Tuesday, July 28, 2015

Memberi Rasa Nyaman Pada Anak


Percayakah Anda bahwa kalau kita membuat jadwal dengan teliti, tidak akan ada satu pun tugas harian kita yang terbengkalai? Begitu juga dengan jadwal yang harus kita buat untuk kebersamaan dengan si buah hati. Bagi para Ibu yang memang menjadi pure ibu rumahtangga, hal membuat jadwal untuk permata hati ini tidak akan sulit -- memberi rasa nyaman pada anak seperti menjentikkan jemari saja  -- just a piece of cake -- Tetapi bagaimana bagi para Ibu yang memiliki tugas ganda? Disamping sebagai ibu rumahtangga, juga harus membantu junjungannya (para suami) untuk tetap bekerja sebagai pegawai kantoran. Nah, bagi mereka yang memiliki tugas ganda ini, tidak jarang para ibu kehilangan kontrol diri ketika menghadapi buah hatinya. Banyak sekali alasan, badan lelah, masih banyak tugas rumahtangga yang menunggu untuk ditangani. Mereka terlalu mengharapkan anak-anak untuk mandiri. Rengekan manja mereka seperti tidak terdengar, meresap ke dalam rasa lelah, penat dan lain sebagainya.


Keadaan seperti ini, mustahil bisa memberi rasa nyaman dan aman pada anak walaupun ibu dan ayah ada bersama mereka. Kenikmatan bersenda bersama Ibu atau Ayah tercinta seolah tidak lagi menjadi prioritas, baik bagi anak ataupun orangtua.  Apalagi dengan adanya gadget, tenggelamlah mereka dengan kesibukan masing-masing. Ayah, Ibu, permata hati pun ikut sibuk dan memasuki sebuah nuansa generasi yang sering dipelesetkan sebagai "generasi menunduk." Tidak ada lagi komunikasi yang hangat. Mereka berdekatan, duduk dalam satu ruangan, namun seolah mereka sedang berada di tempat-tempat yang sangat jauh. Tidak saling sapa, tak ada lagi senda gurau mesra. Dan ini hampir berlaku setiap hari. Tiada hari tanpa gadget.
Sumber Gb.: ihei.wordpress.com
Aku, anakku, cucuku, juga memiliki kesamaan yang mirip seperti yang aku sebutkan di atas. Tidak bisa kami pungkiri lagi, memang gadget telah menyita waktu-waktu kami untuk selalu sibuk (atau menyibukkan diri?), hehe... Mungkin juga sebagian besar keluarga lain juga mengalami hal yang sama dengan keluargaku. Tapi pada saat-saat lepas dari gadget, kehangatan tetap terjalin, karena kami menyiasatinya dengan meluangkan waktu untuk permata hati (bagi anakku) dengan bermain (berguling-guling di tempat tidur) atau cerita di tempat tidur sebelum waktunya 'bobok' dan untuk sang Bunda (nenek) sepanjang siang ketika cucuku libur sekolah menyempatkan waktu untuk duduk ikut melihatnya bermain PS-4 Waktu yang tidak terlalu lama telah menjalin eratnya tautan hati kami, karena secara rutin lakukan sehingga tak terasa telah terbangun keeratan batin kami.

Anakku yang harus berangkat pagi sekali (05.30) ke kantor untuk menghindari kemacetan dan pulang setelah waktu Isha, sangat sedikit sekali mempunyai waktu bersama sang buah hati. Tapi seperti juga sang Bunda, anakku pandai menyisihkan waktunya untuk bermain dengan anak semata wayangnya. Ketika mereka bermain "Pok Ame-Ame" gelak tawa mereka berderai, mampu menyimpulkan senyum di bibirku. Bahagia rasanya. Berarti bukan kualitas waktu yang harus kita pikirkan, tapi kualitas waktu yang akan mempererat hubungan batin. 

Tapi, jangan salah, setiap hari libur kantor (Sabtu/Minggu) dua hari itu adalah milik sang buah hati. 

Yuk, bagi mereka yang belum menghayati bahwa quality is more important than quantity, silakan dipraktekkan dan rasakan sensasi eratnya ikatan batin yang terjalin. Hindari sebutan Keluarga Gadget, hehe... Aamiin.


12 comments:

  1. Noofa suka protes kalo aku megang gadget bunda.. Makanya aku jam segini kerap melek biar ga ganggu waktu bersama dia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, memang begitu sebaiknya, jadi Noofa gak kehilangan moment yang diinginkan dan dibutuhkan. Makasih, Noorma udah berkunjung.

      Delete
  2. Iya anak-anak suka kesel kalo saya pegang2 gadget pas nemenin dia. Tapi kalo bapak ibuku jarang pegang gadget bunda, kalo ngga bunyi pas ada SMS atau telepon ya digeletakin aja di meja hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe..emang ortu lain-lain ya, kalo bunda gadget tuh dibawa bobok, ditarok di bawah bantal. Makasih ya udah berkunjung.

      Delete
  3. enaknya ya yg punya anak..jdi pengen segera lahir ih anak..akan aku berikan rasa sayang pada dia..makasih bunda tipsnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, Bunda ikut mendo'akan, ya. Memberikan rasa sayang banyak lho caranya, salah-salah terlalu sayang malah salah kaprah, haha... Makasih kunjungan Dwi ke blog Bunda.

      Delete
  4. gak fokus jadinya sama anak ya bun kalau pegang gadget terus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lidya, kalo bunda lagi fokus, trus suatu kali pasti dibales tuh sama cucu, dia juga gitu, kita dicuekin, hehe... Makasih sudah mampir.

      Delete
  5. makanya bund gadget harus diamankan..agar tidak kebablasan untuk main, intinya buat just important thing ;) okay

    ReplyDelete
  6. Marwah juga suka marah kalau saya dan ayahnya kerap asik dengan gadget kami, kasian. Hiks

    ReplyDelete
  7. Kalo pegang gadget jadi nyuekin yang di dekatnya ya, bun. Hehe

    ReplyDelete