Friday, January 15, 2016

Yang Hilang Tak Kan Kembali

Sumber gbr.life.viva.co.id
Rabu, 13 Januari 2016 -- Ide itu berkeliaran saja dalam benak, tapi tak satu pun yang berhasil aku tangkap dan aku wujudkan dalam tulisan. Entah kenapa hari ini aku begitu malas untuk menulis, padahal sudah aku tulis dalam resolusiku untuk tahun 2016 akan lebih rajin membuat postingan dan tidak membiarkan blog-ku terlalu lama kosong. Memecut semangat lebih keras lagi dalam menulis dan membaca. Aku mengalami kehilangan pada hari Kamis, who knows, judul yang hilang tak kan kembali akan membuat ideku bermunculan. Insya Allah.


Aku pacu dan aku pancing gairahku untuk mencatat nomor handphone teman-temanku, baik Fesbuker, Blogger,  teman lama dan kerabat serta kenalan-kenalan. Lagi-lagi aku tak berhasil mengalahkan rasa malasku. Aku pun enggan untuk meng-upload foto-foto dari kamera hape ke flashdisk, seperti yang biasa aku lakukan. Ada apa ini! Biasanya kalau sudah begini, aku tutup laptop, aku matikan handphone dan Samsung Galaxi Tab-ku.

Aku mengambil udara segar ke luar ruangan. Pandanganku berputar ke sekeliling teras. Mata ini bertumpu pada pot-pot kesayangan yang memuat tanaman Sansevieria, Anthurium, Sirih Wangi dan beberapa tanaman lain? Ya, ampuuun, kenapa di pot-pot besar itu ada kotoran-kotoran kucing? Hatiku berdetak, kesal bercampur pasrah. Tentu saja harus pasrah karena akhirnya aku sendiri yang harus membersihkannya. Tak ada orang yang aku harapkan akan membantuku.

Hari ini, Rabu, pastinya Bapak yang membantuku membersihkan rumah tidak akan datang. Kenapa? Karena baru kemaren, hari Selasa, 12 Januari dia datang. Berarti sepenuhnya hari ini aku yang harus menggulung lengan baju, turun bergelut dengan pupuk, media tanam dan bebatuan yang baru aku beli. Yang penting pot-pot-ku harus kelihatan bersih, manis dan rapih.

Bebatuan seperti ini yang aku beli (Sumber gbr.berkah-taman.com)
Bebatuan? Iya, siapa tahu dengan akalku menaburkan bebatuan warna putih merata di atas tanah pada tiap pot, kucing enggan mengeluarkan kotorannya di sana. tapi namanya juga kucing. Pastilah dia punya akal menyingkirkan batu-batu, mengorek tanah sebelum buang hajat. Arrrgghh... Begitu aja tuh, tanpa ditutup lagi dengan tanah. Huuuh...

Bersih itu mahal. Memang betul sekali. Untuk memberi kenyamanan mata memandang pot-pot itu diperlukan biaya. Itu adalah salah satu passion-ku, jadi aku ikhas mengeluarkan uang dari kocekku seberapa pun selagi aku mampu.

Tapiii...semasa aku masih berumur belasan tahun aku pernah punya kucing kesayangan, namanya Tita, tapi Tita bisa dan mudah diajarkan untuk buang kotorannya di kloset jongkok. Aneh tapi nyata. Tita tidak pernah berkeliaran buang hajat di mana-mana. Tak pernah ada tetangga yang complain tentang kucingku.  

Sebenarnya semua binatang bisa diajarkan untuk disiplin. Dengan penuh rasa sayang, sabar dan perhatian, binatang peliharaan, apa pun itu, bisa diberi contoh berdisiplin diri, tidak buang kotoran di sembarang tempat. Slow but sure binatang peliharaan akan menuruti aturan kita di rumah. Percaya deh!
Oops, balik lagi ke pot-pot yang telah aku beri bebatuan yang menambah semarak teras rumahku. Puas rasanya melihat pot-potku tertata dengan rapih. Sayangnya aku tidak membidiknya dengan kamera ponselku, Nokia Asha, yang selama ini setia menemaniku setelah Androidku hilang, hehe... #hilaangmulu.
Seperti inilah aku meletakkan bebatuan itu (Sumber gbr. ayundadamai.com)
Paling tidak hasilnya bisalah untuk menambah manis postingan ini. Tapi aku terlalu terburu-buru menyelesaikan pekerjaanku karena petir dan halilintar saling menyambar sebelum hujan deras mengguyur bumi. Aku harus segera sudah berada di rumah si Bungsu.

Disamping mengejar waktu Magrib, juga agar rintik-rintik kecil gerimis tidak berubah menjadi hujan deras yang akan membuat aku tidak terhindar dari  basah kuyupnya air hujan.  Aku harus menjaga stamina untuk tidak terlalu memforsir diri bekerja, because I know my limit.

 Kembali kepada judul postinganku Yang Hilang Tak Kan Kembali:

Hari Kamis, 14 Januari aku harus menghadiri sebuah undangan makan siang bersama yang lebih tenar dengan istilah maksiber di sebuah Restoran di salah satu Bangunan World Trade Center di Jalan Jenderal Sudirman. Ketika asyik ber-ha-ha-hi-hi sesama konco lawas yang sudah lama gak ketemu, tiba-tiba dikejutkan oleh berita bom meledak di Gedung Sarinah, tepatnya yang menjadi sasaran Starbuck. Seperti yang kita semua ketahui telah terjadi baku tembak antara aparat polisi dan para perusuh. 

Karena kejadian ini banyak teman yang tidak bisa datang karena beberapa arus jalan diblokir, sehingga mereka tak mungkin sampai di tempat acara pada waktunya. Diputuskan untuk segera bubar dan makanan yang sudah diorder terpaksa kami take-away untuk berlima (karena yang hadir baru lima orang). Coba, apa enaknya makan-makan, tanpa kehadiran orang yang mengundang dan tanpa teman yang lain. Makan  tak kan merasa tenang, kan?

Dengan menumpang mobil salah seorang teman aku ikut bersamanya dan turun di seberang Ratu Plaza, kemudian berganti naik taksi Express. Kebiasaanku yang buruk (mungkin) selalu meletakkan handphone di pangkuanku. Saat membayar ongkos taksi tanpa sadar ketika itulah Nokia Asha-ku terjatuh. Aku baru sadar setelah berada di dalam rumah. 

Adalah kepanikanku memikirkan tentang anakku yang masih berada di dalam gedung perkantoran, sehingga aku lupa sama sekali mencatat nomor pintu taksi Express atau pun melihat identitas pengemudi. Hal ini karena aku terlalu panik dengan berbagai berita yang aku dengar melalui radio yang terpasang di taksi Express. Aku ingat ketika itu aku masih berhubungan via telpon genggam dengan anakku. Berarti pasti di dalam taksi aku masih bersama si Nokia Asha yang mungil.

Salut kepada taksi Express Call Center yang melayani pengaduanku. Mencatat data-data di mana aku naik, jam berapa, tujuan ke mana dan mencatat nomor hape yang hilang itu. Jam 22.00 seseorang menghubungi si Mbak, karena aku menghubungi Call Center Express pinjam hape si Mbak. Taksi sudah bisa dilacak. Nomor taksi dan nama driver serta nomor telepon genggamnya pun diberikan kepadaku via si Mbak untuk lebih meyakinkan lagi tentang usaha Taksi Express Call Center melacak taksi yang tidak aku catat nomornya.

Aku hubungi nomor tersebut, ternyata memang benar suara itu adalah suara driver yang membawaku dari Jenderal Sudirman menuju Green Bintaro Residence.  Namun, menurutnya tidak ada barang yang tertinggal di dalam taksinya. Keterangan yang aku dapat ketika taksi keluar dari komplek perumahan setelah men-drop aku, ada sewa yang naik. Ya, mau gimana lagi, beneran deh Yang Hilang Tak Kan Kembali.

Padahal sebelum menelpon Call Center aku coba menghubungi nomor hape milikku, masih terdengar dering nada panggil. Tapi beberapa menit kemudian sudah tidak terdengar apa-apa selain, nomor yang anda hubungi berada di luar jangkauan. Aku ikhlas untuk kesekian kalinya kehilangan telepon genggam, huhuhuuu...Lho! Ikhlas koq nangis? #lebay

Seringkali aku mengalami hal di mana aku mengingkari kata hati -- hal yang tak diinginkan terjadi -- dan tidak menceritakan apa yang aku rasakan tentang suatu hal yang akan terjadi pada seseorang -- maka hal buruk menimpa orang yang ada dalam pikiranku. Aku jadi selalu waspada setelah beberapa kejadian menjadi nyata, mungkin secara kebetulan saja. Percayakan semua kepada Allah Yangmaha Kuasa. Segala hal tidak akan bisa terjadi tanpa kehendakNya. Aamiin.

Aku mengambil hikmahnya dari peristiwa ini, yaitu aku harus mampu mengalahkan kemalasan dan  sejatinya aku harus mendengarkan kata hati ketika timbul keinginan untuk mengerjakan sesuatu, dalam hal ini mencatat semua contact phones menari-nari dalam kepala.

 
 Sumber gbr. kyle-irving.co.uk

Alhamdulillah, akhirnya jadi juga postingan ini...



27 comments:

  1. Kalau sdg mood dan gak ngantu aku cepat2 buka lpatop..nulis.. Kalo gide gak cepat dituangkan dlm tulisan kadangkala idenya menguap.. Pas lain waktu mau nulis ttg ide tadi dah gak mood lagi.. Memang sebaiknya begitu dtg ide langsung ditulis..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang begitu juga advice dari para Penulis kondang. Begitu ide muncul, tulis di mana aja, di kertas, di hape or di buku catatan. Kalo gak bisa terbang dan sudah ditangkap, hehe... Makasih kunjungan rita asmaraningisih ke blog bunda.

      Delete
    2. Bener banget mba yanti.
      Itu judulnya keren banget, insiparatif banget :D

      Delete
  2. Kalau saya mood nulisnya ilang langsung baca apa saja bund... Koran, majalah, berita di portal online, apa saja...
    Kalau masih ga muncul nonton film atau jalan jalan hahahha...

    Kalau ga bisa juga... Paksa. Duduk depan laptop buka M.Word. Tulis judul apa aja...

    Nunung ikut sedih hapenya bund hilang... Kejadian yg sama beberapa bulan lalu... Mau ikhlas tapi nyesek heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, banyak banget solusi yang Nunung ciptakan untuk memunculkan mood untuk menuis. Saluut. Hehe...tapi buka leppy trus nulis judul? Boeh dicoba nih, siapa tau dengan menulis judul segala inspirasi muncul barengan, hehe... Makasih kunjungan Nunung ke blog bunda.

      Delete
  3. iya bun kadang penyakit ngak mood itu harus dilawan, apalagi udah bikin resolusi kan biun. Semoga yang hilang diganti dengan yang lebih baik ya bun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih do'a meutia rahmah untuk bunda. Yuk, kita sama-sama melawan penyakit gak mood itu. Aamiin, semoga do'a meutia dijabah Allah dan bunda dapat ganti hape baru. Makasih juga untuk kunjungan meutia ke blog bunda.

      Delete
  4. Semangat ya bundaku sayaaaang... kehilangan InsyaAllah pertanda sedang disiapkan yg lebih baik.. aamiin... love you..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, mudah-mudahan Allah memang menyiapkan sesuatu untuk bundamu ini. Makasih untuk do'a semangatnya. Begitu juga buat NurukKu. Makasih kunjungan NurulKu ke blog bunda.

      Delete
  5. Replies
    1. Iya, bunda juga mau berusaha rajin setiap hari menulis. Makasih kunjungan Tira Soekardi ke blog buunda.

      Delete
    2. Blog bunda simple tapi tulisannya penu makna :D

      Delete
  6. iy bunda, yang tak akan kembali.. meski berharap beribu-ribu kali pun tak membuatnya ada...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihii...iya, makanya bunda udah ikhlas koq atas kehilangan itu. Makasih ya kunjungan helni ke blog bunda.

      Delete
  7. Kalau saya, kadang-kadang kalau pas cape ya harus rehat dulu, baru deh fikiran agak fresh, jadi bisa menulis lagi.
    saya salut sama bunda bener, makanya saya seperti diingatkan, untuk rtajin nulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah-mudahan bunda akan rajin menulis. Makasih kunjungan Yanti ke blog bunda.

      Delete
  8. Aku juga punya kebiasaan naruh hp di pangkuan, bunda. Bukan hanya hp, bahkan dompet. Trus, pernah dompet jatuh, untungnya, ada org yg baik sekali mengembalikan saat itu juga. Peringatan buatku, bunda :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Toast dulu deh kita, hehe... Iya, nih, anak-anak jadi kapok kalleee beliin mamanya hape, abis ilang mulu. Udah 5 jumlahnya lho dalam kurun waktu 3 tahun. Wajar kalo anak-anak pada bosen beliin. Makanya nih sekarang lagi nabung mau beli sendiri. Bisa gak, ya? Makasih kunjungan Ria Rochma ke blog bunda.

      Delete
  9. Iya yang hilang tak kan kembali
    Tapi yang tercatat di memori
    Hanya sebentar sembunyi
    Dan akan teringat lagi...

    Salam puisi... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe...bunda pengen deh bisa berpuisi. Sudah ikhlas koq emang yang hilang tak kan kembali. Makasih kunjungan Anisayu Nasutik ke blog bunda.

      Delete
  10. Mengalahkan diri sendiri memang sulit. Sampai ada yang bilang, musuh terbesar adalah diri sendiri. Penyakit moody-ku juga sering muncul. Kalau sudah begitu, cari kerjaan lain.

    Semoga segera dapat ganti yang lebih baik, ya, Bunda. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih do'a Afifah Mazaya. Betul sekali, tapi selagi ada iman di dada pasti kita bisa mengalahkannya. Aamiin. Terima kasih juga kunjungan Afifah ke blog bunda.

      Delete
  11. Bundaaa apa kabar?
    Sehat2 kan ya?

    ReplyDelete
  12. semoga segera diganti dengan yang jauuuh lebih baik ya bunda :)

    ReplyDelete