Friday, August 30, 2013

.Daya Tarik Ragam Kopi Indonesia..


 Hari ke-5 #10daysforASEAN - Tema: KOPI
Source Google: indonesiancoffe.net

Dulu, ketika aku masih aktif bekerja, pasti kalau belum minum kopi (bukan kopi yang pekat), suasana hati jadi uring-uringan. Aneh ya, apa sebenarnya hubungan antara NGOPI dan PERASAAN HATI. Gak ada, kan? Tapi itu hanya karena sebuah kebiasaanj. Rasanya kalau belum melihat secangkir kopi di atas meja kerja, rasanya koq masih ada yang kurang. Dan office girl sudah sangat memaklumi hal ini. Ia begitu baik hati, selalu mendahulukan secangkir kopi (encer) untukku, sehingga aku bisa menyeruputnya hangat-hangat, kemudian? Huuuuhhh....lega deh.

 

Tapi itu dulu, dulu sekali. Kini tidak lagi. Tapi bukan berarti aku terbebas dari keharusan menyediakan stok kopi di rumah. Malahan stok kopi di rumahku, setiap bulan -- beneran gila-gilaan deh. Sebanyak 5 bungkus ukuran 400 gram setiap bulan yang aku jatahkan untuk di rumah, ternyata sebelum habis bulan sudah, stok sudah habis. 
Sumber: Goggle: indonesianbeverages.blogspot.

Anakku lelaki sangat menyukai kopi (pekat). Satu hari hampir 5 sampai 6 gelas ia minum kopi. Minum kopi baginya seolah sama dengan minum air putih. Alamaaa....bagaimana aku bisa menghemat kopi ya kalau begini caranya. Kebiasaan itu hingga sekarang masih dipertahankan. Setahuku dia mulai minum kopi sejak berumur 19 tahun. Kini umurnya sudah 43 tahun. Nah, bayangkan sudah berapa kilogram kopi yang dia supply. Kalau mau berhitung secara matematika, sudah berapa rupiah yang harus ikut cair karena hobbynya minum kopi itu.  

Ketika aku berlibur ke Bali, Juli 2011, kami mampir ke tempat pembuatan kopi luwak. Kami pun melihat luwaknya sekalian. Di situlah aku mulai mencicipi kopi luwak, dan ternyata, harum dan lezat. Hingga kini di rumahku tersedia kopi luwak instant.
 
Yuuk, nyrusup kopi luwak dulu aaah.




Dari info yang kita terima, negara penghasil kopi terbesar di dunia adalah: Pertama: Brazil, kedua: Vietnam dan ketiga: Indonesia. Kedua negara terakhir adalah anggota ASEAN. Menuju ASEAN Economic Community (AEC) 2015 ini, mampukah Vietnam dan Indonesia merebut pangsa pasar kopi dunia? Bisakah kedua negara ini menjadi partner produksi kopi, bukan menjadi rival atau saling bersaing.

Untuk menjawab pertanyaan diatas, mari kita ber-googling-ria dulu, karena untuk memberikan jawaban kita harus mencari atau menggalinya dari sumber yang bisa dipercaya. Dan, bagiku satu-satunya sumber yang bisa dipercaya adalah melakukan googling.

Kita pun semua tahu, bahwa kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern, sehingga ada istilah yang populer pada setiap rapat di kantor-kantor: "coffee-time."  Walaupun kenyataannya disediakan juga teh, tapi acaranya tetap disebut coffee-time, jarang sekali disebut tea-time.




 Berita terkini yang berhasil aku search dari google adalah tanggapan dari Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Bapak Syarifuddin Hasan pada hari Selasa, tanggal 24 Oktober, 2012, setidaknya tentang sebuah berita yang menggembirakan, bahwa Indonesia untuk menjadi produsen kopi terbesar sangat berpeluang, walaupun saat ini kita masih di urutan ketiga setelah Vietnam dan Brazil. 

Beliau berkonsentrasi di industri kopi, karena banyak usaha kecil menengah (UKM) bergabung juga dalam wadah koperasi. Hal ini semakin mempromosikan kopi yang bisa menunjang ekspor kopi Indonesia semakin bagus. Dengan jalan ini, para petani kopi terangkat sehingga UKM pun terangkat.

Beliau pun berharap, dalam posisi Indonesia yang sekarang menduduki peringkat ketiga produsen kopi terbesar dunia setelah Brazil dan Vietnam, berupaya terus untuk meningkatkan  produksi kopi dalam negeri agar Indonesia dapat naik kelas ke peringkat kedua.


Indonesia memiliki jenis kopi yang beragam,yang merupakan daya tarik buat pasar dunia,  begitu juga Vietnam. 

Namun, harus diingat bahwa tidak semua orang menyukai kopi made in Indonesia, seperti juga halnya belum tentu semua penyuka kopi akan addicted untuk menghirup kopi made Vietnam. Jadi dalam hal produksi kopi ini sebenarnya baik Indonesia, maupun Vietnam,  memiliki kelebihan dan kekurangan yang fifty-fifty.

Kita harapkan saja bahwa menjelang tahun 2015  ketika ASEAN Economic Community dicanangkan, kedua negara ini sudah menancapkan sebuah prinsip yang sangat kuat untuk saling bekerja sama.dan tidak saling merugikan, apalagi mengadakan persaingan yang tidak sehat. Insya Allah, kalau kita, para blogger se ASEAN bisa meneriakkan "We Are Blogger",  negara-negara ASEAN juga akan bisa mengangkat tangan dan mengepalkan tinju untuk bersama meneriakkan "We are ASEAN, We Are One."

Segala yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin, berdasarkan landasan kebersamaan dan saling bergandeng tangan dalam menghadapi tantangan dari luar ASEAN, yang mungkin saja terjadi di kemudian hari.


Referensi:
http://ekonomi.tvonenews.tv/berita/view/63323/2012/10/24/indonesia_berpeluang_jadi_produsen_terbesar_kopi.tvOne

http://id.wikipedia.org/wiki/Produksi_kopi_di_Indonesia

 http://www.rumahkopi.com/2012/02/kopi-vietnam-yang-sesungguhnya.html



15 comments:

  1. Semangat ya, MakBunBun

    Good luck utk 10daysforASEAN ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mak E.Novia Wahyudi. Insya Allah bisa bertahan sampai selesai yang 10 hari ini, dan seterusnsya bisa ngeblog.

      Delete
  2. salut sama bunda yatiii....risetnya gak main-main, serius banget...WOW deh pokoknya...:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe...makasih buat WOW-nya. Yoi, buat nambah pengetahuan tuh. Tahu gak sih, itu googlingnya di Warnet, kalo di rumah pasti diganggu sang cucu tercinta. Nih, lagi ikutan lomba jogging tuh di belakang, jadi bisa anteng si bundanya. Makasih kunjungan sang Penulis ke blog bunda ini.

      Delete
  3. Wow, 5-6 gelas kopi sehari.Keluarga pecinta kopi ternyata. Nenek saya dulu pembuat kopi tubruk tapi saya jarang minum kopi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ety, itu yang 5-6 gelas (kayak minum air putih aja dia) kopi tubruk lho. Anak-anak bunda yang lain gak pada suka ngopi, tapi suka "ngudud", hehehe....Cuma bunda yang suka kopi instant. Makasih ya kunjungannya ke rumah online bunda.

      Delete
  4. Sama dong bunda saya juga suka minum kopi. Tos dong ! he,,, he,,, he,,,,

    Salam wisata

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeee...kopi apa dulu Mas Ejawantah Wisata? Bukan kopi tubruk, tapi kopi instant yang gak disebut brand-nya tuh, hehehehe....tapi, ya ampuuun, bikin hati kelojotan kalo di rumah udah kehabisan stok.

      Delete
    2. Hehe....ampe lupa bilang makasih untuk kunjungannya.

      Delete
  5. setuju bunda..
    indonesia & vietnam bs saling melengkapi yah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ada yang se-ide sama bunda. Waktu bunda tinggal di Hanoi, Vietnam, berkarib banget sama local staff sana tuh. Hiks, hiks, jadi rindu Hanoi. Mungkin temen2 juga udah pada pensiun nih. Makasih kunjungannya.

      Delete
  6. Namun perlu diingat kopi bisa membuat mbah surip almarhum. hahaha..,(mantan PECANDU)

    Terlalu sering NGOPI, memaksa tubuh untuk terjaga apalagi malam hari. Bisa jadi Insomia. Ea setidaknya satu hari satu cangkir cukup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh, Mbak Surip tuh mah udah takdirnya meninggal dunia, bukan karena dia kopiholik, hehe... Untung aja bunda gak suka ngopi, kecuali kopi capuccino yang lezaaat. Mkasih kunjungannya ya.

      Delete
  7. The green coffee specially kopi luwak has gained popularity in recent days.This is only because it contains secret ingredients which make it a healthy supplement.

    Thanks
    Finn Felton

    Kopi Luwak

    ReplyDelete