Tuesday, October 08, 2013

MFF Promt#29 - 27 Maret

Ardi membolak-balik halaman buku yang dipegangnya. Ia datang lagi ke toko buku ini. Bukanlah tujuan Ardi untuk mencari buku, namun seraut wajah lembut yang hampir setiap hari berdiri di belakang mesin kasir itu yang telah menyita perhatian Ardi. Diakah itu? Begitu selalu pertanyaan yang bergayut di benak Ardi


Dua puluh tahun berlalu dalam pencarian. Waktu yang sekian lama pastilah mampu untuk mengubah penampilan seseorang. Apalagi hidup di kota metropolitan seperti Jakarta ini. Tapi Ardi tidak memiliki keberanian untuk menyapa wanita itu. Ataupun sekedar berbasa-basi dengan mengorbankan isi kocek untuk membeli sebuah buku. Itupun kesempatan yang tak mungkin bagi Ardi untuk bisa menyapa. Kesibukan wanita itu tersita untuk melayani para pembeli. 


Hari ini, tanggal 27 Maret. Ulang tahun wanita yang sedang menjadi incaran Ardi. Itu pun kalau-lah benar  seraut wajah, pemilik nama Sarah, yang selalu melekat dalam ingatan Ardi.. Ardi masih ragu. Tapi hari ini, apa pun yang terjadi, sudah bulat tekad Ardi untuk menyapa wanita berwajah mulus itu.  Sarah masih saja molek dan mengagumkan. Ardi menelan ludah. Diliriknya Sarah. Ardi menepi ke sebuah sudut. Paras Sarah terus dalam bidikan Ardi. 

Jam 12.00 ternyata ada pergantian tugas. Ardi kehilangan jejak. Mata Ardi berkeliaran. Sigap menyapu seluruh lantai.

"Kemana dia?" Begitu bisik hati Ardi. Ia menggigit bibir. Kesal. Telapak tangan kanannya mengepal. Ditinjunya telapak tangan kiri dengan kuat.

"Sial!" desah Ardi. "Kemana saja mataku tadi?"



"Kau-kah itu, Ardi?" tiba-tiba sebuah suara menyapa. Secepat kilat Ardi menoleh. Seraut wajah, Sarah, yang selama ini bergelayut dalam pikiran Ardi kini menatapnya. Wajah yang telah membuat hati Ardi porak poranda. Wajah yang telah menghianati cinta mereka. Tergagap, Ardi tak kuasa berkata-kata. Ardi hanya berdiri mematung.

"Yuk, kita ke kantin," ajak Sarah tanpa canggung sedikit pun.

"Aku sudah memperhatikan kehadiranmu sejak hari pertama kau berada di toko buku ini. Ketika sekilas aku melihatmu, aku yakin bahwa itu adalah kau, Ardi. Rencanaku matang untuk menemuimu hari ini, tanggal 27 Maret, hari ulang tahunku. Kau masih ingat?"

Ardi mengangguk, tanpa sepatah kata, kecuali gedebuk dan gemuruh jantungnya yang semakin menggelegak. Antara kebencian dan kerinduan yang sudah mengakar..


"Pernikahan itu tak pernah ada, Ardi. Aku tidak bisa melupakanmu.  Bisa kau bayangkan betapa marahnya ayah dan seluruh keluargaku. Aku tak peduli. Dan calon pengantin itu bersedia menikah dengan adikku, demi menjaga nama baik keluarga. Sejak itu aku mencari jejakmu. Kini aku sudah menemukanmu. Kita akan merajut kebersamaan kembali. Kau mau?" Sarah menggenggam tanganArdi dengan kuat, namun tangan yang semakin dingin itu semakin melemah. Wajah Sarah pucat. Peluh pun merata di seputar wajah Sarah.

Dengan cepat Ardi berpindah posisi. Ardi menggeser kursi, sehingga wajah yang terkulai itu kini berada dalam pelukan Ardi. Ardi meraba pergelangan tangan Sarah. Tak ada denyutan.

"Saraaaah...maafkan aku, racun itu terlalu cepat bereaksi." Ardi menciumi wajah Sarah penuh penyesalan.

"Aku telah memasukkan bubuk racun itu kedalam gelas minumanmu. Kau akan mati seketika tanpa merasakan sakit. Ternyata kau masih milikku." suara Ardi menggelegar.

"Maafkan aku, Sarah, akan kubawa kau ke kamar pengantin kita." Ardi  tiba-tiba tertawa.

Begitu cepat gangguan kejiwaan menyerang Ardi,  secepat racun yang mengalir dalam tubuh Sarah.





33 comments:

  1. wuaaaa, endingnya twisted, bun!
    dari sudut cerita, FF ini sukses dgn misinya: bikin kaget di ending. :D
    paling yg perlu bunda benahi penulisan -pun dan tanda baca elipsis (titik tiga) yg masih belum tepat. ;)
    itu aja masukan dariku. kalau ceritanya mah, asik...cuma ada plot yg "bolong" dikit pas di bagian mereka lagi di kantin, tau2 udah ada racun yg terminum oleh Sarah. Mungkin memang utk kepentingan membuat kaget di ending, tp bisa disiasati agar plotnya nggak bolong/jomplang, misalnya dengan menggambarkan Ardi yang duduk gelisah saat bicara dengan sarah... ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, itu gunanya kritik yang membangun. Makasih ya Mak Winda Krisnadefa, tapi akan lebih afdhol lagi nih kalau diketik ulang apa yang kurang tepat itu, Mak. Soal plot yang bolong, next time kalo ada cerita yang senada akan diperhatikan, Mak. Makasih komentar dan masukkannya.

      Delete
  2. Waduh...sad ending ya. Tapi itu yg bikin menarik..dari awal berbunga-bunga diakhir malah tragis.
    Salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih pujian Haya Nufus untuk FF diatas.

      Delete
  3. sedih bangettt, kirain mau balikan lagi ehhh taunya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belom jodoh, Nenti. Hehe, Nenti rajin juga ya baca tulisan bunda. Makasih banget.

      Delete
  4. Replies
    1. Ri-Uz Athamir, ember, Ardi kejam dan tidak sabaran tuh dia. Makasih ya sudah berkunjung ke blog bunda.

      Delete
  5. wiihhh keren bun, endingnya mengejutkan ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih pujian Irma Senja untuk Ff bunda. Makasih juga kunjungannya.

      Delete
  6. Apik mbak.
    Cinta bisa membuat bahagia tapi juga mampu mengkreasi nestapa
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seneng kalo udah dipuji Pakde. Makasih ya Pakde kunjungan ke blog bunda ini. Salam dari Ciputat.

      Delete
  7. Kaget aku Bun, endingnya begitu, gak nyangka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bangun-bangun makan nasi sama opor ayam, hehe..kan lagi kaget tuh Helda. Makasih ya kunjungan Helda ke blog bunda.

      Delete
  8. Replies
    1. Iya, Ardi sudah keburu dibakar api balas dendam. Makasih kunjungan Lidya ke blog bunda.,

      Delete
  9. Emmm..ajari bikin kayak gini dong bun....jarang-jarang d Magelang ada yang mau dan bisa menorehkan hal yang demikian di usia yang terbilang matang.
    Karena itulah takjub, salud dan ngiri dengan semua ini.
    Terus berkreasi bun...dan teruslah menginspirasi para emmak dan pemudi pemuda di seluruh dunia...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bunda juga lagi belajar tuh. Yuk, kita sama-sama belajar. Btw member MFF, gak? Kalo gak, ayo daftar jadi member MFF biar bisa menulis lebih baik. Makasih untuk semangatnya buat bunda dan terima kasih juga kalau dianggap bisa menginspirasi para emakS dan pemudi pemuda di seluruh dunia, hehehe... Makasih ya kunjungannya.

      Delete
  10. Setuju sama Mbak Winda. Ceritanya sudah asyik, tinggal plot hole yang adegan di kantin itu saja. Pasti menimbulkan kehebohan kan? Semangat Bunda Yati ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih komentar Evi Sri Rezeki untuk FF bunda diatas. Makasih juga untuk kunjungan Evi.

      Delete
  11. Replies
    1. Masa sih, serem? Makasih ya kunjungan vina devina ke blog bunda.

      Delete
  12. waduh tega banget tuh si Ardi. Sarah mengantarkan nyawanya sendiri dengan menemui Ardi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hanya Tuhan yang tahu kalau hari itu ajal Sarah akan berakhir. Makasih ya kunjungan lianny ke blog bunda.

      Delete
  13. Gak jadi CLBK dong, Bun? Kalap duluan, sih! Huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Embeeer, gak jadi, abis Ardi kalap duluan sih. Makasih ya kunjungan eksak ke blog bunda.

      Delete
  14. Replies
    1. Cihuuuy, makasih pujian Santi Dewi. Makasih juga kunjungan ke blog bunda.

      Delete
  15. duh, Ardinya sakit jiwa ternyata. Keren, Bun :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi, tapi sakit jiwanya sebagai hukuman tuh dari Allah bersamaan dengan hilangnya nyawa Sarah. Makasih Mak cantix kunjungannya ke blog bunda.

      Delete
  16. ng... bunda yati bisa bikin yang lebih bagus ah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaa..ada "ah"nya di belakang nih, berarti FF di atas gak bagus ya. Kan namanya juga masih jadi siswa MFF, hehe. Makasih kunjungan Mak Latree ke blog bunda.

      Delete
  17. Ih Bunda Yati jagoan bikin cerita. Ajariiiiin :)

    ReplyDelete