Friday, October 07, 2011

Book Review Contest: Taklukkan EMOSI-mu


Untuk mengikuti Book Review Contest, modalku hanya percaya diri aja karena aku sebenarnya belum pernah me-review buku apa pun. Prinsip aku: Kalo gak dicoba gimana aku akan tahu kemampuanku yang masih cetek di usia rentaku ini, hehehehehe.... ‘Tul gak sih? Buku ini secara gak sengaja aku temukan di rak buku anakku, ketika aku cari-cari buku untuk di-review. Ternyata pakdhe Cholik ini seorang motivator yang brilliant banget bisa membakar semangatku untuk cari buku untuk di-review dengan pengalamanku yang big zero.

Jreeeeeng............ Inilah review dari 237 halaman "Taklukkan EMOSI-mu".



 Judul Asli :”The Way Of Emotional Quotient For Your Better Life”
Pengarang Asli: Travis Bradberry & Jean Greaves
Alih Bahasa: Yusun Anas
Jumlah halaman: 237
Penyunting: Arif Sanura
Tata Sampul & Isi: Ma-Shendra
 Pracetak: Lilis
Cetakan Pertama, April l2009 (Edisi Baru)
Penerbit: Garailmu, Jl. Ringroad Timur, Tegalsari, Banguntapan, Jogjakarta
(Buku ini pernah diterbitkan oleh Penerbit Think).




Salah satu pujian terhadap buku ini semakin memperkuat keputusanku untuk me-review buku ini:  “Kecerdasan emosional merupakan sebuah skil yang amat sangat penting untuk dimiliki dalam usaha meraih kesuksesan personal dan professional.  Buku ini sangat istimewa. Saya merekomendasikannya” (Ken Blanchard, penulis buku-buku laku tentang bisnis sepanjang masa; ko-penulis The One Minute Manager).

Seperti judulnya, buku ini mengulas tentang Emosi. Kemudian apa sesungguhnya yang dimaksud dengan Kecerdasan Emosional(Emotional Quotient=EQ) itu.

Penjabaran tentang bagaimana pentingnya  peran emosi dalam kehidupan manusia digambarkan melalui beberapa contoh kisah a.l. tentang Phineas Gage, seorang Mandor di proyek pembangunan Rel Kereta Burlington yang membelah Kota Vermont. Mandor ini dikenal sebagai mandor paling efisien dan paling mumpuni  diperusahaan tersebut. Disiplin dan semangat kerja yang ia bawa serta ke lokasi benar-benar telah mampu menghipnotis buruh di proyek yang ia pimpin, dan semua buruh serta karyawan yakin bahwa proyek tersebut akan selesai tepat pada waktunya. Phineas dikenal sebagai mandor yang bersifat sosial terhadap siapa saja, apalagi buruh dan karyawannya.  Singkat cerita suatu musibah menimpa Phineas di lapangan. Seperti biasa Phineas  memasukkan batang besi yang biasa ia pergunakan untuk memadatkan bubuk mesiu dalam lubang peledakan. Ia memberi tanda pada asistennya untuk menuangkan pasir kedalam lubang peledakan, dimaksudkan untuk melindungi bubuk mesiu dari ledakan prematur ketika dipadatkan.Namun sebelum semua itu dilakukan oleh asistennya, percikan api karena gesekan bebatuan dan besi menyebabkan bubuk mesiu dalam lubang meledak. Kekuatan ledakan sedemikian dahsyat menyebabkan batang besi dalam tangan Phineas  melesat dari genggamannya laksana sebuah roket, menusuk pipi kirinya, tepat di bawah mata, hingga menembus bagian atas kepalanya, mengeruk sesendok otak dari bagian depan otak besarnya. Batang besi tersebut akhirnya mendarat di rerumputan sekitar seratus kaki dari tempat Phineas berdiri. 

Suatu mukjizat dilimpahkan olehNya kepada Phineas karena dia masih bertahan untuk hidup. Setelah sembuh Phineas kembali ke proyek dan mereka yang telah lama mengenalnya melihat ada kejanggalan dari sikap Phineas. Phineas memiliki sikap yang jauh berbeda dari sebelum terjadinya kecelakaan tsb. Emosi-nya telah berubah. Ia mulai terbiasa mengeluarkan sumpah serapah dan memberikan perintah yang sesuai dengan keinginannya.  Ia telah menjadi seorang yang apatis. Kecelakaan itu telah menghilangkan sejumput otak bagian depan dan menyebabkan Phineas kehilangan kecerdasan emosionalnya.  Kejadian yang dialami oleh Phineas ini menjelaskan dan mengajarkan tentang otak kepada kita. Bagaimana manusia akan berprilaku tanpa bantuan dari bagian depan otaknya.  Kehilangan sejumput otak bagian depan telah menyebabkan Phineas kehilangan kemampuannya untuk berpikir sehat tentang apa pun. (Setelah Phineas meninggal dunia, jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Lone Mountain San Francisco dan beristirahat dengan tenang disana selama ratusan tahun, tanpa kepala. Tengkorak kepala dengan batang besi yang menembusnya dimuseumkan di Harvard Medical School).

Dalam buku ini juga dibahas tentang betapa bahagianya kita yang masih memiliki sebuah pilihan tentang bagaimana kita akan merespon emosi dalam diri kita, setiap kita menerima informasi dari dunia di sekitar kita melalui panca indera.  Ada hal baru yang aku tahu dari buku ini: bahwa apapun yang kita lihat, cium, dengar, rasakan dan sentuh, akan menjelajahi seluruh tubuh kita dalam bentuk sinyal listrik.  Sinyal-sinyal tersebut akan berpindah dari satu sel ke sel lainnya hingga ia sampai pada tujuan akhirnya, yaitu otak. Jika seekor nyamuk menggigit kaki kita, sensasi tersebut akan menciptakan sinyal yang harus terlebih dahulu mendatangi otak kita sebelum kita menyadari keberadaan makhluk kecil yang membahayakan itu. Sensasi yang kita rasakan akan memasuki otak di sebuah tempat dibelakang  otak dekat urat saraf tulang belakang (spinal cord), sedangkan pikiran yang kompleks dan rasional terjadi di sisi otak yang berlawanan  --  bagian depan. (bagian yang hilang dari otak Phineas).  Milyaran urat syarat yang amat sangat kecil berbaris menghubungkan pusat rasio dengan pusat emosi dalam otak.

Dibagian lain diceritakan tentang Lily,  seorang karyawan sebuah perusahaan yang sudah jenuh dengan pekerjaannya. Ia memutuskan untuk pindah bekerja di lain perusahaan. Setelah bekerja beberapa lama di perusahaan baru – sebuah Laboratorium yang memproduksi obat-obatan baru untuk penyakit kanker, Lily mulai merasakan adanya kejenuhan.  Lily diberi hak istimewa untuk memberikan masukan-masukannya dalam pembangunan klinik uji-coba. Namun lama kelamaan Lily merasa bahwa tugasnya semakin menjemukan dan kontak dengan boss-nya, David – untuk membahas segala sesuatu tentang  kemajuan laboratorium dan uji-coba klinik semakin terasa sangat terbatas. Karena kesibukan-kesibukan David, jadilah seolah ada jarak antara Boss dan bawahan. Dalam rapat-rapat penting ia hanya diperbolehkan memberi masukan pada tingkat tertentu saja. Dan ini membuat Lily berpikir bahwa ia hanya mempunyai tugas mengawasi laboratorium. Tidak lebih. Sementara pengetahuan yang ia miliki semakin berkembang.  Lily merasa frustrasi. Akhirnya ia upayakan untuk berbicara jujur pada David.  Lily menjadwalkan pertemuan ini selama dua minggu sebelum menghadap David. Laporan-laporan telah ia siapkan. Lily masih mencintai perusahaan ini tapi ia berpikir bahwa harus ada perubahan agar ia terhindar dari rasa frustrasi. Yang terbaik adalah ia akan keluar dari laboratorium, karena ia memiliki gagasan-gagasan yang lebih baik lagi dari sekedar menjadi pengawas laboratorium.  Setelah Lily berhasil mengemukakan semua keluhannya kepada David, walaupun sedikit marah, namun David menghargai kejujuran Lily untuk mengatakan apa yang ia rasakan tentang peralihan kerja dan tentang kejenuhan Lily bekerja di Laboratorium.  Alhasil, David bersama tim eksekutif memutuskan untuk menempatkan Lily di klinik uji-coba obat-obatan. Karena keuletan dan keberhasilannya mengawasi klinik tersebut Lily berhasil memegang jabatan Direktur dan tentunya peningkatan penghasilan.  Lily menemukan peran kecerdasan emosional dalam keberhasilannya mengatasi keadaan yang sulit tersebut. Lily memanfaatkan empat skil kecerdasan emosional: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial dan manajemen hubungan sosial. (penjabaran lengkap tentang ini silahkan temukan dan baca bukunya, hehehehe….)

Setelah membaca buku ini aku jadi mengerti bahwa tidak ada hubungan antara IQ dan EQ. Tidak bisa diprediksi kualitas kecerdasan emosional (EQ) seseorang berdasarkan tingkat IQ-nya (Intelligence Quotient).  Dijelaskan bahwa IQ tidak fleksibel.  IQ sudah terbentuk sejak kita dilahirkan. Tingkat kemampuan ini adalah sama pada saat kita berusia limabelas tahun atau limapuluh tahun.  Sedangkan kecerdasan emosional adalah skil fleksibel yang mudah dipelajari. Kesadaran emosional (EQ) bisa dikembangkan, bahkan ketika anda tidak terlahir dengannya.
Dalam sebuah temuan ternyata bahwa semakin tinggi jabatan seseorang, semakin rendah EQ-nya.
Kenapa? Karena para para CEO (Chief Executive Officer) semakin sedikit pekerjaannya; fungsi utama para CEO adalah menyelesaikan pekerjaan dengan kemampuan orang lain. Mereka sangat sedikit ber-interaksi dengan para staf. Diposisi manapun mereka yang memiliki skil kecerdasan emosional tertinggi  akan berprestasi lebih dibandingkan rekan-rekan kerja mereka. EQ cenderung meningkat seiring usia.

Banyak poin-poin yang sangat menarik dalam buku ini antara lain tentang bagaimana Ray Charles seorang penyanyi, penulis lagu, composer dan  musisi  soul berhasil dengan sukses dalam hidupnya setelah mengalami kepedihan yang mendalam. Ia menghadapi ketidak-nyamanan dalam hidupnya. (Disamping aku bisa mengenal apa yang dimaksud dengan kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial dan manajemen hubungan sosial, juga kisah tentang Ray Charles membuat aku semakin tertarik terus membaca buku ini sampai tuntas………….)

Dalam buku ini, Bradberry dan Greaves memodifikasi penelitian panjangnya tentang pentingnya EQ, baik di ruang kerja dan keluarga.  Mereka menunjukkan pada pembaca bagaimana cara memahami dan memanfaatkan EQ agar bisa membantu kita meminimalkan potensi stress, meningkatkan produktivitas, mengelola emosi dan berinteraksi secara positif dengan setiap orang di sekitar kita.

Last but not least mudah buku ini memberikan inspirasi tentang bagaimana seharusnya aku menjalani kehidupan yang nyaman di sisa usiaku. Amin.  

"Artikel ini diikutsertakan pada Book Review Contest di Blogcamp".

10 comments:

  1. Saya telah membaca dengan cermat artikel sahabat.
    Saya catat sebagai peserta
    Terima kasih atas partisipasi sahabat
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. Ulasannya menarik..
    semoga bisa mengendalikan emosi kita dalam berbagai hal..
    Semoga Sukses di kontesnya Pakde

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah....gak sia-sia ya pakdhe klak-klik jari jemariku udah menuntun kealamat yang bener, hehehe... Seneng banget bisa berpartisipasi pakdhe. Makasih.

    ReplyDelete
  4. Insya Allah. Makasih buat Nchie atas kunjungannya ke blog bunda. Makasih juga buat do'anya. Menang pastilah menggantung sebagai keinginan tapi itu bukan yang utama. Udah dibaca pakdhe aja bunda alhamdulillah.

    ReplyDelete
  5. bunda apa kbrnya?
    bunda buku ini menarik ulasannya juga menarik, pu jadi pengen punya deh...:D salam pu bunda

    ReplyDelete
  6. Bundaaaa...gambar tengkoraknya syerem bgt deh *tatut*

    ReplyDelete
  7. Puteri yang manis, kabar bunda baek2 aja. Makasih udah berkunjung ke lapak bunda ya. Mbok iyo, tapi susah kali nyarinya, hehehehehe....soalnya udah lama tuh dimiliki anakku.

    ReplyDelete
  8. Orin, embeeerr...bunda aja ampe merinding pas nyampe di halaman itu, hiiii....... Makasih udah mampir. Salam manis.

    ReplyDelete
  9. penerjemahnya siapa ya? :)

    ReplyDelete
  10. kalo tak salah buku ini diterjemahkan oleh Yusuf Anas

    ReplyDelete