarhumah ibu diterima Amal Ibadah oleh -NYA. Amin Yaa Robb

    ReplyDelete
  20. Wahhhh.. gegara postingan Bunda, jadi pada flashback masa-masa awal menyusui nih.. hehehe. Momen meng-IMD-kan anak jadi pengalaman yang berkesan juga buat saya.. lihat dia manjat-manjat mencari sumber makanan, hehehe

    ReplyDelete
  21. Haopy ending 😊 turut bahagia rasanya, seolah berada di ruang persalinan dan ikut memandang bayinya

    ReplyDelete
  22. Alhamdulillah akhirnya punya momongan juga. Harta berharga yg ditunggu-tunggu setiap pasangan ya, Bun.

    ReplyDelete
  23. Jadi kangen Ibu, Bundaaa~
    Semoga Allah merahmati para Ibu di manapun berada.

    Barakallahu fiikum.

    ReplyDelete
  24. Mrembes saya bund, saya masih mendambakan hadirnya momongan. Saya jadi rindu kepada ibu saya, ya Allah lindungilah mereka dalam perlindungan yang sebaik-baiknya. AaMIIN

    ReplyDelete
  25. Seperti saya dulu, puting ke dalam dan bikin kesusahan menyusui. Anak pertama suka gtu :(
    Akhirya saya rajin bikin tulisan supaya ibu2 yg baru pertama kali hamil jg harus perhatikan dulu PD-nya

    ReplyDelete
  26. Aih Bundaaaa... baca ini jadi pengin peluk-peluk ibuku. Jadi teringat banyak sekali dosa pada ibunda yang telah menyayangi dan mengasihi selama ini.

    ReplyDelete
  27. Bunfa sayang sehat selalu dan terus menginpirasi. Love you Bunda.

    ReplyDelete
  28. Duh bunda baca ini inget alm. MAMA ku nih,,sehat terus ya bunda 😙

    ReplyDelete
  29. Terima kasih atas remindernya Bunda

    ReplyDelete
  30. Persis yg dialami adik iparku. Baru2 ini dia melahirkan, kesulitan menyusui karena putingnya datar, udah gitu asinya yg keluar hanya sedikit, tambah lagi bayinya rewel terus. Kompleks deh dramanya.

    ReplyDelete
  31. Hiks, baca pesan yang di bawah itu, nyes banget. Inget nenekku yg udah ninggal, inget mertuaku yg udah renta, inget emakku yang mulai menua

    ReplyDelete
  32. Aku juga pernah mengalami payudara bengkak setelah melahirkan. Nyeri dan nyut-nyut an rasanya. Setelah dibantu pompa ASI nya oleh perawat RS, baru lebih enakan rasanya.

    ReplyDelete
  33. MasyaAllah, perjuangan ASI ya Bun...
    untung susternya Pro ASI ya Bun :)

    ReplyDelete
  34. Dari jaman dulu ASI sudah disarankan ya di tempat bersalin

    ReplyDelete
  35. Aku abis lahiran sempat susah kasih ASI. Beruntung perawat nya telaten ngajari

    ReplyDelete
  36. Bundaa, pasti anak membaca tulisan ini jadi semakin sayang ama bunda karena kasih sayang yang tercurah dengan baik. Alhamdululillah bundaa

    ReplyDelete
  37. Duhh Bunda aku terharu banget bacanya,,ya Allah jadi inget alm. Mama,,, semoga bunda sehat dan bahagia terus ya bersama ana cucu.

    ReplyDelete
  38. Bunda Yati tahun 1969 sudah melahirkan dan aku masih ada di alam mana ya, cerita Bunda Yati mengingatkan saya juga saat-saat bahagia melahirkan dan menyusui

    ReplyDelete
  39. Kerasa banget arti seorang ibu ketika kita telah menjadi ibu. Saat menyusui pertama kali, saat terindah dalam hidup kita ya, Bunda.. Sedih aku malam ini karena mulai belajar menyapih anakku yang sebentar lagi 2 tahun. Nggak kerasa, moment mesra ini akan segera berakhir. Maaf, Bunda. Juli jd curhat...hehe.

    ReplyDelete
  40. Belum sampai fase ini saya Bund. tapi mulai belajar banyak dari kisah ini.
    Terima kasih ya bund, untuk memberikan pemahaman perjuangan seorang ibu

    ReplyDelete
  41. Lho aku sudah mampir ke sini bun. malah bagian kedua yang belum kubaca nih.

    ReplyDelete
  42. Menjadi ibu memang anugerah ya bunda.. tapi dibarengi dengan pengorbanan dan perjuangan tanpa henti

    ReplyDelete
  43. Katanya seorang anak perempuan akan baru benar-benar sadar tentang pengorbanan sang ibu itu ya ketika melahirkan. Dan itu benar, Bunda. Aku pas menahan sakit mau lahiran, yang ada dipikiranku ibuu terus. Oo, jadi gini rasanya yaaa ibuku dulu melahirkanku. Al Fatihan untuk semua ibu di dunia ini :')

    ReplyDelete
  44. Saya jadi teringat momen-momen menyusui. Paling senang kalau lihat mata bayi yang menatap ke arah kita. Lucuu ...

    ReplyDelete
  45. Melahirkan dan menyusui selalu jadi momen terindah bagi seorang wanita atau ibu, apalagi jika itu anak pertama

    ReplyDelete
  46. Hiks. Jadi mewek baca ini. Ingat Mama di kampung. Ingat juga betapa kami tidak akrab...

    ReplyDelete
  47. Ingatanku melayang ke pagi di mana aku melahirkan anakku, Mbak. Haru banget. Ngilu-ngilu, badan rasanya remuk redam dan jahitan yang putus satu. Ah...

    ReplyDelete
  48. Pas udah jelang 50 ini, aku suka kangen masa2 hamil-melahirkan-menyusui...itu moment tak terlupakan dan indah ya Bunda

    ReplyDelete
  49. Makasih Bunda udah mengingatkan bagaimana menyayangi dan menghargai orangtua, aku jadi kangen ortu ku :)

    ReplyDelete
  50. Dan masa-masa melahirkan dan menyusui itu insyaallah akan saya lalui lagi beberapa bulan ke depan :)

    Makasih ceritanya, Bunda :)

    ReplyDelete
  51. Saat menyusui bayiku Yasmin untuk pertama kali, aku juga bahagia banget.
    Posisi kita saat menyusui itu yah Bun, demikian intens.

    Saat itulah aku semakin paham mengapa kita dianjurkan menyusi buah hati hingga 2 tahun.
    Kemesraan dan ikatan itu memang bagai investasi.
    Ia akan terus mengiringi...

    ReplyDelete
  52. Sama mba puting saya yang kiri juga datar, jadi anak-anak saya hanya menyusu dari sebelah kanan saja. Nyesel juga sih kenapa saya gak berusaha waktu itu. Semangat ngASI yaa mba

    ReplyDelete
  53. Journey to motherhood ini temanya bund Yati :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ada Apa Dengan Panggilan Bunda?

Khasiat Serai Merah

Eratnya Ikatan Kekeluargaan Itu