KEPURA-PURAAN YANG OBJEKTIF


Ketika kita sedang memikirkan satu hal yang merisaukan hati dan tak tahu ke mana harus mncari solusi, di sinilah strategi kepura-puraan yang objektif itu kita aktifkan. Kenapa? Karena solusi yang kita perlukan dalam skala kecil hanya dimiliki oleh orang yang kebetulan tidak kita sukai. So, no matter what, let's do the action to pretend that we do like him or her.

Sumber Gbr: tribunnews.com


Pada masa sekolah SD (Sekolah Dasar) beberapa teman yang memilih lebih baik tidak belajar sama sekali dan rela meninggalkan satu mata pelajaran karena tidak menyukai sang guru. Entah dari penampilannya atau mungkin saja karena mata pelajaran yang diberikan kebetulan tidak disukai oleh mereka. Lalu, apa solusinya? Akankah mereka selamanya tidak akan mengikuti satu mata pelajaran hanya karena tidak menyukai sang pemberi materi pelajaran? Wah, alangkah piciknya pikiran mereka. Bukankah itu artinya mereka sedang menggali lubang sendiri untuk terjun ke sebuah kubangan yang gelap? 

Oo...tidak! Aku tidak akan berbuat seperti itu. Yang membuat hatiku gundah ketika itu bukan karena aku tidak suka pada Pak Guru atau pelajarannya yang tidak menarik sama sekali. Namun, di kelas kami -- aku masih ingat -- ada seorang siswi yang sangat sombong. Duduk sebangku dengannya benar-benar membuat kesal, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku menyeganinya. Bayangkan, kami duduk sebangku -- setiap mata pelajaran yang paling tak aku sukai -- disaat aku konsentrasi menyimak, si cewek yang arogan ini selalu menggoyang-goyangkan bangku. Ngeselin, kan? Maklum zaman dulu, bangkunya masih bangku seperti bangku tukang bakso pinggir jalan (kalau di zaman now). Aku biarkan saja dia berbuat seperti itu.  Kenapa? Takut? Why should I? Aku hanya segan padanya. Ayahnya adalah seorang Sastrawan terkenal dan juga favoritku. 

Ya, ampuun, hanya karena aku ngefens sama ayahnya yang seorang Sastrawan aku mengorbankan harga diriku dan membiarkan diriku jadi bahan untuk diganggunya. Mungkin itulah yang disebut bullying kalau zaman now, hehe...Karya ayahnya yang terkenal adalah  novel "Dibawah Lindungan Ka'bah" dan "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Sebagai anak seorang Sastrawan mungkin karena itulah ia sangat pintar dalam pelajaran bahasa Indonesia. Pelajaran yang sepertinya mudah sekali, tapi bagiku sangat sukar  menyerapnya. Itulah sebabnya aku belum juga menjadi Penulis terkenal, tapi tetap sebagai blogger biasa, hahahahaaa...

Aku masih ingat, kami diharuskan membentuk kelompok belajar. Wah, cewek arogan itu masuk dalam kelompok kami. Aku galau betul karena disamping memang dia pintar dan kami merasa beruntung memilikinya dalam kelompok kami -- namun di sisi lain aku tak suka akan sikapnya yang sombong dan seringkali menggangguku. Haruskah aku keluar dari kelompok yang telah diputuskan? Apa alasanku? Tak ada! So,the show must go on. then.

Mari, ayo mainkah kepura-puraan yang objektif ini, pikirku.  Kebetulan aku sangat tahu si anak yang arogan ini sangat menyukai rujak. Jadi sebelum pelajaran kelompok dimulai aku memberi gagasan mengadakan pesta rujakan. Kami pun saweran membeli buah-buahnya dengan mengecualikan dia tentunya. Kan dia yang jadi tamu kehormatan, hehehe...

Nah, di pesta rujakan itu aku berpura-pura memuji kepintarannya yang tidak dimiliki oleh siswa/siswi di sekolah kami. Bahkan mungkin di seluruh SD di Jakarta. Aku katakan kelas kami bangga memilikinya. Dia hanya tersipu, tanpa mengucapkan satu kata pun.  Oops, lupa sejak tadi aku belum menyebutkan namanya. Inisialnya aja ya, huruf "A" cewek berkulit putih berambut panjang, berhidung mancung. 

Selepas acara itu hubungan antar-anggota kelompok kami menjadi tak terpisahkan. Itulah manfaat dari kepura-puraan yang memberikan dampak objektif dan menghasilkan sesuatu yang positif -- persahabatan. 

Last but not least: Pernah gak sih dengar tauziah yang mengatakan kalau kita tidak menyukai seseorang, kita harus berpura-pura suka, tidak boleh membencinya. Nah, sifat pura-pura ini lama kelamaan akan menjadi sifat kita sendiri, melahirkan sifat pemaaf dan objektif dalam menilai pertemanan. Believe it or not

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ada Apa Dengan Panggilan Bunda?

Eratnya Ikatan Kekeluargaan Itu

Khasiat Serai Merah