Saturday, December 17, 2011

Permen vs. Alat Bayar.

PermenvsAlatBayar.jpg

Norek: XXXXXX3758


Berbelanja di sebuah Super Market ataupun Mini Market memang merupakan aktivitas belanja yang menyenangkan. Kenapa? Karena selain kita berbelanja kebutuhan sehari-hari yang rutin dilakukan secara bulanan, kita juga bisa clingak-clinguk lihat barang-barang baru yang pasti selalu ada di Super Market atau Mini Market. Kita pun tidak perlu berkeringat (karena ruangan full AC). Juga gak ada tuh istilah ber-desak-desakan untuk mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan seperti biasa terjadi di pasar tradisionil atau yang juga dikenal dengan sebutan pasar senggol. (Karena ramainya pasar kita tidak bisa menghindar dari bersenggolan, pastinya!).   Display yang selalu berganti, setidaknya, entah berapa kali dalam satu bulan juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung Super Market. Selalu saja ada perbedaan yang menarik untuk dilihat. Untuk memikat pengunjung, misalnya dengan memberikan potongan harga dari produk-produk tertentu, beli satu botol Coca Cola – bawa pulang dua botol (yang satu pasti gratis-tis-tis). Asik kan? Slogan “buy one get one free” pun digalakkan.  Biasalah di awal bulan pengunjung yang berbelanja pasti seperti tawon tuh -- berkerumun, berkeliaran dengan kereta dorong belanjanya. Ada yang santai. Ada juga yang bergegas. Gak kalah seru ada juga yang sambil bergoyang karena terbius oleh alunan musik yang terkadang menggelegar di Super Market. Bener-bener asoi-geboi. (maksudnya asyik banget). Pokoknya unik-lah kalau belanja bulanan di Super Market. Setelah puas berbelanja next step adalah giliran  menggiring kereta dorong belanja yang isinya sudah membludag  dan menggunung. Kereta-kereta dorong dengan tertib berjejer melaju satu persatu kearah Primadona yang berdiri dibelakang  mesin kasir. Aku sebut Primadona karena Kasir tersebut adalah seorang gadis cantik,  berjilbab pula

Sudah agak lama aku pernah beberapa kali berbelanja di sebuah Super Market dengan jumlah belanja yang memerlukan kembalian, misalnya Rp. 9,200. Dengan santai sang primadona memberiku kembalian Rp. 9,000 plus dua buah permen  Kebetulan aku memang sedang perlu ngemut permen. Mulut asem banget karena belum sarapan, hehehehe………… . Jadi no comment-lah dan menerima dengan senang hati kembalian berupa permen tersebut.

Belanja bulanan sudah merupakan rutinitas yang aku lakukan setiap bulan. Sekali dua kali kejadian sepertti yang aku sebutkan diatas pastilah dapat dimaklumi. Mengingat pula tak adanya celah untuk berargumentasi dengan si cantik Primadona. Pengunjung diawal bulan yang menyemut menjadi penghambat bagiku untuk berkomentar. Tapi kalau sudah ber-ulang-kali, bisa bikin gregetan juga. Masa sih permen dianggap alat tukar. Wuenak-e rek!

Sejak saat itu aku selalu siap dengan permen dalam tas-ku. Karena memang sebetulnya aku suka nyetok permen dalam tas Tapi waktu itu aku menyimpan permen untuk suatu rencana tertentu.. Rencana yang belum juga terlaksana karena tidak pernah ada kesempatan.  Seperti biasa untuk mempercepat transaksi berbelanja di toko Swalayan, pengelola toko menempelkan barcode disetiap jenis item yang dijual. Hal ini juga berguna untuk mempercepat pencarian item yang diperlukan serta efektivitas/efisiensi pengelolaan database. Mataku nanar melihat ke monitor setiap kali barcode di scan, angka pun muncul di layar monitor, hingga  sampai pada item terakhir.  Aku mengharapkan jumlah belanjaanku. di monitor kali ini bisa kujadikan target rencanaku dan sekaligus bisa merealisasikannya . Ternyata benar!. Tarraaa... transasksiku berjumlah Rp. 689,600. Fantastis! Suatu jumlah dengan angka yang manis buat rencanaku!. Aku letakkan dimeja kasir Rp. 700,000. Apakah sang Primadona akan mengembalikan kepadaku Rp.10,000 plus 4 buah permen? Kalau memang demikian maka rencanaku bisa gagal nih!. Tradaaa…….. ternyata sang Primadona tak disangka bertanya: “Ada uang 600, Bu?”  Ini saatnya, pikirku. “Oo iya, ada”, jawabku dengan cepat. Penuh keyakinan aku letakkan dimeja kasir 6 buah permen. Sang Primadona dengan wajah polosnya masih bertanya: “enam ratus rupiah, Bu”, sambil tangannya langsung menyodorkan uang kembalian Rp. 11,000. “Lho, itu kan nilainya Rp. 600, mbak yang maniiiis. Kan nilai 1 permen = Rp. 100?” jawabku penuh percaya diri, tanpa nada kesal atau emosi. Aku raih uang Rp. 11,000. Akupun melenggang  puas keluar pintu Super Market sambil  menggiring kereta belanja dengan santai se-santai sikap sang Primadona ketika memberikan kembalian berupa permen kepadaku berulang kali. 


Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu dan kemajuan teknologi yang canggih, aku hampir tidak pernah membawa uang cash untuk berbelanja bulanan. Aku cukup menggesek kartu Debit BCA setiap berbelanja di Super Market ini. Aku tak perlu lagi khawatir akan menerima kembalian berupa permen, hehehehehe.....  Tak pernah lagi aku lihat stok permen di laci kasir. Sampai sekarang aku tetap menjadi pelanggan setia Super Market tersebut.  Dan sang Primadona selalu melempar senyum manisnya untukku. “Selamat siang ibu, selamat datang di super market kami?”


 “Artikel ini diikutsertakan dalam Kontes Cerita Unik Belanja di BloggerPemula.Com



16 comments:

  1. jiahhh bunda jayus yaaa :D
    itu kasir bete bin ngedumel tapi ga tau mesti bilang apa hahaha
    bagus bun
    emang perlu digituin kok
    klo aku sih, rajin sedia receh sampai yang koin 25 juga punya
    biar ajadibilang emak2 merki,
    aku bilang ke mereka, salahnya ga bikin harga ada buntut2 ga jelas gitu xixixi

    ini kontes ya bun? good luck ya bun

    ReplyDelete
  2. Hehehehe....niQ sayang, bunda lagi tanya sana sini buat tampilih banner kontes. Tanya sama Masbro. Nah ini mau di edit dulu lah biar tampil tuh banner kontesnya. Menang gak menang yang penting hadiahnya....hahahahaha....maruk.com.<akasih niQ buat kunjungan dini and komentarnya. Met berharming.

    ReplyDelete
  3. hihihi emang perlu digituin tuh bun.bun aku pakai manualaja bannernya supaya muncul,kalau pakai kode dariblognya kang yayat tidak muncul

    ReplyDelete
  4. Lidya-Mama Pascal, kalo yang manual udah bunda coba tapi kan gak bisa di sidebar letaknya, tapi didalam postingan kita. Piye? Ayo sayang, berbagi ilmu ma bunda donk. Makasih kunjungan dan komentar Lidya disini.

    ReplyDelete
  5. tidak ada istilah desak-desakan dan bau keringat seperti belanja di pasar tradisional ya bunda

    tapi ikannya lebih segar di pasar lho bun, sayurnya juga

    ReplyDelete
  6. Terima kasih Bunda atas partisipasinya.
    Masalah kekurangan seperti banner mungkin bisa disusulkan tu Bun, kode sudah saya sampaikan di warung blogger.
    Saya catat sebagai peserta Bunda.
    Trims
    Salam

    ReplyDelete
  7. Wah ikutan juga ya Bun...
    Sukses yah...

    ReplyDelete
  8. Dua jempol untuk 'keberanian' Bunda menyodorkan 6 buah permen. Sekali-kali perlu memang dibegitukan, meskipun mungkin saya belum berani melakukan. hehe...

    Semoga kontes kali ini sukses lagi, Bunda.

    ReplyDelete
  9. Saleum,
    Apa kabar bunda? semoga sehat, masalah belanja tu kalau menurut dee milano, menyenangkan apabila dikantong tersedia duit yang cukup untuk membeli. hehehe... tp betul kan bun?
    ohya bun, dee dah pindah lapak ni, smoga bunda mau berkunjung http://cangkirkupi.blogspot.com/

    saleum dmilano

    ReplyDelete
  10. Ni Mas Citro ya, betul-betul-betul, emang "terkadang" ikan dan sayur lebih seger yang di pasar tradisional. Tapi suasana nyamannya itu yang gak bisa dibeli, hehehehe.... Makasih kunjungan n komentarnya.

    ReplyDelete
  11. Mas Yayat38, makasih kunjungan n komentarnya. Makasih juga udah tercatat, banner yang segede gudem akan disusulkan, sementara yang segede gurem aja dulu ya?

    ReplyDelete
  12. Iya Una, bunda ikutan karena ada bahan, hehehehe... Makasih untuk kunjungan Una.

    ReplyDelete
  13. Abi,itu karena Allah Maha Tahu kalo bunda udah lama banget kheki sama perlakuan Kasir yang selalu mengembalikan uang receh dengan permen. Nah, dikasih juga jalan olehNya buat bunda melampiaskan kekesalan tanpa amarah. Untungnya bunda waktu itu juga bisa tersenyum semanis mungkin lho, hehehehehe....

    ReplyDelete
  14. Saleum baliak Dee, iyo sabana iyo tuh ma, piti nan paling paralu ado di kocek ko' ka balanjo. Tapi deposito bunda lai banyak, ado ampek urang anak bunda (bukan deposito di bank, xixixixiiii....) tapi yang ngasih belanja bulanan, yeeee.... Btw pasti bunda berkunjung lansuang ka TKP. Makasih untuk kunjungan n komentar Dee.

    ReplyDelete
  15. hahahah....bener bunda...kalo mereka bisa mengembalikan pake permen..harusnya kita juga bisa bayar pake permen yach...biar adil hihihi.......

    sukses utk kontesnya bunda.....smoga menang

    ReplyDelete
  16. Nah betul Bun .. tapi rekening lengkapnya kirim ke email ya, kok belum kelihatan :)
    Trims
    Salam

    ReplyDelete