Wednesday, May 13, 2015

Rakyat Pintar, Negara Kuat dan Makmur

Pendidikan - Sarana dan Usaha 

Pendidikan, di negara mana pun, khususnya di negara kita tercinta ini merupakan hal yang teramat penting dan yang harus diletakkan di atas segala-galanya. Majunya sebuah negara bisa dilihat langsung dari pendidikan bangsanya. Karena seperti kata pepatah yang mengatakan "Rakyat pintar Negara kuat dan Makmur."  Mari kita dengungkan "Bangkitlah Pendidikan di Negeriku Tercinta."




Namun pada kenyataannya, pendidikan yang kita rasakan dan kita alami di negara Indonesia tercinta ini adalah seperti sesuatu yang semu. Seolah dunia pendidikan itu hanyalah milik golongan tertentu. Golongan melalui lorong yang hanya bisa dilalui oleh mereka yang mampu -- mereka yang ekonominya berkecukupan -- lepas dari kemampuan dan daya tampung benak yang mereka miliki.  Namun tidaklah demikian bagi mereka yang hanya lahir dari keluarga yang ekonominya pas-pas-an. Jangankan untuk menyekolahkan anak-anaknya, untuk memperhatikan bunyi keroncong yang bergema di perut mereka saja merupakan hal yang harus mereka perjuangkan, dengan cara apa pun. Sekalipun anak-anak mereka banyak juga yang memiliki otak yang cerdas dan daya pikir yang cepat. Ketiadaan biaya dan kesulitan keuangan menyebabkan mereka tetap terpuruk. Kemana mereka harus berpaling?

No wonder apabila di mana-mana terdapat banyak anak-anak yang putus sekolah, bahkan anak-anak yang tidak mengenal apa yang disebut sebagai basic education. Mereka menjadi gelandangan, pengemis dan lain sebagai -- seolah naluri mereka sudah tidak lagi bekerja. Mereka seperti terlepas dari busurnya, melesat ke segala arah. Sangat memprihatinkan. Sebuah wadah untuk bisa dan mampu menangkap anak-anak panah yang melesat ini sebenarnya sangat bisa direalisasikan dengan bantuan pihak-pihak yang peduli pendidikan. Sangat care dengan kemajuan bangsa, yang terketuk hatinya dengan motto "Rakyat Pintar Negara Kuat. dan Makmur." Pihak yang mampu melirik dengan jeli adanya perbedaan yang menyolok dalam pendidikan yang dikecap oleh orang-orang perkotaan dibandingkan dengan mereka yang tinggal di pedesaan. Mereka yang tergelitik hati dan jiwanyauntuk tampil sebagai penggerak, demi memperbaiki ketimpangan yang ada dalam pendidikan.

Mereka yang tinggal di pedesaan dengan kemauan kuat dan tekad membaja yang memiliki keinginan untuk  mewujudkan cinta-citanya melalui bangku sekolah, terpaksa terbentur pada sarana dan fasilitas yang terlupakan (apakah dilupakan?) oleh Pemerintah Pusat dan/atau oleh pejabat wilayah yang berwenang -- tinggallah mereka menjalani pendidikan dalam keadaan yang sangat minim fasilitas. Hal ini sangat menyulitkan bagi mereka untuk bisa bangkit dan maju --  entah berapa lama lagi hal ini baru akan bisa diatasi.

Apabila semua pihak yang berwenang, terutama Kementerian Pendidikan dan Kebudaan beserta seluruh  jajarannya peduli dan sangat sensitif tentang hal ini, maka bukan hal yang mustahil  Judul postingan di atas Rakyat Pintar Negara Kuat dan Makmur akan terwujud dalam waktu sepuluh atau mungkin duapuluh tahun mendatang. Tidak akan ada lagi, paling tidak, secara bertahap daerah-daerah terpencil yang akan mengalami keterpurukan dalam pendidikan.


Berbicara tentang Hari Pendidikan Nasional, mungkin hanya bisa dimengerti oleh mereka yang pernah menduduki bangku sekolah, sedangkan bagi mereka yang tidak pernah mengenal bangku sekolah karena ketiadaan sarana, fasilitas dan kemampuan, akan tahukah mereka apa yang disebut Hari Pendidikan Nasional? Mengertikah mereka bahwa tanggal 2 Mei diabadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional? Sudah pasti semua itu lepas dari perhatiannya, bukan karena mereka tidak tahu, tapi karena mereka tidak diberitahu -- di mana pembelajaran tentang sejarah yang seharusnya mereka dapatkan dari bangku sekolah, sama sekali tidak mereka alami. Tidak ada celah bagi mereka untuk mengerti  bahwa tanggal 2 Mei adalah hari yang seharusnya mereka peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional
.
Mereka yang awam dengan pendidikan akan lanjut bertanya: Kenapa harus tanggal 2 Mei? Sebuah jawaban yang pasti bisa dijelaskan oleh mereka yang berpendidikan, mereka yang sudah "mengecap" bangku sekolah.  Pemilihan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional yang selalu dirayakan setiap tahun merupakan satu kehormatan yang diberikan kepada pahlawan pendidikan: Ki Hadjar Dewantoro. Beliau adalah Pendiri Perguruan Taman Siswa. Walaupun beliau seorang  keturunan bangsawan  (Priyayi), namun pada usia beliau ke-40 tahun telah begitu mantap memilih  nama Ki Hadjar Dewantoro agar bisa  lebih dekat dengan pribumi, kaum jelata, baik secara fisik maupun hatinya.

Ki Hadjar Dewantoro melalui lembaga pendidikan yang didirikannya -- Taman Siswa, memberikan kesempatan kepada kaum kebanyakan (rakyat jelata) untuk mengecap pendidikan yang dimiliki oleh para bangsawan.  Ki Hadjar Dewantoro yang lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat dikenal sebagai Bapak Pendidikan Bangsa Indonesia.  Beliau meninggal pada tanggal 28 April 1959 dalam usia 70 tahun.
Pada jaman era globalisasi ini, mampukah negara tercinta kita - Indonesia - menampilkan  sosok seperti Ki Hadjar Dewantoro, yang peduli akan pendidikan rakyat kecil. Yang menginginkan pendidikan bagi semua golongan masyarakat, baik yang mampu maupun yang tidak mampu.  Jujur, kalau boleh saya katakan, bukan lagi mengenai mampu atau tidak mampu, tetapi maukah pihak-pihak yang berwenang, golongan yang sangat erat kaitannya dengan sumber keuangan, baik secara pribadi maupun lembaga, yayasan atau pun golongan  membentuk sebuah wadah untuk mencetuskan ide Ki Hadjar Dewantoro di jaman terkini, di mana kita sudah mengalami kemajuan dalam teknologi? Mampukah? Tolehlah mereka yang membutuhkan pendidikan. Ulurkan tangan untuk menjadikan pendidikan sebagai milik mereka yang tidak mampu. Jadikan mereka orang-orang yang berguna bagi masyarakat dan bangsa.

Mari simak cuplikan pidato Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan dalam acara memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2015 yang antara lain menyerukan sebagai berikut:

"Wajah masa depan kita berada di ruang-ruang kelas. Akan tetapi, hal itu bukan berarti bahwa tanggung-jawab membentuk masa depan itu hanya berada di pundak pendidik dan tenaga kependidikan di institusi pendidikan. Secara konstitusional, mendidik adalah tanggung jawab negara namun secara moral mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Mengembangkan kualitas manusia Indonesia harus dikerjakan sebagai sebuah gerakan bersama. Semua harus ikut peduli, bahu membahu, saling sokong dan topang untuk memajukan kualitas manusia Indonesia lewat pendidikan."

Tercetus secara gamblang antara lain dalam isi pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bahwa pendidikan TIDAK BISA dipandang sebagai sebuah PROGRAM semata., tapi sebagai sebuah GERAKAN. Antara keduanya memiliki perbedaan:. Disebut gerakan --  seluruh elemen masyarakat harus dilibatkan, harus digerakkan. Saya ulangi lagi isi pidato beliau: semua harus ikut peduli, bahu membahu, saling sokong dan topang untuk memajukan kualitas manusia Indonesia lewat pendidikan. Kita mendorong pendidikan menjadi gerakan semesta, yaitu gerakan yang melibatkan seluruh elemen bangsa: masyarakat merasa memiliki, pemerintah memfasilitasi, dunia bisnis peduli, dan ormas/LSM mengorganisasir. Dengan cara ini, sooner or later kita akan bisa berseru dengan lantang: Bangkitlah Pendidikan di Negeriku Tercinta.  Sedangkan yang disebut program --  rasa memiliki atas kegiatan hanya terbatas pada para pelaksana program.

Andaikan isi pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bisa direalisasikan, alangkah bangganya Indonesia memiliki manusia-manusia yang berkualitas berkat kepedulian berbagai pihak pendukung yang akan mampu menjadikan Negara ini secara keseluruhan bangkit dari keterpurukan. Tidak ada lagi wilayah yang terisolir dari pendidikan. Setiap sudut kepulauan akan terditeksi, akan terpantau, akan dialiri oleh pendidikan yang memadai, berkat seluruh elemen yang bergerak. Akan terciptalah apa yang akhirnya dapat kita sebut "Rakyat Pintar, Negara Kuat dan Makmur."



Tentang Kurikulum 2013

Saya bukanlah seorang guru, namun sangat peduli akan pendidikan, khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Inggris. Harus kita akui bahasa Inggris merupakan bahasa, yang mau tidak mau, harus kita ajarkan sebaik-baiknya dan sedini mungkin. Pada jaman modern ini hampir 75%  iklan, baik iklan online, mau pun iklan offline, spanduk, bill-board (baleho), menggunakan kata-kata dalam bahasa Inggris. Bisa dikatakan bahwa produk yang diiklankan dengan bahasa Inggris, bisa dikategorikan sebagai produk istimewa atau produk unggulan.  Yang penting...keren...lah, lepas dari kategori kualitas, karena produk dalam negeri pun tanpa diiklankan, banyak sekali yang memiliki kualitas unggul.

Saya sangat terenyuh dan sedih membaca kurikulum 2013 yang akan menghapuskan mata pelajaran bahasa Inggris pada tingkat Sekolah Dasar. Saya tidak suka berpolitik dan saya tidak tahu apa-apa sejauh hal-hal yang menyangkut politik, Namun Pendidikan dalam bidang bahasa Inggris-lah yang memprihatinkan saya.

Saya mempunyai alasan yang kuat. Saya ingin sekali menjadi seorang guru dalam mata pelajaran ini. Selama kurun waktu lebih dua tahun saya mengajar secara sukarela dalam mata pelajaran khusus bahasa Inggris. Hal ini berawal dari lamaran demi lamaran saya yang ditolak untuk bisa mengajar di sebuah sekolah Umum, baik SD/SMP/SMA. Penolakan mereka karena alasan yang mutlak berlaku -- saya tidak memiliki S1 degree atau pun D3. Kemampuan mengajar saya dalam pelajaran bahasa Inggirs, sebenarnya bisa berkompetisi dengan mereka yang sudah memiliki S1 atau D3. Agar ilmu yang saya miliki tidak menguap begitu saja tanpa disebarkan, maka saya membagikannya secara sukarela kepada anak-anak dari keluarga yang ekonominya dibawah standar dan anak-anak yatim piatu.

Pada prakteknya saya menemukan sebuah kejanggalan, katakanlah keanehan: anak-anak didik saya yang sudah duduk di kelas 7, 8, 9, bahkan yang duduk di kelas 11, 12 tidak bisa "mengeja"  nama mereka dalam bahasa Inggris.  Lebih aneh lagi mereka tidak bisa menyebutkan alfabet dengan cara yang baik. Suatu hal yang bisa dilakukan oleh anak-anak TK. Hal ini kemungkinan besar bisa terjadi karena mereka hanya diharuskan belajar di sekolah berdasarkan LKS (Lembar Kerja Siswa).  Guru memeriksa hasil pekerjaan siswa, kemungkinan besar, siswa tidak diberi penjelasan kalau ada kesalahan yang mereka buat, apalagi yang berkaitan dengan pronunciation. Mereka pun tidak tahu apa perbedaan DO dan DID.  Memang ada baiknya diberi inisiatip kepada mereka untuk mencari sendiri, tetapi itu adalah suatu usaha yang tidak akan lebih canggih dari pada keterangan yang kita berikan.

Setelah saya gembleng dengan pengucapan (pronunciation) dalam 3 x tatap muka, alhamdulillah, sudah sangat menunjukkan kemajuan yang berarti.

Dari sini saya bisa mengambil pelajaran bahwa kemampuan seseorang mengajar tidak MUTLAK ditentukan oleh jenjang pendidikan yang tinggi. Tanpa gelar pun seseorang yang memiliki bakat mengajar dalam bidang tertentu, akan mampu melahirkan manusia-manusia yang cerdas dibidangnya, yang bisa menyandang predikat percaya diri yang penuh dalam pergaulan.

Semoga saja mata pelajaran bahasa Inggris dapat dipertahankan dalam Kurikulum 2013, sehingga nantinya semoga akan lahir generasi yang handal dan bisa dibanggakan untuk menopang lahirnya generasi Rakyat Pintar, Negara Kuat dan Makmur. Aamiin.



References:
http://profil.merdeka.com/indonesia/k/ki-hadjar-dewantoro
http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/berita/4152




10 comments:

  1. Bun..bun.., saya ngelamar ya jd murid kelas bahasa Inggrisnya #kedip2inmata ;)

    ReplyDelete
  2. Riana Umasita, kedip2mata terus nih, kelilipan kalleee... Hayu atuh, yang penting cocok waktu dan tempat, wakakaa... Makasih ya sudah menjadi pengunjung pertama.

    ReplyDelete
  3. Dulu saya pernah ikut seminar, dan dari hasil penelitian, ternyata kualitas personal guru seperti pengertian dan kepedulian sungguh sangat berguna saat mengajar. Artinya, pendidikan guru memang bukan utama, tapi bisa pula menunjang. Yang penting guru terus melecut diri untuk belajar dan belajar. Semoga menang, Bunda....

    ReplyDelete
  4. semoga pendidikan kita tambah maju

    ReplyDelete
  5. Pendidikan memang penting untuk menyiapkan generasi yang pintar dan menyintai negaranya.
    Semoga berjaya dalam lomba
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  6. Bangkitlah Pendidikan di Negeriku Tercinta :)
    semoga tambah berkualitas wajah pendidikan Indonesia

    ReplyDelete
  7. B.Inggris dimasukkan pd muatan lokal ya, Bund. Sayang banget memang. Tapi sdh kebijakan.

    Smg tahun depan masuk sbg mata pelajaan ya, Bund.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bahasa inggris emang pelajaran yg cukup penting..karena bahasa tersebut digunakan untuk internasional..
      namun jangan lupa juga untuk mempelajari bhsa indonesia :)

      Delete
  8. sayang sekali kalo harus dihapus ya, bunda. padahal b. inggris menurut saya itu penting diajarkan sejak dini. saat SD (di kampung) sangat minim pengajar yg bisa b. inggris akhirnya belajarnya ya sekedarnya, pas masuk SMP lihat temen2 uda pada jago itu minderrr banget, akhirnya harus belajar dengan tekun dan ikut les demi mengejar ilmu.

    ReplyDelete
  9. Bahasa Inggris itu penting ya, Bun. Aku lihat dari sisi aku sebagai blogger. Berasa banget waktu aku diundang ke Singapura tempo hari. Pihak di sana maunya bicara pakai bahasa Inggris terus. Gimana kalo blogger keluar negerinya yang lebih jauh lagi? Pasti bahasa Inggris lebih dibutuhkan. Kudu belajar bahasa Inggris kalo blogger mau "go international". Sukses buat Bunda. Jangan menyerah, Bun. :)

    ReplyDelete