Monday, March 19, 2012

Asa Itu Masih Bergayut Disana.


Bunga Sakura (Gb.Google)
Keinginan itu sudah lama terpateri dihatinya. Sejak Ati sekolah kelas tiga SMP.  Usianya kini 32. Tapi keinginan dan asa  itu masih bergelayut disana, di dalam hatinya.

Seorang sahabat Ati  mendapat bea siswa berangkat ke negeri idaman Ati untuk mempelajari  kesusastraan Jepang seselesainya menamatkan Sekolah Menengah Atas.

“Alangkah beruntungnya Saskia”, begitu pikir Ati pada saat itu.

Kini Saskia sudah menapaki lima tahun kedua di Jepang. Gelar S3 sudah diraihnya untuk Sastra Jepang dan entah ilmu apa lagi yang kini sedang digeluti oleh Saskia, sehingga ia memperpanjang keberadaannya di Jepang. Bahkan Saskia seolah tidak memikirkan masa depannya untuk berumah tanggal. Saskia masih sendiri. Sama seperti dirinya.
Musim Panas di Jepang, musimnya Festival.


Sejak Ati sekolah, dulu, ia tahu betul bahwa di Jepang itu ada empat musim yang tidak bisa dihindari oleh penduduknya ataupun oleh para pendatang dari Negara lain yang bermukim di Jepang. Terkadang Ati merasa puas hanya mendengar cerita dari Saskia tentang negeri impiannya itu, tapi terkadang hatinya berontak.. Karena memang ia hanya bisa menghayal saja. Membayangkan alangkah indahnya Jepang dikala musim-musim itu berganti. Keinginan itu tetap tidak mau terpisah dari pikirannya.
Keindahan tersendiri pd.musim gugur
(Gb.Google).

“Kau masih ingat ketika sekolah dulu kita mempunyai keinginan yang sama, yaitu mengunjungi negeri Jepang. Aku lebih beruntung karena mendapatkan beasiswa. Kau ingat kan? Di Jepang itu ada empat musim. Musim semi, musim panas, musin gugur dan musim dingin”, begitu bunyi awal email yang diterimanya dari Saskia.

“Di musim semi  suasana sangatlah  indah. Bunga-bunga sakura bermekaran diseluruh penjuru negeri Jepang yang kemudian terkenal dengan sebutan Negeri Sakura.  Kau kan tahu aku paling gak suka dengan buah Semangka. Tapi disini aku selalu berburu buah itu ketika musim panas tiba. Buah Semangka menjadi primadona buah di musim panas. Pada musim gugur aku terkadang iri melihat pasangan-pasangan yang kelihatan sangat romantis di musim ini.  Kau tahu kenapa, Ati? Karena musim ini disebut juga sebagai bulan romantis.  Aku hanya bisa menikmati suasananya saja. Tanpa seorang  pria pendampingku. Aku masih tetap sendiri. Kepergian Ananto masih membekas dihatiku. Oops, ada satu lagi musim dingin. Nah di musim ini hampir setiap orang memenuhi pemandian air panas di berbagai tempat. Bagaimana dengan keadaanmu, Ati? Sudahkan kau punya pendamping seperti yang diinginkan oleh ibumu?”, Saskia mengakhiri celotehnya.
Keindahan salju di musim dingin. (Gb.Google).
.
Ati mematikan komputer . Dibaringkannya badannya diatas sofa.  Ati menjulurkan kedua kakinya jauh ke depan dan merasakan geliat tubuhnya terasa nikmat. Seluruh otot-ototnya seakan bebas. Ati berusaha untuk membiarkan kantuknya menyerang, tapi ia tidak bisa tertidur. Pikirannya melayang ke negeri impian.
“Haruskah aku menerima lamarannya?” hatinya berbisik.

Setelah ibunya tiada sebenarnya Ati bisa bebas memilih pasangan hidupnya. Tidak akan ada yang menghalangi. Tak seorang pun yang bisa mencegahnya. Namun ia telah menancapkan sebuah prinsip dalam dirinya: “Pasanganku, siapa pun itu, haruslah seiman denganku”. Dan prinsip itu sudah terpateri begitu dalam.
Mungkin ia terbawa arus cerita Saskia tentang musim romantis di Jepang dimana, menurut Saskia, di musim itu merupakan masa romantis bagi pasangan yang sedang memadu kasih. Kini pikiran Ati melayang ke seseorang yang begitu beraninya melamar dirinya.


Lihat! Pagar jembatan tidak mengurangi keindahan matahari-ku.

“Aku jatuh cinta padamu saat pandang pertama. Aku ingin menikah denganmu dan membawamu ke Jepang, ketempat leluhurku”.

Pengakuan seorang Teno, begitu beraninya. Pemuda Jepang yang baru berumur 28. Dirinya kini 32 tahun. Ati menjadi bingung. Inikah petunjuk dari Allah? Inikah kesempatan yang diberikan olehNya untuk memenuhi keinginannya menginjakkan kakinya di bumi Jepang? Inikah? Hati Ati masih berperang dengan dahsyatnya. Antara terkabulnya sebuah keinginan yang telah lama terpendam dan keimanannya yang kuat akan ajaran Nabi Muhammad S.A.W. serta terpaterinya sebuah prinsipnya.
“Aku tidak bisa menerimamu, Teno. Kita tidak seiman. Dan aku tidak ingin kau masuk agamaku karena keinginanmu menikahiku. Aku ingin kau menjadi Imam dalam rumah tangga kita nanti. Dan ini harus tercermin dari keinginan tulus dari hatimu. Bukan karena engkau ingin menikah denganku. Itu sudah keputusanku”,  Ati bangkit sambil mendesah."Suatu saat nanti".


"Tulisan ini diikutkan pada Giveaway Satu Tahun dari blog celoteh.:tt:."

6 comments:

  1. semoga sukses ya bun dgn kontesnya. ini fiksi kan ya bun?

    ReplyDelete
  2. Lidya - Mama Pascal, terima kasih ya do'anya. Lidya makasih juga coz selalu setia mengunjungi blog bunda.

    ReplyDelete
  3. Semoga menang kontesnya! ;-)

    ReplyDelete
  4. eksask, maaf sekali baru response komentar eksas hari ini. Terima kasih do'anya.

    ReplyDelete
  5. Lidya - Mama Pascal, ada yang belum bunda jawab ya. Betul sekali itu hanya sebuah fiksi. Bunda keknya kurang berhasil kalo ikutan GA di Blog, hehehehehe..... tapi bunda gak akan mundur. Tetap akan ikutan di setiap kontes/GA andaikan bunda tahu infonya. Makasih ya Lidya.

    ReplyDelete
  6. terimakasih Bunda kiriman fiksinya...
    Indahnya empat musim yang digambarkan Bunda.. Semoga Ati bisa menikmatinya, suatu saat nanti..

    ReplyDelete