Monday, September 02, 2013

The Future Is Ours.

 Hari ke-7 #10daysforASEAN (1 September 2013) -- Tema: Singapura dan Probelmatikanya.
Sebuah Prolog.
Tahun 2015 diharapkan ASEAN menjadi satu komunitas tunggal, yang merangkul seluruh negara di ASEAN. Namun di antara negara anggota ASEAN, ada juga yang memiliki sengketa antar negara, terutama terkait dengan perbatasan antar negara. Seperti yang terjadi engan Singapura dan Malaysia.
 
Singapura mempunyai sengketa perbatasan dengan Malaysia pada pula di pintu masuk Selat Singapura sebelah timur. Ada tiga pulau yang dipersengketakan, yaitu Pedra Branca atau oleh masyarakat Malaysia dikenal sebagai Pulau Batu Puteh, Batuan Tengah dan Karang Selatan. Persengketaan yang dimulai tahun 1979, sebenarnya sudah diselesaikan oleh Mahkamah Internasional tahun 2008, dengan menyerahkan Pulau Pedra Branca kepada pemerintahan Singapura. Namun dua pulau lagi masih terkatung-katung penyelesaiannya dan penyerahan Pedra Branca itu, kurang diterima oleh Masyarakat Malaysia, sehingga kerap terjadi perselisihan antara masyarakat.
Konflik yang terjadi antara Singapura dan Malaysia dalam memperebutkan kepemilikan atas tiga pulau, akan sulit sekali diselesaikan, mengingat hal yang sama juga terjadi antara Malaysia dan Indonesia tentang kepemilikan pulau Sepadan dan Ligitan. Walaupun kedua pulau itu dinyatakan dalam keadaan  status quo, yang berarti belum ada kepastian Negara mana sebagai pemiliknya, namun Malaysia telah mengambil langkah dengan membuka resort  pariwisata dan membangun hotel-hotel. Malaysia mengartikan bahwa status quo sebagai "tetap berada di bawah Malaysia sampai persengketaan selesai." Sedangkan pihak Indonesia mengartikan bahwa dalam status ini kedua pulau tadi tidak boleh ditempati/diduduki sampai persoalan atas kepemilikan dua pulau ini selesai. Sungguh sebuah dilema, bahwa dua negara memiliki pengertian yang sangat berbeda. 
Bisa kita lihat disini betapa keras dan gigihnya Malaysia untuk kelak memiliki kedua pulau itu. Jalan yang diambil Malaysia, adalah dengan segera membuka sebuah resort dan membenahi pulau dengan mendirikan hotel-hotel. Dan yang lebih hebat lagi perbuatan Malaysia adalah telah memasukkan kedua wilayah tersebut kedalam peta nasionalnya pada tahun 1969.
Hal diatas hanya untuk menggambarkan betapa gigihnya Malaysia dalam merebut lahan yang belum tentu menjadi miliknya. 
Tentang persengketaan tiga pulau antara Singapura dan Malaysia yang hingga kini belum terselesaikan, dapat di prediksi bahwa sembilan puluh persen kejadian yang sama pun akan menimpa Singapura. Hal ini terlihat dari kegigihan Malaysia yang tidak bisa menerima sebuah keputusan dari International Court of Justice (ICJ), yang dikeluarkan pada tahun 2008. Keputusan ini diambil untuk menyelesaikan sengketa antara kedua negara tentang kepemilikan 3 buah pulau yang telah terjadi sejak tahun 1979.  Pada tahun 2008 ICJ memutuskan bahwa pulau Pedra Blanca diserahkan kepada Singapura. Namun, keputusan ini tidak diterima dengan lapang dada oleh negara Malaysia, sehingga terjadi sengketa antar masyarakat kedua negara tersebut.
Pada tahun 1976, Traktat Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara atau Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia -- TAC, telah dibentuk dalam KTT pertama ASEAN di pulau Bali. Traktat ini menyebutkan bahwa akan sebuah Dewan Tinggi ASEAN akan dibentuk untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi di antara sesama anggota ASEAN. Apa yang terjadi? Malaysia menolak dengan mengemukakan alasan bahwa Malaysia masih terlibat sengketa dengan Singapura untuk mengklain pulau Batu Puteh atau Pedra Blanca, sengketa kepemilikan Sabah dengan Filipina, serta sengketa kepulauan Spratley di Laut Cina Selatan dengan Brunei Darussalam, Filipina, Vietnam, Cina dan Taiwan.

Kita semua berharap mudah-mudahan dengan jalan menuju Asean Economic Community 2015, segala pertikaian dan persengketaan tentang batas negara akan teratasi. Semoga dengan adanya ASEAN Blogger, bisa mensosialisasikan pengertian akan keindahan kebersamaan, keadilan, saling menghargai dan menyadari dengan penuh pengertian akan batas-batas wilayah yang sebenar-benarnya menjadi milik mereka.

Kesuksesan AEC 2015 sangat menentukan kesuksesan setiap negara anggota ASEAN. The Future Is Ours. Asian Countries, We Are One..

Bravo ASEAN Blogger.!!


REFERENSI:
 http://id.wikipedia.org/wiki/Sengketa_Sipadan_dan_Ligitan

1 comment:

  1. Ea dalam kacamata kita Malaysia memang bisa dikatakan haus akan sesuatu. Bisa juga di kacamata mereka kita pun begitu. Sudah hal biasa ketika ada dua wilayah yang berbeda luas kekuasaannya saling rayahan (rebutan).

    ReplyDelete