Friday, July 29, 2016

Duo Ceria dan Bersyukur

Aku rasa tak seorang pun pengikut Nabi  Besar Muhammad SWT yang tidak menginginkan kebersamaan dengan keluarga besar pada setiap datangnya Hari Raya Idul Fitri. Tapi tentunya tidak setiap keinginan itu akan terwujud begitu saja.Duo Ceria dan Bersyukur akan tercetus dari hati, walaupun kebersamaan yang kita harapkan tidak menjadi sebuah kenyataan. Semua kembali kepada rasa kepasrahan dalam do'a. Karena dalam kepasrahan, ada rasa bersyukur yang mencuatkan keceriaan.

Kenapa aku mengatakan yang di atas itu? Karena tidak seperti tahun-tahun sebelumnya kami selalu merayakan hari Lebaran dalam jumlah anggota keluargaku yang lengkap, belum lagi keluarga dari para sepupu yang biasanya hadir bersama keluarga besar mereka masing-masing. Ah, sungguh akan menjadikan sebuah kesedihan apabila tahun ini aku tidak bisa merayakannya seperti dulu. Namun, kembali kepada rasa bersyukur tadi, aku harus memanjatkan berkali-kali lipat rasa syukurku karena tahun ini aku masih diberiNya stamina dalam bentuk kesehatan yang prima untuk menyambut Hari Raya yang Fitri tahun ini.


Aktifitas Menyambut Lebaran dengan berbagai aktifitas rutin.. 
 
  1. Sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk mempersiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari sebelum hari H tiba. Apa itu? Enam hari menjelang Lebaran aku sudah mulai membuat kue-kue khas Lebaran dua macam kue yang menjadi andalan dan favorit keluarga. --  nastar dan kastengels. Kue kastengels-ku memang dinilai top dilidah para pencicipnya. Kenapa? Nastar dan kastengels ala aku menurut mereka "top-markotop", hehehe...lho koq bisa, ya? Tentu! Karena kue-kue yang aku buat tidak memasukkan telur ke dalam adonan. Yes! Tanpa telur! Sedangkan kastengels-ku selalu menggunakan keju tua yang disebut Keju Edam dalam jumlah banyak, sehingga rasa asin kastengels sangat terasa gurih dan renyah pula. 
    Kastengels dan nastar siap di distribusikan, hehe...
  2. Aktifitas semakin seru karena aku melibatkan dua orang Mbak untuk belajar. Mereka sempat bingung "Koq gak pake telur, Bun?" Mereka serius belajar karena aku beri sanksi: "Kalau gak mau belajar, ya, gak bakalan bawa oleh-oleh kue untuk pulang kampung." Hehe...gertak sambel-ku berhasil. Mereka tanpa lelah mencetak dan membakar kue sampai selesai, penuh semangat dan ceria pula.
  3. Tiga hari sebelum hari H aku mulai mengolah rendang. Rendang buatanku tak pernah aku buat secara sekali gebrak langsung jadi, tapi hari ketiga pengolahan barulah start dengan pengeringan rendang dengan api yang sangat kecil. Nah! Hasilnya, daging rendang akan semakin yahud rasanya karena bumbu-bumbu sangat meresap ke dalam daging dan kentang kecil sebagai teman rendang olahanku. Mau tahu berapa ukuran santan kelapa untuk satu kilogram rendang ala-ku? Santan dari 3 butir kelapa ukuran besar dan 4 butir santan dari kelapa ukuran sedang/kecil.
Dengan pengolahan seperti ini maka daging rendang ketika digigit akan terasa maknyus serasa menggigit kentang. Ciyuus? Ya, iyalah! Itulah yang bikin harga rendang melejit harganya, bukan soal daging or bumbu-bumbunya, tapiii... sensasi mengolahnya yang memerlukan waktu dan kesabaran yang gimanaa...gitu.  

 (1) masukkan santan, daun kunyit, sereh (2)  masukkan sebagian bumbu ke dalam santan, sebagian untuk digelimangkan ke irisan daging (3) daging dimasak hingga santan berminyak, kecilkan api (4) Jadi deh rendang kering.
Hidangan lengkap tradisi setiap Lebaran
Lebaran tahun ini untuk hidangan lengkap Lebaran, sengaja aku tidak mengolahnya sendiri, sebagaimana kebiasaanku ketika anakku lelaki masih ada. Tahun ini, setelah 2 tahun dia meninggalkan kami semua, anak-anakku yang lain (3 orang perempuan) tidak mengizinkan aku untuk mengolah sendiri. Mulai dari ketupat, lontong bersama teman-temannya, hehe...sayur ketupat, sambel goreng ati sapi dan kentang (plus pete/petai), semur daging, opor ayam...aku memesannya dari tetangga yang biasa menerima orderan setiap lebaran. Bebaslah aku dari kesibukan yang super ribet ini, sehingga tenang mengerjakan point 1, 2 dan 3, hehehe...

Malam Takbiran dan Kumpul Keluarga

Seperti ungkapan dalam pribahasa: "Untung Tak Dapat Diraih, Malang Tak Dapat Ditolak" -- itulah yang terjadi di keluargaku. Rencana untuk bermalam takbir di rumahku yang Home Sweet Home di Pamulang terpaksa batal, karena dua hari menjelang malam untuk merayakan kemenangan, cucuku, Ayman menderita panas tinggi terpaksa dibawa ke RS terdekat. Setelah pemeriksaan laboratorium  ia di-vonis terserang DBD.  Aku putuskan untuk merayakan malam takbir tersebut di RS saja, dan bermalam di rumah anakku di Green Bintaro Residence, tidak jauh dari Rumah Sakit. Seru sih, karena aku harus mondar-mandir ber-ojek-ria dari RS di dekat McDonald, Prapatan Duren, Ciputat  ke rumah si Bontot di Bintaro Sektor 7 untuk menuntaskan final touch rendang ala-ku. Karena suasana hati penuh dengan keikhlasan untuk melakukan apa pun, maka tak terasa kelelahan yang mendera. 
 
Pada hari H setelah Solat Ied, kami berlebaran ke Rumah Sakit, menengok Ayman dan Mamanya yang selalu stand-by menunggunya. Melihat Ayman sudah mulai membaik, kami bahagia. Anak cucu menantuku yang berkumpul di Rumah Sakit dengan bahagia dan penuh rasa syukur saling bermaaf-maafan. Ya, anak perempuanku hanya dua orang yang berkumpul, sedangkan yang seorang lagi baru akan tiba di Indonesia keesokan harinya. Alhamdulillah, akan lebih lengkaplah keluargaku nantinya.





Moment Yang Hilang Namun Tergantikan

Karena keberadaanku yang tidak menentu, hehe...kadang aku di rumahku sendiri, lain kali aku di rumah anakku bontot dan kali yang lain aku di Green Bintaro Residence membuat para adikku beserta keponakan dan cucu keponakan kesulitan menghubungiku. Biasanya mereka  akan berkunjung ke rumahku di Pamulang, tapi tidak kali ini. Mereka bingung menghubungiku. Aku pun tidak memberitahukan di mana keberadaanku, sehingga aku kehilangan moment yang indah untuk merayakan hari kemenangan bersama seperti tahun-tahun yang lalu.  Ternyata para keponakan tercinta dan para cucu datang ke rumah anakku yang bontot (Mira), padahal baru saja aku meninggalkan  rumah itu menuju Green Bintaro Residence. Huntinglah mereka, konvoi dengan empat buah kendaraan yang dipenuhi keponakan dan para cucu,  namun karena kemacetan yang luar biasa menuju Green Bintaro Residence, hunting pun dihentikan dan punahlah harapanku untuk bertemu mereka pada Lebaran hari kedua. Mereka langsung pulang.
Mereka berkomentar di telepon genggam: "Waaah, Uning (mereka memanggilku "Uning" -- karena kulitku kuning, wkwkwk...) di mana sekarang? Tadi telpon Nina, katanya Uning di rumah Mira, tapi di-bel-bel gak ada yang keluar. Jadi gak enak, hebob tauk, malu juga ma tetangga Mira, empat mobil berjejer. Tapi kami sempet narsis juga lho di taman dekat rumah Mira.. Sayang gak lengkap karena gak ada Uning, hiks..."
 
Seperti yang aku torehkan di paragraph pertama dan kedua, hatiku bahagia dan dadaku dipenuhi rasa bersyukur karena mereka masih mencariku seperti biasanya. Begitu juga adik-adikku beserta anak cucu dan menantunya mengunjungiku di rumah Pamulang, walau pun kunjungan itu terlaksana pada hari ke sekian setelah Lebaran. Tak apa, rasa bersyukur masih bertengger di hatiku. Keceriaan dan kesegaran pertemuan tetap terpancar dari wajah-wajah mereka, juga berbinar di wajahku karena kebahagiaan yang terpancar disertai rasa bersyukur ke Hadirat Ilahi. Alhamdulillah, ya Allah, Kau masih mengizinkan aku bertemu dan berkumpul dengan mereka. Dan benar adanya kalau aku katakan Duo Ceria dan Bersyukur, karena ceria akan muncul dari hati yang selalu bersyukur. Subhaanallah.

Anak-anak dan cucu-cucu dari sepupuku yang datang dan pastinya kecewa karena setelah hunting keberadaanku, terpaksa tidak sukses, hehe... namun kemudian tetap aku menyediakan waktuku, belum lama ini, sebagai pengganti moment yang hilang itu, sekaligus bersilaturakhim.  Andaikan tidak ada aral yang melintang seperti yang aku utarakan di atas, tentulah foto lengkap cucu keponakanku akan seperti  foto yang terpampang di bawah ini, kebahagiaan kebersamaan di Hari Lebaran tahun 2015. Foto diunggah dari postingan ini.

Ini baru dari seorangg sepupu, gimana kalo semua sepupuku kumpul, ya?

Bagaimana dengan "Mudik" 

Tak ada istilah ini dalam keluargaku. Kenapa? Karena kampungku nun jauh di sana, sudah lebih dari 15 tahun tak pernah kami jelang. Sekali kunjungan (p.p.) pastilah membutuhkan uang yang tidak sedikit jumlahnya, lagi pula keluargaku di kampung halaman sudah banyak yang merantau ke berbagai kota yang berbeda-beda. Sehingga, instead of mudik, kami hanya berkomunikasi jarak jauh melalui handphone, email atau yang lebih asyik lagi dan gratis pula tentu saja melalui WA. Memang logikanya kurang afdhol berkomunikasi di Hari yang Fitri melalui cara ini, tapi lebih baik dilakukan dari pada tidak berkomunikasi sama sekali, bukan? So, tak satu jalan ke Roma, andai mereka tak bisa kita kunjungi secara pribadi, ya, melalui gadget  pun akan memadai untuk menyambung tali silalturakhim dan mempererat ikatan keluarga demi meneruskan kebiasaan baik untuk saling ber-kabar-kabari. Duo Ceria dan Bersyukur harus terus ditingkatkan. Aamiin.

 
Last but not least -- simak yang berikut yuuuk, jangan lewatkan the upcoming event berikut ini, yang akan diadakan oleh DiaryHijaber:

Nama Acara:  Hari Hijaber Nasional
  Tanggal: 07 Agustus 2016 – 08 Agustus 2016
Tempat: Masjid Agung Sunda Kelapa,  Menteng, Jakarta Pusat

 


 





20 comments:

  1. Waaaaaaah, rendanganya itu lho bikin ngiler. Di sini nggak ada yang pandai bikin rendang, orang jawa totok semuanya sih. Hehehe... Kalo Lebaran di Jambi Ibu saya bisa bikin rendang enak. Cuma kemarin gak mudik. Insya Allah tahun depan.

    Sukses untuk kontesnya ya, Bunda...

    ReplyDelete
  2. Waaah seru bangat Bunda persiapan lebarannya :) Itu kue nastar dan kastengels ga pake telur, jd penasaran gimana rasanya Bunda, pasti enak kayanya hehehe

    Duuuh saya juga mupeng sama rendangnya Bunda, kayanya makyus bgt, *mendadak pengen makan lagi hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awan, hayu atuh kapan2 ke rumah ninikmu ini, tp yg pasti rendangnya dah abis, hehe...

      Delete
  3. Jadi pengen nyicipin kastengels nya bunda hehe ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihiii...sekarang mah dah tuntas....tahun depan ya....disiapin.

      Delete
    2. Tahun depan deh dibikinin, ya...

      Delete
  4. wah bunda hebat banget bikin kuenya sendiri, lah aku nunggu diberi orang dan beli jadi, mungkin aku gak bakat masak

    ReplyDelete
  5. Pas hunting bundanya pasti seru kayak di film finding nemo... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahuahua....seru...Isnaini bisa aja... Makasih kunjungannya.

      Delete
  6. alhamdulillaah ya Bunda, ada orang yang diberi kelebihan di berbagai bidang. jadi tak sempat masak ketupat pun tinggal pesan sama yang rezekinya di situ.

    rame banget Bunda kumpul-kumpulnya. dulu saya tinggal di bintaro lho Bunda. di belakangnya sektor 3A tapi. bintaro bawah. hihi...

    di tempat saya malah pada bingung cari orang tua karena nenek yang biasa dijujugi pas lebaran baru meninggal april kemarin.

    good luck for the contest ya Bunda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, alhamdulillah... Nanti lagi jngn susah2 cari Nenek, di Pamulang 2 ada Nenek yang menanti dan membuka pintu rumah se-lebar2nya.Monggo berkunjung. MAkasih kunjungan damarojat ke bl8g bunda. Mengarapnya sih ingin menang, md2an Dewi Fortuna mau berpihak kpd bubda, hehe...

      Delete
    2. Iya, alhamdulillah,kalo gak kan bisapada puasa gak nyicipin makanan khas lebaran. Waaah tahun depan jangan bingung2 cari Nenek, di Pamulang 2ada yang menanti pintu selalu terbuka untuk damarojat dankeluarga. Makasih do'anya, me ang itu yangdiharapkan, semogaDewi fortunaberpihak ke bunda,ya.

      Delete
  7. wuihhh Bunda, keluarganya rame dan besar, pasti seru kalau sudha kumpul lengkap ya,semoga Ayman lekas sembuh, Bunda rajin banget sampe bikin kue juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keluarga besar juga adalah harta, kan, bisa bikin bunda hepi banget. Alhamdulillah, Ayman sekarang dah pulih total. Hehe...bunda udah mulai bikin kue sblm cucu sakit, makanya ketika cucu yg suka nyanyi ini sakit, bundanya wara wiri RS-rumah, hehe...

      Delete
  8. hmmm rendangnya menggoda banget tuh, di tambahin sambel cabe ijo lebih pas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, good morning, power people, thank you your visiting my blog. Hehe...bisa aja, plus lalaban ketimun donk...

      Delete
  9. Replies
    1. Yaaa...telat, udah abis sekarang mah, david adrianto. Nanti ya, Lebaran tahun depan bertandang ke rumah bunda bakalan dapet deh yang fresh from the oven, hehe... Makasih kunjungan david ke blog bunda.

      Delete
  10. Rendangnya mantap bunda...
    😊

    ReplyDelete