Kasih Sayang Itu Bermuara di Hati Ibu

Hanya Sebuah Prolog 
Membaca judul postinganku: Kasih Sayang Itu Bermuara di Hati Ibu" bisa jadi ada bibir-bibir  yang mencibir. Kenapa? Karena sebenarnyalah dengan mengikuti berbagai berita melalui media online atau pun offline, terkadang aku juga jadi heran betapa banyak kaum ibu -- perempuan -- makluk Allah yang sejatinya haruslah lemah lembut penuh kasih dan cinta --  tega-teganya menganiaya, menelantarkan anak, bahkan menghabisi nyawa si jabang bayi sebelum ia menghirup udara milikNya -- mereka yang seharusnya berhak menyandang sebutan Buah Hati Bunda.


Namun, itulah yang seringkali terjadi. Himpitan hidup. Kekecewaan yang menggerogoti perasaan dalam kehidupan rumah tangga. Sakitnya hati para perempuan yang menjadi boneka hidup para hidung belang yang tidak bertanggung-jawab. Dan banyak lagi alasan-alasan kehidupan sosial ekonomi yang tak mampu mereka kendalikan. Tidak kurang pula banyaknya para remaja yang seolah mencari identitas diri agar disebut gadis super modern terbius dengan prilaku yang diluar batas. Betapapun, itulah kehidupan bagi mereka yang tidak kuat menahan diri dari napsunya. Tidak mampu menjaga keimanannya. Tidak siap untuk terjun di jaman now yang serba canggih dan modern.

Apapun yang terjadi dalam lingkar kehidupan kita, tetap saja judul yang aku buat merajai sebagian kecil hati perempuan. Suka atau tidak suka, mengakui atau tak mau mengakuinya --  Allah sebenar-benarnya telah menetapkan utama kasih sayang itu bermuara di hati perempuan. Karena ini pulalah Allah mempertemukan aku dengan seorang lelaki ganteng yang kemudian menjadi jodohku. Dia tertarik padaku karena aku, menurutnya, memiliki hati seluas samudra, sangat, sangat, menyayaangi anak-anak -- sekalipun aku belum menjadi seorang ibu.

Yups, benar sekali, aku sangat menyukai anak-anak kecil, apalagi yang lucu, sehat, mata berbinar yang akan membuat aku gemas dan selalu ingin menggendongnya. Ternyata Sang Arjuna sangat memperhatikan hal ini dalam perjalanan perkenalan kami. Ia jatuh cinta padaku. Singkat cerita atas permintaan ayahku yang sedang sakit parah, kami pun menikah. Sebuah pernikahan yang serba sederhana tapi syahdu penuh keharuan.


Kehidupanku Sebagai Seorang Ibu Pun Bermula

Dengan berbekalkan kecintaanku pada anak-anak, jodohku telah terpapar atas izin Allah. Aku menikah tahun 1967 (Mei) Pada tahun pertama pernikahan, aku mengandung anak pertama yang seharusnya lahir tahun 1968, namun sayang tak terselamatkan karena kurangnya pengalamanku dalam menjaga kandungan.  Aku sedih. Tapi Allah ternyata tak ingin kesedihan itu berlarut-larut.  Bulan Februari 1969 aku kembali melahirkan. Bayi lelaki yang sehat dianugerahkan oleh Allah untuk kami. Kami bahagia. Disusul oleh kelahiran berikutnya pada tahun 1970, bayi perempuan yang berbobot 3.9 kg dan panjang 52 Cm. Kebahagaan  kami pun bertambah.

Nah, disinilah dimulailah ujianku dalam peran sebagai seorang ibu. Bayiku kena demam. Aku yang belum berpengalaman menangani bayi yang sakit tentulah diliputi kebingungan dan hal ini yang membuat hatiku gundah bukan main. Ketika bayiku berusia 5 bulan terserang demam dengan suhu, mungkin di atas 37 derajat. Tak ada persediaan obat-obatan untuk penurun panas.  Satu-satunya jalan keluar segera membawanya ke Dokter Spesialis Anak. Dokter memberikan resep obat racikan. Setelah aku minumkan 2 x @ 1/2 sendok teh, panasnya turun dan kembali normal. Alhamdulillah.  

Kalau saja ketika itu aku sudah mengenal TEMPRA syrup pastilah aku tidak perlu lagi merogoh kocek untuk biaya pemeriksaan dokter. Cukup memberikan Tempra Syrup sesuai takaran yang ada di kemasan dengan  Dosis tepat (tidak menimbulkan over dosis atau kurang dosis).

Sejak saat itu aku sangat berhati-hati memberikan makanan untuk anakku, bahkan karena terlalu hati-hati, anakku di usia remaja menderita kelebihan nutrisi dan hal ini menyebabkan dia tidak sehat dan sakit-sakitan. Pilihan membawanya ke Rumah Sakit untuk rawat inap adalah yang terbaik. Ini terjadi hampir setiap tahun sejak usianya belasan tahun. Beberapa hari anakku dirawat di Rumah Sakit. Penyakit yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan -- kelebihan nutrisi. Ternyata kelebihan nutrisi juga tidak baik untuk kesehatan.  Untung sekali aku bekerja di sebuah Organisasi Internasional untuk Anak-Anak, sehingga aku punya jatah cuti yang lumayan banyak. Kebahagiaan tiada tara bisa merawat dan mendampingi anak di kala sakit. Alhasil, setelah perawatan itu anakku tumbuh sehat dan bugar. Alhamdulillah.



TEMPRA Syrup Memasuki Kehidupan Keluarga Kami.

Waktu terus bergulir. Kehidupanku dengan anak-anak yang memerlukan perawatan seorang Ibu is over now.  Kini mereka telah menjadi Ibu untuk anak-anak mereka. Tapi tidak berarti aku menghentikan dan membatasi rasa sayangku untuk anak-anakku. Sampai kapan pun #SelaluAdaCintadiHatiBunda.  Setiap saat aku akan siap apabila mereka membutuhkanku, apalagi untuk menjaga cucu-cuku, hehe.... rasanya seperti mendapat durian runtuh, sesuatu yang sangat diharapkan oleh seorang Nenek.

Tak ada kebahagiaan yang lebih besar selain perasaan yang bertahta dalam hati meletup-letup penuh rasa bersyukur -- di usia rentaku aku masih dibutuhkan. Percayalah, Allah Mahatahu -- tak ada sedikit pun dalam sudut hatiku tertinggal rasa arogansi karena dibutuhkan. Bahkan rasa dibutuhkan inilah yang memacu semangatku untuk tetap sehat.  Hal ini sangat nyata menunjukkan adanya keterikatan yang dibalut oleh pekatnya kasih sayang antara aku dan anak-anakku. Karena itu apapun akan aku lakukan demi rasa sayangku dan demi kebahagiaan anak-anakku. Selagi aku mampu. Aamiin.


Kini aku memiliki empat orang cucu laki-laki --  tak pelak lagi apabila salah seorang dari mereka terkena demam, maka kini aku bisa menyarankan anak-anakku memilih Tempra  Syrup sebelum membawanya ke Dokter.  Varian Tempra ini ada dua macam yaitu TEMPRA Syrup untuk anak-anak diatas dua tahun sampai dengan lima tahun.dan Tempra Drop untuk baby -- yang bisa dimasukkan ke dalam lemari obat untuk persediaan sewaktu-waktu dibutuhkan.

Tempra syrup dengan rasa jeruk ini pastinya sangat disukai oleh anak-anak di antara usia 2 sampai 5 tahun. Sedangkan untuk mereka yang berumur 6 tahun hingga 12 tahun pun bisa diberikan dengan dosis sesuai dengan petunjuk pada kemasan, yaitu berdasarkan jumlah "ml" takaran. Memberikan kepada anak-anak dengan dosis yang berlebih sangat tidak dianjurkan, karena kandungan paracetamol akan menimbulkan efek samping -- keracunan pada beberapa penderita. Bila hal ini terjadi karena ketidak-hati-hatian, maka segera hubungi Rumah Sakit terdekat.


Bagi kami sekeluarga, tak pernah terlupakan Tempra syrup selalu kami jadikan andalan untuk menurunkan suhu panas manakala cucuku terserang demam.  Pemberiannya pun mudah karena tidak perlu dikocok, larut 100% .  Sangat praktis.


Tempra sirup yang disukai oleh anak-anak ini mengandung paracetamol --  obat penurun panas dan meredakan nyeri --  tidak ada efek samping ketika dikonsumsi, aman di lambung, tidak akan menyebabkan iritasi pada dinding lambung dan tidak akan  mempengaruhi fungsi ginjal, dengan catatan harus diberikan dengan. Lebih jelasnya dosis tepat (tidak menimbulkan over dosis atau kurang dosis) lagi harus sesuai dengan dosis yang tertera dalam kemasan atau sesuai anjuran dokter. 


Last but not least: Memberikan kualitas hidup yang baik pada anak-anak akan menghasilkan sebuah dampak yang baik pula dan luar biasa untuk kesehatan mereka. Anak-anak adalah Generasi Penerus Bangsa, jadi para ibu dengan sendirinya ikut andil sebesar-besar yang bisa diberikan untuk menjadikan kesehatan mereka terjaga dengan baik. Aamiin.



Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarkan oleh Blogger Perempuan Network 
dan TEMPRA






Comments

  1. Jadi ibu emang harus banyak belajar ya bun..

    Keren deh bun, jadi nenek juga musti update ya biar bisa ikut membantu stimulasi untuk cucunya. 👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget, Indri, ibu itu bukan sekedar bisa memberi nafkah menyeluruh, tapi juga harus mau membaca sedikit-sedikitlah tentang apa itu parenting. Hihihi....jadi Ge-eR nih dipuji Indri. Makasih kunjungan Indri ke blog bunda.

      Delete
  2. nenek gaulll ya bundaa tau yang terbaik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, sebutan GAULLL kan untuk yang positif, ya, Cha. Dengan gaul kan jadi tau banyak mana yang terbaik. Makasih kunjungan Echa ke blog bunda.

      Delete
  3. tempra sudah turun temurun yaa mba. gak usah khawatir sama kualitasnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, betul, betul. No comment tentang kualitasnya. Siiiiplah pokoknya. Terima kasih kunjungan lia djabir ke blog bunda.

      Delete
  4. Bundaa, sehat terus ya dikau, beserta cucu cucu. Hugs dr jauuhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin,, Noe Traveler. Begitu juga Noe semoga selalu sehat dan semangat. Big hug for you too, Noe.

      Delete
  5. Aku juga Bun, marah banget membaca atau mendengar ada perempuan yang tega menganiaya anaknya, bahkan sampai meninggal. Mungkin hidupnya berat atau banyak masalah tapi kan tidak boleh mematikan hati nurani

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Evi, itulah kesulitan mereka yang tanpa sadar telah menjerumuskan mereka juga. Terima kasih kunjungan Evi ke blog bunda.

      Delete
  6. Harus selalu sedia tempra ya dirumah. Apalagi punya anak kecil

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebaiknya memang begitu, Stefanny. Gak ada seorang ibu yang mau anaknya demam, kan? Tapi kalau tiba-tiba sang buah hati demam di malam hari kan gak perlu bingung kalau ada persediaan Tempra Syrup. Masa kadaluarsanya pun lama lho jadi aman untuk disimpan di dalam lemari obat. Terima kasih Stefanny sudah berkunjung ke blog bunda.

      Delete
  7. Bun sekarang cucu2 juga pakai Tempra ya �� seneng banget bisa melihat cucu2 yg sehat ya bun ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Ucig. Kami gak ragu untuk menyimpan stok di rumah walaupun cucu yang bontot usianya sudah 11 tahun, paling suka tuh dia minum Tempra Syrup karena rasanya yang enak dan segar. Terima kasih kunjungan Ucig ke blog bunda.

      Delete
  8. Kalau anak Bunda hidup berarti seumuran sama saya Bun..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oo...gitu ya, jadi gak salah donk kalo manggilnya Bunda, hehe... Terima kasih kunjungan Rita Asmaraningsih ke blog bunda.

      Delete
  9. Keren Bunda......saya juga pake tempra kalo si kecil panas....good luck Bunda..

    ReplyDelete
  10. Iya bun.. Kadang aku juga suka bingung dan gak habis pikir sama perempuan yg ngebuang anaknya, nelantarin atau ngebunuh anaknya.. Padahal masih bayi yg belum tahu apa2.. Kok tega gitu loh.. Gak punya hati apa ya.. Duuh.. Jadi esmosi kalo ngebayanginnya..

    ReplyDelete
  11. betul bund, Tapi tidak berarti aku menghentikan dan membatasi rasa sayangku untuk anak-anakku. Sampai kapan pun #SelaluAdaCintadiHatiBunda.
    prospek saham

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ada Apa Dengan Panggilan Bunda?

Eratnya Ikatan Kekeluargaan Itu

Khasiat Serai Merah