Sunday, March 17, 2013

Prompt#5 Cinta Abadi.


Gb.Google: live.viva.co.id
"Duapuluh tahun yang lalu aku mencintainya. Sangat."

"Tapi itu kan dulu. Aku tahu itu. Ingat! Itu dulu!" ibunya menegaskan.

Roni menunduk. Tak ada keberanian untuk menatap mata ibunya. Bagaimana bisa ia membohongi hatinya sendiri, bahwa sampai kini pun cinta itu masih ada. Untuk Marni. Wanita yang kini mendekam sendiri. Dipasung di sebuah kamar. Dirumah Roni. Ibunya menjodohkan Roni dengan Ririn, gadis belia yang cantik. Dua puluh tahun lalu ibunya mengadopsi Ririn dari Panti Asuhan. Ibunya ingin Roni berjodoh dengan Ririn. Tanpa mempedulikan Marni yang sudah syah menjadi isteri Roni.



"Wanita tidak berguna. Apa yang kau lihat dari dirinya?" gerutu ibunya sambil melempar pandang benci kearah Marni.  Dengan gerak kepala ibunya memberi isyarat kepada Roni untuk meninggalkan ruangan itu. Dan Roni menurut. Ditolehnya sekali lagi Marni. Marni tersenyum. Hati Roni serasa dipalu dengan godam yang paling besar.

"Ibu terlalu!" hanya itu yang bisa diucapkan dengan mendesis oleh Roni. Selebihnya ia tidak bisa melawan kehendak ibunya. Roni pun tidak mampu membela Marni.

Hati Roni amat teriris apabila Marni mulai meracau. Bukan hanya Roni. Bahkan siapa pun yang mendengar teriakan Marni.

"Mas Roni......... .aku sudah siapkan baju pengantin kita. Tapi ibumu. Srigala itu. Hahahahahaha........ tidak menginginkan aku sebagai menantunya. Gila dia! Tapi kenapa aku yang dibilang gila? Kau tahu Mas Roni, di perut ini ada benihmu. Buah cinta kita. hahahahaha....."

"Kasihan,Marni." hanya itu  biasanya desis yang keluar dari mulut tetangga yang mendengar teriakan Marni.

Marni kelihatan lemah. Dia terkulai tersandar ke dinding rumah mewah itu sambil mengelus perutnya yang sudah tidak lagi  buncit.

"Besok kita ke KUA saja!" suara ibu Roni seolah menggelegar menerpa telinga Roni.

Kesabaran Roni yang ia pendam selama dua puluh tahun menggelegak bak lahar panas dari kawah gunung berapi. Ibunya terkesima melihat wajah Roni yang merah padam dan sorot mata yang garang.

"Ibu lihat ini! Lembaran yang menjadi bukti buah cinta kami. Selama ini aku sembunyikan karena ibu membenci Marni. Teramat sangat."


Roni menghempaskan lembaran itu ke lantai. Marni terdiam melihat Roni yang tampak gelisah.

"Tidak, jangan sekarang. Kasihan Ririn jika dia tahu tentang ini semua." Ucap Roni pada dirinya sendiri.


Sekali lagi ditolehnya Marni yang memandang gusar kepadanya dari pintu kamar yang sengaja ia biarkan terbuka. Pandangan Marni seolah berkata:

"Jangan ragu. Tunjukkan saja. Kini saatnya. Kalau tidak sekarang. Kapan lagi?"


"Ya kapan lagi?"


397 Words.



19 comments:

  1. Untuk percakapan, sepertinya tidak usah dicetak tebal Mbak. Biasanya yang bercetak tebal cukup promptnya saja. :)

    ReplyDelete
  2. jadi...marni gila ini bund???
    heumhh,kasihan ririn....tp apalah daya :(

    salam hangat dan kenal bunda yati :D
    --zwan--

    ReplyDelete
  3. catatannyasulung, terima kasih komentarnya. Sudah bunda edit.

    ReplyDelete
  4. Hana HM Zwan, iya critanya Marni stress berat tuh, hehehehe..... Salam hangat teramat hangat dan salam kenal dari bunda di Pamulang. Makasih sudah berkunjung.

    ReplyDelete
  5. jadi itu lembarannya itu lembaran apa ya Bunda?

    *tetiba lost*

    ReplyDelete
  6. perut Marni sudah tidak buncit. apakah lembaran itu berisikan ??

    berisi apa bun?

    salam hangat n selamat pagi bunda :)

    ReplyDelete
  7. lemabarannya berisikan apa bund? ceritanya menyayat hati...

    ReplyDelete
  8. Lembarannya berisi apa Bund?? *ikutan mba Nunung*
    Apakah Akte Nikah? kasihan Marni, tapi kenapa bisa menikah ya kalau ibu mertuanya tidak setuju?? kalau akhirnya dijadikan seperti itu. hikz

    ReplyDelete
  9. iya bund, apaan sih catatannya?
    penasaran deh

    ReplyDelete
  10. RedCarra, lho koq tetiba lost gitu? Coba dibaca lagi, qiqiqiqiqiii....maksa. Kan Roni bilang kalo lembaran itu adalah buah cintanya dengan Marni. So, lembaran itu AKTE KELAHIRAN RIRIN -- satu-satunya yang bisa menyadarkan Ibu untuk menjodohkan Roni dan Ririn, hehehehehe....

    ReplyDelete
  11. Rika Willy, hehehehe....seneng deh pada banyak yang pada bingung tentang lembaran apa itu? Terkesima sama film2 Alfred Hitchock sih bundanya nih, yang kalo pulang nonton masih berpikir terus, hahahahaha......

    ReplyDelete
  12. Nunung Nurlaela, kalo dikembangkan dengan lugas ya jadi cerpen donk. Cukup dengan kalimat ""Ibu lihat ini! Lembaran yang menjadi bukti buah cinta kami." (Pasti donk tentang anak? Ya Akte Kelahiran. Ririn lahir karena MBA dan dititipkan oleh Roni ke Panti Asuhan. Ibunya udah kegilaan pengen cucu, Roni mengusulkan mengangkat Ririn bayi. Hehehehehe......koq jadi cerita panjang lebar nih. Wah, ternyata bunda belum bisa ber-FF ya.

    ReplyDelete
  13. Dc, kacian dleh si bunda nih FF-nya gak ada yang bisa nebak kalo lembaran itu Akte Kelahiran Ririn.

    ReplyDelete
  14. ayu, kalo dibaca dengan seksama pasti akan tahu bahwa lembaran itu adalah AKTE KELAHIRAN RIRIN yang diperlihatkan Roni karena ibunya terus memaksanya untuk menikahi Ririn. Begitchuuu.....

    ReplyDelete
  15. Mak RedCarra, kudunya judulnya diganti jadi AKTE KELAHIRAN kalleee dan bukan CINTA ABADI (antara Roni dan Marni, heheheheee..........) Maaap masih terus pengen koq belajar nulis FF.

    ReplyDelete
  16. Foto ilustrasi yang mendampingi FF ini "menggetarkan" hati.

    Saya pikir lembaran tersebut adalah hasil USG, bahwa Marni tengah mengandung.

    -@p49it-

    ReplyDelete
  17. Halo, Bunda! Akhirnya bisa lagi ya bikin ffnya :)
    Bunda, saya juga bingung itu sebenarnya lembaran apakah? Awalnya ngira itu lembaran Surat Nikah Roni dan Ririn, jadi mereka udah nikah tanpa sepengetahuan ibunya Roni. Terus lagi makin bingung dengan keberadaan Ririn. Setelah dibaca2 komen semuanya, ternyata yang Bunda maksud itu adalah lembaran Akta Kelahiran Ririn. Agak rumit, sih, ya, ceritanya untuk sebuah ff. Soalnya ngga tertulis jelas dan ngga tersirat pula.

    Maaf, ya, Bunda, jadi kepanjangan nulisnya. Hehe. So far, idenya oke. Cuma mungkin agak terlalu rumit aja kisahnya untuk sebuah ff. Mungkin kalo dijadiin cerpen pengembangannya jadi bagus banget.

    ReplyDelete
  18. wahh mesti banyak belajar lagi buat bikin FF dari bunda,,,,sangat menginspirasi,,, :D

    ReplyDelete
  19. YA Allah Bundaaaa. Kuat banget jalinan ceritanya. Saya sampe sedih membayangkan Marni dan lembaran kertas itu akte kelahiran Ririn. Sediiih.
    Luar biasa jalinan ceritanya kalo menurut saya

    ReplyDelete