Friday, May 08, 2015

MFF#77 Andaikan

Source: MFF

"Maukah kau dengar sebuah kisah, tentang seorang perempuan yang kecantikannya begitu berbahaya hingga bisa mengacaukan seisi alam raya dan memorak-porandakan semesta?" Kenapa sikapku jadi konyol begini. Seharusnya aku ikut bersedih atas meninggalnya saudara kembarku. Tak sepantasnya aku bertanya seperti itu saat Santi sedang berduka.

 "Ada apa denganmu? Kemana pikiran warasmu? Menutupi kegugupanmu? rentetan tanya dari sisi baikku yang tak mampu kujawab.

Santi masih menekuri gundukan tanah merah itu seakan enggan untuk berdiri. Batu nisan itu seolah ingin terus ia belai. Namun aku berusaha membantunya bangun dan membimbingnya berjalan di sisiku.

"Kau harus ikhlas. Dia sudah berada di tempat yang tenang. Pun tiada rasa sakit lagi yang selalu menderanya," kataku.  Dengan malas ditolehkannya wajah. Memandangku. Hambar.




Aku tahu Santi tidak setuju ketika Andika dibawa ke rumah sakit. Santi ingin merawatnya sendiri.  Tapi itu berarti Santi telah merebut kebebasan Andika dari menghindarkan rasa sakit. Di Rumah Sakit, pasti  Andika akan mendapatkan perawatan dan pengobatan yang memuaskan. Di kelas VIP pula -- tidak sekedar merasakan belaian-belaian Santi yang sama sekali tidak mengurangi rasa sakit yang diderita Andika..

"Kau ikut ke rumahku, ya?" suara Santi yang parau karena menangis terus sejak berangkat dari rumah membuyarkan lamunanku. Dipandangnya wajahku.

Aku mengangguk.

Kami pun segera beranjak dari pemakaman. Mobil hitam perlahan meninggalkan area pekuburan. Santi membuka kaca mobil dan memberikan sejumlah uang 2000-an kepada anak-anak yang berkejaran sambil menadahkan tangan.


Kelengangan menerpa suasana di mobil. Aku pun tidak ingin mengganggu kediaman Santi yang masih terus menyusut airmatanya dengan scarf milik Andika. Bahunya masih juga berguncang turun naik menahan sedu-sedan tangisnya.




Hari ini selamatan seratus hari Andika meninggal. Santi masih tetap mengenakan gaun bernuansa hitam. Tahlil usai sudah dan rumah pun kembali sunyi. Sikap Santi terasa dingin.


"Bagaimana tentang kisah perempuan yang kecantikannya memorak-porandakan alam semesta itu?" tak kusangka Santi masih mengingat pertanyaanku setelah seratus hari berlalu.

"Kau pasti tahu kisah perempuan yang terkenal karena kecantikannya itu, kan? Cleopatra, Ratu Mesir yang tidak ikhlas akan kejatuhannya dan lebih memilih mati. Dunia percaya Cleopatra mati karena gigitan ular berbisa. Namun tercetus berita, Cleopatra menginginkan dirinya mati dalam keadaan tubuhnya utuh, Penelitian pun dilakukan. Ternyata Cleopatra mati karena minum ramuan dari akar pohon beracun.

"Ada hubungannya dengan kematian Andika?" Pertanyaan yang tak mampu kujawab.

"Aku iri pada Andika. Sekalipun kau tahu, andaikan Andika sembuh, sebagian tubuhnya akan cacat. Lumpuh. Katamu, bagaimana pun keadaan Andika kau akan tetap setia. Aku kecewa. Hatiku tersakiti."Aku genggam jemarinya.

"Belajarlah untuk mencintaiku."  Perlahan terucap juga kata-kata itu. Santi menarik tangannya, membuka tas, sepucuk surat berpindah ketanganku.


"Aku akan bermalam di rumah Ibu." Ucapan singkatnya masih terngiang di telingaku. Surat itu kubaca sekali lagi.


"Rendi, sebagai saudara kembar kau adalah belahan nyawa Andika. Apa pun yang telah kau lakukan, kau aku maafkan. Tapi untuk menjadi bagian dari hidupmu, segaris hitam tebal membentang. Bagaimana mungkin aku bisa bersanding dengan pembunuh kekasihku.  Dendam tak akan mengembalikan Andika. Jagalah Ibumu.  Aku terlanjur menyayanginya.  Aku akan merajut sebuah harapan baru. Tidak bersamamu. Santi"

"Racun itu memang mematikan, tapi dia sudah sekarat" gumam Rendi.  Senyum sinis membuat sebelah pipinya terangkat.


 Jumlah kata: 500



12 comments:

  1. Juara FF nya bunda, ajarin dong bun...pengen juga bisa nulis fiksi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe...Nova ini memuji apa memuja, haha...ato ngangkat tinggi-tinggi (kepuncak gunung), nyanyi donk...trus digabrukin deh. Becanda, Nov. Makasih udah melancong ke blog Bunda. Bunda masih nunggu nih komentar dari pakarnya FF, tapi koq blom-blom ya, itu lho Carolina Ratri dan Ajen Angelina. Mudah-mudahan dapat 'kripik pedes' biar Bunda bisa pinter bikin FF.

      Delete
  2. Oh my, oh my, saudara kembarnya dibunuh demi perempuan, wew!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, ederweiss, dibalik insting jahatnya si kembar juga ada unsur kasih sayang, karena lihat kembarannya sakit parah buangett... Makasih kunjungan edelweiss ke blog bunda. Tunggu ya, bunda mau beranjangsana ke rumah edelweiss dulu, hehe... Makasih udah mampir.

      Delete
  3. edelweiss, bunda nyasar tuh. Ternyata ada juga ya, yang seperti bunda, menelantarkan blog sampai tahunan, huhuhuu... yuk kita bangun lagi dan bebersih blognya. Udah keren koq ditinggalin sih. Bunda aja belum bisa bikin resensi buku atau bikin review dari novel. Bunda harus belajar juga sama edelweiss nih.

    ReplyDelete
  4. jatuh cinta pada wanita yg sama, membuat sang kembaran membunuhnya? sadis :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti respon bunda untuk edelweiss bahwa dibalik rencana pembunuhan si kembaran itu juga tidak sampai hati melihat kembarannya yang sakit puaraah banget, gitu. Terlalu sadis memang kalau hanya membaca yang tersurat, hehe... harus diresapi juga yang tersirat, quququuu... makasih kunjungan ke blog bunda.

      Delete
  5. Gak sadis juga sih, Santi Dewi, kalau membaca kisahnya si kembaran sudah sakit parah. Dan berbicara soal ajal kan d tangan Allah, itu hanys sebagai jalan saja. Bunda inginkan dalam kisah itu pembaca juga membaca yang tersirat, selain yang tersurat, hehe... Terima kasih kunjungan Santi Dewi ke blog Bunda.

    ReplyDelete
  6. Bunda... aku kok gak mudeng soal Cleopatra dan bunuh dirnya ya? tapi dapat sih inti ceritanya meski tersirat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Donna, maksudnya si Rendi itu pengennya sih agar Santi gak merasa kehilangan, kesepian atau ketakutan ditinggalkan oleh Andika, masih ada dia orang yang selama ini mencintainya, gituu...Cleopatra itu kan kecanikannya rruaarr biasa, tapi karena kesepian, ketakutan (kalah perang) dia mending milih mati tuh. Begitu, ceritanya. Makasih kunjungan donna.

      Delete
  7. bagus juga Bun, aku malah baru mau bikin FF yang ini. Belum dieksekusi sih, baru ada ide aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo diterusin nulisnya, Fatika Nur Cahyani. Bunda lagi nunggu komentar dari Pakar FF nih (Mbak Carra), tapi sepertinya Mak Carra gak mampir, hiks, hiks.. Makasih ya kunjungan Fatika ke blog bunda.

      Delete