Monday, November 09, 2015

Tips untuk Ikhlas

Sumber gb. infoyunik.com
Sejak muda hingga usiaku kini sudah renta banyak kenalan atau teman, baik yang baru kenal atau pun yang sudah lama kenal, mengatakan aku ini orangnya baik banget. Heranlah aku, dari segi apa mereka menyebutku dengan predikat baik itu. Hanya satu yang selalu membingungkan aku, kalau menurut mereka aku ini "baik" -- kenapa pula, dalam hidupku seringkali jemariku ini kurang untuk menghitung mereka yang acapkali menyalahgunakan kebaikanku. Namun anehnya, kenapa aku tidak pernah bisa marah? #bukanlebay. Aku malah merasa bersyukur bisa berbuat sesuatu untuknya atau untuk mereka. Kembali lagi kepada rasa IKHLAS yang kita ciptakan sendiri. Bukan orang lain. Dan yang lebih penting lagi harus diketahui ikhlas adalah perhiasan hati bagi makhluk paling mulia ciptaanNya.

Seperti kita ketahui, Allah memberikan kesempurnaan kepada makhlukNya yang paling mulia dengan perasaan, pikiran dan akal. Makhluk yang termulia itu adalah kita, manusia. Dalam seluruh organ tubuh yang dianugerahkan oleh Allah, ada segumpal daging dalam dada kita yang disebut hati. Hati ini sangat berperan dalam mengekspresikan setiap perasaan.
Dalam sebongkah daging yang ada di dada setiap Insan Allah ini pula terselubung dengan rapihnya sebuah keikhlasan, yang tidak semua orang berhasil memilikinya. Ya, memang sulit sekali untuk mempunyai rasa IKHLAS sejauh kita sulit untuk menghadirkan rasa bersyukur atas kehidupan, kesehatan, rezeki dan keberkahan serta kebaikan yang dicurahkan oleh Allah Swt.

Cara dan sikap setiap individu pun akan berbeda dalam melahirkan tiap rasa. Ada yang dengan mudahnya melampiaskan emosi tanpa kendali. Yang lain begitu liarnya mengumbar napsu yang tidak pada tempatnya. Pun ada yang memiliki kesabaran yang luar biasa, sehingga selalu mengalami ketenangan dalam hidupnya. Susah dan senang akan ia syukuri. Karena ia memiliki sebuah kata dalam hatinya: IKHLAS. Keikhlasan yang dimilikinya ini akan terpancar pada semburat bening wajahnya dengan nyata.

Tips yang akan aku berikan ini sejalan dengan apa yang telah aku alami dalam perjalanan hidupku. Semoga bisa manfaat bagi pembaca. Aku hanya manusia biasa, bukan Ustadzah.  Aku adalah aku, manusia biasa yang hanya bisa bersikap sebagai individu atau pun dalam posisi sebagai ibu, bisa saja berbuat kesalahan atau kekhilafan.
 
Menghadapi sikap anak-anak kandung? 

Alhamdulillah, aku selalu mengingat sebuah syair karya Penyair Khalil Gibran yang banyak ditulis oleh beberapa blogger di blognya, antara lain yang ini aku ambil dari blog Mas Adekrawie https://adekrawie.wordpress.com/2008/01/05/puisi-anak-kahlil-gibran/ Syair ini begitu memikat bagi kaum ibu. Kesadaran pun akan timbul ketika membacanya.

Kebersamaan yang membuat hati bahagia tiada duanya.
Dulu sekali, aku pernah memuatnya dalam sebuah cerpen, yang sampai sekarang belum aku terbitkan, hehe... Jadi daripada nguplek-nguplek notes di facebook yang aku sendiri gak tahu gimana caranya, mending aku share aja deh milik Mas Adekrawie ini.  

Puisi Anak Kahlil Gibran

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.
Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

My two diamonds are here

Berpegang kepada kesimpulan isi syair tersebut di atas aku selalu merasa IKHLAS mengalami apa pun dalam perjalanan hidupku. Aku memiliki lima orang anak (dua orang anak lelakiku telah tiada) yang sejak dulu aku inginkan selalu akan menjadi anak yang manis dan lucu. Aku selalu inginkan mereka menjadi tetap balita yang lucu. Tapi tentu saja itu menyalahi kodrat dari Allah Swt. Setiap yang dilahirkan, akan mengalami masa balita, dewasa, tua, akan hidup sendiri, kemudian mati. Walaupun kematian itu selalu mengintai setiap makhluk Allah sepersekian detik tanpa memilih usia. Namun aku tak lupa mohon kepada Allah Swt. semoga Allah mengizinkanku untuk menghadapNya dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin...

Alhamdulillah, karena rasa IKHLAS itulah aku selalu berlapang dada menerima bagaimana pun sikap anak-anakku yang memang harus aku camkan baik-baik dalam benak tua ini -- mereka kini telah menjadi "keluarga kecil" yang harus memperhatikan 100% kehidupan mereka sendiri tanpa melupakan bantuan materi yang cukup untukku. Tidak semua kaum ibu seberuntung aku. Alhamdulillah.

Mereka mendukung sepenuhnya  kesibukan dan aktivitasku di dunia maya or di dunia nyata. Namun kehadiran mereka secara nyata, sekali-sekali, tetaplah merupakan sebuah hadiah bagiku, mereka bagaikan diamonds dalam kehidupan renta.

IKHLAS juga yang mengiringi aku kembali kepada "habitat" masa tua, kembali ke Majelis Taklim, mulai kembali mendalami arti masa tua yang sesungguhnya, menyadari kesendirian. Alone but not lonely, karena ada Allah bersamaku. Aamiin. Di dunia maya? Banyak blogger berusia jauh lebih muda dari usiaku yang menyayangi aku. Memperhatikanku ketika hadir di sebuah acara offline. Maklumlah, aku ini blogger sepuh yang super di usia, hehe...

Kembali kepada syair Khalil Gibran, "anakmu bukan milikmu" jadilah sebuah keikhlasan bersemayam dalam dadaku, selamanya. Aamiin. Itu juga yang menjadikan RESEP AMPUH untuk tetap ceria, karena keceriaan datang dari dalam hati yang ikhlas dan rasa bersyukur menerima keadaan yang disediakan olehNya. Aamiin.
my daughters, grandsons and son-in-law (nin's album)
Menghadapi teman yang menyalah-gunakan kebaikanku 
Why should I care about them? Maksudku bukan tidak peduli pada mereka, tapi aku selalu bersikap seolah-olah aku tidak merasa disalah-gunakan.  Sebaliknya aku tanamkan dalam hati, aku telah atau sedang membantunya. Karena itulah tercetus sebuah postingan tentang hal ini di sini.

Last but not least, ingatlah kebaikan seseorang "sekecil apa pun" karena dengan selalu mengingat  kebaikan yang teramat kecil -- itulah yang mampu menciptakan keikhlasan dalam hati. Bahkan menggerus rasa iri, benci, amarah dan macam ragam rasa negatip yang memang sengaja ditiupkan oleh makhluk Allah yang diciptakan dari api dan mampu bersarang dalam hati manusia. Banyak ber-istighfar akan meleburnya. Subhaanallah, Allah Maha Segalanya.

Postingan ini aku buat, terus terang ketika datang rasa kangen pada anak cucu, tapi kehidupan yang baru saja aku hadapi harus tetap aku pertahankan demi kehidupan yang lebih baik untuk banyak pihak. Bukan berarti aku menginginkan kebebasan ini secara hakiki, namun hal ini secara tidak langsung mengajarkan banyak hal-hal positip untuk kami semua.
Tautan boleh terurai, namun hati tetap bertaut erat.(Sumber gb.lotussenjahari.blogspotcom

Semoga bagi mereka yang masih memiliki keluarga, yakinlah, bahwa keluarga adalah segala-galanya. Keluarga tidak bisa, dan tak seorang pun yang mampu menepisnya bagai meniup debu di atas tanduk.
Trust me. Perlakukan keluargamu yang masih ada sebaik yang bisa kau lakukan. Karena sebuah penyesalan selalu hadir di belakangmu dan terus menghantuimu. Ingatlah juga, setangkai mawar yang kau berikan ketika seseorang itu masih ada lebih berharga daripada seribu tangkai mawar yang kau letakkan di atas pusaranya.

32 comments:

  1. aku suka bagian akhirnya Bunda,"setangkai mawar yang kau berikan ketika seseorang itu masih ada lebih berharga daripada seribu tangkai mawar yang kau letakkan di atas pusaranya."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rani R Tyas, memang itu sebuah kenyataan dalam hidup. Terkadang ketika masih hidup, masih bisa dipeluk dan dijamah, pelit melilit diri, tapi ketika sudah tiada, maka berlimpah bunga yang ditabur. Untuk apa? Karena yang pergi hanya membutuhkan do'a, kan? Bukan hiasan bunga di atas pusara. Terimakasih kunjungan Rani ke blog bunda.

      Delete
  2. mantap bunda yati :) membuat saya sedikit berkaca kaca :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Relly, apakah ini Bayu yang pernah bunda kenal? Terima kasih Bayu sudah berkunjung ke blog bunda.

      Delete
  3. Agree bunda
    Klg adl segala nya.
    Nasab yg tdk putua dunia akhirat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, betul sekali. Terima kasih kunjungan Diah Indriastuti ke blog bunda.

      Delete
  4. Setuju bunda, dengan mengikhlaskan itu bakal berbalik manis pada kita kok. Saya beberapa kali mengalami, dijahati orang tapi saya justru doakan agar pintu hatinya dibukakan menerima kebaikan. Alhamdulillah, setiap saya lakukan ini, justru saya yg mendapat banyak kebaikan dari Allah Swt.

    Semoga bunda Yati diberikan kesehatan, bisa terus menulis dan berbagi kebaikan pada kami :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Itu adalah hadia daari Allah untuk sebuah keikhlasan. Terimakasih kunjungan Hidlayah Sulistyowati ke blog bunda.

      Delete
  5. berkaca2 baca postingan bunda, semoga terus sehat bunda ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga selalu kesehatan pula yang menyaps diri meutia rahmah dan keluarga. Terima kasih kunjungan meutia ke blog bunda,

      Delete
  6. Kebersamaan bersama anak dan cucu pasti menyenangkan ya Bunda :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali Titis, kebersamaan adalah segalanya. Yang sakit juga dengan izin Allah akan sembuh. Terima kasih kunjungan Titis ke blog bunda.

      Delete
  7. Terima kasih ceritanya, Bunda
    Semoga Anaz bisa menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Baca ini jadi inget Ibunya Anaz

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, ada Anazkia rupanya. Sama-sama, Naz. Kalau begitu cepat segera pulang kampung atau telponlah beliau, Terima kasih kunjungan Anaz ke blog bunda.

      Delete
  8. Bener banget Bunda...krn hati yang ikhlas akan selalu membawa kita ke arah kebahagiaan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali Ade, memang benar keikhlasan itu sangat sulit ditimbulkan, tapi sekali kita dapat merasakan bagaimana leganya hati ini kalau kita ikhlas, maka itu akan menjadi sifat kita sendiri. Aamiin. Terima kasih kunjungan Ade ke blog bunda.

      Delete
  9. Ikhlas itu perlu perjuangan ya, Bunda.
    Tapi itu amalan yang paling disukai Allah SWT

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahliah, andai kita ingin berusaha menjadi baik memang perjuangan itu harus dimunculkan dan mengalahkan diri sendiri. Memang sulit tapi insya Allah bisa. Terima kasih kunjungan Ahliah ke blog bunda.

      Delete
  10. Terima kasih untuk cerita dan tipsnya bunda... semoga bunda selalu sehat yaaa *pelukbunda :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sams-sama, irma. Aamiin untuk do'anya. Terimakasih untuk kunjungan irma ke blog bunda, jaga kesehatan juga, ya.

      Delete
  11. tulisan bunda selalu meneduhkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aah, masa sih jadi tersanjung nih si bunda. Alhamdulillah, kalau begitu. Terimakasih untuk kunjungan tizara ke blog bunda.

      Delete
  12. ikhlas dan sabar emang perlu ya Bunda..makasih sharenya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Dwi Puspita. Terimakasi untuk kunjungan Dwi ke blog bunda.

      Delete
  13. Memang Allah maha segalanya. Jika kita balik lagi setiap kejadian Allah yang mengaturnya, tinggal kita saja yang memintanya, tetapi balik lagi balik lagi Allah lebih tau yang terbaik untuk kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali.tinggal kita sendiri yang bersikap dengan bijak. Turuti kata hati adalah yang terbaik. Terimakasih kunjungan Budi ke blog bundaa.

      Delete
  14. kudu banyak belajar sama Bunda nih, Bunda benar2 menginspirasi, saya langsung ingat orang tua saya, sepertinya saya sudah terlalu asik dengan laptop sampai jarang berbincang dengan mama dan Bapak, padahal mereka begitu dekat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naa...kesempatan, sekali kesempatan itu harus kita yang menciptakan. Bukan begitu, Evri? Jadi yuk, cepetan disapa mama and bapak, apalagi kalau dekat. Makasih kunjungan Evri ke blog bunda.

      Delete
  15. Postingan ini benar benar bermanfaat bagi semua orang.. termasuk saya.. terima kasih ibu yg tlah memposting ini.. semoga saya bisa belajar ikhlas dari lubuk hati saya yg paling dlm.. dan selalu bersyukur atas nikmat Allah yg tlah diberikan terhadap saya.. Terima kasih..

    ReplyDelete
  16. Yang penting kalau ikhlas jgn pernah mnyebut kata ikhlas, seperti surat Al Ikhlas, apa ada bait ikhlasnya :)

    Hai teman-teman pecinta traveling. Kami ada info tentang beberapa pantai bagus loh, silahkan kunjungi ya: Pantai Sawarna || Pantai Indrayanti || Pantai Klayar || Pantai Kuta || Pantai Anyer || Pantai Pangandaran || Pantai Ngobaran . Semoga bermanfaat.

    ReplyDelete