Monday, March 14, 2016

Memberi Ketenteraman Kepada Anak-anakku di Atas Segalanya.

Dalam siklus kehidupan yang kita alami pastilah sama, yaitu lahir, menjadi dewasa, tua, kemudian datang saat yang tidak mampu siapa pun menghindar darinya, yaitu  mati. Sebuah kematian yang setiap orang sudah memiliki jadwal dari Allah Sang Maha Pencipta. Namun tak seorang pun tahu kapan saat-saat itu akan menjemput kita. Kita pun tahu bahwa sepersekian detik maut selalu mengintai. Kewaspadaan untuk menjaga kesehatan yang dianugerahkan olehNya adalah merupakan keharusan. Menunjukkan rasa syukur kita ke Hadirat Illahi akan segala tingkat kesehatan dan rezeki yang diperuntukkan bagi kita.  Akan semua kesempatan dalam menghirup udara segarNya. Aamiin.

Seandainya pada tahun-tahun anak-anakku di imunisasi aku sudah jadi blogger, pastilah foto2 anakku yang akan terpampang di sini, hehe...(Sumber gbr.Google)
Masa kecil anak-anakku dan imunisasi
Selama puluhan tahun aku bekerja di sebuah Organisasi Internasional, Unicef (non-profit organization) yang mengutamakan kesehatan anak-anak dunia. -- anak-anakku lahir dalam rentang waktu ketika aku masih aktif bekerja --  sehingga tak heran pantauan kesehatan atau konsultasi kesehatan mereka amatlah terjadwal dengan baik. Betapa tidak,  karena kantor tempatku bekerja membagikan kartu untuk setiap anak guna memantau keteraturan memberikan  imunisasi bagi anak-anak. Kartu-kartu ini disediakan oleh World Health Organization (WHO), karena kantor tempatku bekerja dan WHO berada dalam satu wadah yaitu United Nations Systems So, the Value of Prevention was there for my children so many years ago.

Imunisasi itu sendiri adalah sebuah proses untuk meningkatkan kekebalan tubuh dengan cara memasukkan vaksin ke dalam badan -- ada yang melalui suntikan dan ada juga secara oral (diminum) yang amat diperlukan sebagai  pencegahan datangnya berbagai penyakit.

Masa Dewasa Itu Pun Datang.
Anak-anakku tumbuh dengan sehat, tanpa penyakit yang serius menyapanya. Ini tentu saja karena perhatianku dan kedisiplinanku dalam memberikan imunisasi atau semacamnya kepada anak-anakku pada masing-masing usia di mana immunisasi diperlukan. Alhamdulillah. Hal ini tentu saja membuat aku tenang dalam menjalankan tugas di kantorku, hingga tahun berganti tahun, tanpa terasa anak-anakku telah menjadi dewasa dan anak-anak perempuanku  menjadi  ibu seperti aku,  anak lelakiku menjadi seorang ayah seperti suamiku.

Seiring berjalannya waktu, kehidupan kebersamaan dalam keluarga kami pun, mau tak mau, mengalami apa yang disebut perpisahan. Perpisahan yang tak bisa dihindari dan memang harus dihadapi oleh para orang-tua mana pun. Belahan hati kita sudah dewasa, perjalanan hidup mereka ke depan harus mereka hadapi tanpa keberadaan orang-tua di sisinya. Demikian juga sebaliknya, orang-tua harus ikhlas berpisah dengan anak-anak permata hatinya. Sebagai gantinya Allah akan memberikan hadiah kepada orang-tua, yaitu kelahiran sang cucu satu demi satu.

Perpisahan yang memang seharusnya terjadi itu, menyisakan sebuah kehidupan baru bagiku. Aku harus bisa hidup mandiri dalam arti jauh dari anak cucu. Allah masih menyayangi diriku. Di saat-saat aku ditinggalkan bertahun-tahun oleh suami dan anak-anakku yang masing-masing telah membangun sebuah keluarga, diberinya aku kekuatan melawan segala kerinduan dengan kesibukan baru yang aku jalani. Aktivitas menarik dan membuat aku bersemangat, sehingga aku lupa akan penyakitku yang telah hampir 9 (sembilan) tahun bersarang dalam tubuhku.  

Penyakit Itu Datang Tanpa di Undang
Sembilan tahun yang lalu aku mengalami ketidak-nyamanan dalam tubuhku, seringkali merasakan adanya rasa nyeri di perut bagian bawah. Lebih parah lagi, Miss V menyajikan bau yang kurang sedap. Ya, Allah, kenapa ini? Keluhku dalam hati. Tanpa memberitahukan kepada anak-anakku aku memeriksakan diri ke sebuah Rumah Sakit Swasta bagian Kandungan. Alhamdulilah obat antibiotik dari dokter yang aku lupa namanya menyelamatkan Miss V-ku. Dalam hitungan hari Ia pun segera pulih dan semerbak harum mewangi kembali. 

Mungkin, seandainya aku belum pernah membaca tentang penyakit ini, aku akan terkejut seperti mendengar suara halilintar. namun tidak bagiku, aku bisa tenang. Hasil konsultasi kesehatan dengan Dokter Kandungan mengatakan dari hasil USG (Ultrasonography) aku memiliki kista di luar kandungan. Ada 4 buah kista, 1 agak besar dan 3 buah kista kecil. Aku bisa melihatnya dari layar sebuah monitor dan dengan jelas aku melihat ada serangkaian bulatan-bulatan kecil dalam perutku.

Aku diminta oleh dokter untuk memeriksakan diri sekitar 3 atau 4 bulan lagi, karena periode itu, menurut dokter akan ada perkembangan perubahan bentuk kista. Namun aku melalaikan nasihat dokter tersebut karena tak pernah ada rasa aneh dalam perutku. Miss V tidak pernah bermasalah. Jadi aku tak perlu check-up ke dokter kandungan.

Barulah ketika terdaftar sebagai anggota BPJS pada tahun 2014 aku memeriksakan diri lagi di Rumah Sakit Ichsan Medical Centre, Jombang, Tangerang Selatan.  Aku ceritakan sejarah penyakitku. Pemeriksaan pun dilakukan. Hasilnya? Kista itu masih di sana. Menurut dokter kandungan di RS itu -- bila mengecil akan dibiarkan, tetapi apabila membesar dengan ukuran yang menurut dokter harus diangkat, maka pengangkatan melalui operasi pun harus dilakukan. Operasi? O-oh, no way.

USG tahun 2014 tidak memperlihatkan pembesaran sejak7 tahun sebelumnya. (Dokpri)
Aku membaca melalui klik google tentang apa dan bagaimana penyakit ini. Kista bukanlah semacam kanker, walau pun kemungkinan besar bisa juga berubah menjadi penyakit kanker, bahkan kanker ganas.  Aku tidak khawatir dan tidak terlalu memikirkannya. Seandainya pun aku harus pergi menghadapNya karena penyakit ini, aku akan ikhlas dan pasrah.

The Value of Prevention yang aku lakukan dan aku miliki hanyalah meminum obat-obatan herbal dan bermacam cara dari arahan Google tentang Kista, salah satunya  seperti yang telah aku utarakan aku minum air seduhan sirih merah 2 x seminggu setengah gelas -- dan ini sudah aku lakukan bertahun-tahun.


Selama kista ini tidak mengganggu aktivitasku, aku akan berusaha melupakan keberadaannya dalam perutku. Aku yakin Allah menciptakan satu penyakit, Allah pun akan memberikan jalan penyembuhan, bila Allah menghendaki. Seperti yang tercantum dalam QS 26 Asy-Syu'ara, Ayat 80 berikut:

"dan apabila aku sakit. Dialah Yang menyembuhkan aku," – (QS.26:80)
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
Wa-idzaa maridhtu fahuwa yasyfiin(i)
Sumber: https://muslim.or.id/10924-dan-jika-aku-sakit-dialah-yang-menyembuhkanku.html

Segala macam ramuan yang aku pelajari dari Google aku terapkan dalam keseharianku. Tanaman sirih merahku yang subur pun menjadi salah satu sasaran pemetikan berulang kali untuk aku rebus dan aku minum airnya. Pahitnya bukan alang kepalang, namun menjaga kesehatan yang harus aku pikirkan. Paling tidak aku tidak merasakan ada gangguan dalam gerakku sehari-hari. Aku tidak pernah merasakan sakit atau nyeri di bagian perutku, maka bagiku, aku sehat. Aku harus melupakan kistaku. Buatku ini adalah sebuah value of prevention karena aku tidak berdiam diri, tapi berusaha dengan cara-cara yang halal dan berdo'a kepada Allah, semoga Allah mengangkat penyakitku, tanpa menyakitkan. Aamiin.
Mungkin Anda tidak akan kuat merasakan pahitnya, tapi aku bisa dan aku rutin meminumnya (Dokpri).

Aku hanya berdo'a, berusaha minum obat herbal, baik yang aku beli atau pun yang aku ramu sendiri. Yang penting aku tidak ikhlas tubuhku yang utuh pemberian Allah ini dibedah untuk mengangkat kista-ku. Kista belum tentu sembuh total setelah operasi itu, tapi tubuhku telah dikoyak pisau operasi, hiks... Aku lebih suka berdo'a dan berpasrah diri kepada Allah Swt dengan meminum ramuan apa saja yang disarankan oleh teman atau kerabat, daripada harus berbaring di meja operasi memandang lantang lampu-lampu terang benderang di atasku yang pastinya segera menghilang, gelap dari pandanganku begitu aku dibius oleh dokter anastesi. Ya, Allah, jangan biarkan aku dibaringkan di sana.

Baru pada kira-kira tiga tahun yang lalu anak-anakku mengetahuinya karena kecerobohanku meletakkan diagnosa dokter kandungan. Hingga kini mereka pun memberikan sikap yang sama dengan sikapku, yaitu menganggap seolah penyakit itu tidak ada. Kenapa? Karena mereka melihat kesigapanku dalam beraktivitas, seolah tak ada penyakit yang sedang bersarang dalam tubuhku. Insya Allah penyakit itu akan segera "enyah" dari diriku atas izin Allah Swt. Ini adalah salah satu caraku untuk Memberi Ketenteraman Kepada Anak-anakku di Atas Segalanya. Aamiin.

Kehidupan berlanjut dengan hati tua penuh semangat. Aku meronta melawan kekhawatiranku tentang kista ini dan kerinduanku pada anak cucu dengan mengisi kesibukan yang sama sekali di luar dugaanku, bahwa pengisian kehidupan ini akan menjadikan diriku secara mental menjadi kuat. Aku menjadi super woman, begitu anak-anakku menyebutku, bila melihat ke mana-mana aku selalu sendiri.

Memberi ketenteraman kepada anak-anakku di atas segalanya. Mereka kini memiliki tanggungjawab yang berat. Jadi kenapa pula aku menambah beban pikiran mereka dengan keluhan penyakitku. Aku tidak boleh "cengeng!" Kalau memang tidak terasa sakit, ya, perlihatkan kepada mereka bahwa aku sehat.   Tunjukkan juga sejujurnya tentang bagaimana gairahnya aku dalam melakukan aktivitasku. Betapa pula hidup ini menjadi bergairah, tanpa memaku diri memikirkan penyakit kista yang belum tentu juga akan merenggut nyawaku. Allah Maha Penentu.

So, selama kista ini tidak mengganggu kesehatan fisikku, aku akan tetap berpendapat kista itu telah mengecil, bahkan hilang sama sekali. Namun bila pada saat sekarang ini kista sedang berkembang-biak menjadi besar, ia akan tetap aku siram dengan ramuan yang pahit sekali pun. Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Allah pasti akan meridhoi usaha yang aku lakukan sendiri untuk memerangi kista ini. Aamiin, Ya, Robb.

















15 comments:

  1. Wah, saya salut dengan semangat nya bunda. Meski sakit, bunda tidak menunjukkan tanda2 itu, saya doakan sehat selalu ya bunda. Tetap semangat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, syafiatuddiniah, Alhamdulillah, selama masih bisa bunda atasi sendiri, walaupun akhirnya...mereka tahu juga. Terima kasih kunjungan Syafia ke blog bunda.

      Delete
  2. Assalamualaikum Bunda, istiqomah untuk selalu berikhtiar dan berdoa yg terbaik. Inshaallah kekuatan mental dan positive thinking disertai doa yg tdk pernah putus, mengalahkan segalanya. Bukankah impossible is nothing buat Allah ?! Keep de spirit^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, terima kasih, Prita atas support untuk semangat bunda. Terima kasih kunjungan Prita ke blog bunda.

      Delete
  3. semoga semangat bunda yang sedang sakit dapat memercik kepada seluruh orang tua dan bunda-bunda yang ada di dunia ini, agar selalu mengutamakan ketenangan anak-anaknya.
    cepet sembuh ya bun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terima kasih do'anya. Semoga penyakit ini dapat bunda talukkan dengan do'a dan pengobatan herbal. Alhamdulillah, Allah masih memberikan stamina yang oke punya kepada bunda.

      Delete
  4. salut atas semangatnya bunda
    sehat selalu ya bunda, semoga si kista bnr2 pergi dr bunda, amin ya robbal'alamin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Inda Chakim, semoga si kista bisa dibasmi dengan do'a dan obat-obatan herbal. Aamiin. Terima kasih kunjungan Inda ke blog bunda.

      Delete
  5. kagum banget sama ketabahan dan semangat yang tinggi menyikapi suatu masalah. Mungkin itu kalau saya dalam posisi bundapastilah sudah merasa panik dan kelabakan. Sangat inpired me banget bunda :)

    ReplyDelete
  6. Luar biasa , sangat men-inspirasi

    ReplyDelete
  7. ini nih contoh yang sangat inpiratif, makasih ya mak....

    ReplyDelete
  8. semoga bunda selalu sehat, memang kista sangat mengerikan

    ReplyDelete
  9. Mendengar kata operasi memang bikin hati menciut. Sehat selalu ya Bundaaaa :)

    ReplyDelete
  10. Semoga Allah mengangkat penyakitnya ya Bunda, dan semoga selalu dikarunia kesehatan.

    Btw bunda hebat pernah kerja di UNICEF :-)

    ReplyDelete