Khayalku Menjadi Seorang Perempuan yang Sempurna [BAG. II]


Source: otodidak.blogspot.com
Setahun telah berlalu.  Aku dengan tabah mengikuti alur kehidupanku yang baru. Dengan dipersatukannya dua hati insan ciptaanNya, khayal menjadi perempuan yang sempurna tetap melekat dalam jiwaku. Aku yakin pergerakan kedua belah bibirku menyimpulkan seulas senyum. Senyum bahagia. Sampai di sini aku hampir menjadi perempuan itu. Perempuan yang sempurna. Tinggal menunggu beberapa langkah lagi, maka akan sempurnalah aku sebagai perempuan.

Selang setahun pernikahan kami, rasanya Allah menganugerahkan untukku sebutan yang selama ini aku damba, Ibu. Ya, dalam rahimku telah tumbuh benih kasih sayang yang kami padu. Sedikit pun aku tidak merasa khawatir akan kemungkinan yang akan terjadi di masa depan setelah si buah hati ini  dilahirkan ke dunia. Lagi, terbersit dalam pikiran, rezeki sudah ada yang mengatur. Jadi kenapa aku harus khawatir menghadapinya dalam keadaan kami yang sekarang? Rumah kontrakan yang hanya seluas 4 x 3 meter saja, tanpa kamar, tanpa dapur. Di situlah kami tidur di atas sebuah dipan kayu. Di tempat itu juga kami harus memasak. Semua serba mungil. Ruangan mungil, dapur mungil dan kamar mandi yang super mungil. Kebaikan hati Pak Haji Hasan, Pemilik rumah besar di Jalan sempit, lebih besar dari jalan setapak, dikontrakkan kepada suamiku dengan harga kontrakan yang sangat murah saat itu (1967). Siapa yang akan menyangka sekian tahun kemudian wilayah itu telah dibangun menjadi sebuah Mall megah bernama Gandaria City, yang lebih popular dengan singkatan GanCit.

Source: pixabay
Namun ketika aku membayangkan sebuah kelahiran yang sempurna, aku akan menyusui bayiku dari puting susuku sendiri, ketika itulah sebuah petaka terjadi. Aku terjatuh di tepi sumur tempat kami mengambil air untuk segala keperluan. Mungkin aku terlalu lelah sehari-hari karena harus menimba air dengan sebuah ember yang dikerek dengan tambang agak besar. Telapak tanganku menjadi merah-merah karena gesekan tambang. Aku harus terbiasa dengan keadaan ini. Itu saja yang bergelayut dalam pikiranku. 

Allah berkehendak lain, jabang bayi yang sudah berusia 6 bulan dalam kandunganku gugur tak terhentikan. Sosok perempuan sempurna yang mampu memberikan Air Susu Ibu untuk si buah hati terbawa arus deras masa dan kehendak Yang Maha Kuasa. Bisaku hanya menangis di bahu suamiku yang dengan penuh kesabaran membujukku untuk berpasrah diri.  Alhamdulillah, ya, Allah, Kau berikan aku sosok laki-laki yang bisa memberikan rasa damai dalam hati.

Layaknya sebuah pedati dengan roda-roda yang selalu berputar, demikian juga dengan kehidupanku. Bak sebuah judul buku dari Pejuang Wanita yang bernama Raden Adjeng Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang,” maka demikian juga perjalanan hidupku mulai tersentuh mukjizat lain dari Allah.

Adalah ketika aku merasakan kembali adanya sebuah anugerah dari Allah jelang usiaku 30 tahun bersamaan dengan datangnya kabar baik dari sebuah perusahaan internasional yang bergerak di bidang kesejahteraan untuk anak-anak. Dari sekian banyak lamaran yang aku kirimkan, tanpa menunggu panggilan lain aku putuskan untuk menerima panggilan tersebut. Alhamdulillah, aku diterima di perusahaan tersebut. Bangganya aku. Melalui tangan seorang Ibu yang baik hati lamaran kerjaku diterima dan aku bisa segera aktif menunaikan tugasku sebagai seorang karyawan.

Lagi-lagi aku merasa bangga dan bersyukur. Siapa pun di antara kami yang lebih dahulu menghasilkan harus kami syukuri.  Sejatinya kesetaraan dalam kehidupan rumah-tangga harus dijaga dan dihargai serta saling pengertian harus ditempa. Suamiku berpenghasilan tak menentu sebagai seorang penjahit dan aku karyawan berpenghasilan tetap dengan status yang bisa diandalkan untuk bisa mulai menjelajahi kehidupan kami yang boleh dikatakan masih seumur jagung.

Siapa pun tahu kesempurnaan itu hanyalah milikNya, agaknya tak berlebihan kalau aku mengatakan aku hampir mencapai tingkatan perempuan yang sempurna, bukan sebagai individu yang sempurna. Seperti telah aku utarakan, kesempurnaan itu hanyalah milik Allah SWT. Predikat sempurna yang aku sisipkan di antara judul tulisanku ini teruntai dalam sebuah rantai yang tak tepisahkan: menikah, mengandung, melahirkan.  Setapak lagi aku akan bisa menjadi perempuan sempurna dalam tautan yang belum lengkap di atas, yaitu menyusui. 

Sejak kejadian yang membuat aku sedih kehilangan jabang bayiku, aku harus mulai berhati-hati dalam menjalankan segala tugas rumah-tangga. Semoga Allah mengizinkan kami menerima titipanNya yang kedua kali. Suamiku yang penuh pengertian tidak lagi membiarkan aku harus menimba air dari sumur yang kedalamannya mencapai 25 meter. Sebelum suamiku bekerja sebagai penjahit, ia selalu mengisi penuh semua ember besar yang sengaja kami beli.

Alhamdulillah suamiku sangat memperhatikan hal-hal kecil ini. Sama seperti aku, dia pun pasti menginginkan kedatangan seorang tamu kecil mungil dalam kehidupan kami.  Semua hasil dari upah menjahit ia serahkan kepadaku.  Setiap ia memberikan hasil jerih payahnya. Ia acapkali berucap: “Simpanlah untuk anak kita,” sambil ia mendaratkan di dahiku sebuah kecup basah yang mesra, sementara tangannya memeluk lingkar tubuhku yang tidak lagi ramping. Suamiku mulai sadar betapa Allah amat mencintai umatNya yang mendamba. Suamiku begitu bersemangat bekerja setelah yakin ada sesuatu di dalam rahimku. Sesuatu yang akan membuat kehidupan kami menjadi ceria. In Shaa Allah semoga Dia Yang Maha Kuasa mengabulkan harapan-harapan yang tak terucap bergelantungan dalam hati kami masing-masing. 


BERSAMBUNG



Comments

  1. ya ampun bunda sedih bacanya :(( memang tiada sempurna karena masing2 individu punya ujiannya next adakah lagi bun ceritanya?kutunggu lagi ya bunda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti donk bersambung, hehe... Makasih kunjungan herva ke sini.

      Delete
  2. menyentuh banget bund bacanya jadi terharu, mata berkaca
    sememangnya kita harus selalu bersyukur atas keadaan diri ya
    ditunggu kelanjutannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bunda juga sama lho ketika menuliskannya, makasih ya kunjungannya.

      Delete
  3. Datangnha kehamilan memang jadi motivasi besar ya buat siapa saja utk lebih semangat dalam hidup. Ceritanya manis sekali bundaa

    ReplyDelete
  4. Subhanallah perjuangan hidupnya, Bunda. Semuanya kita kembalikan kepada Allah ya, Bun.
    Saya jadi gak sabar nih menunggu sambungan kisahnya.

    ReplyDelete
  5. Cerita ini kalau dibaca anak dan cucu Bunda tebayang kangennya dengan Bunda.

    ReplyDelete
  6. sedih aku bacanya, apalagi sekarang lagi mendamba momongan lagi. kasian anakku blm ada temennya

    ReplyDelete
  7. Bunda, kisah perjalanan hidup yang menyentuh ya bun. Untung ya suami sangat membantu bunda ya

    ReplyDelete
  8. Kesmepurnaan memang milik Allah, ya, Bunda Yati, tatkala kita menginginkan kesmepurnaan, Allah sering menunjukkan bagian yang seharusnya kita pahami dari hal itu

    ReplyDelete
  9. Jadi terhanyut baca cerita Bunda Yati. Ternyata memang namanya perjuangan pengantin baru itu nyata adanya ya. Sedang belajar membangun biduk rumahtangga dengan problematika masing masing

    ReplyDelete
  10. Membayangkan ibu hamil zaman dulu yang harus menimba air. Duh, jadi bersyukur kalau sekarang udah banyak kemudahan, Bun.

    ReplyDelete
  11. Sedih pastinya kehilangan anak ya mba, saya pun pernah diposisi itu. Tapi salut mba suaminya baik sekali, andai menular kesini hehe

    ReplyDelete
  12. Bunda, cakep euy ngemas ceritanya. Jadi kebawa baper pas waktu bagian keguguran, pernah soalnya, hiks. Ditunggu kelanjutan ceritanya ya, Bunda.

    ReplyDelete
  13. Ddibalik kesedihan akan tiba waktunya kebahagiaan ya bun. Dan selalu bersyukur itu wajib

    ReplyDelete
  14. Pasangan suami istri itu pasti menikmati banget ya bunda yang namanya membangun rumah tangga.

    ReplyDelete
  15. Terharu aku bacanya kak 😭 dalam keadaan sesulit apapun, jika memiliki seorang teman hidup yang pengertian kita pasti bakal kuat menghadapi badai apapun

    ReplyDelete
  16. Bunda aku nunggu kelanjutannya, tulisan bunda selalu membuat ak bersyukur atas segalanya

    ReplyDelete
  17. Nggak henti2nya membuatku kagum. Ku tetap menunggu sambungannya, Bund...

    ReplyDelete
  18. kuncinya selalu pasrah dan percaya kebaikan Allah SWT ya bun :)

    ReplyDelete
  19. Jadi kesentil dan yah perjalanan hidup memang berliku ya BUnd, aku juga lagi mendambakan momongan. Semoga kami berdua terus bersemangat untuk menanti kehadiran calon anak whhwhwhw. Aku nugu kelanjutan kisahnya lho Bund

    ReplyDelete
  20. Sedih banget kehilangan janin yg dinanti. Ini Cerbung ya Bun? Ditunggu kelanjutannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cerbung dari kisah nyata Bunda
      *bantu jawab hehe*

      Delete
  21. Bun ini kisah nyata kah?
    Banyak makna dalam tulisannya saya suka bacanya. Jd bikin bersyukur dan beban yg ada gk terasa TFS bun

    ReplyDelete
  22. Kesempurnaan memang hanyalah milik Allah ya Bun, kita hanya bisa memasrahkan hidup kita kepadaNya sembari tak henti berikhtiar mencari ridhoNya.

    ReplyDelete
  23. Bundaaaaaa ini kisah nyata Bunda kah? Kok bacanya sedih. Kalau benar kisah nyata Bunda, nggak nyangka Bunda ternyata begini dulunya. :(

    ReplyDelete
  24. Aku baru bacaaa dan tergugu dengan kisahnya. Seperti pertanyaan teman-teman di atas..ini inspired by your real life story kah bunda? semangaaaaat selalu yaaa Bun

    ReplyDelete
  25. Barakallahu fiik, Bunda.

    Ya Allah..
    Saya kerap mengeluhkan hal-hal sepele.
    Dan Allah tidak akan memberikan ujian melebihi dari kemampuan hambaNya.

    Laaff, Bunda.

    ReplyDelete
  26. Alhamdulillah ya ya Bun punya suami yang perhatian dan pengertian semoga Amel juga bisa punya suami kaya gitu hehe

    ReplyDelete
  27. ini lanjutan yang kisah sebelumnya ya bunda yati? ya Allah, bunda yati pernah melahirkan bayi yang meninggal dalam kandungan ya berarti. innalillahi wa innailaihi rajiun. sedih banget pastinya ya karena sudah 6 bulan usia kandunganya.

    ReplyDelete
  28. Salut dengan bunda, cerita ini mengingatkan ku pada ibu ku..masih awal-awal berumah tangga persis banget dengan cerita bunda. Bunda dan ibuku benar-benar perempuan hebat.

    ReplyDelete
  29. Baca cerita di atas, aku seperti diingatkan.
    Tentang kehidupan awal pernikahan, yang juga mulai dari nol.
    Terseok-seok meniti kehidupan.

    Namun aku bersyukur melalui itu semua.
    Aku pun tumbuh jadi pribadi tangguh dan pandai bersyukur, Insya Allah

    ReplyDelete
  30. Masya Allah, kebahagiaan dan kemesraan yang sederhana tetapi amat dinginkan sebagai seorang istri, Bunda

    ReplyDelete
  31. Sedihnya kehilangan :(( Tapi Allah selalu punya cara lain untuk mengganti ya, Bunda

    ReplyDelete
  32. Masya Allah, Bunda.. di dunia ini memang tidak ada yang sempurna.. tapi Insya Allah Bunda bisa menjadi sosok perempuan yang mendekati sempurna. Bunda pernah mengalami keguguran dan akhirnya dikarunia buah hati. Tetap semangat, dan semoga saat ini keberkahan dan limpahan kebahagiaan ada bersama Bunda.. Sehat selalu ya..

    ReplyDelete
  33. Sedih banget pas tau kehilangan. Alhamdulillah ada suami yang selalu membantu.

    ReplyDelete
  34. Kita punya rencana tapi Tuhan yang berkehendak. Kehilangan anak yang ditunggu2 gak mudah ya Bunda. Alhamdulillah Bunda dan suami tetap kuat

    ReplyDelete
  35. Ini kisah nyata ya Bunda...
    Sabar menunggu lanjutannya..

    ReplyDelete
  36. huaaaa sedih banget Bun..
    InsyaAllah dikasih rejeki lagi ya setelah menunggu itu :)

    ReplyDelete
  37. Manusia memang tiada yg sempurna ya. Begitupun kita dan pasangan kita, namun ketika semua saling melengkapi, rasanya jadi sempurna ya bund

    ReplyDelete
  38. Bunda, memiliki suami yang pengertian dan perhatian itu bagiku sebuah kesempurnaan. Salut deh sama bunda yang tetap kuat dan tegar. Btw, aku pernah ngalamin narik air di sumur timba. Saat itu usiaku masih SD. Sekarang sudah jarang sumur timba di kampung. Jadi kangen.

    ReplyDelete
  39. ini fiksi atau non fiksi bunda? menanti sambungannya dnan jadi saya ada ide juga nulis non fiksi bersambung seperti ini

    ReplyDelete
  40. Tetap semangat ya bunda..
    Saat2 kita sebagai perempuan merasa terpuruk membutuhkan sesosok untuk menentramkan hati.
    Beruntunglah bunda memiliki suami yang pengertian

    ReplyDelete
  41. Aku jadi penasaran menanti kelanjutannya seperti apa, sedih banget ini bacanya. Semangat terus ya bun

    ReplyDelete
  42. Mulai awal baca, feel yang tersirat dari tulisan Bunda Yati seperti true story. Bahagia, gembira, beragam rasa indah yang tak akan cukup untuk di definisikan ketika kehamilan mengejawantah, seperti harap dan penantian saya selama ini.

    Maka ketika hal terduga terjadi pada kehamilan dan akhirnya harus mengikhlaskan sang janin, sangat manusiawi jika ada rasa kehilangan yang mengaduk segenap relung hati. Dan berusaha utk menerima segala yg terjadi sebagai hal yg terbaik, bisa menjadi salah satu cara utk bangkit dan bersemangat hidup ya Bunda.

    #next cerita tentu lebih menarik

    ReplyDelete
  43. Ya Allah, sedih bgt pastinya ya. Insyaallah jasi tabungan di akhirat ya bun jika kita bersabar

    ReplyDelete
  44. Baca-baca tulisan Bunda Yati bikin kujadi banyak merenung. Jadi banyak bersyukur dan belajar arti kata sabar. Apa yang aku alami gak ada apa-apanya dibandingkan ibu-ibu lain. Makasih sudah diingatkan, Bun. :')

    ReplyDelete
  45. Kehadiran suami yg bisa menguatkan disaat kita lemah itu memang bagaikan mukjizat ya bun. Barakallaah bunda. Kisahnya menyentuh banget. Ditunggu kelanjutannya, bun.

    ReplyDelete
  46. Cobaan orang itu macam-macam ya, Bunda. Tapi Allah jga punya cara yang indah buat menghibur hamba-Nya. Aku masih nunggu cerita lanjutannya, Bun

    ReplyDelete
  47. Bundaa, menyentuh sekali kisahnya :(
    Semoga yang "gugur" menjadi amal kebaikan yang menolong kelak di hari akhir

    ReplyDelete
  48. Waaah ini kisah Bunda awal-awal berumah tangga dulu ya. Aku nyimak Bund. Nggak sabar baca kelanjutannya.

    ReplyDelete
  49. ya Allah bun, suami bunda perhatian banget ya bun... hiks

    ReplyDelete
  50. Membacanya jadi ikut terhanyut dalam ceritanya. Ditunggu kelanjutannya ya Bunda.

    ReplyDelete
  51. Bunda, ini kisah pengalaman nyata Bunda ya? Ya Allah jadi pengin baca kisah dari part awal. ��

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ada Apa Dengan Panggilan Bunda?

Khasiat Serai Merah

Eratnya Ikatan Kekeluargaan Itu