Sunday, February 27, 2011

Belanja Bawa Kertas dan Pensil....



Sehari kemarin aku absen nge-blog coz persiapan untuk anakku lelaki yang ultah hari ini (ooops...jangan salah ini anakku lelaki dengan huruf "a" dan "l" kecil lho..). Kalo dengan "A"
& "L" (huruf besar) ntar postingan ini diklaim ma Melly Guslav coz pake nama anaknya, hehehehe.... Anyway Melly Guslav adalah penyanyi dan pencipta lagu yang udah lama jadi favorit aku.

Kembali ke judul artikel ya "Belanja Bawa Kertas dan Pensil", masih diseputar crita lamaku di Hanoi (bukan Seputar Indonesia, xixixixi.....). Ya, daripada gak ngisi postingan, kan lebih baik kalo kembali mengingat-ingat apa yang pernah aku alami dalam hidupku di masa lampau. Jadi bikin semangat lho. Serius and sweeeerrrr deh.

Selama di Hanoi aku berbelanja di Pasar Tradisional. Pasar ini memiliki segala macam jenis sayuran dan buah-buahan, tetapi............pasar ini juga mempunyai ciri khas yaitu begitu kita melangkahkan kaki di wilayah pasar, maka ......bau yang menyengat akan menusuk hidung. Padahal pasarnya bersih lho. Aku gak bisa bilang itu bau apa karena aku sendiri ampe pulang ke Indonesia lom menemukan apa yang menyebabkan bau yang menyengat hidung itu. Hanya mereka yang pernah ke Pasar Tradisional Hanoi-lah yang bisa merasakannya (tapi tetap aja gak bisa critain baunya kayak apa, hihihiii..... Lucu juga kalo dipikir, makanya aku gak mau mikirin-lah,mending bawa senyum aja kalo inget-inget soal bau pasar tradisional Hanoi (duluuuu tapi).

Uniknya gak satupun pedagang di pasar itu yang ngerti bahasa Inggris, hingga pada mulanya aku kesulitan juga dalam tawar menawar. (kalo di Duty Free Shop gak bakal aku menemui kesulitan ini, pramuniaganya ngerti dikit-dikit bahasa Inggris dan aku gak perlu mikirin tentang harganya karena udah ada bandrol, hehehe....). Di Pasar Tradisional aku pun mulai action.......tradaaa.... selembar kertas dan pensil kusodorkan kepada pedagang -- dia akan menuliskan angka yaitu harga dari apa yang kita inginkan. Tawar-menawarpun terjadi diatas kertas, terkadang sampai lima deret angka barulah "deal" tercapai. Senyumpun mengembang dibibir-bibir kami. Mereka rata-rata ramah.

Oya, mata uang di Hanoi adalah Dong dan US$1=11 Dong (kurs resmi), tapi aku punya temen baik yang tau dimana bisa dapat menukarkan Dong dengan nilai tinggi -- gak lain di black-market -- disini berkat temanku itu dengan kasak-kusuknya aku bisa dapatkan untuk U$1=110 Dong (bayangin 10 x lipat booowww.....). Setelah ngobrol dengan teman-teman bule dikantor, mereka pasang senyum dan mereka bilang :"We always do that, Yati". Iiicchhh, jahatnya koq aku gak pernah dikasihtau ya, untung aja aku punya kawan pribumi yang baik hati. (aku jadi bisa ngantongin Dong-Dong banyak banget, awas ya bukan ke-don-Dong lho, hehehehe...). Gak heran kalo aku bisa membawa "seabreg" oleh-oleh untuk keluarga terutama anak-anakku yang udah kutinggal lama banget demi mencari "segenggam berlian" xixixixii.... tentu udah ada porsi oleh-oleh untuk sanak famili, kawan-kawan dan para tetangga. Dan gak heran juga kalo aku kena excess baggage di airport coz kapasitas luggage melebihi entitlement, hehehehe.....no problem. Yang penting aku puas dan para penerima oleh-oleh juga puaaaasss.

Itu dulu ya para netter (yang kebetulan baca postinganku). Aku masih akan mengasah otak biar gak cepet pikun dengan mengingat crita-crita lain yang bisa aku jadikan postingan.

Enjoy your day.

2 comments:

  1. pasar tradisional di sana gak beda dengan di indonesia ya

    ReplyDelete
  2. Joe, thank you for coming, hehehehe.... lain lah kalo disini kan kita bisa langsung cari tuh sumber baunya datang dari mana, tapi kalo disana, ya ampuuuunnn....gak bisa ketemu....apa ya yang bau, hehehehe....

    ReplyDelete