Friday, November 30, 2012

Ketika Pembantu Menjadi yang Nomor Satu.


Judul postingan  diatas aku ambil dari judul postingan Ririn Handayani yang membahas tentang betapa dekatnya anak-anak dengan pembantu. Hal ini kebanyakan terjadi pada sebagian ibu-ibu yang bekerja atau wanita-wanita karir. Setelah membaca ini dengan seksama aku mengusap dada dan mengucapkan "Syukur Alhamdulillah" bahwa hal ini tidak terjadi pada anak-anakku. Sejak kecil mereka selalu menomor-satukan aku. Bila aku dirumah aku selalu yang dicarinya, bukan si mbak yang selalu mendampinginya sepanjang hari. Walaupun cerita ini harus menoleh kebelakang sekian puluh tahun, tapi inilah mungkin trik-trik yang bisa diterapkan untuk ibu-ibu yang bekerja membantu mencukupi kebutuhan rumah tangga agar tidak kehilangan perhatian dan cinta-kasih anak-anaknya.

Mohon maaf apabila tulisanku ini bertentangan dengan pendapat sebagian besar ibu-ibu kantoran, tapi inilah yang telah aku jalankan dan merupakan pengalaman yang tidak pernah aku sesali sepanjang hidupku.





Sejak aku menikah aku telah bekerja sebagai pegawai kantoran. Begitu juga hal ini terus berjalan hingga anakku berjumlah lima orang. Aku hanya sempat memberikan ASI kepada mereka masing-masing hingga usia mereka 6 bulan. Waktuku yang penuh untuk bersama anakku semasa kecil  adalah HANYA hingga usia mereka 6 (enam) bulan.  Selebihnya mereka bersama para mbak pembantu yang tiga orang. Aku percayakan mereka kepada para pembantu. Mereka trampil, bersih (dalam arti "resik") secara keseluruhan, hehehehe...... dan semua super rajin, saling menanggulangi pekerjaan dan cepat tanggap dalam hal apa pun. Tidak ada pembagian tugas yang aku berikan. Merekalah yang mengatur demi keamanan anak-anakku selama aku tinggalkan.Tentu ada satu orang yang menjadi "Leader" yaitu yang umurnya paling tua.


Aku meninggalkan anak-anakku sejak subuh hingga ba'da Isya lho -- boleh dikatakan aku "tua di jalan".   Tugas mereka merawat dan menjaga anak-anakku agar selalu bersih, menemaninya bermain, dan tidak melupakan waktu-waktu mereka untuk makan dan tidur siang. Pengaturan tidur siang ini sangat penting karena dengan anak-anakku teratur tidur siang, maka ketika aku pulang masih bisa kulihat sorot binar mata mereka. Disinilah QUALITY aku terapkan. Kebersamaan aku dengan mereka, bermain, mengerjakan PR, bermain bekel atau yang lain bisa aku usahakan se maksimal mungkin. Walaupun aku lelah, namun semua akan sirna ketika aku berada bersama mereka. Jadi QUANTITY doesn't mean anything apabila kita melupakan QUALITY. Kenapa aku bilang seperti ini? Karena sejauh pengalamanku bersama ibu-ibu muda yang kantoran maupun yang rumahan, kebanyakan mereka menyerahkan sepenuhnya perawatan anak-anak kepada pembantu, sekalipun mereka telah berada dirumah. Alasannya mereka capek, mereka lelah. Titik.

Pengalamanku pernah seorang ibu. ketika di dekati anaknya mengatakan: "Sana-sana sayang, sama mbak", sambil tangannya mendorong lembut anaknya. Kelembutan dorongan tidak bisa mengobati hati anak yang sedang ingin bermanja-ria. Sekilas sorot kecewa  terlintas diwajah si kecil yang kangen sama mamanya, tapi mamanya lagi capek sih jadi gak mau pusing, gak mau diganggu.. "Ya ampuun....dimana rasa keibuanmu?" aku berkata dalam hati ketika melihat adegan itu.


Inilah trik yang telah aku lakukan untuk tetap memiliki kasih sayang anak-anakku antara lain sebagai berikut::

Pertama.
Aku dengan sangat disiplin men-trap-kan kualitas ketimbang kuantitas dalam hubungan kebersamaan dengan anak-anak buah hati kita. Bagaimanapun lelahnya aku, tetap anak-anak menjadi prioritasku untuk melayani mereka, apa pun.

Kedua:
Aku tidak mengizinkan mereka (para pembantu) untuk me-nina-bobokkan apabila anak-anakku tidur siang. Maksud me-nina-bobokkan disini adalah anakku ditemani ditempat tidur hingga tertidur. Dan bukan hal yang tidak mungkin dia pun akan ikut terlelap. Mereka cukup duduk menemani hingga anakku tertidur. Titik.

Ketika seorang anak sedang tidur, baik siang maupun malam pasti ia akan terjaga sebentar atau "lilir." Ketika aku remaja pernah membaca suatu hal tentang "lilir" ini. Jadi siapa pun yang sedang tidur di dekat anak yang "lilir" tadi, maka  dialah yang akan terekam dalam memori si anak dan melekat pula dihatinya. Kalau setiap anak "lilir:" yang dilihat si mbak, ya si mbak lah yang terekam dan yang mendapat curahan sayang sang anak. Jadi jagalah jangan itu terjadi.

Ketiga:
Mereka tidak aku izinkan untuk mencium anak-anakku. Tentu saja aku mengemukakannya dengan setengah bersenda gurau namun pasti, hehehehehe.....Nyatanya gak ada yang berani mencium anak-anakku. Juga kepada anak-anakku yang sudah berumur 2 tahun keatas sudah bisa diajak ber "konspirasi" untuk "jangan mau" apabila dicium oleh orang lain selain nenek, kakek, mama, papa, tante-tante mereka.

Keempat:
Mungkin ini adalah kunci para pembantu mematuhi peraturanku dan sekali-gus menyayangi aku sebagai pengganti orang-tuanya yang jauh di Gunung Kidul. Mereka semua berpendidikan hingga SMP. Secara bergantian mereka aku tawarkan untuk kursus apa saja atas biayaku, termasuk pengadaan bahan-bahan apa pun yang dibutuhkan sehubungan dengan kursus yang diambilnya. Ada yang memilih kursus menjahit, ada yang masuk kursus bordir, ada yang memilih dirumah saja. Dengan catatan mereka harus memilih jadwal yang tidak bersamaan, sehingga secara bersama dua pembantu keluar rumah.

Kelima:
Pada waktunya makan, mereka aku izinkan untuk duduk di meja makan dan makan lauk pauk sama yang terhidang untuk kami sekeluarga. Mereka "bukan" makan sisa kami, tapi mereka makan "setelah" kami. Beda kan? hehehehe...........Biasanya mereka menolak dan mereka lebih suka makan di dapur. Ketika kami bawa mereka makan diluar, misalnya disebuah restoran, kami akan duduk satu meja. Hal ini akan membuat mereka merasa dihargai, kemudian mereka akan menghargai kita dan anak-anak kita. Anak-anak kita pun adalah majikan kecil mereka. Mereka sadar akan hal itu. Mereka hanya merawat tapi tidak memanjakan.


Walaupun tidak bisa disebut sebagai trik, tapi itulah pengalamanku yang bisa aku share. Jadi selama masih dalam batas-batas poin yang aku sebutkan diatas, jangan khawatir untuk mempercayakan anak kepada pembantu demi kelanjutan karir ibu-ibu dan kesinambungan roda ekonomi rumah tangga. Ketidak-percayaan ibu-ibu akan mengganggu konsentrasi dalam bekerja.

Sebagai tambahan, aku mempunyai alasan kuat kenapa diatas aku mengatakan bahwa apa yang telah aku jalankan adalah  merupakan pengalaman yang tidak pernah aku sesali sepanjang hidupku.  Karena dua dari pembantuku pun turut men-trapkan "cara" yang aku lakukan sekian puluh tahun yang lalu kepada mereka. Mereka sudah bukan pembantu lagi, tapi kini mereka telah  menjadi ibu rumah tangga yang mapan dengan memiliki anak yang bergelar S1 dan yang penting mereka sudah memiliki pembantu. Hebat kan? Dulu pembantu sekarang punya pembantu.  Hidup memang harus berubah! Kami sekarang setara sebagai dua orang teman bukan antara majikan dan pembantu.


Semoga tulisanku diatas bermanfaat untuk siapa saja.


 



25 comments:

  1. waaaahhhhh sharing yang berharga skali Bunda...
    Aku sih sekarang ga pake jasa ART... smua aku kerjakan sendiri bersama Ibu saya (seumuran Bunda) ... karena suami jauh :) ... jadi saya sebenernya ga terlalu khawatir anak2 lebih memilih pembantu hehehehe...

    Tapi poin2 Bunda saya catat baik2.. karena tetap itu adalah sharing parenting yg keren banget... terutama saya ngalamin yg anak nglilir malam itu... Puji Tuhan mereka selalu melihat saya pertama kali :) .. dan kalo tidur, mereka selalu minta saya yg temani...

    Makasih sharingnya Bunda...

    ReplyDelete
  2. bundaaa, salut meskipun kerja sampe malem tetep berusaha melayani anak2.

    ReplyDelete
  3. trik hebat bunda, apalagi tentang 'tidak boleh meninabobokan mereka'
    setuju betul kalo yang satu itu.
    karena disitulah istimewanya seorang ibu.

    ReplyDelete
  4. hoo... bener juga ya bun.jangan sampe pembantu jd semacam subtitisi kita pas kita ga ada. mereka cuma merawat aja. somehow kita mengajarkan anak supaya mengenal siapa ibunya dan mengajarkan pembantu supaya anak tetap mengenal ibunya.hebat euy si bunda :)

    ReplyDelete
  5. daku org desa bunda, segala sesuatu cuma bu e yg ngurus :D

    tapi toh, byk juga anak yg lbh dkt dg pengasuhnya. Perlu dibuat pelajaran ini mah :D

    ReplyDelete
  6. Bunda, sarannya jadi mengingatkan pada ibu mertua saya. Tegas tapi tetap menghargai orang lain. Terima kasih sharingnya.

    ReplyDelete
  7. Carra, makasih, memang itu yang bunda jalanin. Tapi koq ART sih bukan PRT, hehehehehe..... Alhamdulillah kalo sharing bunda ada juga manfaatnya. Coba deh bayangin betapa bahagia seorang ibu yang ketika anaknya "ng'lilir", dia lihat kita, trus kita belas keningnya, kecup pipinya, trus dia bobo lagi. Wuiih, suatu rasa bahagia yang gak ada taranya. Makasih kunjungan Carra ke blog bunda.

    ReplyDelete
  8. Iya Rahmi, bunda dulu rasanya gak pernah lelah, karena semua bunda lakukan dengan penuh rasa syukur bahwa bunda masih bisa berguna untuk anak2 bunda. As simple as that, jadikan hidup ini berarti. Makasih ya kunjungan Rahmi ke blog bunda.

    ReplyDelete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. nutrisi diet sehat, hehehehe....maksudnya give me five, gethoo...

    ReplyDelete
  11. nutrisi diet sehat, siiipp...give me five deh. Prinsip itu juga bunda trapkan ke anak-anak bunda dan berjalan dengan smooth banget. Para pembantunya betah bertahan lama.

    ReplyDelete
  12. kacamatamia, siiiip! Makasih kunjungannya ke blog bunda.

    ReplyDelete
  13. +1 makasih kunjungan +1 ke blog bunda. Betul sekali keluarga itu nomor wahid.

    ReplyDelete
  14. jiah al jafara,semua kita juga pasti dulunya wong ndeso, qqqqq....iya khan, maap aja kalo ada yang "nggak". Makasih kunjungan ke blog bunda.

    ReplyDelete
  15. Lusi, tegas tapi luwes khaaan. That's the way uhu, uhu (kan bacanya aha, aha), hehehehe.... Trus udah bisa ngerasain manfaatnya khan?

    ReplyDelete
  16. Jempol untuk stamina dan manajemen hati bunda. Kebayang lelah bekerja masih bisa handle anak-anak dengan wajah riang.

    ReplyDelete
  17. Walah, dari pagi sampai habis 'Isya? Ckckck.. Beneran tua di jalan.
    Kalo ibu saya sih dulu kerja cuma setengah hari. Jadi sorenya masih sempat ngoprak2 anaknya mandi :D

    ReplyDelete
  18. 37Mw, bunda sambut jempolnya dg ucapan TK. Betul kalahkan lelah dg mengutmkn quality.

    ReplyDelete
  19. 37Mw, bunda sambut jempolnya dg ucapan TK. Betul kalahkan lelah dg mengutmkn quality.

    ReplyDelete
  20. 37 Mw, iya donk sayang, dari pagi ampe malem gak ketemu anak-anak, sekali ketemu ya qualitynya yang penting untuk menyalurkan kangen hari itu, hehehehe....makasih ya kunjungannya.

    ReplyDelete
  21. Milati Indah, wah, wuenak-e ibunya Milati kerja setengah hari. Bisa banyak waktunya sama anak-anak. Makasih kunjungan Milati ya.

    ReplyDelete
  22. Terus terang Bun, kekhawatiran anak anak akan lengket juga saya bayangkan kalau saya punya anak nanti *insyallah, namun, setelah membaca apa yang Bunda sampaikan, saya menyadari bahwa ada keadaan dimana kita tidak selalu bersama anak-anak harus dihadapi, sehingga kitalah yang harus berusaha agar keadaan tersebut tetap berhikmah u semuanya, termasuk bagaimana agar pembantu bisa mengerti kedudukannya dan kita sendiri mengerti kedudukan mereka, pembantu bukan pengganti kedudukan kita sebagai ibu, nice post Bunda.

    Salam kenal,
    Lilis

    ReplyDelete
  23. Hello, i think that i saw you visited my blog so i came to “return
    the favor”.I am attempting to find things to improve my web site!
    I suppose its ok to use a few of your ideas!!

    Feel free to visit my blog - affiliate marketing forum

    ReplyDelete
  24. Ridiculous story there. What happened after? Thanks!



    Also visit my page ... men's watch brands

    ReplyDelete