Monday, July 07, 2014

Yes, I am Indonesian!



Tahun 1983 aku dikirim oleh kantorku untuk bertugas di sebuah Negara yang baru saja lepas dari kancah peperangan, Hanoi, Vietnam Utara. Negara Vietnam Utara yang baru saja bebas dari peperangannya melawan Vietnam Selatan. Banyak expatriate yang bertugas di sana menyangka bahwa aku ini adalah warga Vietnam. Kulitku memang sama dengan mereka. Tapi tidak kebangsaanku. Aku warga Negara Indonesia. Aku orang Indonesia tulen.
Sumber Gbr.: merdeka.com
Aku bangga menjadi orang Indonesia. Betapa tidak. Karena dalam setiap malam di bulan-bulan pertama aku menunaikan tugasku di Hanoi, hampir tidak ada jeda untuk menghadiri ramah tamah yang diadakan, baik oleh rekan-rekan kantorku di Hanoi, atau oleh Kedutaan Besar Hanoi. Setiap mereka bertanya tentang kebangsaanku, maka dengan bangga aku memperkenalkan diriku. “I am Indonesian.”

Ternyata sebagai orang Indonesia yang memiliki keramahan tamahan yang sudah terkenal itu, menyebabkan rekan Vietnamese sangat percaya kepadaku. Aku sukses  membina pertemanan dengan rekan-rekan kantor yang berkebangsaan Vietnam. Kadang dalam canda mereka mengatakan tidak percaya aku orang Indonesia. Mereka begitu yakin aku ini orang Vietnam yang sudah lama tinggal di Indonesia. O, My God, mana mungkin? Aku ini orang Indonesia. Tulen koq dibilang orang Vietnam. Piye toh.

Keakrabanku dengan staff berkebangsaan Vietnam membuat iri expatriate lain yang kelihatannya agak sulit untuk bisa akrab dengan mereka. Jelaslah sulit bagi mereka. Mereka memiliki kebiasan-kebiasaan Barat yang sedikit sekali mengedepankan keramah-tamahan. Tidak seperti kita bangsa Indonesia. Expatriate saja bisa koq kepincut untuk tinggal di Indonesia, kalau bisa selamanya karena ‘rayuan pulau kepala.’ hehe..

Ketika rekan-rekan Vietnamese ini mengajak aku berkeliling kota Hanoi kala liburan, mereka membanggakan kelima danau yang indah di Hanoi. Memang kota Hanoi seolah dikelilingi oleh lima buah danau yang indah. Tapi keindahan itu bagiku tidak bisa mengalahkan keindahan alam yang dimiliki Indonesia, dengan berbagai keunikan yang dimiliki setiap pulau dengan pantai-pantai laut yang indah, katakanlah, yang sudah aku jajagi betapa keindahan pantai laut kota Belitung dengan bebatuan alam raksasa di sepanjang pantainya yang berpasir putih bersih. Pulau Pramuka di gugusan pulau seribu dengan keindahan taman bawah lautnya. Pulau Bali dengan segala keindahan seni tari dan kerajinan tangannya. Pokoknya aku bangga tinggal di Indonesia. Aku tidak memimpikan untuk tinggal berlama-lama di Negara lain, seperti Inggris, dimana menantuku tinggal. 
Indonesia dengan kekayaan alam dan kekayaan budaya serta ragam kekayaan rempah-rempah menjadi titik utama bagi warga asing untuk bisa menjejakkan langkah mereka di bumi Indonesia. Tidak jarang keindahan pulau Bali menyebabkan mereka (turis asing) merasa puas dengan hanya melihat keindahan pulau Bali. Mereka menyangka itulah Indonesia. Ketika aku di Hanoi mereka menanyakan apakah Indonesia itu sama dengan pulau Bali?. Jawaban yang aku berikan tentu saja dengan gelengan kepala dan dengan gamblang aku jelaskan bahwa Bali adalah bagian yang teramat kecil saja dari Indonesia. 

Ketika  rekan Vietnamese membanggakan pahlawan mereka Ho Chi Minh, yang telah menyatukan Vietnam Utara dan Vietnam Selatan dari penjajaha, dengan bangga akupun membanggakan banyak nama-nama pahlawan Indonesia yang berjuang membela bangsa dari penjajahan, seperti Panglima Jenderal Sudirman. Demikian bangganya mereka memiliki seorang pahlawan seperti Ho Chi Min, sehingga jasadnya tidak mereka kuburkan, tetapi diawetkan dan disemayamkan di sebuah tempat khusus, di sebuah musium, lengkap dengan pakaian kebesaran dengan serentetan medali-medali yang dimiliki. Sayang tidak boleh ada yang membawa kamera ketika masuk ke dalam musium. Bukan aku saja yang harus berdiri di antrian yang panjang untuk dapat menyaksikan pahlawan Vietnam ini, tetapi warga setempatpun antri dengan tertib untuk melihat pahlawan mereka. Di Indonesia kita mengenalnya dengan sebutan Paman Ho (panggilan akrabyang diberikan oleh (alm) Presiden R.I. Pertama, Soekarno). 

Di Hanoi, aku adalah seorang expatriate hehe...keren juga ya aku jadi exptatriate. Kapan lagi, kalau tidak dikirim oleh kantor, mana mungkin aku berlanglang-buana sampai di Vietnam. Mereka senang ber-narsis-ria bersamaku, begitu juga anak-anak sekolah ketika kami jalan-jalan. Mereka (anak-anak sekolah) itu langsung meneriakkan kata: "Are you Indonesian?" Aku mengangguk dan mengatakan: "Yes, I am Indonesian!" 

 
Expatriate dari Indonesia, hehehe...



Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Aku dan Indonesia.

Sunday, July 06, 2014

Pentingnya Mobile Broadband



Sebagai member dari KEB (Kumpulan Emak2 Blogger), untuk kesekian kalinya aku mendapat kesempatan menghadiri sebuah Seminar. Tanpa keterlibatanku sebagai member KEB, mana mungkin kesempatan ini akan datang menghampiriku. Terima kasih, KEB, Mak Founder Mira Sahid, Mak Co-Founder Indah Julianti Sibarani. Tulisan ini aku buat sebagai postingan untuk mengingatkanku saja tentang Seminar yang menarik ini.

Kali ini aku hadir dalam sebuah Seminar yang diadakan oleh Qualcomm Indonesia, tentunya bersama beberapa rekan dari KEB. Secara global berikut paparanku tentang kehadiranku di Seminar tersebut.