Wednesday, March 14, 2012

SEKALENG BISKUIT MARIE REGAL.


.
Gb.d/google.
Aku terlahir sebagai anak ke-5 dari 10 bersaudara. 7 orang anak papaku perempuan dan 3 orang laki-laki. Seiring berjalannya waktu. kini kami hanya tinggal 7 bersaudara. Dua laki-laki dan 5 orang perempuan (termasuk aku).  Sejak kecil kami selalu hidup dalam lingkungan keluarga yang tidak pernah terpisahkan. Makan gak makan asal ngumpul, kata istilah orang Betawi. Hubungan bathin kami sangat erat satu sama lain. Namun Allah menghendaki umatNya untuk berkembang dan membentuk keluarga baru. Kami pun berpisah. Perpisahan tidak berarti aku tidak menyayangi mereka lagi. Aku tetap sayang saudara-saudaraku. Sampai kapanpun. Apalagi kami punya hobby yang sama yaitu  yaitu melahap biscuit Marie Regal dengan mencelupkannya kedalam kopi atau susu panas. Jadi dimana saja kalau aku lihat biskuit Marie Regal aku selalu ingat akan kebersamaan kami.
Uda-ku sayang tinggal kenangan.
Walaupun kami berasal dari satu rumpun, namun setelah dewasa dan mandiri semua berubah menurut alur yang ditentukan olehNya. Keadaan ekonomi kami pun beragam pula – ada yang hidup mapan, lebih mapan dan paling mapan. Ada pula yang hidup dalam kondisi dibawah standard. Tapi kami selalu saling membantu, saling mendukung, saling peduli sebisa mungkin.


Keterbatasan waktu dan kesibukan dalam keluarga baruku, dimana aku telah pula mempunyai beberapa orang cucu, menyebabkan frekuensi pertemuan antar saudara sangat berkurang. Namun khusus kakakku (laki-laki) yang ini selalu aku sisihkan waktu untuk bersilaturakhim. Kakakku sudah dalam keadaan sakit-sakitan, usianya 78 tahun.. Sejak menikah sekian puluh tahun yang lalu tak pernah mengecap kelebihan materi, namun keluarganya hidup dalam keharmonisan. Aku amat sayang pada kakakku ini. Isterinya berasal dari Secang, Magelang, Jawa Tengah. Selama hidupnya selalu rukun, ia termasuk orang yang sabar, bahkan teramat sabar. Aku menyayangi mereka. Bukan berarti aku tidak menyayangi saudara-saudaraku yang lain.
Kakak iparku yang super prihatin.

Aku yang, Alhamdulillah, diberi nikmat limpahan rizki olehNya, termasuk juga hidupku yang beruntung memiliki anak-anak yang telah mapan dan menyayangi aku, menopang hidupku hingga usiaku seperti sekarang ini, tak lupa membagi rizki kepada kakakku dan keluarganya. Sebetulnya  tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh tahu, begitu juga sebaliknya. . Tapi untuk postingan ini aku telah melanggar aturan agama tersebut. Hanya karena ingin menunjukkan kepada pembaca tulisan ini  betapa aku menyayangi kakakku ini. Sayang tidak bisa hanya diucapkan dengan kata-kata, tapi harus dengan sikap dan perbuatan. . Begitu juga dengan anak-anakku, tanpa sepengetahuanku mereka acapkali  menjenguk dan memberikan sedikit rizki mereka.  
Keakraban tlh terbina sejak
30 th. yl adikku dan anakku (pake jaket)

Aku seperti memperoleh sebuah firasat buruk karena pada kedatanganku membawakan sekaleng biskuit Marie Regal kesukaannya, aku minta keponakanku untuk menjepret kami dengan hp jadulku. Ternyata itulah pertemuan terakhirku dengan kakakku. Belum lama ini kakakku dipanggil Sang Khalik. Senyum membayang diwajahnya yang cekung. Kini kami hanya tinggal 6 bersaudara. Seorang adikku laki-laki, seorang kakakku perempuan dan 4 orang adikku perempuan..  Aku sayang saudaraku. Insya Allah kami yang tersisa akan hidup saling kompak dan mencari waktu kapan pun untuk bersilalturakhim. Insya Allah.










Tulisan ini diikutkan pada GIVEAWAY :  Aku Sayang Saudaraku yang diselenggarakan oleh Susindra

9 comments:

  1. ternyata sama dengan di Jawa ya makan gak makan asal kumpul...

    ReplyDelete
  2. Bunda..beruntungnya bunda punya banyak sodara :)

    ReplyDelete
  3. Subhanallah... bunda keluarga besar :)Nay juga sekarang tinggal enam bersaudara...

    turut berduka moga almarhum di tempat paling indah disisiNYA *aamiin*

    ReplyDelete
  4. wah wah 7 bersaudara besar sekali :)

    roti regal sama toh bund suka di celupn susu atau teh susu :D

    ReplyDelete
  5. orang jaman dulu banyak2 ya sodaranya ya bun? :D
    salam

    ReplyDelete
  6. Ah Bunda, saya tersentuh membaca kisah ini, sungguh.

    ReplyDelete
  7. Innalillahi wainnailaihi rojiun.

    Bundaaa... membaca di paragraf terakhir saya jadi speechless. Maafkan saya. Saya ikut berduka cita, bunda.
    Ah.. terkadang tanpa sadar kita mempunyai moment indah diakhir hidup mereka yang kita cintai. Padahal moment itu tercipta tanpa sengaja.

    Salam hangat selalu dari Jepara, bunda Yati.
    Susindra

    ReplyDelete
  8. kalau aku lebih suma mencepulkannya ke air teh tawar hangat bun, biasanya untuk ganjal sebelum sempat makan

    ReplyDelete