Selain Berhati Mulia Perempuan Ini Ternyata...

Semula aku berniat untuk meng-edit saja postinganku yang lalu namun aku urungkan dan aku pikir sebaiknya aku buat saja postingan baru agar leluasa aku mengutarakannya. Kenapa? Karena Selain Berhati Mulia Perempuan Ini Ternyata...
Source: Pixabay mohamed_hassan




Begini:

Hujan rintik-rintik malam itu tidak menyurutkan langkahku menuntaskan niat bersilaturahmi ke rumah seseorang yang aku jadikan topik postinganku  terdahulu.  Sampai di sebuah rumah petakan yang sangat sederhana aku mengucapkan salam, disambut oleh seorang gadis cilik manis berambut sebatas bahu. Di tangannya menggenggam sebuah handphone sebesar yang aku miliki. Betul juga, ternyata sebuah hape Samsung yang pernah aku inginkan sebelum Lenovo. Hebat! Bagaimana bisa seorang penjual sekaligus pembuat kue yang dijajakan dan dititipkan di warung-warung mampu membelikan Cucunya sebuah handphone yang berkualitas atau, katakanlah, berkelas.

Tujuanku semula datang ingin sekali mengetahui lebih jauh cerita tentang Ibu Penjaja yang sudah terlanjur aku sebut Perempuan Berhati Mulia hanya karena cerita dari di Mbak saja. Karena itu aku ingin menemuinya sendiri. Tak ada salahnya, yekan (hehe...nyomot kata-kata Cikgu Haya niih di salah satu postingannya -- hampura, ya Cikgu Cantik...piiis...)

Lanjuuuut...

Setelah kami resmi berkenalan dan dipersilahkan duduk di sebuah kursi plastik --  aku lebih memilih duduk lesehan di lantai saja. Beliau pun ikut lesehan dengan segala ucapan maaf karena rumahnya tak pantas mendapat kunjungan dari aku. Haaahh...emaang aku ini siapa? Aku coba mencairkan suasana yang kaku karena rasa risihnya menerimaku. Terus terang aku katakan aku datang karena kagum dan suka akan kue-kue buatannya. Penasaran apakah beliau membuatnya sendiri atau hanya menjadi Agen kue saja.


dokpri
Singkat cerita beliau bertutur semua ia kerjakan sendiri, kecuali untuk isi pastel dan panada yang memerlukan waktu dan tenaga untuk meracik isinya (kentang, wortel, telur rebus dan ikan tongkol) -- karena itu ia mengupah beberapa Ibu di wilayahnya. Hebatnya beliau sudah bisa mempekerjakan beberapa ibu. Salut!

Mataku melirik gadis cilik yang duduk di sebelahku. Kelihatan sangat manja dan ketika itu pun ia menyengajakan diri untuk bersandar padaku. Kemudian beliau bercerita tentang si gadis cilik manis ini -- namanya Salsabila dengan panggilan sayang Salsa. Ketika lahir Salsa diserahkan oleh ibu dan ayahnya untuk dirawat oleh sang Nenek, sementara ayah dan ibunya tinggal terpisah, bahkan tak pernah menengok hingga usia Salsa seperti sekarang ini, selain komunikasi melalui telpon saja. Sejak lahir hingga kini Salsa dalam tanggung-jawab sang Nenek -- mendidiknya, membiayai sekolahnya dan memberikan yang terbaik buat Salsa. Hal ini ia lakukan agar Salsa tidak akan merasa rendah diri di antara teman-teman sebayanya.

Jadi selain berhati mulia perempuan ini ternyata juga seorang wanita tangguh, pantang menyerah, tak mau meminta, sekalipun pada anak-anak yang telah dilahirkan, dibesarkan, disekolahkan hingga mereka berhasil dalam skala atau ukuran mereka. Sesulit apapun hidupnya ia tak akan meminta dan menghiba kepada anak-anaknya. Beliau sangatlah maklum ketiga anaknya pun memiliki kehidupan yang tidak mudah untuk dijalani. Ketika aku tanya kenapa ia tidak meminta bantuan dari ketiga anak-anaknya untuk biaya Salsa. Dia hanya tersenyum dan cuma menjawab sambil menggelengkan kepalanya:

"Saya tidak mau menyusahkan mereka. Kalau mereka tidak mau tahu tentang kehidupan saya, apalagi mengingat Salsa,  ya sudahlah! Allah telah memberi saya jalan yang lain."

"Siapa yang menyekolahkan mereka, maksud saya,  anak-anak Ibu?"

"Saya. Yang bungsu sudah selesai kuliah di Sastra Inggris. Yang kedua tinggal di luar negeri, sedangkan yang ketiga tinggal di wilayah Bekasi," ucapnya dengan suara pasti dan tanpa ada getaran kekhawatiran sedikitpun. Begitu yakin akan kehidupannya tanpa bantuan anak-anaknya. Hanya bersama seorang cucu, belahan jiwanya.  Aku tidak mau mengorek lebih jauh tentang kehidupan pribadinya.  Cuma pengakuannya ia akan membesarkan Salsa sampai ke tingkat yang bisa ia lakukan untuk kemajuan dan kebaikan Salsa. 

"Saya pun tidak menuntut apa-apa dari mereka, bahkan ketika anak saya datang ke Indonesia dari Luar Negeri, tidak menyisihkan waktu untuk menjenguk ibu dan keponakaannya. Mereka (anaknya dan suaminya) bermalam di Hotel."

Sungguh miris mendengarnya. Namun hati beliau telah tertempa sedemikian kokoh jauh dari kerapuhan, sehingga yang timbul dalam hatinya adalah keikhlasan. Patut ditiru dari beliau adalah begitu teguhnya ia memegang prinsip tidak mau meminta-minta kepada siapa pun. Ia akan berusaha sendiri. Sebuah sepeda kecil yang bagus aku lihat tersandar di dinding -- itu sepeda Salsa yang ia beli dari hasil tabungannya. Ia mengatakan sambil tertawa membawa uang logam sejumlah tigaratus ribu rupiah dalam kantong berisi untuk membeli sepeda itu. Beliau juga berhasil menabung selama beberapa tahun untuk menjalankan ibadah suci Umroh. Semua dari keuntungan berdagang kue.

Salsa juga beliau belikan sebuah handphone android agar bisa berkomunikasi dengan Maminya, namun sejauh ini Salsa tak ingin lebih jauh mengenal orang-tuanya, karena telponnya tak pernah mendapat jawaban dari Sang Mami. Salsa jenuh dan memutuskan tak akan lagi berkomunikasi dengan Maminya. Salsa sudah merasa cukup hidup bersama seorang Nenek yang mengasihinya melebihi kasih seorang ibu kandung.  Tak kurang usaha beliau untuk mendekatkan mereka kepada Salsa, namun tak ada usaha dan reaksi dari mereka untuk menemui Salsa, hingga sekarang usia Salsa sudah akan memasuki sekolah TK-A.

Semoga Allah selalu membukakan jalan bagi Nenek yang memiliki hati yang mulia ini dan memang benar adanya setelah aku ngobrol dengan beliau Selain Berhati Mulia Perempuan Ini Ternyata seorang yang tangguh dan pantang mundur dalam menghadapi sulitnya kehidupan dan beratnya beban di dunia fana ini.

Maaf, aku tidak bisa menyisipkan foto Salsa yang cantik di sini karena itu termasuk hal yang tidak etis karena kedatanganku ke sini hanya ingin bertemu Ibu pembuat kue enak dan murah saja.

"Ini, ini, ini Mami aku," Salsa tiba-tiba menyela pembicaraan kami dan ia "nguping" juga, hehe... Dari handphone dalam genggamannya Salsa memperlihatkan foto di hapenya, sebentuk wajah perempuan muda, sangat cantik, sangat mirip dengan bintang film/sinetron Cintami Atmanegara. Sungguh! Aku sampe terpesona melihatnya. No wonder Salsa juga sangat cantik. Kurang percaya aku bertanya pada beliau:

"Betulkah, ini anak Ibu?" beliau menganggukkan kepala dengan pasti.
"Dia sudah melupakan darah dagingnya," bisiknya. Lagi, aku tak ingin menanyakan kepadanya mengapa. Barlah hanya dia dan Allah yang tahu alasannya. Karena kedatanganku ke rumahnya hanya ingin melihat dan  menemui dia sebagai Penjual penganan yang enak.  Ketika aku tanyakan kenapa ia tidak mempekerjakan seseorang untuk membantunya. Beliau hanya tersenyum. Dan aku sudah bisa menebak apa yang ada di balik senyumannya itu. Tentu saja tentang FORMULA. Hanya beliau yang boleh meramunya, tidak orang lain. Btw melipat pastel juga ada triknya lho!

Last but not least: Sungguh aku harus lebih mensyukuri kehidupanku di masa tua ini. Anak-anakku selalu mensupport kebutuhanku, memperhatikanku dan membiayai pengobatanku. Walau aku katakan  BPJS akan meng-covernya.  Namun tetap saja aku selalu berharap dan berdo'a ke Hadirat Illahi untuk memberi aku kesehatan hingga ajal memanggil. Jangan membiarkan mereka yang telah begitu berbakti kepadaku menjadi anak-anak yang durhaka karena kekesalan yang mungkin akan timbul karena merawat si tua renta ini yang dalam ketidak berdayaan. Ya, Allah, kabulkanlah.

Satu nasihatku untuk para pembaca yang masih memiliki Ibu, agar setiap ada perasaan kesal kepadanya, sisihkan dan usirlah secepat mungkin dari benakmu. Gantikan ia dengan bayangan dan kenangan indah ketika masa kecilmu --  suka dan duka -- dalam mengandungmu 9 bulan 10 hari, sakitmu adalah sakit ibumu. Sehatmu adalah kebahagiaan Ibumu. Ketika kau sakit hanya Ibumu yang kau panggil dan kau selalu ingin berada di haribaannya. Kita semua akan menjadi tua pada saatnya. Janganlah menghardiknya bila ia melupakan sesuatu, karena kau pun akan menjadi pelupa seperti dirinya ketika masa tuamu.  Apa yang kau lakukan terhadap ibumu, baik atau buruk, Allah akan memberikan ganjaranNya untukmu, dari anakmu atau dari orang lain yang tak pernah kau duga. Itulah kekuasaanNya yang Maha Melihat apa yang telah kau lakukan terhadap Ibumu.

Bimbinglah ketika dia berjalan, karena Ibumulah orang pertama yang membimbingmu ketika kau belajar berjalan. Ingatlah! Roda kehidupan ini tetap berputar. Cepat atau lambat balasan akan tiba untuk mereka yang menyia-nyiakan Orangtuanya, terutama sekali seorang Ibu. Hiduplah berkasih sayang sampai ajal menjemput. Itulah kebahagiaan yang hakiki.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ada Apa Dengan Panggilan Bunda?

Eratnya Ikatan Kekeluargaan Itu

Khasiat Serai Merah