Terlalu!! Seperti Tak Bisa Usaha Lain Saja

Terlalu! Seperti Tak Bisa Usaha Lain Saja.  Judul postinganku kali ini sangat pas mewakili kata hatiku. Betapa tidak, aku yang sudah tua renta ini setiap kali ada kesempatan ke pasar terdekat, selalu saja masih menemukan pedagang yang menjajakan dagangan yang aneh-aneh. Ya, aneh tapi nyata. Keadaan ini sudah ada sejak anak-anakku masih di sekolah TK.  Aktivitas mereka ini sepertinya tak ada yang bisa mencegahnya. Apalagi aku? So nothing I can do about it.  Selain hanya mengeluh dalam hati kenapa sih mereka gak usaha kerja yang lain aja.

Sumber gbr. Google (featurepics.com)


Untuk usahanya melakukan hal-hal yang aneh ini pastilah ada modal yang dikeluarkan. Nah, kenapa gak mereka gunakan modal itu untuk yang lebih manfaat selain menyakiti binatang kecil-kecil nan lucu sebagai barang dagangan. Misalnya? Ya, mereka bisa menjadi kuli bangunan, melamar pekerjaan menjadi tukang sapu jalan, atau menjadi tukang membersihkan rumah atau berjualan sayur keliling. Yang terakhir pasti sangat manfaat buat dirinya dan juga buat orang lain. Berdagang sayuran, bila tidak habis masih bisa dijual untuk keesokan harinya. atau bisa juga dikonsumsi bersama keluarga. Selama masih ada keinginan untuk tidak menyiksa binatang dan mengeksploitasinya pasti ada jalan lain yang lebih mulia.
 
Sudah melahirkan puluhan bahkan ratusan kata, tapi apa sih aksi yang bisa aku lakukan untuk mengurangi eksploitasi hewan di lingkunganku. Terus terang, seperti telah aku sebutkan di atas "Nothing I can do about it!" -- tapi setidaknya aku sudah menghindarkan diri dari ikut-ikutan mengeksploitasi binatang-peliharaan yang kecil-kecil itu. Seyogianyalah mereka yang masih pitik-pitik itu dipelihara dengan baik sehingga bisa menjadi binatang peliharaan yang berguna bagi manusia, juga bagi penjualnya, hehe... Apa sih yang mau diceritakan??

Lanjuuut... .

Ini lho maksudku yang akan aku torehkan di postingan ini mudah-mudah bisa dikategorikan sebagai aksi positif untuk mengurangi eksploitasi hewan di lingkungan sekitarku, paling tidak aku "tidak ikut-ikutan mengeksploitasinya."


  1. Anak-anak ayam yang diberi warna-warni
Tanpa melihat bagaimana cara para penjual mencat bulu-bulu anak ayam yang lucu itu, tak pernah terlintas dalam otakku. Terus terang, memang tampilannya sangat lucu dan sangat menggoda anak-anak untuk merengek minta dibelikan. Tapi, alhamdulillah, seingatku, tak pernah aku luluskan permintaan anak-anakku ketika mereka masih kecil. #Swear. Bahkan, kini setelah menjadi nenek dari 4 orang cucu pun tak pernah sekali jua aku mengabulkan permintaan cucu-cucuku ketika kecil untuk membelikannya.
Sumber gambar:http://vibizmedia.com/2015/06/08/warna-warni-ayam/(ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

Aku lebih puas mengeluarkan uang untuk membelikan mereka hot-wheel,Tamia untuk my grandsons  atau Boneka Barby untuk my granddaughter yang, kebetulan, aku gak punya, hehe... Sombong? Tidak juga! Hot-Wheel atau Tamia kan beragam kualitasnya, jadi kenapa harus beli yang mahal (kualitas nomor I), karena cucu-cucu kecilku yang sama sekali belum mengerti nilai uang akan merusakkannya dalam waktu beberapa hari karena mereka bermain dengan ceroboh, hahaha....So, yang murah meriah saja. Yang penting aku bisa menghindarkan mereka dari keingininan yang menggebu untuk memiliki anak-anak ayam lucu berwarna-warni dan tak berdosa itu.

  • Topeng Monyet
Sering sekali di wilayah tempat tinggalku tukang topeng monyet ini. Dari jauh sudah terdengar kelenengan yang nyaring plus bunyi gendangnya. Kalau sudah seperti ini aku akan bersegera mengambil dompetku dan menyawernya agar mereka cepat berlalu. Sungguh kasihan melihat binatang yang diberi baju ala perempuan dengan membawa payung kecil atau monyet kecil itu menarik pedati sambil melompat-lompat -- tak hanya itu, wajahnya pun diberi bedak yang tebal dan gincu yang cetar.  Terlalu! Seperti Tak Bisa Usaha Lain Saja.  Lagi-lagi aku ucapkan Nothing I can do about it, selain cepat-cepat berusaha agar mereka segera berlalu dan suara itu tidak mengganggu gendang telingaku. Topeng monyet ini aku rasa paling miris melihatnya karena dengan rantai yang panjang monyet bisa ditarik ulur sesuka hati Pemiliknya. Sungguh terlalu!!!

  • Bila suka akan binatang peliharaan, rawatlah dengan baik semaksimal mungkin
Pet adalah hewan peliharaan, banyak binatang yang termasuk PET, seperti burung, doggie, kucing, kelinci dan banyak lagi. Diantaranya hanya kucing yang menarik hatiku. Ini pun karena anak dan cucuku menyukainya. Mau tak mau aku jadi tertular feeling menyayangi hewan yang satu ini. Awal mula aku tak menyukai kucing. Apa sebab? Karena bertahun-tahun aku tinggal di Pamulang, tak sehari pun tanpa bau yang menyengat dari "harumnya" kotoran kucing ini di sela-sela pot-potku. Lebih parah lagi kucing-kucing liar tak terawat ini buang kotorannya di halaman, di teras rumah. Aaarrgghh...bikin KZL, kan?  Aku jadi tak menyukainya, bahkan apabila ada kucing yang datang mendekat ke rumahku aku usir, bahkan terkadang aku siram agar menjauh. Ya, Allah, ampunilah aku, karena sudah beberapa tahun ini aku sangat mencintai binatang peliharaan ini. Sangat. Aku jadi merasa berdosa telah mengusir dan menyiramnya, hiks, hiks...
 
 
Lilo mau ke kamar tidur bobok, hehe...(dokpri
 
 Lilo, jantan, sudah diimunisasi (dokpri)
Di rumah anakku ada dua ekor kucing, kucing betina dan kucing jantan, dari induk yang sama, pemberian si Mbak, karena melihat cucuku sangat menyayanginya. Beberapa bulan di rumah anakku yang betina berbadan dua, hehehe... dan melahirkan empat ekor kucing. Jumlah menjadi dua ekor ditambah 4 ekor. Wah, jadi ramailah rumah anakku. Kandang pun dibeli. Budget rumah-tangganya pun membengkak tapi dengan senang hati tak pernah anakku merasa terbebani. Makanannya dibelikan seperti makanan kucing Persia aja tuh.  Bukan hanya itu -- di bawa ke dokterlah, di imunisalah, diopname segala loh ketika ada kucing yang terluka. Bedanya gak pake bpjs tapi dari kocek sendiri, hahaha.... ada resep dokternya pulak. Karena itu kucingnya, alhamdulillah, sehat-sehat dan kami suka-suka deh memanjakannya, sekalipun dibawa ke tempat tidur tak mengapa. Yang penting kucingnya sehat dan bersih semua koq.

Sang induk yang diberi nama oleh cucuku: Gadis (dokpri)

 
3 ekor hampir terlelap, yang 2 ekor di ayunan... (dokpri)
 
Suatu hari sepulang dari kantor, aku liat anakku membawa sesuatu di tangannya -- seekor anak kucing yang teramat kotor karena dipungut dari got depan rumah -- dimandikan pake shampoo khusus untuk PET.  Kemudian datang tamu tak diundang ke rumah anakku karena dilihatnya banyak kucing-kucing, mungkin kucing pendatang ini ingin bertamu, hehehe... Sama perlakuan anakku terhadap kucing pendatang ini -- dimandikan, di shampoo seluruh tubuhnya sehingga setelah bulunya kering....haruuum...mewangi.
 
Karena aku seringkali bermukim di sini (di rumah anakku) jadilah aku pun menyukai hewan peliharaan ini. Lilo adalah kucing kesayanganku.
 
Last but not least: Jangan sia-siakan binatang ciptaanNya, apalagi menyiksanya atau mengeksploitasinya. Apabila kau menyukainya rawat dan peliharalah dengan sebaik-baiknya.
 
Oke? Selamat hunting hewan peliharaan dan cintailah mereka. Katakan Tidak untuk mengeksploitasinya. Masih banyak lahan untuk mencari rezeki, asalkan mau berusaha dengan tekun dan penuh keyakinan. Semoga, siapa pun dia akan mendapat rezeki yang halal dari Allah SWT. Aaminn.
 
 


 

Comments

  1. Saya pernah beliin Alfi (karna anaknya nangis) ayam kecil sekali dan akhirnya mati bun. Padahal keluarga kami paling jago pelihara ayam tapi ayam warna kok langsung mati ya

    Sekarang udah ga pernah beli lagi, udah bisa dikasih pengertian anaknya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ada Apa Dengan Panggilan Bunda?

Eratnya Ikatan Kekeluargaan Itu

Khasiat Serai Merah