Friday, January 29, 2010

APA SIH KOMUNIKASI YANG BAIK ITU? (bagian 3/selesai)


Contoh lain: Pasangan anda mengatakan: "saya terlambat nih karena dalam perjalanan kehabisan bensin!". Anda mengatakan: "Aduh! Bodoh banget sih! Seharusnya kan kamupenuhin dulu donk tanki bensinnya sebelum berangkat!".

Problem-solving besar sekali artinya dalam sebuah komunikasi -- apabila -- dan hanya -- apabila seseorang meminta pendapat anda.
Skill tentang problem-solving amatlah mudah untuk diterapkan (Catatan: Namun sulit bagi mereka yang memiliki sifat arogansi tinggi. Pada umumnya mereka yang memiliki sifat ini selalu menegakkan kepala dan sulit berkomunikasi!). Karena mudahnya menerapan problem-solving ini -- bahkan bisa-bisa anda meremehkannya -- anda cenderung untuk memberikan pendapat secara ter-buru-buru sebelum seseorang meminta pendapat anda. Anda menyama-ratakan semua jenis komunikasi yang terjadi -- bukan hal yang mustahil anda akan mengalami suatu "surprise" -- karena kadang-kadang anda menghadapi mereka yang memberikan reaksi negatif terhadap anda.

Supportive skill agak jarang terjadi dan lebih sulit untuk dipelajari dan diterapkan. Supportive communication adalah lawan dari Problem-solving. Disini anda tidak mengungkapkan buah pikiran apa pun -- kecuali -- anda diminta secara khusus untuk melakukannya. Bahkan sebetulnya anda tahu apa yang akan dilakukan orang tersebut sebelum anda memberikan pendapat anda. Supportive communication mempunyai arti memberikan peluang kepada orang lain untuk merasa nyaman dalam menyelesaikan masalahnya sendiri -- walaupun mereka mengungkapkannya kepada anda. Supportive communication mengalihkan tanggung-jawab sepenuhnya kepada orang lain untuk mengatakan apa pun yang diinginkannya -- tanpa adanya argumentasi atau interupsi dari anda. Dalam supportive communication memang terjadi apa yang disebutj "mendengarkan secara efektif", mendengarkan dengan cara yang objektif dan menunda komentar yang sudah akan meluncur dari pikiran anda. Hal ini berarti memberikan kesempatan kepada orang lain untuk secara leluasa mengemukakan masalahnya kepada anda -- berarti juga menunda pendapat ataupun pra-tanggapan anda. Tidaklah heran bahwa ini adalah sesuatu yang sulit dilakukan.

Contoh: Partner anda mengatakan: "Aku amat marah! Aku gak tahu harus berbuat apa!" Sebagai Supportive Communicator anda bisa menjawab: "Ya, aku mendengarkan, kamu sedang marah". Atau anda juga bisa mengatakan: "Apa yang akan kau lakukan?" atau "Kenapa kamu marah?" atau bahkan anda sama sekali tidak mengatakan apa pun -- tetapi anda memperlihatkan ekspresi wajah anda yang penuh perhatian -- dengan cara menghentikan apa saja kegiatan anda saat itu -- kemudian anda membuat "eye contact" atau kontak mata dengan orang tersebut -- memberikan perhatian secara objektif. Support disini berarti bahwa orang tersebut menyadari keberadaan anda untuknya dan sama sekali tidak bermaksud meremehkannya. Supportive Communication memerlukan kekuatan dan percaya diri anda yang tinggi untuk melakukannya. Supportive communication "fokus" kepada pembicaraan orang lain selama waktu yang mereka perlukan.

Mudah-mudahan terjemahan bebas diatas bisa menjadi -- setidaknya -- landasan bagi kita untuk bisa membantuk komunikasi yang baik -- dengan siapa saja.

Semoga.




No comments:

Post a Comment