Tuesday, January 05, 2016

Cara Melupakan Masa-Masa Menyenangkan

Sumber gbr. female.kompas.com
Kenapa aku harus mencari Cara Melupakan Masa-masa Menyenangkan?

Selama lebih dari tiga tahun hidupku sangat senang dalam arti yang sesungguhnya. Betapa tidak, aku mau makan? Sajian sudah terhidang. Tak perlu bermujibaku dengan peralatan dapur, maksudnya  aku tak usah ikutan repot masak dan bergelut dengan mencuci piring, gelas dan panci. Menginginkan pakaian bersih dan licin? Aku tidak perlu berlelah mencuci dan menyeterikanya. Sudah ada si Mbak yang biasa mengerjakan dengan setia. Aku tinggal tahu beres deh. Kenapa? Karena aku malas? Ataukah disebabkan aku terlalu manja pada anakku? No, no, no, don't judge me that bad... LOL  Sama sekali bukan karena itu. 

Anakku menghendaki aku tinggal di rumahnya untuk memonitor cucuku, anak semata wayangnya. Titik. Anakku menyayangiku, sehingga aku dimintanya untuk duduk manis. Hanya memonitor cucuku. Segala tugas rumah tangga dibantu oleh si Mbak, kecuali anakku kangen masakanku yang jadi favoritnya. Sederhana sekali. Semur telur yang diceplok bersih dari busa telur yang membuih, barulah aku dibolehkan turun tangan ke dapur.Bahagianya aku.

Alangkah menyenangkan hidup saat itu. Tapi ada satu yang tak bisa aku lakukan. Apa ya? Mau tau? Hehe...nonton acara-acara di televisi dengan bebas. Lho? Emang kenapa? Ya, karena aku harus mengalah pada sang cucu tercinta yang almost always memonopoli televisi untuk maen games di PS-4nya or dancing mengikuti games di X-Box. Ada senengnya juga sih, karena aku bisa ikut enjoy berhip-hop-ria bersamanya kala cucuku ikutan dancing seirama dengan musik di X-Box. Ada plus dan minusnya juga.
  
Tapi itu dulu. Cucuku  kini sudah berusia 9 tahun. He is going to be ten on 15 February this year. Saat keadaan harus berubah. Suasana pun mesti mengalami warna lain.  Demi masa depan cucuku yang lebih baik. Untuk kemandiriannya. Karena sudah merupakan hukum alam kedekatan seorang nenek itu sangatlah erat dengan  cucu. Bisa-bisa cucuku jadi terlanjur manja, hehe... So everything has to be changed for the sake of his own good. Silakan baca postinganku yang ini juga, ya.

Sejak 12 Oktober 2015 semua pekerjaan yang tadinya menjadi beban si Mbak kini mau tak mau harus menjadi tanggung-jawabku.  Sebabnya? Karena aku sejak saat itu tinggal jauh dari rumah anakku. Aku tinggal di rumahku yang Home Sweet Home. Tentu saja suasana yang dulu bikin aku kangen. Kangen sekali. Tapi aku harus melupakannya dan berkewajiban untuk mencari cara melupakan masa-masa menyenangkan itu.

Sejak saat itu aku harus mengerjakan apa saja sendiri. Masak, masak sendiri, makan, makan sendiri. Tapi apa enaknya? Yang ada melelahkan. Praktisnya saja aku hampir tidak pernah masak lauk pauk. Untuk apa repot hanya untuk mulutku sendiri? Tinggal pergi ke Warung Padang, beli lauk matang. Beres. Aku cuma masak nasi. Pekerjaan mudah karena tersedia Rice Cooker. Bosan makan di rumah aku ke rumah adikku yang tidak jauh dari rumahku, kami makan bersama. Asyik, kan, sekalian silaturakhim.

Mencuci dan menyeterika? Itu dia, kalau aku ingat yang ini, aku jadi ingat si Mbak yang seterikanya licin banget. Tapi alah bisa karena biasa. Aku harus menikmati tugas baruku ini. Alhasil aku bisa enjoy dengan tugas yang sudah sekian lama aku tinggalkan.
Sumber gbr. solusirumahtangga.com


Jauh dari anak cucu aku merasa seperti tidak ada yang membutuhkan aku, hiks... Dulu seminggu dua kali aku pulang ke My Home Sweet Home ini masih ada yang membuat aku dibutuhkan karena masih ada anakku lelaki. Aku akan membuat masakan kesukaannya. Masih bisa berlomba main game ZUMA dengan anakku. Juga masih ada yang bisa diharapkan untuk membantu mengurus pot-pot tanamanku yang segambreng banyaknya, hehe...

O, ya, tadi aku katakan ada plus dan ada minusnya, kan? Tentu saja tinggal di rumahku sendiri di Pamulang ini ada yang kurang pake banget, yaitu gak bisa setiap saat mendengar suara cucuku, melihat tingkah polahnya yang lucu dan jail, tapi menggemaskan. Gak bisa ber-hip-hop-ria bersamanya. Ah, sungguh membuat rindu ini sangat pekat. Memang sih aku bisa setiap saat menemuinya dan bercanda-ria dengannya, kemudian malamnya aku pulang. Tapi sudahlah aku harus melupakan hal itu. Sekarang aku harus membiasakan diriku dikunjungi oleh anak cucu, bukan mengunjungi, wkwkwk...

Aku harus berusaha bagaimana cara melupakan masa-masa menyenangkan itu. Itu minusnya. Plusnya? Ini dia:

Aku bisa dengan leluasa menggunakan laptopku sesukaku. Pergi ke acara blogger tanpa bingung bagaimana caranya mengatur agar si Mbak bisa stand-by menjaga cucuku. Aku bisa cabut kapan pun aku mau Juga bisa nonton televisi sampai aku bosan Seperti ketika ada acara D'Academy Asia, aku sangat enjoy menikmati nonton tanpa ada gangguan, hehe...

Aktivitas ngeblogku sangatlah membantu. Aku sudah menemukan cara melupakan masa-masa menyenangkan dengan ikhlas, karena ada aktivitas lain yang bisa membuat diriku bertambah tenang. Fokus kepada ngeblog dan membaca merupakan hal-hal yang memberikan keuntungan agar lebih mudah  melupakan kesenangan yang pernah aku nikmati di rumah anakku. Namun di rumah ini, di depan laptop ini dan dengan kesibukanku merawat pot-pot tanaman adalah obat mujarab bagiku untuk menikmati kesendirianku yang sekarang.

By the way para tetangga pun sering berkunjung dan berdiskusi tentang banyak hal, yang penting bukan ngerumpi" hehe... tapi hanya obrolan seputar bagaimana aku bisa menyukai tanaman yang memerlukan perhatian itu.

Tadi siang aku membeli pupuk dan beberapa pot besar dan kecil untuk memindahkan tanaman yang sudah waktunya mendapat tempatnya yang lebih luas. Ini sangat menyedot konsentrasiku sehingga aku lupa pada rasa lelah. Apalagi aku sangat menyukai memindahkan anakan-anakan tanaman ke pot-pot yang lain, kemudian aku melihat anakan itu tumbuh dengan suburnya.

Sebuah kejutan datang di awal Januari 2016. Anakku dan cucuku datang memberikan ucapan Selamat Tahun Baru dengan membawakanku oleh-oleh. Yang lebih menggembirakan lagi, mereka bermalam di rumahku yang Home Sweet Home ini.  You see, tanpa aku harus berkunjung, mereka mengunjungiku.
Hidup ini jadi bergairah dan harus dinikmati. Aamiin, Ya, Robba'aalamiin.

Jadi, dalam hidup ini kita harus pandai-pandai mensyukuri keadaan. Situasi yang sekarang aku alami ini pun adalah kehendakNya. Aku jadi bisa kembali aktif di pengajian Majelis Taklim, menghadiri undangan-undangan pengajian, pergi bersama ibu-ibu ke acara pengajian di luar wilayah tempat tinggalku. Semua ini merupakan plus setelah aku menempati kembali rumahku secara seratus persen.

Tapi, ada tetapinya lho, ketika malam tiba aku tidak pernah membiarkan kunci pintu rumah tergantung di lubang kunci, atau mengunci pintu kamar tidurku. Kenapa? Untuk jaga-jaga aja, siapa tahu tiba-tiba Allah memanggilku, masih ada yang bisa membuka pintu dengan mudah. Sekarang ada yang membantuku membersihkan rumah, namun dia tidak tidur di rumahku. Hanya datang sesekali, dia menyimpan kunci duplikat rumahku.

Setiap orang ketika akan tidur seharusnya selalu mengingat apakah esok hari masih diberiNya izin untuk bangun dan meneruskan kehidupan. Ajal selalu mengintip sepersekian detik, tidak memilih usia. Karena itu bersiap-siap adalah hal terbaik yang harus dilakukan. Aamiin.






7 comments:

  1. bunda keren banget siii.. bisa cabut kapan ajaaa yaa.. hehehe

    sehat sehat yaa bundaaa...

    yang seneng2 jangan dilupain bun, dikenang aja :D

    ReplyDelete
  2. Siiip-lah, iya bunda jaga kesehatan koq. I know my limit, don't worry my dear Noorma. Makasih kunjungan Noorma ke blog bunda.

    ReplyDelete
  3. aamiin, semoga Bunda Yati selalu sehat dan panjang umur ya Bun, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamin, terima kasih do'a Tian untuk bunda. Do'a yang sama untuk Tian. Makasih sudah berkunjung ke blog bunda.

      Delete
  4. Aamiin.n Terima kash kunjungan Pengobatan sakit pinggang ke blog bunda.

    ReplyDelete
  5. Keren ih! Semoga tetap produktif dan bersyukur bunda !

    ReplyDelete