Cerita Gaji Pertama

Sumber gbr.: warna-sahabat.com
Sudah beberapa waktu sebenarnya tema yang kuangkat dari idenya Ani Berta  ini bersembunyi dalam benakku. Ketika beliau memberikan tantangan kepada para blogger dari Komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB) sesuai tema yang beliau berikan aku tidak dapat berpartisipasi karena kesehatanku tidak memungkinkan untuk terjun menulis bersama para blogger ISB.



Ide Ani Berta ini amatlah bersifat positif dalam menggalang tali silaturakhim antara blogger melalui keharusan untuk saling melakukan blogwalking ke blog masing-masing. Dengan seizin Ani Berta aku akan mulai menorehkan  ide Ani Berta yang berjudul: Cerita Gaji Pertama.

Jadi ceritanya begini:

Hari pertama aku masuk kerja adalah pada hari aku melakukan testing dan interview. Sementara ayahku masih menungguku di luar gedung. Hal ini tentu saja tidak pernah bisa aku lupakan. Tak pernah aku sangka aku akan mulai bekerja. Begitu mudahnya aku mendapat pekerjaan. Bahkan ketika ayahku memaksaku untuk melamar pekerjaan di sebuah kantor pemerintah berlokasi di Jalan Merdeka Selatan -- dulu bernama Biro Perancang Negara yang bernaung dibawah Sekretariat Negara Republik Indonesia -- aku bersikeras menolak. Dalihku: "Aku ingin kuliah dulu."

Dengan keterampilan yang aku miliki, berkat bimbingan ayahku, beliau begitu yakin aku pasti diterima. Yang diperlukan adalah seorang Juru-Ketik a.k.a. Typist. Kelihaianku dalam mengetik pada tahun 1959, setamatku dari SMA adalah 250 hentakan per menit. Jumlah angka yang sulit mencari tandingannya pada saat itu., hehe... Melalui tes yang tak berarti aku pun diterima sebagai tenaga pengetik di bagian Biro Hubungan Luar Negeri. Pastilah ini kehendak Allah melalui do'a ayahku juga. Alhmdulillah.

Sebagai pegawai baru tentu saja aku harus beradaptasi dengan lingkungan di ruangan kerja baru, yang dihuni oleh 6 orang pria dan aku sebagai pegawai wanita satu-satunya di bagian itu. I am proud of myself karena ketrampilan mengetikku dikagumi oleh mereka. Berkas-berkas pekerjaan/laporan kebanyakan dalam bahasa Inggris sedangkan pada tahun 1959 bahasa Inggrisku gak jelas deh ... namun semua tugas dapat aku kerjakan dengan baik. Rahasianya? Tentu saja berkat cara mengetikku yang menggunakan "blind system" yaitu mengetik dengan tanpa melihat toets keyboard mesintik, sehingga jemariku yang memiliki :"mata" hehe...dengan mudah bisa menuntaskan tugas dengan baik.

Tapi seiring berjalannya waktu dengan kecepatan cara kerjaku, waktu luang pun datang menghampiri -- dimana tidak ada pekerjaan, tidak ada tugas dan kebingunganku bagaimana caranya aku harus membunuh waktu menjelang saat jam kantor usai.
Aku tidak kehabisan akal. Kebetulan Biro HLN bersebelahan dengan Bagian Perpustakaan. Nah, jadilah aku wara wiri ketika gak ada tugas dari Biro HLN ke Perpustakaan. Terjalinlah hubungan yang erat antara aku dan Librarian, yang namanya aku tak ingat lagi, Mbak bla-bla-bla.... Dia begitu baik, hingga mempercayakan aku untuk berjaga-jaga di Perpustakaan ketika saatnya beliau harus makan siang. Tidak itu saja, Mbak bla-bla-bla ini juga mengajarkan aku bagaimana caranya menyortir buku-buku yang datang untuk diberi label. Benar-benar ilmu gratis yang aku dapatkan dari beliau.

Sebulan berlalu, tibalah saatnya aku menerima upah jerih payahku wara-wiri dari Biro HLN ke Perpustakaan (karena bosan memaku diri di bangku kerja), aarrrghh...dan aktivitas tak-tik-tuk jemariku di atas mesintik manual yang memerlukan hentakan sedikit keras di atasnya. Kalau tidak, pastilah ada huruf yang tertinggal pada setiap kata, hehe... Kehati--hatian sangat diperlukan, kalau tidak ingin dipanggil Boss menghadap ke depan meja kerjanya karena kesalahan tik. Pekerjaan tik a.k.a. surat menyurat seperti yang aku sebutkan di atas kebanyakan dalam bahasa Inggris, namanya juga Biro Hubungan Luar Negeri, sedangkan aku apalah, tamatan SMA yang bahasa Inggrisnya masih dibawah nilai 50. 

Aku sangat disukai oleh rekan-rekan satu bagian (seingatku) karena dianggap aku ini Juru Selamat mereka -- mereka melimpahkan tugas kepadaku -- tak apa -- aku suka karena dengan demikian waktuku akan terisi dengan baik. Satu keunggulanku dalam mengetik cepat adalah "blind system" -- tanpanya tentu aku akan terlalu lama mengetik surat-menyurat dalam bahasa yang tidak aku mengerti -- untungnya semua draft dengan tulisan tangan yang jelas -- tidak seperti corat-coret yang sulit dibaca. Alhamdulillah lagi harus aku ucapkan untuk nasib baik yang menyertaiku. Aamiin.

Gaji Pertama telah dalam genggaman. Berapa isinya? Ya, ampuun...gembiranya aku menerima uang dua ribu rupiah pertama. Bayangkan! Rp. 2,000 pada tahun 1959. Coba kita lihat berapa rate USDollar terhadap rupiah pada tahun itu. Yuk, kita intip bersama.  Tapi sebelumnya aku beritahukan kepada Anda para pembaca postingan ini, gaji pertamaku hanya aku sisihkan untuk membeli tembakau lempeng dan/atau tembakau linting Kakekku tercinta. Nenekku tersayang juga kebagian untuk pegangan, yang biasanya habis juga untuk jajan cucu-cucunya. Gak lupa aku cepretin juga adik-adik dan kakak-kakakku. Pertama kali jadi Senterklas deh dengan gaji pertamaku.

Selebihnya aku simpan buat jajan dan merealisasikan hobiku nonton bioskop, hahaha... Selama ini kan aku gak pernah pegang uang jajan sebesar yang kumiliki dari gaji pertamaku. Selama sekolah aku harus menentukan pilihan: jajan atau jalan kaki. Maksudnya kalau aku mau jajan seperti teman-teman lain, ya risikonya harus berjalan kaki dari rumahku di Jalan Ciragil, menyusuri Jalan Bintara (yang kini telah lama berganti nama menjadi Jalan Wolter Mangunsidi) -- Yeeaayy...gini-gini juga aku pernah jadi anak Kebayoran Baru, Jakarta Selatan lho!

Melihat list di bawah ini, ternyata gaji pertamaku sebagai Juru-Ketik lumayan juga, ya. Rp. 2000 sedangkan nilai tukar terhadap USDolar US$1.00 = Rp. 11.40 Jadi bisa dapat sekitar US$175.00 Wuiiih, bayangkan kalau tahun 2017 gaji awal kita US$175 dengan nilai tukar sekitar Rp. 13,000an kan hasilnya sekitar Rp. 2,275,000. Sangat lumayan untuk tenaga pemula sebagai Jurutik/Typist.
 
Tahun Rupiah
1946-1949 tidak diketahui
1949 3,8
1950 7,6
1952 11,4
1962 1205
1965 2295

Itulah Cerita Gaji Pertama yang bisa aku share di blog ini. Sungguh menyenangkan menerima amplop berisi gaji pertama, hasl jerih payah kita sendiri. Aku bangga karena pada tahun 1959 aku masih dihargai sejumlah lembaran uang Rp. 2,000.00.

Oiya, enaknya ada fasilitas antar jemput dari kantor jadi aku gak perlu pusing dengan uang transportsi pulang pergi dari rumah ke kantor p.p.



Comments

  1. wuih ruar biasa bunda, selamat lebaran ya bunda

    ReplyDelete
  2. Kok sama ya BUnda, aku dulu pertama datang ke interview juga diantar Bapakku dan di tunggu diluar gedung, sampai bapakku dibela-belain bolos kerjanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi pada saat itu dalam hati sih grundel ngelamar kerja koq dipaksa, hehe...tapi memang itu sebagai batu loncatan. #papaku yangbijaksana.

      Delete
  3. Yampun tahun 1959 sudah bekerja, papaku saja belum lahir loh.. Masih tetap nulis ya Eyang luar biasa semangat nyaa.. Semoga bisa punya kekuatan ngetik "blind system" atau eyang mau kasih trik and tips nya ke aku hehe :))

    ReplyDelete
  4. Subhanallah, di usia yang sudah tidak muda Bunda masih inget cerita zaman dahulu kala. Jadi malu sama diri sendiri. Salute!!!

    ReplyDelete
  5. keren bunda, aku aja udah umur segini belum pernah gajian seperti itu.

    ReplyDelete
  6. tahun 1959 tahun kelahiran bapak. tentang mesin ketik,pernah merasakan sensasi pake mesin ketik pas kerja di kantor notaris. perlu kehati-hatian ya menggunakan mesin ketik ternyata.

    ReplyDelete
  7. bunda, hebat banget ngetiknya nyampe secepat ituu dalam satu detik bisa sampe 3 huruf!

    ReplyDelete
  8. Wwah.. bunda keren ih, bisa ngetik tanpa liat tuts mesin tik nya. Waah ... Salut. Padahal mesin tik tempo dlu keras banget kan bun.

    ReplyDelete
  9. Wah ini pertama kalinya saya mampir ke blog bundayati. Serasa diajak jalan-jalan ke jaman dulu bacanya :)

    ReplyDelete
  10. Wow ngetiknya dengan blind system. saya juga pengen banget bisa dari dulu, mbak. Saya udah diajari oleh ayah saya yang jago IT tentang pengenalan keyboard Qwerty dan posisi jari standby. Lalu saya belajar otodidak juga sendiri. Tapi kecepatan saya ga samapai 250 hentakan per menit. Apalagi hentakan keyboard komputer lebih enteng. Pernah nyoba tekan tuts mesin tik, emang berat ya hihi

    ReplyDelete
  11. Wah keren Bundaa bisa blind gitu ngetiknya..maaf lahir batin..

    ReplyDelete
  12. Dulu gaji pertama saya, dikasih sama Ibuku tercinta buat adik

    ReplyDelete
  13. KABAR BAIK!

    Untuk mengenalkan diri dengan benar,
    Ibu saya SUSAN dari [SUSAN BOWMAN LOAN COMPANY]

    Saya adalah pemberi pinjaman swasta, perusahaan saya memberikan pinjaman segala jenis dengan suku bunga 2% saja. Ini adalah kesempatan finansial di depan pintu Anda, terapkan hari ini dan dapatkan pinjaman cepat Anda.

    Ada banyak di luar sana yang mencari peluang atau bantuan keuangan di seluruh tempat dan tetap saja, tapi mereka tidak dapat mendapatkannya. Tapi ini adalah kesempatan finansial di depan pintu Anda dan dengan demikian Anda tidak bisa melewatkan kesempatan ini.
    Layanan ini membuat individu, perusahaan, pelaku bisnis dan wanita.
    Jumlah pinjaman yang tersedia berkisar dari jumlah pilihan Anda untuk informasi lebih lanjut hubungi kami melalui email:

    Susanbowmanloancompany@gmail.com

    ReplyDelete
  14. kalau aku, gaji pertamaku dari mbah Google.. hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Khasiat Serai Merah

Ada Apa Dengan Panggilan Bunda?

Memperkaya Kosakata dengan Membaca