Friday, February 20, 2015

Permata Hati Para Mama

Permata-Permata Hati Bunda Desi
Anda semua pasti sependapat dengan Bunda, bahwa tidak ada di belahan dunia mana pun seorang Ibu yang mau kehilangan anak-anaknya. Mereka adalah belahan jiwa, permata hati, lelaki maupun perempuan. Anak selalu menjadi dambaan setiap pasangan suami-isteri. Memang ada yang menunda untuk tidak memiliki anak sebelum kehidupan mereka mapan. Lho, kalau belum mapan, kenapa sudah berani mengarungi bahtera rumah tangga? Setiap pasangan, siapa pun dia, pastilah sudah memiliki tekad yang teguh untuk saling mendukung, saling bahu membahu di saat keadaan susah dan menebar kebahagiaan di kala dianugerahi rezeki yang berlimpah. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Kan, begitu?


Harta yang paling berharga bagi sepasang suami isteri, menurut Bunda adalah hadirnya seorang anak, Sang Permata Hati. Apa pun dan bagaimana pun bentuk fisik sang anak, akan tetap menjadi tempat curahan cinta mereka. Amat jarang mereka yang tidak bisa menerima keadaan seorang anak yang dianugerahkan oleh Allah dengan segala kekurangannya. Justru kekurangan itulah yang harus mereka syukuri dan mereka harus menyadarinya, dengan segala kekurangan yang diberikan kepada Permata Hati mereka, akan menguji kesabaran mereka. Dan kesabaran yang teruji akan membuahkan sebuah kebahagiaan yang hakiki. Allah memiliki sebuah rencana yang tidak kita duga pastinya. Contoh yang nyata, coba lihat, Sonny Wakwau mendapatkan kasih sayang yang penuh dari kedua orangtuanya, Sonny adalah Permata Hati kedua orangtuanya, betapapun keadaannya. Allah memberikan anugerah kepada orangtua Sonny melalui tangan Sonny Wakwau, atas kehendakNya. Allah mempertemukan Sonny dengan seorang Sutradara yang mampu mengangkat nama Sonny Wakwau menjadi Bintang Idola Cilik. Aaamiin, ya Robbal'alaamiin.

Inilah Permata Hatiku, Seorang Permata Hatiku Telah Tiada, RIP my dear.
Tidak sedikit Ibu-Ibu di pedesaan yang kita lihat melalui siaran televisi yang memiliki anak yang cacat, anak-anak yang lumpuh, bahkan anak yang sakit jiwa. Mereka, para Ibu ini, sekalipun mereka tidak mengecap pendidikan, apalagi sampai ke jenjang bangku kuliah, akan tetap berjuang dan memperlihatkan cintanya kepada anak-anaknya. Mereka akan mempertahankan anak-anaknya sampai titik di mana dia tidak mampu lagi merawatnya. Meninggal dunia, misalnya. Subhaanallah.

Tentu saja, tulisan Bunda ini hanya diperuntukkan bagi para Ibu yang memiliki hati nurani, lepas dari berbagai cerita tentang 'kegilaan' seorang ibu yang mampu berbuat kejam terhadap anak yang ia lahirkan dengan menyabung nyawanya sendiri. Hati nuraninya sudah tertutup. Tidak ada lagi kasih sayang dan belas kasihan. Egois merajai hatinya yang sudah hitam. Naudzubila minzalik.

Tulisan Bunda ini, mungkin saja, terinspirasi oleh pemandangan yang membuat hati Bunda gemas. Kemaren, Bunda pergi ke suatu tempat dengan menaiki kendaraan umum (Angkot), karena situasi macetnya luar biasa, kendaraan yang Bunda tumpangi pun berjalan teramat lambat. Karena kemacetan yang luar biasa, kendaraan terhenti sampai kira-kira limabelas menit, barulah bergerak. Moment yang cukup lama untuk bisa menyaksikan sebuah adegan di pinggir jalan, hehe...

Permata-Permata Hati Para Mama lagi bobok, hehe...
Ketika itu Bunda lihat di pinggir jalan seorang Ibu (mungkin sedang menunggu angkot, atau menunggu jemputan) berdiri kepanasan sambil mengibaskan sebuah kipas kecil. Bersamanya seorang anak perempuan, lucu, cantik, kira-kira berusia 6 tahun. Anak ini merengek hingga menangis sambil berusaha ingin memeluk ibunya, barangkali dia kepanasan, haus atau apalah. Si Ibu ini yang tampil dengan pakaian aduhai menterengnya, mungkin dia mau kondangan kallee..hehe... Baju gamisnya penuh pernak-pernik manik-manik yang sangat menyolok, kemudian kalungnya yang tersusun di dadanya, alih-alih dia memperhatikan anak yang menangis dan memeluknya, malahan dia mendorong anak itu berulang-ulang setiap kali anak perempuan lucu memeluknya.

"Gila tuh orang!" Bunda mendesis sendiri di angkot (kebetulan Bunda duduk di depan jadi leluasa untuk melihat adegan tersebut.

Sang supir kaget dan bertanya: "Kenapa, Nyak?" Hehe...Nyak nih yee...

"Gakpapa, Bang. Ada yang lagi uring-uringan tuh di pinggir jalan. Nyebelin liatnya! Anak sendiri koq dijorok-jorokin, sih!"  --  Idiih, si Bunda sok tau. Kalo ntu anak bukan anaknya beneran? Ya, tetep aja perlakuannya gak gitu-gitu amat-lah. 

Mudah-mudahan Ibu-Ibu, para blogger tercinta, yang kebetulan membaca tulisan Bunda ini,  memiliki kasih yang tak terukur untuk para permata hati yang mendambakan kasih sayang yang tulus. Karena andaikan salah seorang dari permata hati itu meninggalkan kita untuk selama-lamanya, sakitnya tak terobati.

Semoga tulisan Bunda ini manfaat. Aamiin.

5 comments:

  1. Lucu-lucu permata hatinya Bunda hehehe....
    Lihat foto Bunda lagi muda cantik banget dengan rambut pendeknya fresh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang tambah cantik, kan? *marukpujian, qiqiqiii... Makasih kunjunganCikgu Ani ke blog Bunda.

      Delete
  2. Seorang ibu memang mempunyai hati yang luar biasa. Ada istri tetangga usianya sekitar 40an sakit sehingga tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Karena suami harus tetap bekerja mencari nafkah maka ibunyalah yg merawatnya serta menggantikan semua pekerjaanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Edi Padmono, betul sekali, Bunda merasakannya begitu luas kasih sayang dan rasa maaf Bunda untuk anak-anak Bunda. Seorang ibu tidak pernah menempatkan bantuan untuk anak sebagai jual beli tenaga. Subhaallah. Terima kasih kundungan Mas Edi ke blog Bunda

      Delete
  3. Iya Bun, kalo naik angkot sy sering belajar dr hal-hal sekitar.
    Duh, miris ya melihat kelakukan si ibu tersebut.

    ReplyDelete