Thursday, August 13, 2015

Ikhlas versus Hutang

Sumber Gb. moneter.co
Hari ini aku sangat dibuat terkejut oleh sikap seseorang yang benar-benar di luar dugaanku. Aku mendatangi rumahnya (setelah membuat janji) dengan maksud baik, tanpa ada seujung rambut pun terselip niat yang menyimpang, selain dari ingin membantunya. Tapi apa yang terjadi? Setelah beberapa saat kami berbincang dan aku dengan perlahan dan sopan sekali secara kekeluargaan mengajukan sebuah usul, tiba-tiba saja nada suaranya melengking. Astagfirullah! Setan mana yang datang menyapanya? Aku terperengah donk, kaget bukan alang kepalang.



"Apa? Memang menurut bunda aku ini orang yang tidak mampu? Koq mengajukan usul seperti itu? Aku masih mampu koq membayar hutang itu. Gak perlu, gak usah punya usul seperti itu. Tunggu aja! Nanti juga aku bayar!" tukasnya bengan sedikit ber-api-api.

Tahukah para blogger, kenapa aku membuat postingan ini? Berkat membaca The Miracle of Writing yang antara lain ada beberapa baris yang mengatakan bahwa menulis itu gampang. Selama kita jujur dengan apa yang ditulis, maka tulisan itu akan berderet-deret tanpa kita sadari akan memenuhi halaman yang kosong. Kenapa? Karena kerja hati dan otak sinkron, sehingga jemari yang bergerak bisa begitu cepat tanpa terkendali.

Di sini aku tidak akan membuka aib seseorang. Aku tidak akan menyebut namanya. Tapi masalah yang kami hadapi, yang sudah berjalan sejak tahun 2009 ingin sekali aku selesaikan baik-baik. Aku pernah mendengar dalam sebuah ceramah agama bahwa dalam hutang pihutang itu harus jelas permasalahannya. Harus ada hitam atas putih, harus ada janji yang harus ditepati dan harus ada saling percaya. Tapi kalau bergulirnya waktu sudah begitu lama, tentunya aku pun harus membuat satu langkah untuk kebaikan kami berdua.

Sumber Gbr. madiunpos.com

Kedatanganku hari itu adalah untuk membebaskannya dari hutang yang harus dibayarnya. Kenapa? Karena hutang itu sudah terlalu lama. Aku hanya diberinya janji, janji, dan janji melulu. Tahun berganti tahun aku telah lewati dengan melupakan urusan tersebut, tapi belum berarti aku mengikhlaskannya. Ikhlas itu harus diucapkan, tidak bisa dan tidak boleh hanya dalam hati. Ikhlas dalam hati hanya Allah yang tahu, tapi yang bersangkutan tidak akan tahu dan tetap akan menjadi beban mental baginya sepanjang dia tidak melunasi hutangnya. Bukankah, begitu?


Aku datang dengan maksud untuk membebaskannya dari hutang-hutangnya kepadaku. Tidak baik kalau aku biarkan saja, sedangkan aku sudah berulang kali mengingatkannya. Tapi tetap saja dia tidak peduli dan menganggap remeh peringatanku. Jumlah yang lumayan. Bagiku. Dengan usiaku yang semakin bertambah, aku pun tidak tahu sampai kapan aku akan diizinkan menghirup udara segar milikNya ini. Aku datang untuk membebaskannya dari hutang. Aku ikhlaskan. Walaupun dia tidak bisa menerimanya, mungkin karena gengsi atau apalah, namun hatiku sudah mantab untuk mengikhlaskan dan menganggap tidak ada lagi urusan hutang-pihutang dengan dia. Dia mendengar ucapanku. Itu sudah cukup.

Yang akan aku jaga hanya pertemanan saja. Itupun andai dia masih ingin merajut pertemanan denganku.  Keputusan ada di tangannya. Bagiku, hutangnya sudah lunas. Keikhlasanku sudah terucap di hadapannya. Hatiku pun lega. Semoga Allah mendengar keikhlasanku sehinga tidak memberatkan dia dengan kekerasan hatinya karena gengsi menanggung beban mental yang, pastinya, akan mengganggu tidur nyenyaknya.

12 comments:

  1. Replies
    1. Alhamdulillah, Hasan, bunda baik karena gak mau menderita sakit karena mikirin janji-janji kosong. Kan mending dilepasin aja tuh. Ikhlas. Mudah2an dia sadar dan tidak gengsi untuk tetap menjalin persahabatn. Aamiin. Terima kasih kunjungan Hasan ke blog bunda.

      Delete
  2. emang kadang jengkel sih ama yg mau bayar hutang tapi janji2 terus ya bund..tapi bunda yati berhati mulia beneran deh...semoga ada balasan yg sangat besar dari Allah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah Dwi, ada hadiah dari Allah buat bunda atas keikhlasan yang tidak di buat-buat ini. Aamiin. Makasih kunjungan Dwi ke blog bunda.

      Delete
  3. Dari apa yang ditulis semoga bermanfaat bagi blogwalker yg mampir ya bund.
    Jadi itinya hutang harus dibayar. Kalau takut membayarnya/gak kuat mending jangan hutang. Atau kalau sudah gak kuat bayarnya bilang aja sama yg memberi hutang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yups, betul sekali, lebih baik ngomong terus terang, apalagi ini kan sahabat, daripada diberi janji-janji kosong mulu, hiks... Makasih ya Anjar sudah berkunjung ke blog bunda.

      Delete
  4. Ilmu sabar itu memang mahal ya bun harganya. Maksud kita apa eh dianya nangkepnya apa :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah-mudahan setelah bunda tinggalkan, dia berpikir positip tentang ucapan bunda. Aamiin. Dan persahabatan yang telah lama terjalin tidak terputus karena gengsinya dia. Makasih sudah berkunjung ke blog bunda.

      Delete
  5. Ya Allah, dari 2009, tahan banget orang itu ngga bayar2 ya bunda, semoga dibukakan rejeki dan pintu hatinya untuk segera melunasi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dewi Rieka, dia sudah mendengar kata-kata bunda, apalagi Allah, jadi ikhlas hutang sudah lunas. Mohon do;anya agar pertemanan kami bisa ditautkan kembali. Aamiin.

      Delete
  6. Bundaaaa, harus belajar dari bunda supaya ikhlas nih, memang ya bunda tidak semua orang paham dengan maksud baik kita, insyaa Allah niat baik bunda sudah tersampaikan, sehat terus bunda

    ReplyDelete
  7. Aamiin, Evrina, insya Allah bunda masih bisa memelihara persahabatan dengan dia. Sayang kan persahabatan yang sudah lama terjalin putus hanya karena gengsi doank, seharusnya dia memeluk bunda tanda rasa terima kasih. Iya, kan. Makasih kunjungan Evri ke blog bunda.

    ReplyDelete