Monday, August 26, 2013

MFF PROMPT#22 - Maafkan Aku, Ibu.


"Narti, kau siap dengan permintaan Ibu, kan? Hardi, adikmu satu-satunya harus kau perjuangkan, agar apa yang menjadi mimpinya bisa terwujud. Adikmu adalah orang yang akan menjadi Wali-mu ketika kelak kau  menikah. Adikmu laki-laki lebih berhak dari pada siapa pun untuk menjadi Wali yang sah untukmu. Jadi wujudkanlah mimpinya. Hardi ingin menjadi crew  sebuah kapal pesiar yang megah."

 Sebuah amanah yang ia rasakan terlalu berat untuk bisa ia penuhi  kembali menerawang  dalam benaknya. Apalah yang bisa  diharapkan dari seorang yang hanya memiliki selembar ijazah SMK seperti dirinya? 

Walaupun Hardi memiliki ketrampilan yang memadai untuk menjadi seorang crew kapal pesiar, namun persaingan begitu ketat. Sekarang ini siapa yang bisa memberikan uang lebih banyak dengan mudah bisa lolos. Hal itu tidak bisa ia pungkiri lagi. Apa yang harus ia lakukan? Kemana akan ia cari uang sebesar  tigapuluh juta rupiah sebagai uang pelicin agar Hardi bisa melangkahkan kakinya sebagai crew sebuah kapal pesiar  tanpa hambatan?
  
Tanggung-jawab kini ada di pundaknya. Masih terngiang ucapan Ibunya, sebelum meninggalkan dirinya dan adik satu-satunya untuk selamanya.

Laki-laki itu baru saja keluar. Ia membanting diri dan menggeliatkan  tubuhnya di kasur yang empuk itu. . Bukan karena lelah, tapi geliat diiringi desah rasa puas. Ia menikmati apa yang telah ia lakukan untuk memperoleh  tigapuluh juta.  Waktu dua bulan sebagai imbalannya.  Pada awalnya ada rasa muak. Ingin rasanya ia melarikan diri, setiap lelaki itu  datang.  Bathin dan pikirannya bertentangan.  Namun terbayang wajah ibunya. Wajah Hardi. Pergumulan antara dua perasaan. Hatinya? Atau pikirannya yang akan menang.  Demi terwujudnya mimpi Hardi, ia tak mampu mengalahkan pikirannya.  Ia bahkan menjadi semakin  larut dalam kehidupan kelamnya.

Ia harus berusaha  untuk menikmatinya.  Di luar sana banyak Narti-Narti yang tak peduli pada arti pernikahan. Jaman ini jaman edan. Jadi demi  Hardi dan 30 juta ia harus menyingkirkan arti sebuah pernikahan yang sakral. Maafkan, aku ibu.

No comments:

Post a Comment