Saturday, September 03, 2016

Badai Pasti Berlalu

ODOP hari ke-6, Sabtu,3 September 2016 adalah menulis Cerpen. Hiks...ide dari mana nih. Tapi, tenang, aku akan bercerita tentang diriku, kan bisa juga dianggap sebagai cerpen. Insya Allah aku usahakan berjalan di lorong waktu ke tahun 2009 onward. Aku akan menuliskan judul cerpenku: Badai Pasti Berlalu."

"Pagi-pagi Mama udah ngonlain deh!" anakku memulai komentarnya di pagi hari. Suaranya agak sedikit sinis, ketika melihat aku sudah mulai menarik kursi dan duduk di depan komputer.

"So what?" jawabku sambil tersenyum, tapi nada suaraku tidak kalah sinisnya.

"Ya, gakpapa sih. Tapi Mama kan harus ingat kesehatan Mama juga. Mama masih harus banyak beristirahat," sambungnya.

"Otak Mama butek rasanya tidur melulu. Capek. Penyakit 4-L lelah, letih, lesu dan lemah masih juga betah di badan Mama."

Aktivitas online-ku selalu saja mendapat hambatan yang membuat hati ini kurang lega duduk di belakang komputer.

Kesempatanku online secara leluasa adalah ketika cucuku ke sekolah dan anakku ke kantor. Itu pun aku harus berhati-hati. Listrik di rumah anakku sudah memakai sistim PLN Pintar alias sistim pulsa. Namun hal ini lebih memberikan aku keleluasaan. Dengan demikian aku bisa melakukan kontrol berapa jumlah pulsa yang tersedot ketika aku melakukan kegiatan online. Tanpa diminta aku akan segera membeli pulsa di Alfa Mart terdekat. Sistim baru ini lebih banyak membantu dibandingkan dengan sistim lama. Aku bisa melihat ke mesin pencatat sebelum mesin itu mengeluarkan bunyi siulannya, hehe...

Suatu ketika salah seorang anakku ingin melihat apa gerangan aktivitas online-ku. Apa yang menjadikan aku addicted melakukannya.

Selama ini tak seorang pun yang memberikan apresiasi terhadap aktivitas online-ku.

"Mau tau apa yang membuat Mama betah ber-lama-lama di depan komputer?" tanyaku tanpa menanti jawaban dari mereka.

Aku puas membuat mereka terpana saat aku minta mereka meng-klik link blog yang berisi postingan-postinganku.

"Wooow, ini semua hasil Mama online? Keren juga Mama-ku ini!"

"Ya, iyalah, masa hasil karya orang lain ada di blog Mama, sih!"

Anakku tersenyum penuh arti. Kemudian aku klik akun Facebook-ku. Aku tunjukkan kepada mereka.

"Gila! Lihat, teman Mama berjumlah 987. Fastastis banget sih, Ma! Temenku jumlahnya masih di bawah 200. Keren, Mamaku." puji anak perempuanku yang tertua.

"Semua ini tak mungkin terjadi bila Mama tidak duduk di belakang komputer, kan?"

Anak-anak tersenyum manis. Serentak mereka memelukku. Indahnya hidup ini bila orang-orang tersayang di sekelilingku mulai mengerti diriku.

Waktu pun terus bergulir...

Dan aku masih tetap dengan kegiatanku yang sama. Ngeblog.

Tahun berganti tahun hingga tibalah pada tahun 2012 aku benar-benar bangga pada diriku karena telah melihat secara fisik hasil karyaku yang dibukukan. Ya, naskah-naskahku yang diikutkan dalam lomba menulis antologi menjadi nyata bisa bertengger di rak-buku di rumahku.

Selang beberapa waktu setelah kejadian dialog itu anak-anak mengajakku berlibur ke sebuah pulau. Dalam rangka ulang tahunku yang ke 73. Kami berlibur selama tiga malam. Pada malam ulang tahunku, tepat pukul 00.00 aku dibangunkan oleh anak-anakku. Mereka menggiring aku ketepi sebuah kolam di Villa itu. Tanpa komando cucu-cucuku kompak membimbingku ke ruang tamu Villa.

Aku sudah mendapat bocoran tentang rencana mereka. Jadi aku berusaha menarik hati cucu-cucuku untuk membela aku.

"Jangan biarkan Bunda diceburin ke kolam renang,ya! Tahu, kan, Bunda paling takut sama air. Awas, kalo gak belain Bunda." ancamku, tapi aku sergap pipi-pipi mereka dengan kecupan sayang bertubi-tubi, agar rona kebohonganku tidak terbaca oleh mereka. Sebenarnya aku tidak pandai berenang.

"Beres, Bun! Tenang aja!" cetus mereka hampir serempak.

Hhhh...leganya hati ini desisku perlahan sambil kutatap satu persatu mata cucu-cucuku yang indah dan berbinar dalam semburat senyum tak berdosa.

Urunglah rencana para Mama dan Papa mereka. Aku selamat dari incaran mereka untuk menceburkan aku ke kolam renang. Suasana tetap meriah. Hadiah kejutan pun diserahkan kepadaku. Hadiah itu adalah apa yang selalu kudamba. Sebuah Laptop ACER. Dengan penuh euforia, aku peluk laptop itu bak aku memeluk seorang kekasih hati.

"Langsung deh si Mama nih ngisi status di fesbuk kalo dapat hadiah laptop. Sampe deh tu kabar ke seantero belahan dunia, maksudnya temen-temen online Mama," canda si Bungsu.

"Jelas donk, status itu perlu koq, berbagi kegembiraan boleh, kan? Mama bangga menerima apresiasi dari anak-cucu-menantu Mama. Insya Allah Mama and tetap eksis di dunia online sampai saatnya jemari ini gak kuat lagi menekan toets keyboard laptop," ujarku.

Aku rasakan ada sesuatu yang hangat memenuhi kelopak mataku. Aku tahan agar tidak merebak. Aku selimuti dengan senyum kebahagiaan. Ya, Allah, lindungilah mereka yang menyayangiku dengan sepenuh kekuasaanMu. Aamiin.

Pikiran negatif yang dulu pernah muncul di hati anak-anakku akhirnya sirna. Berkat kegigihan dan kesabaranku yang selalu berharap suatu saat Badai Pasti Berlalu. Allah telah menjabah do'a dan harapanku.

Alhamdulillah, ya, Allah atas rezeki yang Kau limpahkan melalui anak-cucu dan menantuku.

1 comment:

  1. Bunda bisa eksis dan komit banget ya ikutan odop nya? kalau saya udah nyerah duluan, hiks. Jadi ikutan semangat nulis lagi nih setelah lihat semangat bunda. :)

    ReplyDelete