Friday, July 31, 2015

Idul Fitri H-1436

Siang hari pada hari Raya Idul Fitri pertama, keluarga kecil  Bontot permata hatiku datang. Juga dua keponakanku (anak kakakku yang paling tua, almarhumah) beserta anak-anak mereka. Berselisih jalan dengan anak perempuanku yang tertua plus keluarga kecilnya. Walaupun demikian, keriuhan dan keceriaan makan bersama, saling sikut dalam antrian, qiqiqiii... tidak mengurangi syahdunya Lebaran. Sayangnya, tidak tertangkap kamera. Lho kenapa? Karena gak ada yang bawa kamera canggih sih.





Aku dan keluarga kecil anak bungsuku.
Anakku dan cucuku

Tetapi narsis mah harus dengan menggunakan kamera hape si bontot. Hari Raya tahun ini bagiku adalah Hari Raya Idul Fitri yang paling berkesan, karena aku merasa dimanja oleh si Bontot  -- tidak boleh capek-capek masak, semua masakan lebaran hanya order dari tetangga yang makanannya ternyata lezaaat banget.
Tatapan kasih sayang seorang anak untukku.

Tapi, ada tetapinya juga, beberapa hari sebelum lebaran, aku diculik oleh si Bontot untuk bermalam di rumahnya dan kerja rodi dengan kegembiraan yang maksimal bersama dua Mbak yang membantu kami membuat kastengels dan nastar. Kata "culik" dan "rodi" telah membuat kami semua tertawa berbahak-bahak di malam hening  --   #apakatatetanggaya? Tak ada batas-batas dan sekat yang menjadi dinding pembatas antara majikan dan dua orang Mbak dan aku sebagai Ibu Suri, hahaha... Kami lelah bersama, tertawa bersama dan mencicipi kue-kue yang hangus pun bareng. Aiiih...andai setiap hari seperti ini, alangkah akan selalu indahnya kebersamaan. Kita memang semua sama di mata Allah, semoga anak-anakku akan tetap seperti itu, tidak akan menarik garis pembatas antara Majikan dan para Mbak yang membantu di rumah. Yang penting mereka tidak kebablasan jadi "songong" dan "nyalutak" or "bedegul", hehe...#adayangtaugakartinya? Alhamdulillah, sejauh ini tak pernah ada sikap dan kelakuan Mbak-Mbak yang tidak berkenan di hati kami. Semua oke-oke aja tuh, because we treat them almost as part of our family. Mereka nyaman, kita juga senang.

Foto-foto di Hari Raya Idul Fitri H-1436, bersama keluarga kecil anak bungsuku, bersama adikku perempuan plus suaminya dan anak cucu adikku. Jangan bingung, ya?


Mira, si bungsu beserta tiga orang cucuku.

Keduanya cucuku -- tanpa kacamata cucu keponakan dan yang berkacamata cucu kandungku dari anak bungsuku.
Catatan: Panggilan "Bunda" menjadi abadi karena cucu keponakanku ini. Sampai sekarang yang mengenalku, memanggilku dengan sebutan Bunda. Asyiik, jadi awet muda, wkwkwk... #curcolnihye


Di hari pertama Lebaran ini, hayoo, main dulu-duluan deh, siapa mengunjung siapa. Sebaiknya kan yang muda mengunjungi yang lebih tua. Tapi sangat sukar mengatur pertemuan seperti itu, karena faktor praktis dan ekonomis juga harus jadi pertimbangan. Jadi gak masalah yang tua mengunjungi yang muda dan sekaligus berlebaran dengan keponakan dari anak-anak sang adik. Ya, katakanlah, ngirit waktu, hehehe...
Begitulah terjadinya, pada hari Lebaran pertama itu adikku tidak mengunjungi aku, tapi akulah yang mengunjunginya, sekalian dalam perjalanan ke makan anakku lelaki, kemudian baru mengatur pertemuan demi pertemuan dengan semua saudara yang belum saling berkunjung.

Aku dan Mira dengan Kel. adikku.

Aku, adikku (s.i.) anak dan cucunya.

Beristirahatlah dengan tenang, anakku. Suatu saat kita akan berjumpa. Aamiin.


8 comments:

  1. senangnya yg bisa kumpul ama keluarga :)

    ReplyDelete
  2. Iya, Dwi, walaupun setahun sekali, tapi suasana itu lho yang bikin mengharu biru. Makasih kunjungan Dwi ke blog Bunda.

    ReplyDelete
  3. Enggak bingung bundaaa, aku juga keluarga besar sih, hihiii

    Kelihatan banget aura bahagia yang terpancar dlm silaturahmi ini :)

    ReplyDelete
  4. bunda.. mohon maaf lahir batin yaaa.. doa saya semoga bunda dan keluarga sellau dilimpahi kebahagiaan luar biasa, sehat selalu ya bundaa :))

    ReplyDelete
  5. saat kumpul bersama keluarga happy ya bun,walau ada sedih juga terhadap yang sudah tidak ada

    ReplyDelete
  6. Keluarga besar ya, Bund.
    Maaf lahir batin, ya. ;)

    ReplyDelete