Wednesday, March 14, 2012

Pengalaman Yang Berharga.


Gb.d/Google.

Pernikahanku  pada tahun 1967 benar-benar sebuah pernikahan yang teramat sangat sederhana. Namun tidak sesederhana itu keadaan ketika aku mengalami kehamilan pertamaku. Aku tidak punya siapa-siapa untuk bisa diajak berkonsultasi, kecuali Dokter Kandungan tentunya. Tentang segala perubahan tubuhku dan segala sakit yang ditimbulkannya aku rasakan sendiri. Syukur Alhamdulillah, kehamilan pertamaku ini tidaklah menjadi beban yang berat bagiku. Aku tidak pernah mengalami apa yang disebut “ngidam” ketika hamil. Semua berjalan biasa-biasa saja. Suamiku pun heran melihat kondisiku yang kian hari kian membumcit tapi staminaku kelihatan tidak pernah ada kelelahan yang berarti.

Kehamilanku yang pertama adalah ketika aku berumur 28 tahun, setahun setelah pernikahanku. Umurku boleh saja tua untuk sebuah pernikahan, tetapi pengalamanku tentang kehamilan benar-benar big zero. Bagaimana tidak? Aku jarang sekali kontrol ke dokter,karena hari-hari sibuk dengan pekerjaan kantor dan setiap hari harus melakukan tugas kantor yang tidak bisa ditunda-tunda.

Selain konsultasi dengan dokter, aku tidak pernah bertukar pikiran dengan siapa pun tentang kehamilanku, misalnya bagaimana rasanya kalau kehamilan itu sudah mendekati hari H, maksudnya hari dimana bayi akan menjenguk dunia dengan seizing Allah.  Aku tidak tahu sama sekali. Jadi ketika pertama kali aku merasakan mules yang teramat sangat, langlsung aku minta agar suamiku membawaku ke Rumah Sakit. Waktu itu Rumah Sakit Budi Kemuliaan yang lumayan jauhnya dari Kebayoran Baru, tempat aku tinggal.
Aku menangis menahan sakit karena mules. Tiada saudara dekat dan tiada pula kenalan yang bisa aku andalkan untuk menjagaku kecuali suamiku. Maklumlah saudara-saudaraku tinggal ditempat yang sangat jauh dari Kebayoranbaru. Dengan taksi aku dan suamiku menuju rumah sakit. Mules yang setiap 15 menit datang menyerang tidak bisa aku tahankan. Aku menangis setiap kali mules itu menyerang.

Sesampainya di Rumah Sakit aku diminta oleh dokter mem-booking sebuah kamar lebih dahulu dan tidak dibolehkan pulang. Hari pertama, hari kedua di Rumah Sakit belum juga ada tanda-tanda aku akan melahirkan. Pada hari kedua itu aku terkejut bukan main karena ada sesuatu yang pecah. Kata dokter itu berarti ketuban-ku telah pecah, pertanda kelahiran akan segera aku hadapi. Tapi ternyata setelah semalam suntuk tidak juga terjadi apa-apa. Alih-alih keadaan mules-ku ber-tambah menyakitkan karena ketuban telah pecah terlebih dahulu. Setiap 10 menit rasa mules mulai menyerang lagi tapi kelahiran belum juga memperlihatkan tanda-tanda yang melegakan.  Dokter memintaku untuk ber-jalan-jalan di koridor Rumah Sakit, agar seluruh otot-otot-ku lemas. Ini aku lakukan dengan giat sambil menahan sakit.
Untunglah dokter kandungan yang merawatku seorang dokter yang sangat baik. Mungkin bagi wanita-wanita yang sudah seumuran denganku pasti mengenal dokter kandungan yang bernama Dokter Djohar Djalil, Obst.&Ginaecolog. 

Pada hari ke-empat aku di rumah sakit barulah dokter memberikan aba-aba kepada para suster untuk berjaga-jaga. Mereka harus siap menelponnya, kapan saja. Karena menurutnya kelahiran si jabang bayi sudah semakin dekat. Mules yang kurasakan bertambah sering kurasakan. Menurut suster yang menjaga aku, katanya aku terlalu cepat masuk rumah sakit, padahal kalau rasa mules masih hilang-hilang timbul dalam jarak setiap 15 menit, itu berarti waktu kelahiran masih jauh. Yaaa, mana aku tahu. Yang penting aku udah merasakan sakit yang luar biasa, apalagi yang harus kulakukan selain mengajak suamiku untuk segera ke rumah sakit.
Suamiku tersayang yang selalu setia
menungguku ber-hari2 di R.S.

Pada saat kelahiran pun dokter mengalami kesulitan menanganiku. Bayiku terbelit  tali pusat. Untuk menyelamatkan bayiku, “pengguntingan” pun segera dilakslanakan. krees….. aku tidak bisa berteriak karena dokter memerintahkan aku untuk menggigit handuk yang diberikan oleh suster. Sejalan dengan bunyi krrreeesss tadi, kudengar tangis bayi melengking dan seketika aku lupa akan sakitnya alatku digunting, menurut dokter sepanjang 5 sentimeter. Ya, Allah, Maha Besar Engkau. Anakku telah lahir dengan sempurna, tanpa cacat.  Aku lihat dokter mengangkatnya, memperlihatkannya kepadaku sebelum ia berikan bayiku ketangan suster untuk dibersihkan. Setelah dibersihkan, suamiku membacakan sepenggal ayat-ayat suci di telinganya. Alhamdulillah bayi pertamaku telah lahir, seorang bayi laki-laki dengan berat 2,9 kg. dan panjang 52 sentimeter. Kini ia telah tumbuh menjadi seorang yang gagah, berkulit putih, tinggi,  seperti papanya dan kini anak lelakiku telah berusia 43 tahun. Subhaanallah. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan kepadaku agar aku sempat melihat cucu-cucuku tumbuh besar. Semoga saja. Amin, Ya Robbal’alamin. .

Pengalaman menjadi ibu hamil yang mengalami kehamilan pertama ini menjadikan pengalaman yang paling berharga karena aku bertambah bisa menahan sakit dan memperkirakan kapan saatnya aku harus ke rumah sakit. . Kelahiran anak-anak kedua, ketiga, keempat tidak perlu menunggu satu malam aku di rumah sakit.  Paling lama dalam dua jam setelah aku tiba di rumah sakit, saat kelahiran yang kualami sangat sempurna tanpa guntingan dan jahitan satu sentimeter pun. Anak-anakku semua aku lahirkan dengan normal tanpa operasi caesar, walaupun anak keduaku beratnya 3.5 kg. ketika kulahirkan. Alhamdulillah. 


Tulisan ini diikut-sertakan dalam Give Away Awal Maret 2012 yang diselenggarakan
oleh Andyhardiyanti.

4 comments:

  1. 1967 udah nikah...??
    ibu umur berapa sih memangnya..??
    :)

    ReplyDelete
  2. hewdeh bund...denger 'kres' kuq jadi nyer2'an...hihihi

    ReplyDelete
  3. bunda udah pengalaman banget ya, sering2 berbagi bun supaya aku bisa belajar

    ReplyDelete
  4. bunda, maaf baru berkunjung :(
    sip. sudah dicatat sebagai peserta :)

    ReplyDelete