Tuesday, November 24, 2015

Jangan Putus Asa

Sumber Gb. ngobas.com
Terkadang sudah duduk di depan laptop, bingung mau menuangkan apa ke halaman yang masih kosong ini. Walaupun banyak yang bilang ide itu pating sliwer, tapi tetap saja aku masih terus termenung memandang kosong layar monitor tanpa bisa menjentikkan jemari dengan lancar. Putus asa? Oops, no way! Jangan Putus Asa.

Otak ini bergerak cepat dan memberiku sinyal -- sepertinya lebih baik aku bercerita tentang perjalananku menuju tempat acara pada hari Rabu, tanggal 18 Nopember 2015 aja kali ya. Tempat acara yang harus aku jelang adalah sebuah stasiun kereta api bernama Stasiun Juanda, di mana sudah ditetapkan sebagai "meeting point" untuk kemudian ber-sama-sama kolega yang lain menuju tempat acara.


Aku pernah baca, somewhere -- tulisan yang jujur membuat kerja sama otak dan jemari akan  saling mendukung. Otak mencetuskan ide, jemari melahirkan ide itu ke dalam tulisan. Keduanya bekerja-sama dengan penuh antusias, hehe... jangan putus asa! Kolaborasi keduanya bertambah mantap. Postingan ini harus selesai sampai akhir. Gali potensi diri, tuangkan ide yang dimiliki. Jangan menyerah sebelum mencoba. Lanjuuut...sebelum ide menghilang.
  -------------
Ketika aku berusia 12 tahun aku pernah menetap beberapa tahun di wilayah Sawah Besar, jadi lokasi Stasiun Juanda ini aku sangat paham letaknya, yaitu sebelum Pintu Air, Pasar Baru, tapi karena sudah lama sekali aku tidak pernah ke arah jalan itu, aku putuskan untuk naik Ojek saja. Kekhawatiran yang lebih besar tentu saja takut kedatanganku di tempat tidak on time. 
Sumber Gb. tamvandanberani.blogspot.com

Acara yang akan kami kunjungi adalah Kantor Pos, Pasar Baru dan Kantor Pusat Bea Cukai, Rawamangun. Bayangkan, andaikan aku sampai terlambat. Akan tambah pusing kan mencari lokasinya.  Disamping belum pernah ke wilayah itu, juga jauhnya minta ampun. Walau pun, misalnya aku ceklat-ceklek menggunakan Samsung Galaxi Tab-ku survey Map, tetap saja kesulitan mencari lokasinya dan akan memicu pusing kepalaku yang sudah puluhan tahun tidak pernah menyapa. Alhamdulillah, Allah memberiku kesehatan prima. Aamiin.


Sebetulnya aku tidak diizinkan oleh anakku menggunakan kendaraan umum. Harus naik taksi. Soal taxi-fare? Gak masalah, katanya. Yang penting, Mama aman dan tenang dalam perjalanan. Gak perlu turun naik beberapa kali pindah kendaraan. Janji, ya Ma? Ya, Mama janji, hehe...itu janji yang aku berikan kepada sang permata hati. Tapi memikirkan akan banyak acara yang tertera dalam jadwal, perhitungan keuangan pun harus direka ulang, kan? (hehe...bukan reka ulang tentang satu kejadian, tapi reka ulang tentang situasi yang menyangkut isi dompet...).

Gb. dari: sumberobserver.com
Untuk mengejar waktu jam 07.30 sampai di Stasiun Juanda, maka aku gunakan jasa angkutan Ojek dari dekat tempat tinggalku, Pamulang 2, Tangerang Selatan. Kemudian berpindah naik angkutan umum Kopaja 102. Lho? Koq berani-beraninya aku melangkah naik tangga kendaraan 3/4 yang bernama Kopaja itu. Tentu saja karena aku sudah hapal betul arah jalur yang akan dilewati Kopaja 102 ini. Pikirku dari terminal akhir 102 (Tanah Abang) sudah lebih dekat ke wilayah Pasar Baru. Naik mobil 102 aku hanya bisa berdo'a kepada Allah Swt semoga gak kebut-kebutan seperti kebiasaan mobil tipe ini. Di dalam mobil aku banyak berdzikir. Semoga aku selamat sampai di Tanah Abang. Aamiin


Dari Tanah Abang aku naik ojek lagi.

Setelah yakin Ojecker itu tahu yang namanya Stasiun Juanda, aku pun nangkring dengan tenang di jok belakang. Tapi? Alamaa...kenapa ojek ini mengarah ke Sawah Besar? Belok ke arah Jalan Pecenongan Raya  dan di Perempatan ujung jalan belok pula ke kanan.

"Loh, Bang, koq ke sini sih?" Si Ojecker membisu

"Bang, koq ke arah sini. Ini kan ke Krekot!" kataku mulai khawatir. Si Ojecker tetap diam seribu basa.

Akhirnya aku "towel" dengan kasar pundaknya. "Bang, ini mau ke mana?"

"Ibu mau ke Stasiun Juanda, kan? Tenang aja, Bu. Saya tau koq!" Jawabnya singkat.

Begitu sampai di Stasiun yang katanya St.Juanda cepat aku bayar ongkos ojeknya. Udah dag-dig-dug soalnya takut ketinggalan jemputan. Si Ojecker pun kabur dengan cepat.

Kurang asem! Ternyata memang benar dia gak tau di mana St. Juanda. Pastinya dia memperdaya aku demi ongkos 25 ribu mengantarkanku ke St.Juanda, hehe....  Semoga berkah uangya, Bang. Aamiin..

Aku clingak-clinguk mencari wajah ramah tempat bertanya. Benar saja, Ojecker men-drop aku di stasiun yang salah. Ini bukan St.Juanda, tapi St.Sawah Besar. Alamaa...kedua kalinya nih.  Tanpa  buang waktu aku cari ojek untuk mencapai St. Juanda.

"Stasiun Juanda, Mang! Tancap gas, ya!" kataku panik. Tanpa menanyakan ongkosnya berapa.

"Cepetan, Mang, ke Stasiun Juanda. Tahu, kan?" tanyaku begitu yakin.

"Ngebut, ya?" perintahku setengah panik. Waktu sudah hampir jam 07.30.

Singkat cerita, sampailah aku di stasiun yang benar bernama Stasiun Juanda. Letaknya seperti yang ada dalam benakku, berseberangan dengan Masjid Istiqlal. Mataku menyapu keliling mencari teman blogger yang aku kenal. Tidak ada.

Aku yakin belum ditinggal mobil jemputan Bea dan Cukai. Jam menunjukkan pukul 07.17. Wah, masih ada waktu buat sarapan bubur ayam. Tanpa pikir panjang, aku langsung duduk di bangku kayu yang panjang dekat gerobak bubur. Dengan kode jari telunjuk si Mamang tukang bubur tahu kalau aku pesan bubur, satu porsi, hehe...

Setelah selesai sarapan dan nyerusup teh botol dingin, kembali  mata ini berselancar di udara mencari teman-teman blogger. Tidak berhasil. Aku telpon ketiga nomor handphone blogger yang aku catat, tidak ada jawaban: "Telpon yang anda tuju berada di luar jangkauan.."

Alhamdulillah...sambil menarik napas lega karena nomor handphone terakhir sukses aku hubungi dan senang aku temukan tempat mereka berkumpul. Bergabunglah aku dengan para blogger menunggu jemputan...yang akan membawa kami ke Mall Cempaka Mas, Tanjung Priok menjemput rekan yang menunggu di sana, kemudian baru menuju Kantor Pos Besar, Bea Cukai Pasar Baru. Terakhir ke Kantor Bea Cukai Pusat, Rawamangun, Jakarta Timur.

Yeeeaaayyy...akhirnya aku berhasil mengentaskan prinsip: Jangan Putus Asa -- jadilah postingan ini.
 

31 comments:

  1. Waaaaw bunda nih luaaaarrrr biasa! Baiklah, aku tidak akan putus asa !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe...makasih buat Waaaw-nya Tanti. Tidak seharusnya putus asa ada dalam dada. Makasih juga kunjungan Tanti ke blog bunda.

      Delete
  2. Bunda yati luarrr biasaa.. Setuju bunda, jangan mudah putus asa ya... Salam kenal dari jogja...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal diterima dengan hati yang gembira. Bertambahnya teman bertambah pula rejeki. Makasih kunjungan Ima ke blog bunda.

      Delete
  3. wehehehehe gigih juga, udah salah stasiun masih usaha... keyeeeen

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya donk keyeeen, kan tujuannya belum tercapai, kudu atuh gigih. Makasih kunjungan puputs ke blog bunda.

      Delete
  4. Bunda, aku mentok nulis gara2 sakit gigi. Huhuhu... rasa sakitnya membuatku menyerah.
    Salam kenal bunda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, ampuun, Erin, sakit gigi itu kata Meggi Z lebih sakit dari sakit hati, hehe... Sakitnya karena apa? Gigi bolong? Gigi goyang? Ayo cepat ditangani, untuk mengurangi sakitnya, minum aja tablet "cataflam 50 mg". Salam kenal balik dari bunda. Makasih kunjungan Erin ke blog bunda.

      Delete
    2. bolong bunda.
      Insyallah mau ke dokter.
      Makasih bun,untuk referensi obatnya.

      Delete
  5. Aku ngga akan putus asa ko bun, selama ada Allah... ^__^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, memang seharusnya begitu. Makasih kunjungan Husna ke blog bunda.

      Delete
  6. Duuh.. geregetan sm si tukang ojek yg pertama
    ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dududuuu...jangan... tukang ojeknya dah "gaek" kayak bunda, hehe... Makasih kunjungan rita dewi ke blog bunda.

      Delete
  7. Nyebelin banget tukang ojeknya =)) Aku kalau jadi Bunda udah marah-marah =))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untung Una gak jadi bunda..wkwkwk... Makasih kunjungan Una ke blog bunda.

      Delete
  8. waah... ternyata tukang ojek juga bisa menipu gitu ya Bunda... Gimana kalo kita memang tdk tau sama sekali terus ditipu tukang ojek ya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan menipu sih, tapi mencari kesempatan dalam kesempitan. Mungkin "pendaringan" di rumahnya kosong melompong, bingung anak isterinya mau makan apa. Semoga 25ribu dari bunda berkah. Aamiin Makasih kunjungan Santi ke blog bunda.

      Delete
  9. Replies
    1. Aduuuh..jangan kasian, nti dia gak bisa narik lagi donk, hehe... Makasih kunjungan momogrosir ke blog bunda.

      Delete
  10. Perempuan lebih gampang untuk menulis karena kegiatannya seabrek dari pagi sampai malam, kalau kali-laki apalagi seperti saya agak kurang ide dan waktu. Masa iya saya harus nulis sambil berlumuran oli.... atau mungkin menulis tentang pengalaman berlumuran oli kali ya... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh,, jangan cari alesan deh, masa sih terus-terusan kencan sama si Oli, ya gak mungkin lah yaaw...pasti ada waktu luangnya. Naaah, nulis deh tentang si Oli biarpun selembar dua lembar, lama-lama kan jadi ber-lembar-lembar, hhe... Makasih kunjungan Edi ke blog bunda.

      Delete
  11. Semangat dan jangan putus asa ya Bun ^^ aku harus menerapkan nih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, itu kudu, Tis. Makasih kunjungan Titis ke blog bunda. Besok kalo ketemu, bunda disapa, ya, karena bunda lupa wajahmu hehe... Besok maksudnya di Workshop.

      Delete
  12. Setuju nggak boleh putus asa. Salut banget sama bunda. Ternyata panjang ya perjalanan bunda pas di stasiun Juanda kemaren. Semoga gak kejadian lagi ketemu abang gojek nakal ya, bun.. *Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, apalagi pulangnya tuh, Waya. Bareng sih turunnya sm Hermini, dan satu lagi belum tahu namanya. Bunda naek Ojek lagi ke Tnh Abang, mengulang route yang pagi, karena paling efficient dari segi ongkos, cuman ya waktunya aja yang lama. Sampe rumah jam 21.20 lho. Makasih kunjungan Waya ke blog bunda. C u 2morrow.

      Delete
  13. bunda luar biasa, akhinya jadi juga :), perjalanan panjang ke st juanda ya bun, trus ojeknya disuruh ngebut lagi hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih pujiannya, meutia. Soalnya memang itu rute yang paling murah meriah ongkosnya, hehe... Makasih juga kunjungan meutia ke blog bunda.

      Delete
  14. sukaaa sekali dngan semangatnya bunda. sehat terus ya bun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga Allah memberi bunda kesehatan yang prima. Aamiin. Makasih kunjungan Windah ke blog bunda.

      Delete
  15. Wah, rasanya saya dulu sekali sudah pernah bertegur sapa online dengan bunda Yati.
    Tapi kali ini saya mau kenalan lagi, salam kenal ya Bunda, saya ei, blogger lama tapi semangat nulisnya selalu angin2an ;-)

    ReplyDelete