Saturday, August 08, 2015

Obor Itu Harus Tetap Menyala

 Kakekku merupakan obor bagiku untuk memperkenalkan siapa-siapa saja keluarga dari pihak ibuku. Tapi sejak kakekku meninggal, ketika itu aku masih belum mapan sehingga tidak bisa menjelajahi satu persatu saudara-saudara dari pihak ibu yang disebutkan oleh kakekku. Katakanlah Obor itu telah padam sepeninggal kakekku yang meninggal ketika aku masih menjadi seorang Ibu Muda berusia 30an. Hal ini aku usahakan semaksimal mungkin untuk tidak terjadi pada anak-anakku, keponakan-keponakanku. Hubungan silaturakhim harus tetap diupayakan terjaga dengan baik. Dari keluarga ayahku, alhamdulillah, walaupun jarang mengadakan pertemuan, silsilah keluarga tersimpan untuk selalu di update.


Bagaimana kita mengusahakan agar obor dalam keluarga, apalagi keluarga besar tidak padam? Ya, tentu saja Obor Itu Harus Tetap Menyala.  Pengertian Obor --  jangan sampai karena kesibukan yang tak kunjung habis, memelihara keeratan keluarga menjadi terabaikan. Sebetulnya mudah saja untuk tetap memelihara keutuhan keluarga. Yang penting sekali dalam tiga bulan, adakan pertemuan keluarga kecil dulu, kemudian berkembang menjadi dua keluarga kecil,  Bahkan sekaligus pertemuan keluarga besar bila memungkinkan.
Aku bersama keluarga kecil adikku

Salah satu cara untuk tetap menjaga Obor agar tetap bercahaya, pada akhir masa liburan aku sempatkan ikut mengantar salah seorang cucu keponakan kembali ke Pesantren. Sengaja aku mengajak cucuku, Ayman. Pada awalnya mereka memang seperti sangat asing satu sama lain, karena jarangnya ketemu, tapi berkat lamanya perjalanan menuju Pesantren di wilayah Depok, kedekatan semakin terlihat. Aku bahagia melihatnya. Mereka begitu akrab dan ceria.(foto keakraban mereka tersimpan di handphoneku yang hilang, hiks, hiks...)

Aku memiliki anak-anak yang masing-masing telah berkeluarga dan memiliki anak. Kemudian adik-adikku juga demikian. Karena kesibukan yang tak terelakkan dan karena sarana transportasi terkadang tidak bisa diandalkan, jadilah pertemuan demi pertemuan tertunda, tertunda, dan tertunda lagi. Kecuali setahun sekali, barulah sebuah kewajiban bisa dituntaskan, yaitu ketika datang bulan yang fitri, Ramadhan.
Menuju Pesantren mampir ke Mesjid Kubah Emas
Jarangnya pertemuan antar sesama cucu, baik dari anak-anakku maupun dari para keponakan, menjadikan mereka menjadi canggung ketika bertemu. Tapi bila para orang-tua mengupayakan satu cara dimana anak-anak, katakanlah cucu-cucuku bisa saling berkomunikasi dan menjadi akrab satu sama lain, tentu saja , kalau bisa, sesering mungkin, mempertemukan mereka dalam satu bentuk acara keluarga. Obor Itu Harus Tetap Menyala. Tanpa Obor mereka tidak akan tahu siapa anak siapa dan bagaimana hubungan kekeluargaan antar mereka. Iya, kan? Jadi penting untuk melekatkan dalam hati bahwa Obor itu harus tetap menyala.
Kebersamaan - Sumber Gb.: livesscience.com
Semua bisa dimulai dari para orangtua. Orangtua yang solid antar kakak-beradik akan menjadi panutan bagi anak/cucu keponakan. Obor akan menerangi dan mempererat ikatan antar saudara. Usahakan semaksimal mungkin mengadakan pertemuan dan memperkenalkan anak-anak/cucu-cucu kepada saudara-saudara mereka selagi masih ada orang-tua. Hilangkan rasa enggan untuk saling mengenal sesama saudara, walaupun jauh. Di jaman globalisasi seperti sekarang, komunikasi itu sangatlah mudah untuk dilaksanakan. Banyak sarana yang mendukung, andaikan phisical visit tidak memungkinkan -- bisa melalui online, handphone, chatting di LINE, melalui email dan lain sebagainya. Yang penting niat untuk tetap menjaga kesinambungan sebuah hubungan kekeluargaan selalu dilekatkan dalam pikiran sepekat mungkin. Semoga anak/cucu/para menantuku akan menjalin keakraban antar mereka. Aamiin, Ya, Rabb.




7 comments:

  1. benar bunda, keluarga adalah segalanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah-mudahan pemikiran Desi juga menguasai pikiran keluarga bunda yang lain. Aamiin. Makasih kunjungan Desi ke blog bunda.

      Delete
  2. semua kembali bagaimana orang tua membiasakan anak untuk saling mengenal keluarga besarnya. bahkan kadang ada juga lho bun yang sengaja nggak mau kumpul sama keluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, Chela, orangtua menjadi panutan, tapi pergaulan kadang mengalahkan segalanya. Percaya, kan? Dan betul juga ada juga yang menghindar untuk kumpul, apalagi kalau kita standard ekonominya jauh dibawah mereka. Semoga yang ini disadarkan secepatnya. Aamiin. Chela, makasih kunjungan.

      Delete
  3. My family, my priority! Betul bunda, orang tua memberi contoh dan anak-anak akan mengikuti .. Bahagia dan kumpul terus yaaa bundaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah akan seperti yang bunda inginkan dan akan menjadi kenyataan kedepannya untuk seluruh keturunan dari ayah dan ibu Bunda. Aamiin. Terima kasih kunjungan indah ke blog Bunda. Salam dari Indonesia untuk keluarga yang bahagia ini, ya.

      Delete