Tuesday, December 13, 2011

Damai Itu Indah.

Seingat aku tidak pernah satu kalipun aku memicu permusuhan dengan tetangga, karena prinsipku dalam hidup bermasyarakat adalah Damai Itu Indah. Tapi kira-kira tiga minggu yang lalu rumahku dilempari dengan batu bata merah oleh tetangga yang rumahnya tepat berhadapan dengan rumahku. Ape pasal,(pinjam istilah si Upin, hehehehe...) karena ulah anakku lelaki yang menyetel TV dengan volume tinggi hingga 58. -- kebetulan saat itu aku baru saja pulang dari bermalam dirumah cucuku. Terkejutlah aku lihat batu bata merah berserakan dilantai teras rumahku hingga masuk kedalam rumah (kecuali pintu pagar yang digembok maka pintu masuk dalam keadaan terbuka).  Ketika aku masuk ternyata anakku membiarkan TV nyala dengan volume 58, sedangkan dia sendiri tidur lelap dikamarnya.

Kejadian tersebut sudah sekitar tiga minggu berlalu. Ternyata selain sang tetangga melempari teras dengan batu bata merah, pun batu bata merah itu bercokol diatas genting rumahku, mengakibatkan beberapa genting pecah. Karena rumahku mempunyai ceiling dari gypsum, maka tidak berakibat kebocoran langsung. Namun keadaan gypsum yang seperti wanita hamil, hehehehe..... membuktikan bahwa kebocoran telah terjadi sejak beberapa waktu yang lalu. Separuh gypsum jatuh (untung aku sedang tidak dirumah).

Aku bukan berprasangka buruk, tapi rasa penasaran bersarang juga di dada ini. Hari ini aku minta tukang untuk naik dan membetulkan genting. "Tolong lihat apa yang menyebabkan kebocoran ya Pak", kataku kepada tukang. Ternyata, oh, ternyata diatas genting  yang bocor itu bercokol dua potong batu bata merah. Salahkan aku kalau berprasangka bahwa kejadian bermukimnya batu bata merah disana adalah hasil lempar lembing....oops maksudku hasil lempar batu oleh sang tetangga?.

Aku tahu bahwa ketenangan tetangga telah terganggu oleh suara TV dari rumahku. Tapi kenapa sampai hati dia melempari rumahku? Sejak tahun 1987 aku tinggal dilingkungan itu aku membina hubungan yang teramat baik dengan lingkungan. Mereka sudah sangat, sangat mengerti karakter anakku. Mereka sangat memaklumi. Tapi tidak dengan tetangga yang ini yang baru pindah sekitar empat tahun yang lalu.  Kenapa pula dia main hakim sendiri. Tetanggaku pasti tidak akan percaya kalau anakku tertidur dengan meninggalkan TV nyala dengan volume 58. Alih-alih malah dia memaki aku, menunjuk-nunjuk mukaku dengan mengatakan aku tidak bisa menjaga anakku (hahaha...aku tertawa dalam hati, menjaga anakku yang sudah 42 tahun?), kenapa aku seringkali tidak dirumah, bla-bla-bla...... Alhamdulillah, Ya Allah, Kau beri aku kesabaran menghadapi amarah tetanggaku ini. Emosiku tidak terpancing. Dalam hati aku selalu istigfar. Aku tahu anakku juga dipihak yang salah, Tapi sepadankah tindakannya melempari rumahku dengan batu bata merah ketika aku tidak ada? Dia bisa saja menelpon aku, atau minta bantuan Ketua RT untuk mengatasinya, tanpa harus bertindak yang merugikan pihak aku. Biaya tak terduga pun keluar. Dan bisa dibayangkan membetulkan satu gypsum pasti ada rentetan perbaikan yang lain, sehingga biaya membengkak.

Bagiku Damai Itu Indah. Aku tidak akan mempermasalahkan hal ini lebih lanjut. Karena bagiku memperpanjang masalah akan berdampak timbulnya masalah yang lain.  Yang lebih buruk. Aku hanya berdialog, berdialog dan berdialog dengan anakku agar dia mengerti menjaga kedamaian dan ketenangan lingkungan. Karena Damai Itu Indah.

Do'aku semoga sang tetanggaku ini diberi limpahan keselamatan olehNya, dilimpahi olehNya rizki yang berlimpah dan dibukakan pintu maaf bagi anakku yang memang sudah melalui beberapa terapi belum juga menghasilkan sesuatu yang positif. Semoga.

12 comments:

  1. Hehehe, harusnya tetangga bunda bilangnya langsung, bukan dengan ngelempar gitu hihi :D

    ReplyDelete
  2. keheningan membuat hati dan indera lega....
    :)
    nyenyak buat tidur....
    :)

    ReplyDelete
  3. walah bun , tetangganya bunda itu lhoo , koq aneh .. menyuruh bunda menjaga anaknya bunda yg umur 42 tahun , tapi dia sendiri gak menjaga tingkah lakunya ... kirim balik aja batu batanya bun .. tapi jangan pake dilempar yaa bun .. kalo bisa dibungkus yg rapi dan cantik , terus dibalikin deh ke tuh orang .. biar malu .. hihihihi

    ReplyDelete
  4. selalu aja ada tetangga yang aneh ya Bun, tapi yaaaa gitu deh, salut deh sama Bunda yang masih bisa sabar, dan sepertinya saran dari Celoteh Kelor boleh dipraktekin tuh Bun, biar liat reaksi wajahnya, pas nyerahinnya difoto ya bun, biar bisa liat rupa tetangga bunda yang nggemesin itu heheheee

    ReplyDelete
  5. Una, gitu deh kalo amarah udah menguasai hati sang tetangga. Kita semua tau kan kalo balasan dari Allah itu sangat dahsyat dibanding kalo bunda yang juga terbawa emosi..........iiiiiccchhhh tak u u ya?

    ReplyDelete
  6. zone, embeeerr....makanya sang tetangga gak bisa tidur nyenyak coz anakku nyetel TV volume 58, jadilah dia blingsatan, hehehehe....

    ReplyDelete
  7. Y.U.D.I.5 makasiiiihh....tapi anak bunda malah marah-marah tuh mamanya swabhar banget. Makasih kunjungannya ke blog bunda. Juga buat yang lain (bunda lupa ngucapin makasih, biar nebeng disini aja deh ditempatnya YUdI5, yeeeeeeeeee

    ReplyDelete
  8. Celoteh Kelor, waaah, ntar jadi kirim-kiriman kado terus donk, tahu-tahu kiriman dari dia ada kodoknya, kodok mati lageee....hiiii.. biar aja dia yang ngerasa "guilty feeling". Emang enaaak.

    ReplyDelete
  9. niiiiiQ, koq jadi pendukung Celoteh Kelor toh, ntar malah tustel bunda yang dibanting ama dia, huahuahua...biar aja deh Allah yang bales.

    ReplyDelete
  10. Honeylizious, betul-betul-betul... makasih ya Hani kunjungannya ke blog bunda.

    ReplyDelete