Aku Ingin Dipeluk Anakku.


"Aku ingin dipeluk anakku."  Itu yang dikatakan olehnya begitu ia masuk sambil memelukku. Menangis di bahuku. Aku jadi terenyuh. Kejadian belasan tahun yang lalu masih tersimpan dengan baik dalam memoriku. Ingatan ini menjadikan semangat menulisku bangkit dan ingin menorehkan tentang sesuatu yang ada kaitannya dengan rasa kerinduan yang mendalam. Aku berharap dan berdo'a semoga kini ia telah mendapatkan apa yang diinginkannya. Sebuah pelukan hangat seorang anak.

Beberapa hal yang mungkin bisa untuk dijadikan renungan oleh mereka yang masih memiliki ibu, beberapa hal yang bisa dijadikan sebuah pemahaman dan pemikiran yang arif ada baiknya kita simak bersama yang berikut ini:



1. Dahulukan dan Bahagiakan Ibumu

Pada saat seorang Ibu mengandung, kasih sayang telah tercurah untuk sang jabang bayi bersamaan dengan perubahan bentuk fisik yang sangat disadarinya. Segala kesakitan, kegalauan dan kekhawatiran akan kesehatan bayi yang ada di dalam kandungan sangat membuat hati ibu was was dan selalu berdo'a akan kelahirannya nanti dalam keadaan selamat dan sehat tanpa cacat. Sembilan bulan sepuluh hari bayi dikandungnya, sehingga setelah lahir, tumbuh besar dan dewasa, adalah hal yang wajar bila keinginan seperti dalam judul postinganku sangat diinginkan oleh seorang ibu.


Anak-anakku tanpa diminta acapkali memelukku dari belakang, bahkan ketika dia memelukku, dieratkannya tautan kedua lengannya di pinggangku dan....diangkatnya tubuhku, terutama ini seringkali dilakukan oleh si Bontot. Tawa kami pun berderai. Ketika itu dunia ini serasa menjadi milikku. Alhamdulillah. Setua ini aku masih ada tempat di hati mereka. Pada acara istimewa mereka selalu membuat hatiku tambah bahagia, seperti mengajakku berlibur sebagai hadiah kejutan.



Bagi seorang ibu perasaan sayang kepada buah hati yang dilahirkaannya sedalam lautan, sedangkan bagi seorang ayah kasih sayangnya sebatas tingginya gunung yang tertinggi. Tidak bisa dipungkiri ada juga seorang ayah yang memiliki hati yang penuh kasih sayang dan cinta untuk anak-anaknya. Tak kurang pula para ibu yang mampu menelantarkan anaknya. Semua itu terpulang kepada hati nurani mereka dan rasa keimanan dan rasa bersyukur atas anugerah Allah yang dalam menancap dalam dada mereka. 


Ternyata, kebahagiaan yang aku milikilah rupanya yang membuat aku selalu kelihatan cerah dan sumringah. Tak ada kegalauan tebersit di wajahku. Tak sedikit orang menyangka usiaku lebih muda dari yang sebenarnya. Cieee...cieee... Swear! Memang itu kenyataannya. Masa sih aku harus membawa-bawa dalam tasku surat keterangan lahir yang dibuat oleh ayahku tahun 1939? Hehe...


Di usia pensiunku dengan BigZeroEarning ini ketiga anak perempuanku yang men-support monthly allowance-ku. Mereka mendukung apapun aktivitasku yang positip, baik sebagai blogger maupun untuk menambah ilmu pengetahuan yang aku inginkan. Bukan saja tubuh yang harus bugar di usia senja ini, tapi juga menjaga kesegaran otak agar terhindar dari penyakit pikun yang akan menyusahkan anak-anak tercinta di kelak kemudian hari.


 2. Celoteh dalam Perjalanan

Anak-anak membiarkan aku untuk beraktivitas apa saja sejauh itu tidak mengganggu kesehatanku. Permintaan mereka hanya satu: Aku tidak diizinkan untuk naik ojek or go-jek manakala bepergian jauh. Untuk jarak dekat okelah dengan transport umum (angkot), tapi tidak untuk naik bis-bis besar, kecuali aku tidak bepergian seorang diri. Sssttt...tapi terkadang karena tidak sabar dengan kemacetan sedangkan aku harus berada di satu tempat on time, tak jarang aku langgar juga larangan anak-anakku. #itulahaku



Hari Selasa, 21 Nopember 2017 aku menjalankan misi Nomaden-ku, hehe...berpindah dari rumahku  yang Home Sweet Home di Pamulang ke rumah si Bontot di Bintaro Sektor 7.  Booking Grab-Car segera aku lakukan. Sukses. Grab-Car tak lama berselang pun datang.

Ketika sudah duduk di dalam taksi/grab-car, pengemudi taksi langsung bertanya:

"Tadi yang pesan online-nya siapa, Bu?"

"Saya," jawabku sambil mengeluarkan Lenovo-ku

"Kenapa, ya, Pak?" tanyaku

"Gak apa-apa, Bu. Saya kira Cucu ibu yang memesan via online tadi. Soalnya suaranya seperti anak muda," ulasnya lagi.  Kecewa nih ye karena kenyataannya seorang nenek renta yang order, hahaha...

Aku bersyukur Allah telah menganugerahkan untukku kesehatan yang sangat meyakinkan tentang stamina yang baik di  usia senjaku ini.

Percakapan berlanjut.

Sang Pengemudi bertanya berapa usiaku. Lagi-lagi aku mengucap alhamdulillah kepada Allah Sang MahaPencipta karena pada usiaku yang 78 tahun, pengemudi grab-car menyangka aku masih berumur 60an. Subhanallah, jadi aku terlihat 18 lebih muda dari usiaku. Tentu saja semua itu berkat hatiku yang selalu bahagia, pasrah pada keadaan dengan penuh rasa bersyukur memiliki anak-anak yang mengasihi dan amat peduli padaku. Aamiin.

"Ibu saya sudah berusia 84 tahun. Dan sudah pikun. Tapi pendengarannya masih bagus, juga penglihatannya."

Bila Allah berkehendak apapun bisa terjadi. Diberinya umatNya kekurangan, namun masih juga diberkahi dengan kelebihan yang tiada tara: Pendengaran yang luar biasa dan penglihatan yang mengalahkan seorang wanita renta berusia 6 tahun dibawah usianya, sudah harus berkacamata dengan ukuran +3 yaitu aku. Ibu Pak Pengemudi itu tidak tinggal bersamanya. Seorang adik perempuan dan adik lelakinya yang masih belum berkeluarga merawat ibunda mereka. Setiap minggu secara rutin ia selalu menengoknya.

3. Rindu yang Tak Terbendung

Suatu kali, menurut ceritanya ketika dalam tugas, begitu kuat keinginannya untuk bertemu dengan ibunya. Dia begitu rindu dan kerinduan itu tak tertahankan. Setelah mengantarkan penumpangnya, di wilayah Ciputat, tanpa ragu langsung handphonenya di off-line. Aman. Tak akan ada order yang masuk. Tak peduli lagi dengan tugasnya yang masih harus mengumpulkan sekian trip untuk mencapai bonus dari perusahaan. Mobil pun meluncur dengan cepat ke rumah ibunya di wilayah Depok.

"Uang bisa dicari, kapan saja. Tapi rindu pada ibu ini gak tertahankan lagi. Saya takut terjadi apa-apa pada ibu yang akan jadi penyesalanan saya seumur hidup," tuturnya

Sampai di tujuan, Sang Pengemudi disambut oleh adik perempuannya. Ini celoteh berkutnya.

"Untunglah Abang cepat datang. Emak tu dari tadi nanya Abang terus. Menangis pula. Duduk terus bermenung diri menunggu Abang. Tak mau makan dari siang tadi. Habis akalku, Bang" -- ketika ia bercerita sambil menepuk pelan kemudi mobilnya, ia berkata: "Coba, Bu, kalau saya gak datang!"

Ibu yang pikun itu memang selalu menanyakan anak lelakinya, tapi ketika anaknya sudah bersimpuh dihadapannya dia menanyakan dengan lantang:

 "Kau siapa? Mana anakku? Aku ingin dipeluk anakku!"

"Saya peluk dia dengan erat, Bu. Dia berusaha berontak tapi saya pererat memeluknya. Suara ibu saya begitu sedih dan begitu memilukan. Padahal anak yang diharapkan sudah ada dihadapannya. Memeluknya"

Aku toleh ia. Terlihat matanya berkaca-kaca. Subhanalah, andai anak lelakiku masih ada pasti seperti itulah keadaannya ketika kerinduan padaku itu datang menyerang hatinya. Aku mmbayangkan wajah almarhum anakku.RIP my beloved son

"Ibu tau gak?"

Aku siap mendengarkan.

"Saya ini orang Sumatera Utara, menganut agama Islam dan taat menjalankan perintahNya. Semua anak cucu Ibu dan Ayah saya beragama Islam. Saya paham betul ada hadist yang mengatakan surga itu di telapak kaki ibu.  Karena itu saya tidak mau menjadi anak yang durhaka, Bu. Saya peluk ibu saya. Saya cium-cium kedua belah pipinya. Saya cubit-cubit dan saya permainkan kulit pipi dan dagunya yang sudah menggelambir.  Kulit kedua lengannya sudah kelihatan seperti membalut tulangnya saja."

Ia meneruskan ceritanya bahwa dengan sikapnya mempermainkan wajah dan mencubit-cubit pipi itulah yang menyadarkan ibunya kalau yang sedang memeluk dan berbuat jail menarik-narik kulit lengannya  betul anak yang ditunggu-tunggu kedatangannya.



Rekan-rekan blogger, Allah memang MahaSegalanya, dalam keadaan pikun sekalipun, naluri seorang ibu sesaat mampu merasakan kerinduan seorang anak. Hafal pula dengan kebiasaan-kebiasaan prilaku anaknya. Padahal menurut Sang Pengemudi ketika Ibunya terjatuh dan kedua kakinya luka, tak pernah ia mengeluh dan tak ada rasa sakit yang menyentuh. Apakah ini yang dinamakan "mati rasa"?. Apakah ini kelebihan yang diberikan oleh Allah kepada seorang yang pikun -- terhindar dari merasakan sakit yang mendera tubuh. Wallahu A'lam Bishawab.

Selama ini aku tahu seorang yang sudah pikun hanya pikirannya yang terganggu, tidak perasaannya. Ternyata aku salah.  Karena itu wahai para anak yang memiliki keluarga yang telah pikun, jagalah lisan kalian. Hindarkan pembicaraan kasar atau ocehan  yang mungkin bisa menyinggung perasaannya. Apalagi meremehkannya. Berbicaralah padanya seolah ia bukan seorang yang pikun, ia akan senang dan wajahnya akan berbinar. Percayalah.


4. Keberkahan akan diturunkan oleh Allah
 
Seorang keponakanku yang merawat ibunya sepenuh hati dan sepenuh cinta mulai dari sakit ringan hingga ibunya menderita kepikunan, terbaring tak berdaya, tak pernah mengeluh. Ia tinggalkan pekerjaannya karena selalu ingin dekat dengan ibu tersayang. Sepeninggal ibu tercinta, selang masa wafat ke-40 hari, keponakanku mulai lagi aktif bekerja, bukan hanya online tapi mencari customers dengan bekerja keras. Ia bekerja di sebuah Perusahaan Asuransi P. Sejak itu rezeki terus berlimpah untuknya. Ia mampu melunasi rumah yang ditempatinya. Baru-baru ini ia menerima bonus yang tidak sedikit dan digunakan untuk membeli sebuah kendaraan beroda empat, untuk menunjang kesibukannya dalam beraktivitas.

Lihatlah! Baktinya kepada seorang ibu yang dirawat sepenuh cinta hingga akhir hayat mendapat balasan dari Allah Swt -- kucuran rezeki yang beruntun di bulan-bulan terakhir dari sumber yang tak terduga terus membanjirinya. Subhanallah. Allah Maha Melihat dan Allah  Maha Menentukan.

Terus terang selama aku menjenguk kakakku ketika sakit tak pernah ia mengeluhkan Aku Ingin Dipeluk Anakku. Karena sang permata hati selalu berada di dekatnya, memangku kepalanya ketika menyuapinya makan. Menunjang dengan tubuhnya ketika ia ingin bersandar.

Beruntunglah mereka yang masih memiliki seorang ibu. Aku sudah tidak mengenal lagi usapan belai kasih ibu sejak berusia 8 tahun. Koq jadi curhat, hehe... That's life. We have to face it no matter what.

Semga tulisan bermanfaat. Aamiin.









 

Comments

  1. Hallo Bundaaa Yati.
    Big Hugs Virtual dari akuuh :)
    Sehat sehat selalu ya bunda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo juga Astari Ratnadya, terima kasih udah menjadi pengunjung blog bunda yang pertama untuk postingan ini. Gak salah kan, ya, bunda, ini Astari yang bunda sapa di acara SEREMPAK-nya Teh Ani dan menyambut sapaan bunda dengan sangat ramah yang gak dibuat-buat (kelihatan dari sorot mata Astari). Md2an ingatan bunda betul, ya. Big hug juga in the air untuk Astari.

      Delete
  2. Hai Bunda. Itulah yg Saya LAKUKAN ke Mama. Saya bersyukur msh diberi kesempatan menjaga Dan merawat Mama yg tahun ini berusia 88 th.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahagia mama pastinya memiliki anak seperti Icha. Allah Maha Melihat. Bunda do'akan semoga kesabaran, kasih sayang Icha tidak kan berubah sampaii kapanpun. Terima kasih kunjungan Icha ke blog bunda.

      Delete
  3. Sweet banget anak-anaknya bunda.
    Aku dari tipe keluarga yang tidak biasa mengekspresikan perasaan2 seperti ini. Padahal aku yakin, emak pasti suka kalau dipeluk anak2nya. Hikss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Azzura, bahkan kalau kami kumpul anak-anak yang sudah punya anak yang mahasiswa masih aja minta disuapin kalau makan. Azzura, kalau tidak dimuai dari mama, ya cobalah mulai dari Azzura. Betul itu, pasti mama akan senang sekali. Bahagia. Terima kasih kunjungan Azzura ke blog bunda.

      Delete
  4. betul bunda, aku suak banget tidur di peurt ibuku yg besar raaanya aman gitu walau aku sdh setua ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. He...he...memang sangat membahagiakan bila kita masih memiliki ibu, bisa bermanja-manja tanpa malu, walaaupun kita sudah teramat dewasa. Tentang tiduran di perut ibu jangan lama-lama, ya...berat tauk, hehe...Terima kasih kunjungan Tira ke blog bunda.

      Delete
  5. Bunda, jadi kangen ibuku deh baca ini. Semoga ortuku bahagia di alama sana dan semoga kelak kami dipertemukan. Kadang kangen pelukan ibu hiks...barokallah Bunda masih ada anak-anak yang perhatian dengan Bunda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, Naqiyyah, bunda masih memiliki kekayaan yang luar biasa, 3 orang anak perempuan, 4 orang cucu laki-laki dan seorang menantu. Bila tiba saat pasti Naqiyyah akan dipertemukan leh Alah Swt dengan ibu dan ayah Naqiyyah. Aamiin. Terima kasih kunjungan Naqiyyah ke blog bunda.

      Delete
  6. Terimakasih untuk ceritanya. Menjadi pengingat untuk kami yang pasti menua tanpa bisa mengetahui hari esok. Hanya bila Tuhan berkenan saja kita bisa melihat matahari besok pagi. Sehat selalu, Bunda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih juga untuk kunjungan Yunike Damayanti ke blog bunda. Aamiin untuk do'anya.

      Delete
  7. Alhamdulilah ya putra -putri Bunda satang banget sama bunda. Diajak jalan-jalan dan liburan juga. Kalau lihat bunda saya selalu ingat nenek saya. Seusia bunda Yati. Anak menantu cucu juga sayang beliau semua. Tiap beliau datang ke Jakarta saya selalu peluk dan uyel uyel. Karena saya sayaaaaang banget sama nenek saya. Sehat-sehat terus ya Bunda..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak ada kebahagiaan lain yang lebih besar bagi seorang nenek selain dari disayangi dan dicintaai oleh anak cucu disaat ltuanya. Terima kasih kunjungan Nunung ke blog bunda.

      Delete
  8. Berkat tulisan bunda, saya jadi ingin memeluk Mama saya. :'(
    Tapi gak tau kenapa, setiap memeluk beliau pasti saya langsung mewek dan pengen nangis. Padahal sehari-hari biasa saja. :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agung Rangga, alhamdulillah, rasa sayang mengalir kepada Mama Agung Rangga melalui tulisaan ini. Agung menangis setiap memeluuk mama karena Agung betul betapa perjuangan Mama membesarkan anak(anak)nya tanpa minta balasan. Juga, ketika kita memeluk mama pasti ada perasaan hangat yang merasuk ke dalam hati masing-masing, pertautan batin yang luar bisa.Terima kasih sudah berkunjung ke blog bunda.

      Delete
  9. MasyaAllah, Bunda.. semoga selalu sehat dan putri-putrinya dapat memeluk dengan sering. Saya sudah gak punya ibu, jadi gak bisa meluk :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Leyla, bunda juga sejak usia 8 tahun sudah gak punya ibu, hanya nenek dan kakek. Aamiin do'anya untuk bunda. Kalo ada kesempatan ketemu peluk erat bunda aja, ya. Terima kasih kunjungan Leyla (ya, masa sama anak manggilnya Mbak, hehe...) ke blog bunda.

      Delete
  10. Big hugs bundaaa...gestures sederhana tapi memang rasanya dalaaam :)...semoga bunda selalu bahagai bersama keluarga tercinta yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, kebahagiaan batin yang selalu bikin bunda keliatan awet muda, hehehe...#siapayangbilang? Makasih kunjungan indah ke blog bunda.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ada Apa Dengan Panggilan Bunda?

Eratnya Ikatan Kekeluargaan Itu

Khasiat Serai Merah